BAB 16

2099 Kata
Andrew POV “Sial… kenapa aku enggak bisa konsentrasi,” keluhku sambil melihat layar komputer. Padahal kerjaan lagi banyak-banyaknya. Angka pemasaran tidak ada perkembangan. Tetapi, juga tidak ada penurunan.  Selama perusahaan ini ada di bawah management Ayah, angka pemasarannya selalu naik. Walau pun tidak terlalu signifikan kenaikannya. Tetapi, semenjak Ayah memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan kepada diriku, anak satu-satunya. Perusahaan seperti pasif. Tidak ada penurunan, tetapi tidak juga ada kenaikan. Setiap pulang dari kantor, Ayah pasti bertanya tentang keadaan kantor. Apakah berkembang atau tidak. Setiap aku jujur dengan keadaannya, aku pasti kena seribu nasehat dari Ayah. Dia selalu mengatakan aku harus bisa berinovasi dan konsentrasi dengan pekerjaan kamu. Walau, Ayah menasehati hanya melalui telepon. Aku sudah sejak kuliah, tidak lagi tinggal bersama dengan Ayah. Semenjak kuliah di luar selama dua tahun dan hidup jauh dari Ayah. Aku merasakan sesuatu yang nyaman. Bukannya, aku tidak ingin tinggal dengan Ayah. Bukannya, aku tidak sayang dengan Ayah. Namun, ada orang orang di rumah itu yang membuat aku tidak nyaman. Orang itu adalah salah satu penyebab aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Di hari tua Ayah, ingin sekali aku berada di sisinya. Namun, saat aku sudah berniat untuk tinggal kembali di rumah. Hatiku selalu tidak menghalanginya. Aku belum siap bertemu dengan orang yang bernama ibu. Aku juga tidak tahan melihat wajah laki-laki yang bermuka dua. Dia adalah pamanku, Adik dari ibu asliku.  Sampai sekarang, aku tidak pernah mengerti jalan pikiran pamanku itu. Padahal tadinya, aku sangat percaya dengan dirinya. Dialah satu-satunya orang yang aku miliki dan berhubungan dengan ibu kandungku. Namun beberapa tahun terakhir, aku merasa Paman seperti berubah. Dan tepatnya, semenjak Ayah memilihku untuk menjadi penggantinya di perusahaan.  Aku merupakan anak satu-satunya Ayah, tetapi selalu arogan dan selalu tidak serius jika disuruh bekerja. Sedangkan pamanku, dia sangat rajin dan penurut. Dia yang selalu bekerja dengan Ayah sejak lulus kuliah. Hasil kerjanya juga selalu memuaskan. Tetapi, mengapa Ayah memilih aku sebagai pemimpin perusahaan ini. Mengapa bukan pamanku saja yang memimpinnya. Padahal, dia yang paling mengerti seluk beluk perusahaan ini ketimbang diriku.  Aku tidak begitu tertarik dengan perusahaan yang dikelolah oleh Ayah ini sejak dulu. Aku punya cita-cita membuat perusahaan sendiri, dengan mengembangkan sesuatu yang hampir sejalan dengan perusahaan ini. Aku secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah memang sedang membangun perusahaanku sendiri. Dan saat perusahaan itu sudah berkembang. Aku akan menyerahkan perusahaan ini kepada Paman kecilku. Paman yang usianya terpaut satu tahun dengan diriku. “Bos, ini ada laporan dari bagian perancangan.” Tiba-tiba Farale muncul di depanku dengan membawa beberapa dokumen. “Ya letakkan saja di sana.” Aku masih belum selesai dengan pekerjaanku sebelumnya. Dan kini, pekerjaan yang lain sudah menunggu. “Belakangan ini Bos lagi ada masalah?” tanya Farale yang melihatku tidak semangat dalam mengerjakan pekerjaanku. “Huff… emang kamu yang paling tahu kondisiku,” kataku sambil membuka kaca mataku dan memijat ujung hidungku. “Apa mala mini Bos mau ke klub?” tanyanya lagi. “Kayaknya itu ide yang bagus. Di sana aku bisa melihat wanita-wanita yang seksi dan bisa melupakan dia,” kataku sambil merebahkan tubuhku di kursi kebesaranku. “Ya udah saya pesanin dulu tempat sama tante Fie,” kata Farale sebelum keluar. Clubnya tante Fie memang menjadi klub langganan aku. Sebelumnya, aku dan Farale diajak seseorang ke Klub itu. Kami tidak terlalu mengenal pria yang mengajak kami ke sana. Tetapi dia bilang, dia akan menunjukkan kepada kami sebuah tempat yang sangat menyenangkan dan bisa menghilangkan stres. Ke sanalah, orang itu membawa kami. Tempat tante fie tidak terlalu besar, supaya tidak ada orang yang menyadari bahwa itu adalah sebuah Bar. Dari luar tempat itu seperti rumah biasa. Saat kami masuk pun, sama seperti ruang tamu sebuah rumah dengan tumpukan-tumpukan buku di sekelilingnya. Ruangan itu sengaja didesain seperti sebuah perpustakaan untuk mengkamuflase sesuatu yang ada di dalam. Tante Fie hanya menyediakan sepuluh kamar. Di dalam kamar itu, sama seperti ruangan buat karaokean. Tetapi bedanya, Tante Fie juga menyediakan satu perempuan untuk satu orang laki-laki yang pergi di sini. Jika saat kedatangan pertama, tamu tidak puas dengan perempuan pertama, tante Fie akan menggantinya dengan yang lain. Sejak saat itu, lumayan sering aku pergi ke tempat itu. Walau sebenarnya aku tidak tertarik dengan perempuan perempuan yang tante Fie sediakan. Mereka tidak ada yang bisa membuat hatiku bergetar. Sejak dulu, aku belum pernah melihat perempuan yang dapat menggetarkan hatiku. Semua perempuan di dunia ini sama menurutku. Hanya mamaku seorang yang sangat spesial di hatiku. Setelah Mama pergi, tidak ada lagi perempuan yang bisa menggantikan hangatnya Mama. “Selamat malam tuan Andrew,” sapa seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sampingku. Aku tidak menjawab perempuan itu. Sama seperti perempuan perempuan sebelumnya, tidak ada yang istimewa di dirinya. Saat dia mengenalkan dirinya, aku juga tidak memperhatikan. Padahal di ruangan ini tidak ada musik sama sekali. Ruangan ini adalah ruangan kedap suara dengan fasilitas hiburan di dalamnya. Namun aku selalu berpesan, ruangan untuk diriku tidak boleh ada musik yang disetel di sana. Entah hiburan apa yang aku cari di sini. Kesenangan apa yang aku dapatkan di sini. Perempuan perempuan tante Fie ini, hanya menuangkan minuman untukku. Walau terkadang dia juga menyuapi diriku. Aku layaknya seorang raja di sini. Aku tidak menggunakan tanganku untuk mengambil sesuatu. Tetapi terkadang, ada beberapa dari mereka yang sangat agresif. “Malam ini tuan Andrew sangat tampan,” goda perempuan ini sambil meletakkan tangannya di atas pahaku. Aku tetap tidak merespon. “Aku senang banget, tante Fie meminta aku yang melayani tuan Andrew saat ini,” katanya lagi. Tangan perempuan itu mulai bergerak dari pahaku kemudian pergi menuju dadaku. Namun tetap saja, sentuhan perempuan itu tidak membuat aku bergetar. Aku tidak melarang dia melakukannya. Tetapi, aku juga tidak membalas semua sentuhannya dengan membelai tubuhnya juga. Perempuan ini lebih agresif lagi. Dia mulai membuka kancing baju kemejaku sedikit demi sedikit. Kemudian, dia memasukkan tangannya ke dalam kemejaku dan menyentuh dadaku secara langsung, tanpa ada penghalang. Namun, tetap saja aku tidak merasakan apa apa dengan sentuhannya. Bahkan, adekku yang berada di selangkanganku tidak bergerak sama sekali. Aku lupa, kapan terakhir kali dia bergerak karena sentuhan wanita. Dia hanya bangun di pagi hari, setelah aku bangun dari tidurku. Seterusnya, aku tidak pernah melihat dia terangsang. Sampai kejadian di Bandung pun terjadi. Saat aku bangun dan melihat seorang perempuan tidur di sampingku dengan tanpa busana. Aku tidak merasa heran. Sudah biasa hal ini terjadi. Dan ujung-ujungnya dia meminta uang dariku, karena mereka punya foto kami di atas tempat tidur. Tetapi, satu hal yang sangat aku yakini. Aku tidak pernah menyentuh perempuan perempuan itu sama sekali. Hanya satu perempuan yang aku sentuh. Dan dia adalah perempuan yang aku temui di Bandung. “Cowok mesum.”  