“Ami… Chika…” teriakku kepada dua orang sahabatku yang sudah berdiri di lapangan.
“Kenapa kalian ninggalin aku sih?” tanyaku kesal.
“Maaf, tadi disuruh ke lapangan sama guru galak tuh.” Chika menunjuk salah satu guru yang galak di sekolah kami dengan mulutnya. Guru itu berdiri tidak jauh dari barisan kami.
“Sttt… nanti kedengaran.” Ami memperingati kami untuk tidak bicara terlalu keras.
“Liatin tuh, dia ngeliat ke sini. Kalau udah disamperin tahu rasa,” lanjut Ami.
Kami pun merapatkan mulut serapat rapatnya. Dan menikmati pertandingan yang tidak menarik. Bagaimana tidak, acaranya kebanyakan yang isi hanya anak laki-laki saja. Kami anak perempuan hanya menjadi tim hore.
Ada pun acara buat perempuannya, hanya jalan sehat keliling lingkungan sekolah. Sedangkan, acaranya dilaksanakan di akhir.
Aku, Ami dan Chika adalah sahabat karib sejak duduk ke sekolah menengah pertama. Aku yang awalnya anak baru, tidak mengenal seorang pun di SMP Kencana. Dan yang sering menyapa diriku, hanya seorang guru muda yang merupakan teman karib Bang Jaka. Pak Fendy namanya. Dia adalah guru matematika di kelas dua dan kelas tiga.
Mungkin, itu juga salah satu alasan anak-anak sungkan berkenalan dengan diriku. Pak Fendy tidak galak. Namun karena pelajarannya yang super sulit, membuat dia sangat menakutkan saat di dalam kelas. Kami semua harus mengerjakan semua tugas yang beliau berikan. Jika tidak, maka soal itu akan berkembang biak. Bukannya hewan dan tumbuhan saja yang berkembang biak. Bahkan, soal Pak Fendy berkembangnya seperti amuba. Setiap nomor akan membelah diri menjadi dua.
Pokoknya, di mata anak-anak Pak Fendy adalah guru yang killer. Namun saat di depan diriku, Pak Fendy sangat baik dan perhatian. Bahkan, dia juga mau jadi guru privat matematika ku. Beliau merasa kasihan kepadaku, yang harus tiba-tiba pindah ke Jakarta. Aku pun harus menunda pelajaran ku selama beberapa bulan. Karena itu, beliau mau mengajarkan diriku materi pelajaran yang tertinggal. Katanya, matematika itu jika yang sebelumnya tidak diketahui, maka pelajaran selanjutnya akan mengalami kesulitan.
Pak Fendy juga merupakan salah satu guru muda yang tampan di sekolah SMA Kencana ini. Jika saja Pak Fendy tidak bersikap seperti itu terhadap muridnya, pasti dia adalah guru yang paling disukai murid muridnya. Walau teman teman menganggap Pak Fendy seperti itu, tetapi dia tetap menjadi guru kesukaanku. Dia selalu menjadi yang terbaik bagi diriku.
Sampai suatu saat, sewaktu pelajaran Fisika Bu Kamelia meminta kami untuk membuat sebuah kelompok praktek. Saat itulah, Ami dan Chika yang biasanya selalu main berdua, mau mengajak diriku untuk bergabung dengan kelompok mereka. Karena, Bu Kamelia meminta agar setiap kelompok minimal tiga orang. Jika Bu Kamelia tidak menyuruh demikian, mungkin aku praktek seorang diri. Karena jumlah siswa di kelas ini ganjil, tidak mungkin aku memiliki pasangan untuk praktek berpasangan.
“Hai, kamu Ajeng ya?” tanya Chika dengan judesnya.
“Iya,” jawabku.
“Kamu bisa matematika kan?” tanyanya lagi.
“Mudah mudahan.”
“Mudah mudahan gimana? Bisa atau enggak?” tanyanya dengan galak.
“Ka, jangan gitu. Kamu kenapa sih?” tanya Ami yang bingung dengan sikap Chika.
“Hai, Ajeng. Kamu mau satu kelompok sama kami kan?” tanya Ami.
“Boleh.”
“Mi, kenapa sama dia sih?” Chika seperti sangat tidak ingin satu kelompok dengan diriku.
“Udah, kamu sabar aja. Kita kan belum kenal sama Ajeng. Enggak boleh kamu berpikiran seperti itu.” Ami terlihat sangat dewasa.
