BAB 20

1803 Kata
“Grrrt… Grrrtt…” Tiba-tiba handponeku bergetar. Sedangkan, aku masih mengisi kelas di kampus. Dan lagi, nomor yang masuk bukanlah nomor yang diketahui. Bisa saja, ini ulah orang iseng. Lebih baik, aku tidak meladeninya. “Oke. Siapa lagi yang akan mempresentasikan hasil diskusinya?” tanyaku kepada mahasiswaku. Saat kelompok sebelumnya sudah menyelesaikan presentase mereka tentang sub bab yang menjadi bagian mereka. Kemudian, kelompok selanjutnya pun maju untuk menjelaskan hasil diskusi mereka. Dan menyebutkan, karya apa yang akan mereka buat dari hasil diskusi kali ini. Termasuk menjelaskan bahan dan tekniknya. ***  Tanpa terasa, kelas pun selesai. Hari ini tiga kelompok bisa mempresentasikan hasil mereka di depan kelas. Tinggal dua pertemuan lagi, agar semua kelompok bisa maju semua. “Assalamu’alaikum Kak.”  Seorang mahasiswa laki-laki datang ke mejaku. Dan dia memanggil diriku dengan sebutan Kakak. Sedangkan, yang lain memanggil aku dengan panggilan prof. Mentang mentang aku belum kawin, dia seenaknya memanggil Kakak. Wah, alamat Diki kedua ini mah. “Wa alaikum salam,” jawabku. “Maaf ini, Kak. Saya boleh tahu alamat rumah Kakak enggak?” tanyanya. “Tuh kan,” gumamku karena tebakan benar. “Apa Kak?” Dia merasa aku bicara sesuatu, namun dia tidak jelas mendengarnya. “Maksud saya mau apa?” tanyaku. “Gini Kak, kalau kelompok kami ada kesulitan tentang karya yang sedang kami buat. Kami berniat untuk datang ke rumah Kakak,” jelas pemuda ini. “Mmmm… kenapa enggak cari saya di kantor aja?” tanyaku lagi. “Kakak jarang ada di kantor,” katanya. “Oke lah. Saya minta nomor handpone kamu aja. Nanti saya akan hubungi kamu.” “Oh baik Kak.” Dia langsung menyebutkan nomornya dan aku mencatatnya di kontak yang ada di handpone. “Kakak enggak miscall?” tanyanya karena aku langsung mematikan handpone ku. “Iya, nanti saya miscall,” kataku datar. “Benar ya Kak.” Dia mendesak diriku untuk segera menghubunginya. “Iya.” Belum sempat dia bicara lagi, tiba-tiba handponeku kembali bergetar. Walau ini nomor yang tidak dikenal, setidaknya ini bisa jadi alasan untuk aku menjauh dari pemuda ini. “Maaf, saya ada telepon,” kataku sambil pergi meninggalkan mejaku dan menuju kantor. “Hallo,” sapaku. “Hallo, selamat siang,” jawabnya. “Saya sekarang sedang berbicara dengan nona Ajeng kan?” tanya seseorang di seberang sana. “Iya,” jawabku singkat. “Perkenalkan saya asistennya Pak Andrew. Kita pernah ketemu di Bandung,” kata laki-laki itu mengingatkanku tentang pertemuan kami di Bandung. “Oh iya. Saya ingat.” “Kamu disuruh Andrew buat menghubungi saya ya?” tanyaku. “I… iya Non.” “Lalu bagaimana perkembangannya?” aku langsung bertanya pada intinya. “Mmmm… begini. Biar Pak Andrew aja yang menjelaskannya ke Nona nanti,” kata Farale.  Dia tidak mau menjelaskan masalah ini langsung. Apakah dia mengalami kesulitan untuk membereskan masalah ini. Padahal, kalau masalah ini sudah selesai kan dia bisa langsung bilang ‘tenang masalahnya sudah selesai’. Apakah begitu susahnya membersihkan semuanya? “Andrew menyuruh saya ketemu di mana?” tanyaku. “Mmmm… Nona pasti kesulitan untuk mencari tempatnya. Dan lagi, kalau nona ke sana dengan mobil sendiri pasti wartawan akan curiga,” kata Farale. “Trus gimana?” “Saya jemput Nona di kampus,” kata Farale. “Oh baik lah. Trus mobil saya gimana?” tanyaku. “Nanti saya suruh orang nyusul bawa ke sana. Biar enggak ada yang lihat aja, kalau Nona dan Bos ketemu di sana.” “Oooo… baiklah.” Sebenarnya ada apa ini? Sebegitu pelik kah masalah ini? ***  Aku sudah dari tadi menunggu di samping kampus dekat dengan rental. Tempat yang diinstruksikan oleh Farale. Aku disuruh menunggu dirinya di sini pukul delapan malam. Tetapi ini, sudah lima belas menit aku menunggu di sini. Tetapi, orang yang janjian dengan diriku, tidak juga kelihatan batang hidungnya.  Aku orangnya tidak mau terlambat dari janji yang sudah disepakati. Namun nyatanya, orang yang janjian dengan kitanya yang tidak tepat waktu. Terkadang, aku merasa sedih. Tiba-tiba sebuah mobil Ferrari berwarna silver.  Ini mobil siapa ya?  Mobil ini tidak sama dengan mobil yang aku tabrak tempo hari. Pasti ini bukan mobil Andrew. Namun, tiba-tiba seorang laki-laki turun dari dalam mobil itu. Wajah laki-laki itu sepertinya pernah aku lihat. Tetapi, aku lupa lupa ingat dengannya. “Hai, Nona Ajeng?” sapanya. “Iya,” jawabku ragu. “Saya Farale. Nona masih ingat sama saya?” tanyanya. “Enggak,” jawabku dengan polosnya. Wajahnya yang tadi sudah gagah, tiba-tiba berubah menjadi menciut.  “Oh ya udah. Ayo ikut dengan saya,” katanya dengan suara yang berubah jadi lemas.  Padahal, tadi saat dia keluar dari mobil dia sangat bangga. Aku pun ikut masuk ke dalam mobil itu. Salah satu mobil terkeren di dunia. Bukan hanya luarnya yang keren, namun bagian dalam mobilnya juga sangat bagus. “Ini mobil Andrew?” tanyaku. “Iya Non,” jawabnya. “Mobil yang kemaren mana?” Aku penasaran mengapa tiba-tiba dia mengganti mobilnya. “Masih di bengkel. Bos belum sempat mengambilnya,” katanya sambil terus fokus ke depan. “Emang enggak ada mobil yang lain?”  “Emang kenapa?” tanya Farale bingung. “Katanya enggak mau sampai ada orang yang tahu. Tapi kalau gini kan, jadi mencolok banget.” “Mmmmm… iya juga ya. Tadi sih Bos Andrew yang nyuruh saya jemput Nona pake mobil ini,” kata Farale. “Nanti kalau udah sampai, bilang sama Bos kamu itu. Suruh dia ganti mobilnya sama yang biasa aja, biar enggak mencolok,” kataku. “Mmmm… Nona aja yang kasih tahu ya.” Farale terlihat enggan untuk melakukannya. “Yang asistennya siapa?” tanyaku. “Saya.” “Trus…” “I… iya deh.” Dia terlihat sangat pucat. Padahal belum mencobanya. “Ya udah, nanti saya bantuin,” kataku agar membuat dia sedikit tenang. “Huff…” dia menarik napas dan membuang, seolah-olah banyak yang menekan hatinya. Ternyata perjalanan ke tempat yang Andrew maksud sangat jauh. Bahkan, setelah masuk dari pertigaan tadi, aku sudah tidak ingat lagi jalannya. Jalan ke tempat ini sangat banyak gang yang dilalui.  Sampai akhirnya, mobil ini berhenti di depan rumah yang berada di ujung gang buntu.  “Ini di mana?” tanyaku. Aku baru pertama kali ke tempat ini.  Tempat ini sangat sepi, seperti tidak berpenghuni. Bahkan, di depan sini tidak ada mobil atau motor yang diparkirkan. “Ini tempat Bos menunggu nona,” jelas Farale. “Trus kamu enggak masuk?” tanyaku. “Enggak. Saya harus markir mobil jauh dari sini. Agar tidak ada yang tahu kalo Bos ada di sini,” kata Farale. “Oooo…”  Aku memperhatikan dengan seksama tempat ini. Tempat yang sangat aneh buat sebuah tempat bertemu. Mana tidak ada plang nama di depan tokonya. Apa benar ada orang di dalamnya. “Oh ya Non, kunci mobilnya mana?” Farale menanyakan kunci mobilku.  “Oh ya ini.”  Setelah memberikan kunci aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu seorang diri. Di dalamnya, tidak ada seorang pun pengunjung. Hanya ada seorang penjaga toko. Toko ini hampir mirip dengan sebuah perpustakaan umum dengan menyediakan makanan dan minuman di sini. Toko ini juga sangat sunyi. Tidak terlihat pengunjung di sini. “Selamat sore, Sis?” penjaga toko itu datang dan meletakan sebuah air putih di mejaku. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah. “Mmmm… saya sedang menunggu orang,” jawabku. “Boleh saya tahu, sis lagi nunggu siapa?” tanyanya penasaran. Baru kali ini, aku pergi ke sebuah toko yang menanyakan orang yang sedang kita tunggu. Apakah memang seperti itu peraturan di toko ini. Aku jadi sedikit takut. “Mmmmm… saya sedang menunggu Andrew.” Wajah perempuan yang ada di hadapanku tiba-tiba berubah menjadi masam. Padahal tadi dia sangat manis dan lembut menyapa diriku. “Oooo… tuan Andrew.” Dan kini suaranya berubah menjadi sedikit kecut. Ada apa sebenarnya dengan tempat ini. Apa Andrew sangat terkenal di sini. Sehingga, perempuan yang tadi bersikap dengan manis, berubah menjadi cemberut seperti ini. “Baik lah, tunggu dulu!” kini suaranya seperti tidak bersahabat. “Pantas tuan Andrew hari ini enggak mau ditemenin, sebel.” Sayup sayup aku mendengar perempuan itu menggerutu seorang diri. Tidak lama setelah perempuan itu pergi ke dalam. Kemudian, keluar seorang laki-laki yang sangat ayu. “Sis mau ketemu tuan Andrew ya?” tanyanya dengan lemah gemulai. “I… iya,” kataku ragu. “Ayo kalau begitu ikut saya Sis,” ajak laki-laki setengah perempuan itu. Aku pun mengikuti langkah kaki laki-laki yang tidak aku kenal. Jalannya sangat lemah gemulai. Bahkan, pantatnya lebih seksi dari pada p****t seorang wanita. Ingin rasanya aku tertawa melihat caranya berjalan. Tetapi, aku berusaha menahannya. Karena takut menyinggung perasaan dia. Itu hak dia untuk seperti itu, tidak ada yang boleh menghina dan menyinggungnya. “Waa…” Aku terkejut saat melewati pintu ke tiga dari toko ini. Ternyata di dalam toko ini ada toko lain lagi yang berbeda jauh dari bayangan toko yang ada di depan. Bagian depan ini, mencerminkan sebuah perpustakaan sebagai gudang ilmu. Aku berpikir orang-oran yang datang ke sini, pasti untuk mencari ilmu yang tidak dia dapat di luar. Tetapi, begitu terkejutnya saat aku masuk ke dalam sini. Dia sini banyak sekali, perempuan perempuan yang mengenakan pakaian seksi. Mereka seperti kekurangan bahan. Atau baju adik mereka yang mereka gunakan. Aku merasa aneh sendiri di sini. Di saat orang orang berpenampilan seperti itu, aku malah menggunakan pakaian yang menutupi p****t dan longgar. Sedangkan, bawahnya aku menggunakan celana panjang bahan, seperti celana kantor yang biasa laki-laki gunakan. Saat aku melihat pemandangan ini, sebenarnya aku ragu untuk terus masuk ke dalam. Dan aku tidak yakin, di dalam itu benar Andrew atau bukan. Aku pun menghentikan langkah kakiku. Laki-laki itu pun memperhatikan diriku yang tiba-tiba berhenti. “Kenapa Sis?” tanyanya. “Mmmm… saya pulang aja deh. Saya enggak jadi ketemu Andrew nya.” Aku memutar balik badanku. “Kakak baru ya ke sini?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kakak enggak usah takut. Kalau ada apa, di ruangan ada alarm buat mencegah kejahatan terjadi. Kakak bisa langsung tekan alarmnya,” jelasnya. Tapi, tetap saja aku takut. Aku masih belum berani melanjutkan langkah kakiku. Bagaimana aku tidak bisa keluar dalam keadaan aman. “Lagian yang Kakak bakal temuin Tuan Andrew ini. Kakak aman kalau sama dia,” lanjutnya. “Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?” aku meragukan, jika aku akan aman saat bertemu Andrew. “Tuan Andrew itu enggak pernah menyentuh wanita. Bahkan Kak, itunya enggak bangun walau udah dirangsang.” Cowok ini dengan santainya membicarakan sesuatu yang fulgar. “Berarti dia impoten?” tanyaku. “Bisa jadi.”  “Oke lah, aku akan tetap menemui dirinya,” kataku memantapkan langkahku. Aku harap ini bukan keputusan yang salah. Aku pun melanjutkan langkah kakiku. Walau pun, aku sangat takut untuk berada di sini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN