“Bos kita sudah sampai,” kata Farale memberitahu bahwa kami sudah sampai di rumahku.
“Hooumm… aku sangat lelah hari ini,” kataku sambil menguap.
“Rale, kamu bawa aja mobil ini pulang. Besok kamu jemput saya,” kataku.
“Oke siap Bos.”
“Selamat malam Bos,” kata Farale saat aku menutup kembali pintu mobil.
Mobil itu pun pergi sesaat setelah aku berjalan ke arah pintu masuk. Rumahku terasa sangat sunyi. Apa lagi sekarang waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Pasti semua asisten rumah tangga sudah pada terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Pencahayaan dalam rumah ini, sudah diredupkan semua oleh Bi Hanny, kepala asisten rumah tanggaku. Dia adalah satu satunya orang yang berasal dari rumah Ayah yang bisa aku percaya. Dia satu satunya orang yang di rumah Ayah yang sayang kepadaku. Dia juga tidak suka melaporkan yang tidak tidak kepada Ayah. Ini memang salah satu syarat dari Ayah, agar aku bisa tinggal di rumah sendiri. Aku harus memilih orang yang ada di rumah itu, untuk ikut bersamaku tinggal bersamaku.
Aku mulai berjalan menuju kamarku. Aku pun menyalakan lampu kamarku dan mulai terlihat ruang kerjaku. Ruangan ini memang sengaja aku letakkan di dalam kamar, agar aku bisa dengan mudah bolak balik jika sedang ada banyak pekerjaan. Ada juga sebuah kamar mandi di dalam kamar ini. Aku juga sengaja meletakkan lemari pendingin yang berukuran kecil. Agar aku tidak perlu bolak balik ke dapur saat aku ingin minum sesuatu. Setelah menyalakan semua lampu kamar. Aku masuk ke kamar tidurku, untuk ganti baju dan segera tidur.
Namun, begitu terkejutnya diriku. Saat aku melihat sesuatu yang ada di tempat tidur.
“Kamu?!”
Dia yang tadi aku bayangkan, sekarang ada di tempat tidurku. Bahkan, dia tidak memakai sehelai benang pun. Pemandangan yang sama saat aku melihatnya di Bandung. Wajah cantiknya dengan rambut hitam tergerai. Tubuhnya yang seksi dan putih, sedang berada di atas tempat tidurku.
Tanpa sadar, aku pun menanggalkan semua pakaianku. Dan hanya meninggalkan sesuatu yang menutup bagian vitalku. Aku berlari ke tempat tidur, di mana wanita itu berada. Dia tersenyum dengan sangat indah. Aku pun menyentuh bibirnya yang seksi itu. Manis dan cantik, dia tidak bosan untuk dilihat.
Tanganku yang dari tadi sudah tidak sabar menyentuhnya, sudah bermain di atas perutnya yang datar. Bahkan, sekarang dia tidak mau hanya diam di sana. Dia mulai berjalan ke arah gundugan yang kenyal dan sangat berisi. Tubuhnya memang tidak bisa dibandingkan dengan perempuan perempuan yang pernah memamerkannya dengan suka rela.
Pelan pelan, aku mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bibirnya yang sangat menggemaskan, hanya berjarak beberapa senti dari bibirku. Dia juga tidak berontak seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia juga terlihat sangat menikmati ulah usil yang tanganku lakukan di area sensitifnya.
Aku pun tidak sabar mencium bibirnya yang sangat menggoda itu. Aku mengulam bibirnya tanpa mau melepaskannya. Cantik dan seksi, membuat aku tidak mau berpaling dari dirinya. Tanganku juga tidak mau kalah, dia terus beraksi di tempat yang dia rasakan sangat nyaman. Dan entah sejak kapan, adekku juga mulai terbangun. Dia sudah sangat tegang maksimal.
Sampai tiba-tiba, handphoneku yang masih berada di dalam saku celanaku, berbunyi. Aku mengabaikan panggilan telepon itu, dan tetap asyik menikmati tubuh indah ini. Kemudian, handpone ku kembali berbunyi. Suaranya sangat mengganggu dan membuat aku tidak nyaman.
Dan saat aku membuka mata hendak mengangkat teleponku itu. Tiba-tiba perempuan yang tadi berada di pelukanku menghilang. Ternyata yang dari tadi berada dalam pelukanku adalah sebuah bantal guling.
“Sial!” umpatku.
Perempuan itu benar benar membuat hidupku tidak nyaman. Bahkan, aku membayang sedang bercinta dengannya. Si adek juga bisa bisa dia bangun di saat yang seperti ini. Padahal tadi saat wanita sungguhan yang ada di depanku, dia tidak bereaksi sama sekali.
Aku menggarut garut kepalaku yang tidak gatal. Aku tidak percaya, aku bisa melakukan hal ini. Aku yang bisa dengan mudah mendapat seorang perempuan. Sekarang sedang membayangkan bercinta dengan wanita khayalan. Wanita yang mungkin tidak akan aku temui lagi. Wanita yang namanya saja aku lupakan.
Kenapa aku baru menyadari perasaan ini di saat dia sudah pergi dari sisiku.
“Aaaaa… aku bisa gila kalau begini terus,” gerutuku.
Tiba-tiba handpone yang tadi sudah tidak berbunyi, kini berbunyi lagi. Aku langsung mengambilnya dari dalam saku celanaku.
“Hallo,” kataku dengan kesal.
“Hal… hallo Bos.” Terdengar suara Farale yang menjadi takut setelah aku bentak.
“Ada apa?! Ganggu aja!” hardikku.
“Maaf Bos, enggak jadi besok aja Bos,” katanya ketakutan.
“Udah, sekarang… ajah.” Belum selesai aku berbicara, Farale sudah mematikan panggilannya.
“Ini orangnya udah ganggu orang. Trus enggak jadi bicara lagi,” gumamku kesal sambil melempar handpone ku ke atas tempat tidur.
Aku juga merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Bayangan perempuan itu masih suka terbayang tiba-tiba.
Ada apa dengan diriku?
Siapa sebenarnya perempuan itu?
Mengapa aku selalu keingatan dirinya terus ya?
Pokoknya, aku harus segera tidur. Dan harus bisa membuang bayangan perempuan itu dari otakku.
***
“Bos ini laporan dari pabrik D. Hasilnya, kurang bagus Bos,” kata Farale menyerahkan beberapa berkas.
“Jadi semalam ini yang kamu mau kasih tahu?” tanyaku.
“I… iya Bos.” Farale jadi ingat, semalam dia kena marah oleh Bosnya ini.
“Ya udah tarok di atas meja. Nanti saya periksa,” kataku sambil terus berkutik dengan komputer. Karena, pekerjaan yang sebelumnya belum selesai.
Farale pun pergi meninggalkanku. Namun, sebelum dia keluar dari ruangan. Tiba-tiba memutar balik badannya.
“Eeeee… maaf Bos, ada yang mau saya tanyakan.” Farale terlihat sedikit ragu untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Mmmm… apa?” mataku tidak melihat kepadanya, tetapi masih tetap fokus pada pekerjaanku.
“Bos semalam lagi ngapain? Apa Bos lanjut sama si Wivi itu?” tanya Farale penasaran.
Aku langsung menghentikan pekerjaanku. Kemudian, mataku melihat Farale dengan sangat tegas.
“Wivi siapa?” tanyaku bingung.
“Itu perempuan yang di rumah Tante Fie.”
“Maksud kamu ngapain aku sama si Wifi itu?” kataku.
“Bukan Wifi Bos, tapi Wivi.”
“Ya terserah. Trus masuk ucapan kamu apa?” tanyaku lagi.
“I… tu, semalam Bos bilang kalau saya ganggu Bos. Emang Bos lagi ngapain?” tanya Farale penasaran.
“Oooo… jadi maksud kamu, saya sama si Wifi itu lanjut begituan di rumah?” Aku mulai paham arah ucapan si Farale ini.
Dia hanya mengangguk.
“Kamu kan tahu siapa saya? Mungkin apa saya begituan sama perempuan seperti si Wifi itu?”
Farale menggelengkan kepalanya.
“Karena itu Bos, saya nanya. Mungkin saja Bos tertarik sama si…”
“Enggak bakal.” Aku langsung memotong ucapan Farale.
“Trus semalam…” Rasa penasaran Farale masih belum terjawab kan.
“Lanjut kerja aja sana. Atau…” ancamku.
“Iya Bos. Iya Bos.” Farale langsung keluar dari ruangan ku.
Dasar si Farale ini, aku lagi mau menyibukkan diri, agar lupa dengan perempuan itu. Dia malah mengingatkan kembali.
“Tok… tok…” tiba-tiba pintu kantorku ada yang mengetuk. Seseorang pun masuk ke ruangan ku.
“Ada apa lagi?” aku mengira itu adalah Farale yang masih penasaran.
Tetapi, betapa terkejutnya diriku. Ternyata perempuan itu ada di depan pintu kantorku.
“Boleh saya masuk?” tanyanya dengan lemah lembut.
“Bo… boleh.” Aku tidak menyangka dia bisa ada di sini.
Dia berjalan mendekati diriku. Kemudian, dia duduk manja di atas pangkuanku. Dia juga mengalungkan tangannya di leherku. Tidak lama kemudian, dia menggigit lembut telingaku.
“Ah… geli,” desahku.
Tiba-tiba tangannya yang nakal meremas juniorku yang sudah mulai bangun.
“Aaaaaa….” Teriakku saat dia melakukannya.
“Ada apa Bos?” Farale tiba-tiba masuk ke ruangan karena kaget mendengar teriakkan ku.
Tiba-tiba perempuan itu hilang dari pangkuanku.
“Gila… aku bisa gila kalau begini,” kataku sambil mengusap kasar jidatku.
“Ada apa Bos?” Farale masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada diriku.
“Saya mau keluar dulu. Cari angin,” kataku sambil memakai jas ku untuk pergi meninggalkan kantor ini dengan segera.
“Tapi Bos, bentar lagi kita meeting,” kata Farale mengingatkan.
“Tolong atur ulang jadwalnya. Saya lagi pusing,” kataku dan terus berjalan menuju pintu keluar.
“Saya temenin Bos?” tawar Farale.
“Enggak usah. Kamu urus aja kantor.”
Aku benar-benar harus menenangkan pikiranku. Aku tidak kuat terus terusan dihantui perempuan itu.
Aku pun mengemudikan mobilku menuju ke tempat perempuan pujaanku satu-satunya. Makam Mamaku. Di sinilah, tempat aku mengadukan segalanya. Bahkan, aku menceritakan bahwa tidak ada perempuan yang lebih baik dari dia.
Hanya Mama seorang, satu satunya perempuan yang aku akui dalam hidup ini. Dan tidak akan ada yang lain.
***
Setelah melalui perjalannya yang sangat ramai padat di jalan ibu kota. Akhirnya, aku sampai di makan Mamaku.
“Ma… Andrew datang jenguk mama,” sapaku saat aku tiba di sana.
“Ma, Maaf Andrew baru bisa ke sini lagi. Andrew dikasih tugas yang berat sama Ayah. Padahal, Andrew sudah jadi anak yang kurang ajar, tapi tetap aja Andrew disuruh mengurus perusahaan sama Ayah,” keluhku di depan makam Mamaku.
“Maaf ya Ma, kalau Andre datang ke sini saat Andrew sedang ada masalah. Dan sekarang juga, Andre sedang dihantui sama bayangan perempuan nakal Ma.”
Aku terus bercerita di depan pusara Mama ini. Aku menceritakan awal aku bertemu dengan perempuan ini. Aku juga menceritakan, betapa mengganggunya perempuan itu dalam hidupku belakangan ini.
Walau aku tidak menemukan jawaban dari semua masalahku, tetapi aku merasa lega setelah menceritakannya. Aku belum bisa menemukan teman bicara yang tepat tentang masalah yang aku hadapi. Paling, ada seorang psikiater yang terkadang jadi teman curhatku. Dia yang paling tahu dengan kondisiku. Selain dia, Farale juga merupakan orang yang paling memahami diriku. Tetapi untuk urusan wanita, Aku tidak bisa menceritakannya kepada mereka berdua.
Lagian, untuk masalah perempuan aku masih bisa menanganinya. Pasti, lambat laun aku bisa melupakan dirinya.