“Assalamualaikum.” Aku memberi salam setelah menekan bel yang ada di atas pintu rumah Chika. “Wa alaikum salam.” Seseorang menjawab salamku. “Ajeng… sayang. Kamu enggak kenapa kenapa kan?” Chika langsung memelukku setelah dia membukakan pintu. Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Chika. Aku juga berusaha menahan air mataku yang tiba-tiba sudah berada di ujung mata saat Chika memelukku tadi. “Kenapa kamu sayang?” Chika menyadari, jika air mata sudah menggenang di kelopak mataku. “Aku…” Aku tidak bisa menceritakannya kepada Chika. “Ya udah. Ayo kita masuk dulu. Aku buat minuman kesukaan kamu loh. Yuk kita istirahat dulu,” ajak Chika. Dari dulu, dia memang paling mengerti diriku. Selama di Jakarta, dia dan Ami yang menjadi sahabat karibku dari SMP sampai kuliah. Walau pun, kami