Saat aku mendengar dia mengatakan itu. Aku merasa bukan diriku sendiri. Pandanganku jadi gelap. Satu hal yang ingin aku lakukan saat itu. Aku ingin memberikan perempuan kurang ajar ini sebuah pelajaran. Selama ini, perempuan perempuan itu hanya memuji dan menyanjungku. Walau terkadang ada yang mengancam diriku. Tetapi, baru kali ini ada perempuan yang menghina diriku.  Aku langsung berlari ke arah dia. Kemudian, aku menarik dengan paksa selimut yang melilit tubuhnya. Sebenarnya, aku tidak yakin dia tidak mengenakan apa pun. Paling ini hanya akal akalan dia saja. Sama seperti perempuan sebelum sebelumnya. Mereka pura-pura menutupi badannya, padahal mereka mengenakan baju ketat yang menutupi bagian intinya. Mereka juga mengkamuflase keadaan dengan menebarkan seluruh baju mereka di lantai, agar aku beranggapan mereka tidak menggunakan sehelai baju pun. Saat selimut itu seutuhnya lepas dari tubuhnya, aku baru sadar bahwa dia memang tidak mengenakan apa pun. Aku bukannya memalingkan wajahku seperti tadi saat melihat sedikit belahan dadanya. Namun, kali ini aku benar benar jelas melihat tubuhnya yang polos dan seksi. Tubuhnya juga putih dan mulus. Dia sangat bisa merawat tubuhnya. Mataku tidak bisa berpaling dari tubuhnya. Aku juga baru sadar, ternyata wajahnya juga sangat manis. Dengan mata bulatnya, hidung mancungnya dan bibir mungilnya, terlihat sangat pas di wajahnya. Tetapi, di dalam otakku hanya berpikiran bagaimana caranya aku memberi dia pelajaran. Sampai dia menemukan sebuah bantal yang menutupi badannya. Pemandangan indah tadi tiba-tiba menghilang. Entah mengapa, aku merasa berbeda saat melihat perempuan yang satu ini dengan perempuan perempuan yang tante Fie sediakan. Saat mereka yang berdiri tanpa busana di depanku, tidak ada keinginan diriku untuk menyentuhnya. Tetapi, perempuan yang satu ini, aku sangat ingin melihatnya, bahkan menyentuhnya. Aku terus mengejarnya sampai aku dapatkan dirinya. Sampai akhirnya aku bisa mengurungnya kembali di atas sofa. Hangat tubuhnya berbeda dengan tubuh tubuh wanita lain. Andaikan saja aku tidak segera mengenakan celana panjang ini. Pasti hangat paha dia yang mulus, langsung bersentuhan langsung dengan kulitku. Aku memberanikan diri untuk menyentuh perutnya yang rata. Ingin sekali aku menyentuh sesuatu yang hangat di bawah. Namun, aku berusaha untuk mengontrol diriku. Aku hanya ingin memberikan dia sedikit pelajaran, karena telah berani menghina diriku.  “Jangan… tolong…” dia meronta ronta minta untuk dilepaskan olehku. “Gggrrrtt, kenapa perempuan ini harus meronta sih,” teriak hati kecilku. Karena gerakkannya, tiba-tiba kakinya mengenai sesuatu yang berbahaya di antara selangkanganku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Apakah ini? “Sttt…” kataku sambil meletakan jari telunjukku di bibirnya. Entah dari mana munculnya perasaan ini. Aku ingin sekali menggantikan telunjukku ini dengan bibirku. Bibirnya yang mungil dan tidak bisa diam, ingin rasanya aku menggigit bibirnya yang nakal itu. Namun, aku mengurungi niatku. Karena aku bukannya untuk mencari kepuasan.  Tiba-tiba perempuan itu mendorong tubuhku dan kakinya mendorong diriku. Hingga aku terjatuh ke lantai. Bahkan kepalaku lagi lagi terbentur sesuatu yang tajam. Sedangkan, dia sudah melarikan diri menuju kamar mandi. Perempuan ini benar benar tidak bisa dibiarkan. Aku semakin ingin menyentuhnya, bahkan aku membuka kembali celana yang aku kenakan. Dan kini, aku tidak mengenakan pakaian sama sekali. Aku juga berlari mengejar dia ke kamar mandi. Untungnya, aku masih bisa menahan pintu kamar mandi yang belum sempat dia kunci. Aku langsung mendorong pintu kamar mandi dengan kasar. Sehingga, aku kembali melihat tubuhnya yang polos. Dia berusaha menutupi tubuhnya dengan sesuatu yang dia temui. Namun, aku berusaha membukanya. Ada apa denganku. Aku yang biasanya tidak tertarik dengan tubuh wanita. Namun sekarang, mataku tidak bisa untuk tidak melihat dirinya. Manis, putih dan mulus. Bahkan tubuhnya yang sempat aku sentuh juga terasa sangat hangat. “Tuan, tuan Andrew,” panggil Perempuan yang dari tadi sibuk menggerayangi tubuhku. Aku yang sejak tadi membayangkan tubuh perempuan yang aku temui di Bandung, terhentak karena mendengar panggilan perempuan yang berada di sampingku. Padahal, aku hanya membayanginya saja. Tetapi, entah sejak kapan Adekku mulai bangun. “Tuan Andrew, kamu merasa senang dengan belaianku ya?” tanya perempuan yang ada di sampingku. “Kenapa kamu bisa seyakin itu?” tanyaku tidak mengerti. “Ini… dia bangun.” Tangan nakalnya menyentuh dan mengelus elus sesuatu yang ada di antara selangkanganku. Begitu yakinnya dia, kalau dia yang menyebabkan adekku bangun. Padahal, ada sesuatu yang lain yang membuat dia terangsang. Perempuan ini masih terus menyentuh setiap inci tubuhku. Dan lama kelamaan, malah membuat adekku kembali ke ukuran normalnya. “Kamu impoten ya?” tiba-tiba aku mendengar suara perempuan yang dulu pernah aku temui di Bandung. “Siapa itu,” teriakku karena aku kaget tiba-tiba mendengar suara dia di sini. “Kenapa tuan?” perempuan yang ada di sampingku ikutan terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba berubah. “Kamu tadi enggak dengar suara?” tanyaku padanya. “Enggak,” jawabnya. Aku kemudian melihat Farale yang duduk di sisi lain bersama dengan perempuannya. “Ada apa Bos?” tanyanya. “Aku seperti dengar suara perempuan,” kataku. “Itu suara saya kali tuan,” kata perempuan yang tadi sedang merayu diriku. “Bukan, dia… Aaaaa…” aku terkejut saat aku melihat wajah perempuan yang di sampingku. Mengapa sekarang aku melihat wajah perempuan itu juga di sini. Aku langsung mengucek mataku, kemudian wajahnya kembali berubah menjadi wanita yang lain. “Kenapa tuan,” katanya sambil menyentuh pipiku. “Jangan sentuh aku!” hardikku. “Bos kenapa?” tanya Farale bingung. “Ayo kita pulang.” Aku langsung bangun dan pergi dari tempat ini. “Bos… bos, tunggu.” Farale langsung berlari mengejar diriku sambil merapihkan bajunya yang sudah tidak berbentuk. Aku langsung masuk ke dalam mobil yang sudah lebih dulu dibukakan kuncinya oleh Farale. Aku tidak habis pikir, mengapa perempuan itu bisa muncul juga di sini.  “Sial,” umpatku. “Bos kita kemana lagi sekarang?” tanya Farale. “Pulang aja. Aku pusing,” kataku sambil mencoba memejamkan mataku. Sejak kejadian di Bandung saat itu, aku terus membayangkan wajah perempuan itu. Tubuhnya yang seksi dan mulus membuat aku tidak bisa melupakan dirinya. Walau aku hanya menyentuh beberapa bagian tubuhnya. Namun rasa sentuhan tubuhnya itu masih terasa di tanganku.  Apakah aku bisa bertemu dengan dia lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN