“Tok… tok…” Seseorang mengetuk pintu kantorku. “Ya masuk,” suruhku. “Bos. Non Ajeng udah sampai,” kata Farale. Aku langsung melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh Waktu Indonesia Barat. “Ternyata tepat waktu juga,” gumamku. “Suruh dia masuk,” kataku. “Siap Bos.” Belum lama Farale meninggalkan ruangan ini. Tidak lama, seseorang kembali mengetuk pintu kantor ini. “Masuk,” kataku. Saat pintu kantor ini terbuka, tanpa melihat wajahnya. Aku sudah mencium aroma khusus dari tubuhnya Ajeng. Tetapi, aku berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaanku. Seolah, aku tidak menunggu nunggu kehadirannya. “Ehemmm…” suara dehemannya. Aku tidak langsung merespon sinyal yang diberikan oleh perempuan itu. Tumben, dia tidak memberikan salam saat bertemu. “Ehemm… Pak Bos,” katanya lagi. Namu

