BAB 14

2218 Kata
Kami sedang mengikuti acara jalan sehat. Kegiatan olahraga gabungan kali ini sangat tidak menarik. Apa lagi, sebelumnya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.  “Yuk,” ajak Ami yang bersiap untuk jalan sehat. “Oke… oke.”  Sebelum mulai berjalan, Aku terlebih dahulu mengingat rambutku. Aku tidak mau, rambutku terlanjur lengket karena terkena keringat. Karena rute jalan sehat kami lumayan jauh. Walau, mengelilingi lingkungan sekolah. Tetapi tetap saja, jalur yang diambil sama Kakak kakak OSIS adalah jalur muter terpanjang.  Kami pun mulai perjalanan kami. Teman teman yang lain sudah pada jalan dengan semangat. Sedang kan kami bertiga, hanya berjalan santai. Entah mengapa, Ami dan Chika juga merasakan hal yang sama. Dia melaksanakannya, karena tidak mau dihukum oleh Kakak panitia. Dan juga, jika satu orang dari kelas tidak mau mengikuti jalan sehat. Maka kelas itu akan dikenakan sanksi. Jadi, mau tidak mau kami terpaksa mengikuti acara ini. “Hai, cewek pamer.”  Tiba-tiba Riandi muncul dari arah belakang sambil menyentuh rambutku yang dikuncir. “Dasar tukang intip,” teriakku. Namun, dia pura-pura tidak mendengar dan lari meninggalkan kami. “Siapa?” tanya Ami. “Orang resek,” kataku kesal. “Ini juga gara-gara kalian!” lanjutku. “Lah, kok kita?” kata Chika. “Iya, gara-gara kalian ninggalin aku tadi. Jadinya, dia… dia…” aku tidak sanggup mengatakannya. “Dia kenapa?” tanya Chika penasaran. “Dia… lihat aku enggak pake baju.” Aku langsung menutup muka, karena malu. “Apa?” mereka berteriak kompak. “Trus… trus…” Ami mau mendengar kelanjutannya. “Udah ah, aku enggak mau bahas itu!” aku berlari meninggalkan mereka berdua. “Jeng, tunggu. Jangan lari dong,” kata Chika. “Iya, Jeng. Tunggu,” teriak Ami.  Aku tidak mempedulikannya. Aku terus berlari. Hingga di persimpangan, aku melihat ke belakang kembali. Ternyata, aku tidak menemukan dua orang tadi di belakangku. Aku pikir dari tadi mereka mengikuti diriku. Namun, batang hidung mereka tidak juga terlihat. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyusuri jalan yang tadi aku sudah lalui. Sudah cukup jauh aku kembali. Namun, aku tidak juga melihat sosok Ami dan Chika. Hingga, aku sampai di tempat terakhir kami berpisah tadi. Mereka berdua masih berada di tempat yang sama. Aku melihat Ami sedang jongkok. Dia seperti sedang mengikat tali sepatunya. “Mi, kenapa sih tali sepatunya copot mulu?” tanya Chika kesal. “Kenapa kalian masih di sini?” tanyaku sambil mengatur napas ku karena berlari dua balik di rute yang sama. “Ini si Ami, masak tali sepatunya lepas mulu,” kata Chika.  “Eh, coba liat itu deh?” Ami menunjuk sesuatu. “Apaan?” tanya Chika bingung. “Itu…” kata Ami. Aku dan Chika mencari sesuatu yang Ami maksud. Namun, tidak ada sesuatu yang aneh di tempat yang Ami tunjuk. Hanya ada sebuah pos minum yang disediakan panitia. “Kamu nunjuk apa sih, Mi?” tanya Chika bingung. “Itu… sejuk banget dilihatnya,” kata Ami sambil melihat ke pos tempat panitia memberikan minuman. “Kamu haus? Ya udah ayo kita ke sana,” ajakku. “Tapi kalau kita ke sana sekarang. Enggak bakalan liat lagi,” kata Ami. “Liat apa sih?” tanya Chika. “Itu… ganteng, mancung, tinggi. Pokoknya ideal deh,” kata Ami. “Maksudnya?” Aku dan Chika bertanya dengan kompak. “Kak Rio. Dia ganteng banget,” kata Ami menyebutkan nama kakak ketua OSIS. “Ya ampun, Amiiii….” Chika langsung mencubit hidung Ami. “Aduh…” teriak Ami. “Biar kamu sadar,” kata Chika. “Ya udah, kalau mau ketemu Kak Rio, ayo kita ke sana. Aku juga haus banget,” kataku. “Ayo… ayo.” Ami terlihat sangat bersemangat. Kami pun berjalan menuju tempat minum itu. “Keren banget,” kata Ami sebelum kami sampai di tempat itu. “Biasa aja. Terlalu tinggi kayak tiang listrik,” kataku. “Apa kamu bilang!” Ami tidak terima idolanya dihina. “Udah napa. Nanti kedengeran,” kata Chika mengingatkan kalau kita sudah dekat dengan tempat Kak Rio berdiri. “Assalamuaikum Kak,” sapaku kepada kakak kakak yang ada di sana. “Wa alaikum salam, Ajeng mau apa?” tanya Kak Rio. Waduh gawat. Kok, Kak Rio malah nawarin aku. Sepertinya, aku merasakan sesuatu yang panas di sampingku. Aku tidak berani melihat ke samping. Padahal kan yang aku sapa Kak Lina yang berdiri di samping Kak Rio. “Air putih aja Kak,” kataku. “Enggak mau air jeruk, enak loh. Tinggal satu,” tawar Kak Rio sambil memberikan gelas jeruk terakhir. “Mmmm… makasih kak.” Aku menerima gelas yang disodorkan kepadaku. “Tapi kayaknya teman saya juga mau. Nih Mi,” kataku sambil memberikan gelas yang berisikan air jeruk. Aku lihat sorot mata yang menakutkan. Aku hanya bisa memberikan senyuman kecut. Aduh, gimana dong. Harusnya kan yang ditawari Ami. Aduh, Ami pasti marah besar nih. Ami pun mengambil air jeruk yang aku berikan dengan sangat terpaksa. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya aku merasakan sesuatu yang tidak enak akan terjadi. “Ya udah, ini air putih buat Ajeng,” kata Kak Rio memberikan aku gelas yang lain. “Terimakasih, Kak.”  Aku dan Chika langsung menghabiskan air itu sambil duduk di kursi yang sudah disediakan. Sedangkan, Ami langsung berjalan dengan langkah yang berat. Terlihat kecewa yang sangat dari caranya berjalan. Setelah air minum kami habis, kami langsung menyusul Ami yang terus berjalan seperti tanpa tujuan. “Ami… tunggu,” kataku sambil berlari ke sisinya. Ami hanya diam. Dan terus memperhatikan gelas jeruk yang tadi aku berikan. “Hai…” sapaku sambil merangkul bahunya. Namun, dia balik melotot kepada diriku. Bibirnya juga sudah dia majukan, seperti sedang menahan sesuatu. Tetapi, Ami hanya terdiam dalam gundahnya. Aku langsung mengangkat tanganku yang ada di bahunya. “Maaf,” kataku. “Ya elah, Mi. Cowok masih banyak kali,” kata Chika yang sudah berada di sisi satunya lagi. Kemudian, Ami melihat kepada Chika. Dan tiba-tiba dia langsung berteriak dan menangis histeris. Ami memang aneh anaknya. Dia selalu gagal mendapatkan orang yang sedang dia taksir. Bahkan kali ini, belum juga pendekatan. Namun, dia sudah memberi kode bahwa dia suka sama orang lain. Kasian Ami. Aku langsung memeluk Ami, agar suara tangisannya tidak ada yang mendengar. Walau pun kami berada pada barisan terakhir. Tidak ada lagi orang yang akan lewat, selain kakak kakak OSIS. “Sayang, cup cup.” Aku mencoba membujuk Ami untuk tidak menangis. “Kamu enak, bisa santai. Semuanya suka sama kamu,” kata Ami tidak senang. “Kamu juga pasti ada yang suka dan sayang sama kamu,” kataku. “Iya, Mi. Apa bagusnya si Rio itu,” kata Chika. “Huwaaa…” Teriakan Ami semakin keras. “Udah… udah. Kalau Kak Rio emang jodoh kamu, pasti datang sendiri ke kamu. Enggak usah kamu pikirkan,” bujukku. “Iya, Mi. Santai aja. Liat aku, biar Pak Fendy mau menikah bulan besok, aku masih ngejar ngejar dia,” kata Chika dengan santai. “Chika,” kata kami kompak. “Emang kamu benar-benar gila,” kata Ami. “Iya, gila karena cinta Pak Fendy. Oh Pak Fendy,” kata Chika sambil membayangkan wajah Pak Fendy. “Tuh, lihat. Kamu mau kayak dia?” tanyaku sambil menunjuk Chika. Ami menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau enggak kaya aku aja, santai. Kalau memang jodoh, pasti kami bertemu di tempat yang tidak di sangka-sangka,” kataku dengan percaya diri. Tiba-tiba, ada sebuah mobil yang kehilangan keseimbangan. Kami yang sedang duduk di bangku yang berada di tepi jalan, menjadi takut dibuatnya. Bisa-bisa, mobil itu nanti menabrak kami bertiga. Namun tidak lama kemudian, mobil itu menabrak pembatas jalan. Untung tidak ada orang di sana. Jalanan ini, memang sebuah jalan mobil. Tetapi, tidak banyak kendaraan yang melaluinya. Karena ini termasuk jalan tikus yang bisa dilalui dua buah mobil. “Jeng, gimana ini?” tanya Ami khawatir. “Kalau dibiarin, kasian dia. Nanti kalau dia kenapa kenapa, gimana?” kata Chika. “Ya udah. Yuk kita samperin,” kataku. “Kamu yakin?” tanya Ami. “Enggak,” jawabku. “Ya, dari pada dia kenapa kenapa,” lanjutku. Kami bertiga menghampiri mobil itu. Dari bagian depan mobil, seperti mengeluarkan asap. Untungnya, mobil ini sangat keren. Pasti keamanan mobil ini sangat bagus. Benar saja, di bagian setirnya ada pelindung seperti balon. Kepala si pengemudi berada di atas setir yang terlindungi. Dan biasanya, jika kecelakaan terjadi, kunci pintu akan terbuka sendiri. Agar dapat dengan segera menyelamatkan penumpangnya. “Takut Jeng,” kata Ami. “Bismillah,” kataku mencoba membuka pintu mobil secara berlahan. Kemudian, aku menggerakan kepala si pengemudi. Dan meletakan tubuhnya bersandar pada bangkunya. Kemudian, aku memundurkan letak bangkunya. Agar aku bisa memeriksanya dengan leluasa. “Gimana? Mati?” tanya Chika. Aku meletakkan jariku di hidungnya. Dan dia masih bernapas. Sepertinya, dia hanya pingsan. Kepala juga mengeluarkan sedikit darah. “Masih hidup,” kataku. “Trus gimana? Kita panggil ambulan?” tanya Ami. “Kamu bawa hape?” tanyaku. “Kan dikumpulin di guru BP,” kata Chika. “Sama,” kata Ami. Lalu, apa yang harus kami lakukan. Orang ini tidak juga sadar. “Jeng, itu ada air.” Ami menunjuk sebuah botol air yang berada di lantai mobil. “Coba guyur biar bangun,” kata Chika. “Haddeh kamu ya.” Ami langsung menyikut pelan perut Chika. Aku pun coba membasahkan tanganku dengan sedikit air. Kemudian, menyiprati wajahnya pelan-pelan. Namun, dia tetap tidak bergerak. Aku menggelengkan kepala kepada kedua temanku yang sedang melihat dari luar. Aku memberi tanda bahwa dia tidak bangun setelah diberi air. Tiba-tiba ada suara musik yang sangat kencang. Aku mencari cari asal suara itu. Dan ternyata, itu berasal dari suara handphone yang ada di dalam saku celananya. Kemudian, aku mengambilnya pelan-pelan. Lalu, aku mengangkat panggilan dari handphone itu. Siapa tahu, orang itu mengenal orang ini.  “Hallo,” kataku memanggil orang yang ada di seberang sana. Namun, tiba-tiba telepon itu ditutup olehnya. Saat aku ingin menelepon balik, ternyata handphonenya dikunci. Dan aku tidak tahu kuncinya. Kalau pun pakai finger, jari mana yang digunakan. “Gimana Jeng. Kita tinggalin aja di sini?” kata Ami. “Jangan. Kasian,” kataku. “Trus gimana?” tanya Ami. “Kasih napas buatan,” kata Chika. “Gimana caranya?” tanyaku. Aku belum pernah melihatnya. “Kayak orang ciuman,” kata Chika. “Cut…” aku menempelkan bibirku di bibir laki-laki yang tidak aku kenal. “Aaaaa… bukan gitu,” teriak mereka kompak. “Kamu mah ngambil kesempatan dalam kesempitan,” kata Ami. “Kayak niup balon, Jeng.” Chika mempraktekan seperti meniup balon. “Apaan sih, kamu aja nih Ka,” kataku. Aku bener-benar tidak tahu bagaimana caranya. Aku tidak pernah melihat orang melakukan hal ini sebelumnya. “Kamu aja. Aku enggak berani. Kalau dia mati gimana?” kata Chika. “Huff…” aku menghelakan napas panjang. Aku kembali melihat wajah laki-laki itu. Wajahnya sangat tampan, badannya juga sangat kekar. Apa lagi dia hanya mengenakan kaos hitam yang sedikit ketat. Otot-ototnya sedikit terbentuk di baju yang dia kenakan. Aku juga memperhatikan bibirnya yang seksi. Kalau dipikir-pikir, ini adalah ciuman pertamaku. Tetapi, aku sendiri tidak sadar telah melakukannya. “Enggak, yang tadi itu bukan ciuman,” gumamku mengingat sesuatu yang tadi aku lakukan. “Dan yang ini juga bukan. Ini darurat,” kataku meyakinkan diri sendiri sebelum melakukan napas buatan. Aku pun mulai mendekati bibirnya pelan-pelan. Aku siap memberi napas buatan buat laki-laki ini.  “Oke, kayak niup balon,” gumamku. Kemudian, aku menarik napas panjang. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menghalangi bibirku dengan bibir laki-laki ini. Aku baru sadar, ternyata mata laki-laki ini sudah terbuka. Aku yang terkejut, langsung bangun dari atas tubuhnya. Bahkan, kepalaku sempat terbentur atap mobil. “Aduh…” kataku sambil mengusap-usap kepalaku. “Apa yang kamu lakukan?” tanya pelan. “Saya mau nolong Kakak,” kataku dengan sopan. “Nolong? Emang kayak gitu nolong. Kamu mau mengambil kesempatan kan?” katanya dengan sombong. Ini orang ya, mendingan tidur dari pada bangun. Mulutnya sangat berbisa. Aku menyesal sudah menolong dirinya. “Terserah kakak mau beranggapan apa. Aku benar benar niat mau menolong tadi,” kataku kesal diperlakukan seperti itu. “Tunggu, kamu mau kemana?” cegahnya. “Apa lagi?” tanyaku kesal. “Apa aja yang udah kamu ambil. Anak jaman sekarang enggak ada yang bisa dipercaya,” katanya. Ini orang benar-benar nyebelin. Tahu bakal seperti ini, lebih baik tinggalin aja kamu di sini. “Mending mati aja tadi,” gumamku kesal. “Apa maksud kamu?” tanyanya sambil memegangi kepalanya yang terluka. “Demi Allah Kak, aku enggak ambil apa-apa.” “Aku enggak percaya. Aku harus periksa dengan sendiri,” katanya sambil keluar dari dalam mobil dan menghampiri diriku. “Nih, Kak. Kosong,” kataku mengeluarkan semua isi kantong celanaku. “Coba periksa di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah payudaraku. “Astagfirullah Kak. Kakak jangan kurang ajar, kenapa kakak enggak periksa barang-barang kakak. Ada yang hilang enggak,” kataku kesal. “Ayo guys, kita pergi aja.” Aku mengajak dua orang yang dari tadi diam di samping mobil. Mereka juga terlihat bingung dengan sikap laki-laki itu. Wajah boleh tampan, mobil boleh keren. Namun akhlaknya nol besar. Kami pun pergi meninggal laki-laki kurang waras itu.  Baru kali ini, aku merasa menyesal sudah mau menolong seseorang. Besok-besok, aku akan pikir dua kali untuk menolong seseorang. Terutama yang seperti laki-laki tadi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN