BAB 15

1696 Kata
Sore ini, seperti biasa. Aku sampai di rumah sebelum magrib. Aku istirahat sebentar, kemudian mandi dan menunaikan ibadah salat magrib. Ayah dan kakak laki-laki ku pergi ke musholah seperti biasa. “Aduh perutku udah lapar,” kataku sambil memegangi perutku yang mulai keroncongan. Saat aku akan keluar dari kamar. Kak Kiki tiba-tiba mendorongku masuk kembali ke kamar. “Ada apa Kak?” Aku bingung dengan sikap Kak Kiki. “Sttt… pelanin suara kamu,” katanya sambil berbisik. “Ada apa?” Aku semakin penasaran. “Coba kamu liat,” kata Kak Kiki sambil menyodorkan handpone-nya. Aku memperhatikan layar handpone Kak Kiki yang sudah masuk ke sebuah laman media sosial. Di sana tertulis ‘Pengusaha muda yang belum lama menjadi orang nomor satu di ELIEF, tertangkap kamera sedang bersama seorang perempuan di kamar Hotel. Mereka berdua didapatkan sama-sama tidak mengenakan pakaian’. Laki-laki yang ada di foto itu adalah Andrew, orang yang bersamaku saat di Bandung. “Kenapa bisa begini Kak?” tanyaku bingung. “Kakak juga enggak tahu. Tadi pagi Kakak nemuin berita ini sudah jadi topik utama di kantor. Kakak enggak tahu, bagaimana masih ada gambar yang tersisa. Tapi yang pasti, berita itu bukan dari kantor Kakak,” kata Kak Kiki. “Kakak aja tadi pagi bingung. Tapi untungnya, wajah kamu disamarkan. Jadi orang kantor Kakak enggak ada yang sadar, kalau itu kamu. Kalau enggak bisa kacau,” lanjut Kak Kiki. Aku masih mematung sambil melihat handpone Kak Kiki. Di sana ada berita yang terkait dengan kejadian malam itu di Bandung. Bagaimana berita ini bisa muncul. Padahal, sudah sangat lama kejadian ini terjadi. Pikiranku mendadak jadi kosong. Bagaimana jika gambar utuh dengan wajah asliku terlihat dengan jelas. Jika dilihat dari fotonya. Aku yakin foto utuhnya masih berada di suatu tempat. Tapi di mana? Siapa yang menyebarkan berita ini? Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Bahkan, Kak Kiki yang sedang berbicara tidak bisa aku dengar suaranya. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Aku juga merasa sesak napas. Pikiranku mulai memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. “Ajeng… Ajeng.” Kak Kiki terus memanggil diriku. Dia berusaha membuat diriku tersadar dalam lamunan yang tidak berujung. “Jeng, sadar Jeng. Kamu enggak boleh pingsan. Nanti Kakak enggak tahu harus jelasin apa ke Ayah kalau kamu pingsan,” kata Kak Kiki sambil mengguncang tubuhku. Yang Kak Kiki katakan, ada benarnya. Aku harus tetap sadar. Aku harus berpikir dengan tenang. Aku tidak mau Ayah dan Kakak kakakku yang lain tahu tentang hal ini. Jangan sampai mereka menyadari, bahwa aku sedang mengalami masalah. “Kak, Kakak tolong bilangin yang lain kalau Ajeng ngantuk.” Aku tidak mau bertemu dengan siapa siapa dulu saat ini. Terutama Ayah. Dia pasti mengetahui dari raut wajahku, jika aku sedang ada masalah. Aku lebih baik mengurung diri dulu di kamar. Semoga besok pagi, suasana hatiku lebih baik. “Tapi Jeng, kamu belum makan,” kata Kak Kiki. “Tolong Kak. Kalau Ajeng keluar, mereka pasti akan tahu. Ajeng enggak bisa menahan perasaan Ajeng saat ini,” kataku memohon pada Kak Kiki. “Assalamu’alaikum.” Tiba-tiba terdengar suara Ayah dan Kakak yang pulang dari musholah. “Kak, tolong Kak.” Aku terus memohon pada Kak Kiki. “I… iya, baik lah.” Kak Kiki pun keluar dari kamarku. Dan Ayah langsung menanyakan diriku. “Kamu dari kamar Ajeng?” tanya Ayah. “I… iya Yah,” kata Kak Kiki gugup. “Ada apa?” tanya Ayah penasaran. “Tadi Kiki mau ajak Ajeng makan Yah. Tapi dianya enggak mau. Katanya mau tidur,” kataku. “Ya udah, coba abang yang ngomong.” Bang Jaka sepertinya mau masuk ke kamar. Dia ingin mengajak aku makan. Maaf, Bang. Boro boro mau makan. Perut yang tadi terasa lapar, tiba-tiba terasa kenyang mendadak setelah mendengar kabar ini. Tubuh ini menjadi lemas luar dan dalam. Aku tidak mengerti harus bersikap bagaimana di depan kalian semua. “Enggak usah bang, tadi neng udah dari dalam. Tapi Ajeng sepertinya udah tidur. Kasian, dia sepertinya lelah banget,” kata Kak Kiki menahan Bang Jaka untuk masuk ke kamar. “Ya udah, biar Ajeng istirahat aja. Bener kata Kiki, mungkin dia capek,” kata Ayah. Maaf Yah, Ajeng sangat capek. Bukan hanya fisik Ajeng yang capek. Tetapi, hati dan pikiran Ajeng sangat capek Yah. Jika Ayah sampai mendengarnya, aku tidak tahu apakah Ayah akan memaafkan diriku atau tidak. Namun, saat ini aku tidak berani bertemu dengan Ayah dan yang lain. “Maaf kan Ajeng Yah. Maaf kan Ajeng Bang. Maaf kan Ajeng Kak.” Tiba-tiba saja, airku mulai membasahi pipiku. Rasa khawatir yang sangat, terus menghantui diriku. Aku tidak bisa membayangkan, jika Ayah mengetahui ini kemudian mengusirku dari rumah. Pikiranku mulai kacau. Aku terus membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. *** Pagi ini, kepalaku terasa sangat sakit. Mungkin karena semalam aku tidak bisa tidur. Semalam, aku juga tidak makan. Tubuhku mulai memberontak. Namun, hati dan pikiranku masih kacau. “Tok… tok…” seseorang mengetuk pintuku. “Siapa?” tanyaku dengan lemas. “Ini Kakak, Jeng.” Aku mendengar suara Kak Kiki dari balik pintu itu. “Masuk Kak,” kataku. “Jeng Kamu udah salat?” tanya Kak Kiki. “Enggak salat Kak. Tadi pagi dapat,” kataku. “Kamu lemas banget. Pucat lagi. Makan yuk?” “Enggak ah Kak, Ajeng enggak semangat.” “Enggak boleh kayak gitu, itu namanya nyiksa badan. Yuk,” ajak Kak Kiki. Namun, aku tetap tidak mau beranjak dari tempat tidurku. “Kamu enggak usah terus terus larut dalam masalah ini. Pasti ada jalannya,” katanya lagi. Namun, aku masih tidak semangat untuk melaksanakan aktivitas hari ini. “Kamu enggak ke kampus?” tanya Kak Kiki. “Enggak Kak. Hari jadwalku off.” “Trus, hari ini kamu mau ngapain?” “Enggak tahu Kak. Ajeng masih bingung.” “Kalau saja kita bisa ketemu sama Andrew. Mungkin dia bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Kak Kiki. Tiba tiba aku teringat dengan kartu nama yang pernah Andrew kasih sewaktu di Bandung. Kenapa aku tidak ingat untuk menelepon dia dari semalam. Karena pikiranku sangat kacau, aku tidak bisa mengingat apa pun. Hanya kegelisahan yang terus aku rasakan dari semalam. “Kak, Ajeng punya nomor handpone-nya. Nanti Ajeng hubungi dia,” kataku dengan semangat kembali lagi. “Kamu bisa menghadapi dia sendiri?” tanya Kak Kiki. “Insyaallah, Kak.” Aku memantapkan hati untuk bertemu dengan orang yang bernama Andrew. Padahal, sebelumnya aku tidak ingin menemui orang ini. Dia adalah orang yang paling resek sedunia. Terakhir aku ketemu dengan dia aja, selalu hal-hal yang tidak diinginkan yang terjadi. Bahkan, kemarin aku lari dari tanggung jawab telah menabrak mobilnya. Bagaimana caranya aku menghadapi dia kelak. “Ah itu urusan nanti,” kataku menepis pikiran buruk yang akan terjadi, jika bertemu dengan dirinya. “Kenapa Jeng?” tanya Kak Kiki yang melihat sikapku yang aneh. “Enggak ada Kak,” kataku. “Kamu perlu ditemani untuk ketemu dia?” tanya Kak Kiki. “Enggak usah Kak. Ajeng bisa sendiri,” kataku dengan sangat yakin. “Lagian kan Kakak mau pergi kerja,” lanjutku. “Iya sih. Mana udah siang lagi.” Kakak Kiki terlihat panik saat melihat jam dinding kamarku. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam enam pagi. “Kamu yang sabar ya. Tetap tenang. Pasti ada jalannya.” Kak Kiki memberi aku semangat. “Makasih Kak,” kataku. Kak Kiki tersenyum dan kemudian keluar dari kamar. Hari ini aku harus menemui CEO m***m ini. Dan aku harus bisa menghadapi dia. Ayo Ajeng, kamu bisa. *** “Hallo,” suara seseorang dari dalam telepon. Dari nada suaranya, dia terdengar sedang tidak senang. “Assalamu’alaikum,” kataku memberi salam. “Wa alaikum salam,” jawabnya. “Ternyata masih bisa jawab salam,” kataku terkejut. “Ini siapa?” tanyanya. “Ajeng,” jawabku singkat. “Ajeng siapa?” tanyanya lagi. “Ajeng… mmmm…” Aku tidak sanggup mengatakan tentang kejadian di hotel waktu itu. “Kalau enggak ada yang penting. Saya tutup teleponnya,” katanya seperti sedang terburu-buru. “Tunggu… tunggu.” Aku buru-buru menahan Andrew untuk menutup teleponnya. “Ada apa? Katakan cepat. Saya lagi sibuk,” katanya dengan judes. “Oke… saya Ajeng. Perempuan yang berada sama kamu dalam satu hotel tanpa pakaian,” kataku dengan kesal juga. Akhirnya, aku harus mengatakan kejadian tersebut dengan jelas. Kejadian yang sangat ingin aku lupakan. “Perempuan yang mana? Terlalu banyak perempuan yang seperti itu,” kata Andrew dengan santainya. “Dasar cowok m***m. Suka ganti-ganti perempuan di atas kasur,” umpatku. “Ooooo… aku ingat sekarang. Hanya ada satu orang yang berkata demikian kepada saya,” katanya. “Emang dasar mesum.” Aku mengulangi umpatan yang sama. “Bisa diam enggak. Sudah aku bilang, aku enggak m***m,” katanya kesal. “Terserah.” “Ada perlu apa kamu nyari aku?” tanya Andrew. “Kok malah nanya? Emangnya kamu enggak pernah lihat-lihat berita?” tanyaku kesal. Dia ternyata tidak mengetahui sesuatu yang sedang terjadi. Jadi dari kemarin, aku saja yang merasakan kegelisahan seperti ini. Padahal, wajahku tidak terlihat jelas. Namun, dia yang wajahnya sangat jelas, malah santai santai aja. “Maaf, beberapa hari ini aku sedang sibuk. Belum ada waktu melihat berita-berita. Apa lagi berita gossip,” katanya dengan sombong. “Ya udah, kamu lihat dulu beritanya. Setelah itu hubungi aku lagi, ini nomor aku,” kataku. “Buat apa aku hubungi kamu lagi?” tanyanya. “Aku hanya ingin menagih janji,” kataku. “Janji yang mana?” “Janji sewaktu di Bandung.” Aku mengingatkan otaknya yang sangat mudah untuk melupakan. “Mmmm… gimana ya?” Dari nada suaranya dia tidak mau berurusan dengan diriku. Aku pun sebenarnya tidak mau berhubungan dengan dirinya. Kalau saja ini tidak terjadi, aku enggan untuk menghubungi dirinya lebih dahulu. “Maksud kamu?” tanyaku yang tidak paham dengan sikapnya. “Mmmm… bukannya kamu bilang enggak mau berurusan dengan aku lagi?” kata Andrew. “Emang benar.” “Trus?” “Kamu lihat aja beritanya. Nanti kamu tahu alasanku,” kataku. Kemudian aku langsung mematikan teleponku. Bisa tambah stres, jika aku harus berbicara lama-lama dengannya di telepon. Apa lagi, jika harus bertemu dengan dia. Semoga saja, aku sanggup menghadapi dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN