“Farale, datang ke ruangan saya.” Aku memanggil Farale dengan menggunakan intercom.
“Ya Bos ada apa?” tanya Farale setelah dia sampai dihadapanku.
“Tolong cari tahu ada gosip apa di luar sana,” suruhku.
“Tumben Bos mau tahu tentang gosip?” tanya Farale heran.
“Udah cari tahu aja. Buruan sana.”
Farale pun segera melaksanakan perintah yang aku berikan. Dan tidak lama kemudian, dia kembali lagi ke ruangan.
“Cepat banget?” gumanku heran.
Berarti, gosip ini bukan terjadi hari ini. Pasti orang kantor sudah membicarakan tentang gosip ini. Jika tidak, mana mungkin Farale secepat ini mendapatkan informasi.
“Bo… bos. I… inih Bos go… sipnya.” Farale terlihat ketakutan saat akan memberitahukan tentang gosip itu.
Aku menggambil handpone yang dia berikan. Aku terkejut melihatnya. Di layar handpone ini, aku melihat diriku dengan seorang wanita di atas tempat tidur bersama tanpa menggunakan busana sama sekali. Hanya tertutupkan dengan selimut. Wajah diriku sangat jelas terlihat, sedangkan wajah perempuannya sengaja diburamkan.
Tetapi walau begitu, aku mengenal perempuan yang ada di sampingku. Dia adalah perempuan yang berada di hotel Bandung itu. Perempuan yang sama yang selalu muncul dalam khayal ku. Dan perempuan yang sama, yang tadi menelepon diriku.
“Siapa yang bertugas mengambil semua foto-foto ini, waktu di Bandung?” tanyaku dengan garang.
“Siska dan Willy Bos,” jawab Farale.
“Pecat mereka!” suruhku dengan tegas.
“Tapi Bos…” Farale tidak mau kedua temannya yang sangat dekat dengan dirinya, dipecat begitu saja.
“Enggak ada tapi tapi, cepat pecat mereka,” kataku kesal.
Aku paling tidak suka jika sebuah kerjaan tidak diselesaikan sampai tuntas. Walau, aku sendiri bukanlah orang yang sempurna. Tetapi, sebisa mungkin aku selalu teliti dengan semua yang aku lakukan. Hanya beberapa hari belakangan ini, pikiranku sedikit terganggu. Sejak kemunculan perempuan ini dalam hidupku.
Namun jika dipikir pikir, berita ini bagus juga. Bukankah dengan berita ini, aku jadi punya alasan untuk bertemu dengan Ajeng. Bahkan, sekarang aku sudah punya nomor teleponnya. Memang, kalau sudah jodoh tidak akan lari ke mana. Tadinya, aku akan mencarimu setelah semua pekerjaanku selesai. Namun, ternyata kamu datang sendiri kepadaku.
“Andai ini bisa terulang kembali.” Aku terus memperhatikan foto itu sambil tersenyum senyum sendiri.
Bahkan aku tidak menyadari, Farale masuk ke ruanganku ini.
“Bo… bos, ada berita apa lagi? Bos sepertinya senang banget?” tanya Farale penasaran dengan sikapku.
“Enggak ada! Kamu udah pecat mereka?” Aku langsung mengalihkan pembicaraan.
“Sudah Bos.”
“Mmmm… kalau dipikir pikir, mereka tidak usah langsung keluar dari perusahaan. Suruh mereka pindah devisi aja,” kataku.
“Pindah devisi Bos? Devisi apa?” tanya Farale bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berubah.
“Terserah kamu mau tarok mereka di devisi apa,” bentakku.
“Tapi Bos…”
“Kamu mau saya berubah pikiran lagi?! Kalau begitu….”
“Iya iya Bos, pindah devisi pindah devisi. Akan saya atur Bos.” Farale langsung memotong ucapanku.
Kali ini, aku bisa mentoleransi kecerobohan mereka. Karena kecerobohan ini, akhirnya gosip ini bisa terjadi. Sehingga, mendekatkan aku dengan Ajeng. Aku tidak perlu mencari alasan alasan lain untuk aku bertemu dengan dirinya.
***
Sejak tahu tentang gosip ini, aku jadi kembali tidak tenang. Aku terus terus merasa gelisah. Sebentar sebentar aku melihat handpone, berharap dia akan meneleponku. Tetapi, dia tidak juga meneleponku. Jika aku yang meneleponnya duluan, aku tidak mau jika beranggapan kalau aku tidak sabaran untuk bertemu dengannya. Walau itu benar.
“Kapan kamu nelpon sih,” dumelku sambil melihat layar handpone yang tidak ada apa apa.
“Bos, ini laporan hasil meeting kemarin,” kata Farale yang tiba-tiba masuk ke ruangan.
“Tarok aja,” kataku sambil terus melihat handpone.
Aku sedang tidak semangat melihat pekerjaan pekerjaan itu. Nanti saat aku sudah konsentrasi lagi, aku bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat. Sedangkan sekarang, aku masih terus memikirkan perempuan yang satu ini.
“Bos, handpone nya rusak Bos? Mau beli yang baru?” tanya Farale yang bingung melihat diriku terus terusan melihat handpone.
“Enggak,” jawabku singkat. Tetapi, mataku tidak bisa berpaling dari handpone ini.
“Apa bos lagi menunggu seseorang?” Farale sangat penasaran dengan diriku.
Aku langsung meletakan handponeku di atas meja. Kemudian, memperhatikan asistenku yang sangat penasaran ini.
“Coba bawa sini filenya?”
Aku mencoba mengalihkan rasa ingin tahu Farale. Aku langsung memeriksa file yang tadi dia bawakan untukku. Walau pun, sebenarnya pikiranku tidak terfokus kepada isi file itu. Diriku masih terfokus kepada handponeku yang aku geletakkan di atas meja.
Saat aku sedang pura-pura melihat isi dokumen yang Farale bawa, tiba-tiba handponeku bergetar. Buru-buru aku mengangkatnya, berharap itu adalah dia.
“Hallo,” sapaku lembut.
Setelah mendengar suara yang ada di seberang sana, ternyata itu bukan dia. Aku langsung merasa kecewa. Bahkan, suara yang tadinya lembut, berubah menjadi biasa lagi.
“Ya udah kirim saja via email,” kataku dan langsung menutup telepon itu.
Farale yang masih berdiri di depanku, masih sangat terlihat penasaran dengan perubahan sikapku.
“Ada apa Bos? Ada berita buruk lagi?” tanya Farale. Dia melihat perubahan diriku setelah menerima telepon itu. Dari wajah yang senang menjadi wajah yang kecewa.
“Enggak ada apa apa. Udah sana lanjut kerja,” kataku.
“Oke Bos.” Farale langsung meninggalkan meja kerjaku.
Namun, sebelum Farale keluar dari ruangan ini. Aku teringat sesuatu.
“Farale tunggu,” teriakku menahan Farale untuk keluar.
“Ya Bos.” Dia bergegas kembali ke tempat semula.
“Mmmm… saya mau minta tolong,” kataku ragu.
“Iya Bos, katakan saja.”
Farale sudah sangat siap mendengarkan instruksi dariku. Tetapi, aku yang masih ragu menceritakannya. Apakah ini keputusan yang tepat untuk melibatkan Farale dalam situasi ini. Namun, jika aku tidak meminta tolong Farale, aku yang akan terus tertekan dengan situasi ini.
“Mmmm… kamu kenal Ajeng kan?” tanyaku.
“Kenal, perempuan yang tidur sama Bos waktu di Bandung,” katanya dengan tegas dan yakin.
Mengapa dia bisa ingat sama Ajeng ya?
Padahal aku saja baru saja tahu namanya lagi, setelah sekian lama lupa.
“Kenapa sama dia Bos?” tanya Farale.
“Kamu tahu nomor teleponnya?” tanyaku.
“Tahu Bos.”
Apa! Dia juga punya nomor teleponnya Ajeng?
Tahu kayak gitu, dari dulu saja aku nanya sama Farale tentang Ajeng. Dari pada, aku harus terus uring uringan seperti sekarang. Tidak aku sangka, asistenku yang satu ini gerakannya cepat juga.
“Mmmm….”
“Iya Bos.” Farale tidak sabaran menunggu instruksi dari diriku.
“Saya minta tolong sama kamu, tolong telepon Ajeng. Ajak dia janjian di tempatnya Tante Fie. Tapi sebelumnya, kamu cari dulu asal foto foto yang beredar di internet. Kamu ambil aslinya. Dan periksa lebih teliti, jangan sampai ada satu pun yang beredar lagi,” perintahku kepada Farale.
“Oke siap Bos.” Farale langsung mengerjakan yang aku perintahkan.
Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Ajeng. Walau aku yakin, ini pasti memakan waktu yang cukup lama.
Aku harus sedikit bersabar dulu.
***
Ajeng POV
Sudah satu hari lamanya, belum juga ada kabar dari Andrew. Aku semakin gelisah. Jika terlalu lama membereskannya, aku khawatir foto foto itu akan lebih dulu sampai ke tangan Ayah.
Semoga saja Andrew bisa lebih cepat menanganinya.
“Jeng, gimana udah beres?” tanya Kak Kiki yang juga sama sama merasakan kecemasan yang sama.
“Belum Kak, belum ada kabar,” jawabku.
“Ya udah sabar aja. Kamu haru tenang, nanti ayah curiga.” Kak Kiki memintaku untuk selalu tenang.
“Astagfirullah.” Tiba-tiba terdengar suara teriakan Ayah yang sedang duduk di teras.
“Ada apa Yah?” Kami berempat yang ada di dalam rumah langsung bergegas keluar.
“Ini ada gosip edan,” kata Ayah sambil melihat berita dari handpone nya.
“Ah ayah, kirain ada apa,” kata Kak Rendi yang ikutan kaget karena mendengar teriakan Ayah.
Kakak kakakku langsung kembali masuk ke rumah. Mereka kecewa, Ayah membuat mereka terkejut pagi pagi hari seperti ini.
Aku merasa sedikit penasaran, sebenarnya berita apa yang membuat Ayah sangat terkejut seperti itu. Dan tumben tumbennya juga Ayah mencari berita dari handpone nya. Padahal biasanya, Ayah tidak pernah percaya dengan berita yang ada di internet.
“Ayah lagi baca gosip apa sih? Ajeng penasaran,” kataku.
“Ini, tentang CEO muda yang ketangkep lagi bermesraan sama perempuan di kamar hotel. Padahal, mereka belum menikah,” kata Ayah sambil geleng-geleng kepala.
CEO muda, di kamar hotel?
Jangan jangan gosip yang Ayah lihat gosip tentang diriku dan Andrew. Ah, semoga saja tidak. Bisa gawat kalau Ayah melihatnya, bisa bisa Ayah mengenali perempuan yang ada di sampingnya. Walau pun wajahnya diburamkan, tetapi untuk orang yang sudah lama kenal dengan aku, pasti dengan mudah mengenali bentuk tubuhku.
“Coba liat Yah gosipnya?” Aku pura-pura penasaran dengan sedang Ayah lihat.
“Nih.” Ayah menyerahkan handpone nya kepadaku.
“Deg.” Aku terkejut dengan yang sedang aku lihat.
Ini benar foto aku dengan Andrew. Bagaimana ini?
Ayah tidak boleh melihatnya dengan teliti. Aku berusaha menekan sesuatu di layar Ayah. Berharap menemukan cara untuk menghapus gosip ini. Namun ternyata, gosip ini sudah menjadi berita paling populer dan banyak dicari pembaca. Bagaimana ini? Semua internet isinya sama.
“Sini Ayah mau perhatiin lagi fotonya, siapa tahu Ayah kenal sama dia,” kata Ayah sambil meminta handpone nya kembali.
“Mmmm… ntar dulu Yah. Ajeng masih belum selesai baca gosipnya.” Aku mencoba menahan agar handpone ini tidak sampai ke tangan Ayah lagi.
“Ayo lah, Ayah penasaran sama perempuannya. Ayah seperti pernah melihat dia,” kata Ayah terus memaksa agar aku mau menyerahkan handpone ini kembali kepadanya.
“Tuh kan, Ayah langsung sadar. Gimana ini? Seseorang tolong aku,” gumamku pelan.
“Tu… tunggu bentar Yah, Di… dikit lagi,” kataku terbata bata.
Tidak lama kemudian, Kak Kiki datang dan memanggil kami.
“Yah, Jeng. Ayo, sarapan udah siap.” Kak Kiki datang di waktu yang tepat.
“Oh, kebetulan. Ayah sudah sangat lapar,” katanya sambil pergi ke dalam.
Kak Kiki yang hendak menyusul Ayah, langsung aku tahan.
“Kak, Kak, liat deh,” kataku kepada Kak Kiki.
Kakak Kiki pun terkejut dengan apa yang dia lihat.
“Ini gosip yang Ayah lihat tadi?” tanya Kak Kiki.
Aku mengangguk.
“Trus Ayah tahu kalau itu kamu?” tanyanya lagi.
“Belum. Tapi Ayah bilang, kalau Ayah seperti kenal sama yang perempuannya,” jelasku.
“Gawat ini, gawat.” Kak Kiki terlihat panik juga.
“Ya udah, Kak. Kakak umpetin dulu hape Ayah,” kataku.
“Enggak ah. Kamu aja.” Kak Kiki tidak berani untuk melakukannya.
“Ya udah. Ajeng umpetin, tapi Kakak jangan bilang-bilang,” kataku.
“Iya iya. Kamu harus hati-hati ya.”
“Iya Kak.”
Aku harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Semoga masalah ini cepat diselesaikan oleh Andrew.
Semoga saja.