Dari perkataan Ami, sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Apa yang sebenarnya menjadi buah bibir di sekolah ini tentang diriku.
“Mmmm… maaf. Emang aku kenapa ya? Kalau boleh tahu.” Aku penasaran, sebenarnya tanggapan orang tentang diriku bagaimana?
“Kata orang, kamu itu…” Ami sepertinya tidak berani melanjutkannya.
“Kamu simpanannya Pak Fendy.” Chika langsung menyampaikannya dengan jelas.
“Bukan. Calon istrinya Pak Fendy.” Ami langsung meralat ucapan Chika.
“Sama aja,” kata Chika kesal.
“Apa! Calon istri? Calon istri siapa?” tanyaku untuk memastikan agar aku tidak salah dengar.
“Pak Fendy,” kata mereka kompak.
“Apa! Hahahahaha….” Aku tertawa dengan sangat geli dan sampai kedengaran ke barisan paling depan.
“Ajeng?!” tegur Bu Kamelia.
“Iya bu, iya. Maaf.” Aku meminta maaf karena membuat kelas yang tadinya tenang, jadi pecah karena tawaku.
“Kenapa kamu ketawa?” tanya Chika.
“Kenal sama Pak Fendy aja baru dua bulan. Gimana jadi calon istri?” kataku sambil menahan rasa geli.
“Trus, kenapa Pak Fendy keliatannya sayang banget sama kamu?” tanya Chika penasaran.
“Sayang? Hahahaha… ups.” Aku tidak bisa menahan tawaku.
“Iya. Perasaan kalau manggil kamu, pasti nada suara Pak Fendy berbeda.”
“Masak?” kataku. Aku tidak pernah merasa diperlakukan istimewa oleh Pak Fendy. Dia hanya merasa kasian kepada diriku. Hanya itu saja.
“Pak Fendy sama Kakakku itu sahabatan. Dan Pak Fendy juga yang membantu aku masuk ke sini, karena kalau tidak ada rekomendasi dari guru. Akan sulit masuk sini,” jelasku.
“Kenapa harus minta tolong? Kan masuk tahun depan kan gampang?” tanya Ami.
“Ayah yang enggak mau aku ngulang lagi tahun depan. Apa lagi sekarang sudah semester dua. Pasti kalau tahun depan baru masuk, aku pasti ngulang lagi di kelas dua.”
“Jadi kamu sama Pak Fendy enggak ada apa apa?” tanya Chika penasaran.
“Ya, enggak lah. Dia cuma guru privat aku doang. Malah, kalau lagi ngajar di rumah lebih galak. Habis selesai belajar sama dia, pasti tanganku aku kasih balsem,” kataku membayangkan kesadisan Pak Fendy.
“Kenapa?” tanya Ami dan Chika kompak.
“Dipukulin terus.”
“Emang kenapa?” tanya Ami.
“Enggak kok, Pak Fendy baik. Enggak pernah main pukul,” protes Chika.
“Aku lagi belajar tidur. Hehehehe…” kataku malu.
“Apa! Hahahahaha… ternyata kamu sama aja sama kita… Hahahaha…” kata Chika dengan sangat kencang.
“Stttt….” Ami mengingatkan kami untuk tidak berisik.
“Chika, Ami, Ajeng!” Bu Kamelia memanggil kami dengan suara marah.
“Iya Bu.” Kami kompak menjawabnya. Kami pun juga masih menahan tawa kami.
“Kalian bertiga udah selesai tugasnya?” tanya Bu Kamelia.
Kami bertiga kompak menggelengkan kepala.
“Berarti tugas kalian ibu tambah. Lakukan semua percobaan yang ada di buku,” kata Bu Kamelia.
“Tapi Bu…” Chika baru saja ingin protes. Namun segera ditahan oleh Ami.
“Sttt… kamu mau tugasnya ditambah lagi?” kata Ami.
“Tapi ini mah, bukan dua kali lipat. Tapi lima kali lipat,” kata Chika kesal.
“Udah terima aja. Hitung-hitung belajar,” kataku.
“Benar kata Ajeng.” Ami mendukung usulanku.
“Ih, sebel.” Chika terlihat sangat geram.
“Nanti kita belajar di rumah aku aja. Kita minta tolong sama Pak Fendy,” kataku.
“Beneran?” tiba-tiba saja, wajah muram Chika berubah menjadi bahagia.
“Iya. Belakangan ini, Pak Fendy jadi sering main ke rumah. Katanya mah, ada urusan sama Bang Jaka,” kataku.
“Ya udah kalau begitu. Nanti pulang sekolah kita ke rumah kamu.” Chika terlihat sangat semangat.
“Mmmm… tapi nanti malam, biasanya Pak Fendy enggak datang.”
“Trus kapan?” tanya Chika tidak sabaran.
“Besok, hari sabtu.”
“Oke kalau gitu, besok ke rumah kamu.”
“Ting…. Ting….” Tiba-tiba bel berbunyi, menandakan waktu istirahat.
Anak anak langsung berhamburan keluar, sesaat setelah Bu Kamelia menutup pelajaran. Padahal, Bu Kamelia masih berada di dalam kelas.
Aku langsung bangun, hendak pergi ke meja guru. Aku mau meminta maaf, dan minta diberikan waktu untuk mengerjakannya. Karena, lima buah percobaan akan sangat sulit dilakukan dalam waktu seminggu.
“Mau kemana, Jeng?” tanya Ami yang melihat aku bergegas pergi.
“Sebentar. Ada yang mau aku omongin sama Bu Kamel,” kataku yang langsung pergi ke depan Bu Kamelia. Karena takut dia akan segera meninggalkan kelas.
Setelah berbicara dengan Bu Kamelia, aku pun kembali ke tempat Ami dan Chika.
“Kamu habis ngapain?” tanya Ami.
“Minta maaf,” jawabku.
“Ngapain minta maaf. Kita kan dikasih tugas ekstra,” teriak Chika dengan kesal. Dia berani melakukannya, karena Bu Kamelia sudah keluar dari kelas.
“Ya, biar dikasih keringanan. Lagian, aku juga merasa bersalah tidak mengikuti pelajaran dengan benar. Nanti ilmunya enggak berkah,” kataku.
“Trus gimana? Kita dikasih keringanan?” tanya Chika penasaran.
“Iya,” jawabku.
“Jadi kita enggak usah ngerjain semua kan?” tanya Ami.
“Tetap semua,” kataku.
“Kok, gimana sih? Katanya dapat keringanan?” Chika bingung.
“Iya. Seminggu kita disuruh ngerjain satu,” jelasku.
“Oooo… berarti minggu ini ngerjain yang tadi aja,” kata Amin.
Aku mengangguk.
“Haddeh. Kirain enggak jadi hukumannya,” kata Chika kecewa.
“Harusnya kamu bersyukur dong?” kata Ami.
“Bersyukur gimana?” tanya Chika bingung.
“Iya bersyukur. Kamu bisa ketemu Pak Fendy setiap minggu,” kata Ami.
“Oh iya benar.” Chika tiba-tiba terlihat sangat senang.
“Ada apa sih?” Aku masih tidak paham dengan sikap Chika.
“Masak kamu enggak sadar juga sih,” kata Ami.
“Chika kan cinta mati sama Pak Fendy. Dia katanya mau jadi istri Pak Fendy,” jelas Ami.
“Apa! Serius napa?” tanyaku tidak percaya.
Ami menjawabnya dengan mengangguk.
Waaa… ternyata ada juga yang mau jadi istrinya Pak Fendy yang galak. Tapi dipikir-pikir, Pak Fendy itu galak hanya waktu belajar saja. Selebihnya, dia seperti manusia normal.
Itulah, awal pertama kali menjadi sahabat. Ternyata, selama sebulan kami mengerjakan tugas Bu Kamelia. Kami jadi saling mengenal satu dengan lainnya. Dan banyak kecocokan antara kami. Seharusnya, aku berterimakasih dengan Bu Kamelia. Dia yang menemukan teman-teman yang baik seperti sekarang.
“Hei, Jeng. Ayo, kok bengong?” kata Chika.
“Mau kemana?” tanyaku bingung.
“Kok, mau kemana? Ya mau jalan sehat. Udah pada mulai, tuh. Nanti kita kena marah lagi. Ayo,” ajak Ami yang sudah siap-siap untuk lari.
“Jalan sehat kan? Santai aja,” kataku.
“Ya, tapi enggak jadi yang terakhir juga kali.”
“Iya… iya.”
Kami pun mulai mengejar teman-teman yang sudah jalan lebih dulu. Namun, tetap saja kami berjalan dengan santai.
“Eh, coba liat itu deh?” Ami menunjuk sesuatu.
“Apaan?” tanya Chika bingung.
“Itu…” kata Ami.
Apa yang sebenarnya Ami maksud.