BAB 18

1863 Kata
Aku memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Pikiranku masih belum tenang. Percuma juga aku bekerja dalam keadaan seperti ini. Ada ada pekerjaan yang aku kerjakan salah semua. Dan aku harus mengulang lagi dari awal. Dari pada aku harus dua kali kerja, lebih baik aku menenangkan diri dulu. “Bruk…” Tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. “Haddeh nih orang, enggak punya mata apa?” umpatku. Sayangnya, sekarang kita sedang berada di lampu merah. Kalau tidak, aku langsung turun dan marah marah sama orang itu. Dia sedang sial, berurusan denganku. Saat ini hatiku sangat ingin memarahi seseorang.  Setelah lampu hijau, aku langsung menyalakan mobilku. Dan aku terus berada di depan mobil itu. Tidak akan aku biarkan dia pergi begitu saja. Sebenarnya bukan uang yang aku harapkan dari orang ini. Aku hanya ingin menemukan seseorang, untuk melampiaskan kekesalanku. Begitu aku melihat tempat yang aman untuk berhenti. Kemudian, aku menyalakan lampu sein kiri, agar aku dan mobil yang berada di belakangku dapat meminggir. Aku langsung turun dari mobil dengan perasaan kesal. Aku berjalan mendekati mobil yang berada di belakangku. Tiba-tiba seorang perempuan turun dari mobil.  “Deg.”  Jantungku berhenti berdetak. Mengapa aku melihat perempuan itu lagi di sini. Aku langsung menghentikan langkah kaki. Ini bayanganku lagi atau kali ini benar benar dia. Aku ingin sekali menegaskan wajah perempuan itu. Tetapi sayang, dari tadi wajahnya ditekuk ke bawah. Sehingga, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku melangkahkan kakiku kembali. Aku ingin memastikan wanita yang ada di depanku benar dia atau bukan. “Maaf, Pak. Saya tadi tidak konsentrasi.”  Perempuan itu langsung meminta maaf kepada diriku. Walau pun, dia tidak juga mengangkat kepalanya. Aku sangat penasaran dengan wajahnya. Ini wanita yang sama, yang selalu menghantui diriku belakangan ini. Ataukah orang lain. Sedikit demi sedikit, dia mengangkat wajahnya dan itu memang dia. “Kamu!” teriak kami berbarengan. “Kamu lagi, kamu lagi. Aku selalu sial kalau ketemu sama kamu,” umpatku. “Emangnya, aku senang?” Dia sepertinya tidak senang bertemu lagi denganku.  Padahal, aku sangat ingin bertemu dengan dirinya. Wanita ini berhasil mengganggu diriku belakang ini. Aku tidak ingin jauh dari dirinya. Aku ingin mengenal dia lebih jauh lagi. Tetapi, aku tidak mau menunjukkan kepadanya, jika aku tertarik kepadanya. Bagaimana pun, dia salah satu wanita yang bangun di sampingku dalam keadaan tidak berbusana. Bisa saja, dia juga merupakan wanita yang jahat. Wanita yang sama, yang hanya mengincar hartaku saja. Tetapi, bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan dirinya setiap hari. “Ya udah, kamu harus ganti rugi kerusakannya,” kataku. Mungkin dengan alasan ini, aku jadi bisa bertemu dengan dirinya lagi. “Enak aja! Ini semua gara-gara kamu, makanya aku nabrak,” kata perempuan itu. Apa maksudnya? Kenapa gara-gara aku? Sudah jelas dia menabrak diriku, karena dia tidak konsentrasi. Padahal, aku sudah lama berhenti di depan lampu merah. Namun, tiba-tiba dia datang dan menabrak diriku.  Apa salahku? “Maksud kamu apa gara-gara aku?” tanyaku tidak terima. Kenapa sih, jika bertemu dengan aslinya membuat aku naik darah terus. Dia yang asli dengan yang ada di bayanganku sangat berbeda. Andai saja, dia yang asli juga bisa bersikap selembut bayangannya. “Pokoknya, aku enggak mau bayar,” katanya. Dan dia sepertinya mau melarikan diri. Ini tidak boleh. Dia tidak boleh pergi begitu saja. Setidaknya, aku harus mendapatkan nomor teleponnya. Agar aku bisa mengontaknya sewaktu waktu. Aku langsung menarik tangannya dan mengurungnya dengan kedua tanganku. Tidak akan aku biarkan dia pergi begitu saja.  “Maksudnya apa? Kamu yang jelas jelas nabrak. Kenapa sekarang gara-gara aku?” tanyaku. “Pokoknya gara-gara kamu, aku jadi enggak bisa konsentrasi,” jawabnya. Jika dari ucapannya, itu artinya dia juga memikirkan diriku. Itu artinya perasaanku berbalas. Aku tidak salah dengar kan? “Jadi maksud kamu, tadi kamu lagi memikirkan diriku?” tanyaku. Dan aku yakin itu pasti benar. Aku juga melihat wajahnya berubah menjadi merah merona. Aku semakin yakin, jika dia juga memikirkan diriku. Tetapi, apa yang dia pikirkan tentang aku. Apa dia hanya merasa tanggung tidak berhubungan denganku sampai tuntas. Atau dia punya perasaan yang lain terhadap diriku. “Awas! Pokoknya aku enggak mau ganti” teriaknya sambil mencoba mendorong tubuhku.  Untungnya tenaganya tidak terlalu kuat. Aku tidak bergerak sama sekali dari tempatku. Atau dia sengaja mendorong aku dengan pelan. Aku pun semakin menguatkan peganganku. Aku takut dia akan menambah kekuatannya, dan berhasil melepaskan diri dari kurungan ku. Kemudian, aku menarik dagu ke atas. Wajahnya yang manis semakin terlihat jelas. Matanya dan mataku saling bertemu. Aku juga merasakan sesuatu yang hangat dari matanya. Ada perasaan yang aneh saat aku melihat matanya. Entah perasaan apa ini. Aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Bahkan dengan perempuan yang pernah hadir di sampingku tanpa busana juga, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.  “Kalau kamu terus kepikiran diriku, jujur saja. Atau kamu mau melanjutkan kejadian di Bandung waktu itu? Jika itu yang kamu inginkan, aku rela,” godaku sambil tersenyum lembut kepadanya. Aku bisa merasakan tubuhnya yang tadi kaku, menjadi lemah. Wanita ini benar benar menggoda. Kadang dia terlihat seperti macan. Namun, kadang dia terlihat seperti kucing yang minta dibelai. Aku juga merasakan aura hangat dari tubuhnya. Aura ini membuat aku tidak mau jauh dari dirinya. “Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke hotel yang dekat sini,” lanjutku. “Tin… tin… tin…” tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klaksonnya. Suara itu membuyarkan suasana romantis di antara kami. “Hei, Pacaran jangan di jalan. Di hotel sana!” teriak seseorang dari dalam mobil. “Oke, Bro. Gua dengarin saran lu!” Aku sangat setuju dengan ide orang itu. Jadi yang dari kemarin aku bayangkan, bisa segera terwujud. Aku sudah tidak sabar untuk segera memiliki dia seutuhnya. “Yuk,” ajakku. “Jangan harap!” katanya kesal. “Buat ganti rugi mobil, pakai satu ciuman aja juga enggak papa deh.” Bahkan saat ini, aku sudah sangat tidak sabar untuk mencium lembut bibirnya. Bahkan tanganku yang tadi berada di dagunya mulai tidak sabar. Entah sejak kapan, jari jariku menyentuh bibirnya yang lembut. Namun, di saat aku sedang menikmati setiap inci wajahnya. Tiba-tiba dia menepis tanganku. Aku yang sedikit mengurangi kekuatan peganganku. Sehingga membuat dia dengan mudah lepas dari kurunganku. Ditambah lagi dia juga menendang betisku. Dia berhasil lepas dari diriku. Dia pun tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa kabur dari diriku. Dengan sekuat tenaga, dia berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Aku sempat memukul mukul kaca mobilnya. Namun dia tidak mempedulikannya. Bahkan dia sempat mengejekku dengan menjulurkan lidahnya, setelahnya dia menancap gas gunakan pergi dariku secepat mungkin. Aku tidak akan membiarkan dia pergi. Aku belum sempat menanyakan nomor teleponnya. Bahkan, namanya saja aku lupa. Saat di hotel, aku belum terlalu menyadari perasaanku ini. Walau sampai saat ini, aku juga belum paham dengan apa yang aku rasakan. Namun, satu yang pasti. Aku tidak mau jauh dari dirinya. Aku ingin dia selalu ada di sampingku, saat aku membutuhkannya. Aku memutuskan untuk pergi mengikuti mobilnya. Setidaknya, aku bisa mengetahui rumahnya. Namun, saat di lampu merah. Aku kehilangan dirinya. Dia sudah lebih dulu melalui lampu merah. Sedangkan, aku terjebak, lampu keburu merah di saat aku belum melaluinya. Kali ini aku bisa kehilangan dirimu. Tapi, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Dan saat itu tiba, aku akan sekuat tenaga untuk tidak kehilangan dirimu lagi. ***  Hari hari pun berlalu, sejak terakhir aku bertemu dengannya. Dengan pertemuan kami saat itu, hatiku terasa sedikit tenang. Walau aku masih suka membayangkan tubuhnya yang seksi. Apalagi, bibirnya yang mungil. Aku sangat ingin menikmati kehangatan bibirnya. Setidaknya, sekarang aku bisa sedikit tenang. Aku tahu perempuan itu berada di kota yang sama dengan diriku. Kemungkinan untuk aku menemukannya sangat besar. Aku sekarang sudah bisa kembali konsentrasi dengan pekerjaan pekerjaanku. Aku harus segera menyelesaikan semua pekerjaan ini dulu. Jika ini sudah rapih, aku bisa dengan mudah mencari keberadaan dia. Aku juga mau mencari tahu tentang perasaan ini. Perasaan yang aneh tetapi hangat. Aku juga merasakan sesuatu yang sangat aku rindukan.  Saat aku sedang menikmati setiap pekerjaanku. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. “Hallo,” kataku dengan kesal. “Assalamu’alaikum.” Seseorang di seberang sana memberi salam . “Wa alaikum salam,” jawabku. “Ternyata masih bisa jawab salam,” kata orang yang ada di seberang sana. Ini orang nyebelin banget ya. Bisa bisanya dia bicara seperti itu kepadaku.  “Ini siapa?” tanyaku kesal. “Ajeng,” jawabnya. “Ajeng siapa?” Nama itu seperti tidak asing. Namun aku lupa di mana aku pernah mendengarnya. “Ajeng… mmmm…” katanya dengan sangat ragu. Siapa sih ini. Di saat aku sedang sibuk, ada aja yang menggangu. Jangan sampai wajah perempuan itu muncul dan mengganggu konsentrasi ku. Aku tidak mau membiarkan waktuku kosong sama sekali. Karena, jika ada waktu kosong, maka bayangan itu akan melintas dan susah untuk pergi. “Kalau enggak ada yang penting. Saya tutup teleponnya,” Aku buru-buru ingin mematikan teleponnya. “Tunggu… tunggu.” Dia menahan diriku untuk tidak menutup teleponnya. “Ada apa? Katakan cepat. Saya lagi sibuk,” kataku. “Oke… saya Ajeng. Perempuan yang berada sama kamu dalam satu hotel tanpa pakaian,” katanya dengan kesal juga.  “Deg,” jantung mendadak berhenti setelah mendengarnya. Orang yang selama ini ingin aku cari. Sekarang, dia meneleponku dengan sendiri. Hatiku sangat senang, karena dia yang lebih dulu mencari diriku. Tetapi, aku tidak boleh menunjukkan rasa senang ini di depannya. “Perempuan yang mana? Terlalu banyak perempuan yang seperti itu,” kataku pura-pura tidak mengenalnya. “Dasar cowok m***m. Suka ganti-ganti perempuan di atas kasur,” umpatnya. Haddeh nih ceweknya. Jadi selama ini, itu yang dipikirkannya tentang diriku. “Ooooo… aku ingat sekarang. Hanya ada satu orang yang berkata demikian kepada saya,” kataku. “Emang dasar mesum.” Dia mengulangi hinaan yang sama. Emang dasar perempuan yang menyebalkan. “Bisa diam enggak. Sudah aku bilang, aku enggak m***m,” kataku kesal. “Terserah.” “Ada perlu apa kamu nyari aku?” tanyaku “Kok malah nanya? Emangnya kamu enggak pernah lihat-lihat berita?” Dia balik menjadi kesal. Ada apa sebenarnya. Ada masalah apa, sehingga dia harus mencari diriku dan kesal terhadap diriku. “Maaf, beberapa hari ini aku sedang sibuk. Belum ada waktu melihat berita-berita. Apa lagi berita gossip,” kataku. “Ya udah, kamu lihat dulu beritanya. Setelah itu hubungi aku lagi, ini nomor aku.”  “Buat apa aku hubungi kamu lagi?” kataku. Padahal tanpa kamu suruh pun, aku pasti akan meneleponmu lagi. Bahkan, jika tidak ada masalah, aku akan menciptakan masalah agar kamu bisa datang ke sisiku. “Aku hanya ingin menagih janji,” katanya dengan tegas. “Janji yang mana?” Aku lupa, jika aku pernah menjanjikan sesuatu kepada dirinya. “Janji sewaktu di Bandung,” katanya mencoba mengingatkan aku. Tetapi tetap saja aku tidak mengingatnya. “Mmmm… gimana ya?” Aku benar benar lupa. “Maksud kamu?” tanyanya yang tidak paham dengan sikapku. “Mmmm… bukannya kamu bilang enggak mau berurusan dengan aku lagi?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Emang benar.” Perkataannya itu seperti menusuk hatiku. “Trus?” tanyaku. “Kamu lihat aja beritanya. Nanti kamu tahu alasanku,” katanya. Kemudian dia langsung mematikan telepon. Ada apa sebenarnya? Apa yang membuat dia sampai mencari diriku? Aku harus mencari tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN