Andrew POV
“Tok… tok…”
Seseorang mengetuk ruangan yang sengaja aku pesan dari Tante Fie.
“Akhirnya dia datang juga,” gumamku.
Hatiku merasakan sangat senang. Padahal, dirinya belum terlihat. Pintu ruangan ini terbuka sedikit demi sedikit. Aku melihat seorang pria yang sangat akrab denganku.
“Malam Mas Andrew,” sapanya.
“Malam Rendy,” kataku.
“Ah Mas Andrew gimana sih. Kan saya udah bilang kalau malam nama saya Reny tapi kalau siang nama saya Rendy,” katanya sambil merubah gaya bicara dari yang lemah gemulai, sampai berubah menjadi laki-laki tulen.
Aku melihat Ajeng yang berdiri di belakangnya, tidak tahan menawan tawanya.
“Iya… iya, Reny,” kataku.
“Mas, ini saya bawakan tamunya,” katanya sambil menunjuk ke arah Ajeng.
Aku tidak tersenyum dan menahan rasa senangku saat melihat dirinya. Kami berdua hanya saling bertatap mata. Bahkan tidak menyapa satu dengan lainnya.
“Kalian sebenarnya saling kenal enggak sih?” si Rendy ini sangat usil mengganggu kami.
“Ke… kenal. Suruh dia masuk.” Baru kali ini aku janjian dengan perempuan tegang seperti ini.
“Ya udah, saya tinggal ya. Mas Andrew, ingat. Jangan nakal ya,” goda Rendy.
Ajeng pun masuk ke ruangan ini. Saat Rendy menutup pintu itu, tinggallah kami berdua di ruangan ini. Ketegangan antara kami semakin terlihat jelas. Padahal, sebelumnya aku sangat berani menyentuh dirinya. Tetapi, mengapa sekarang aku menjadi sangat pengecut di depannya.
“Hai,” sapanya kaku.
“Hai juga.”
Ajeng masih berdiri di depan pintu. Dia tidak mau melangkahkan kakinya ke dalam.
“Sini, duduk sini.” Aku memukul ringan bangku kosong yang ada di sebelahku.
“Aku di sini aja,” jawab Ajeng.
“Yakin? Kamu enggak mau dengar dari dekat hasil penyelidikanku,” godaku.
“Mmmm… enggak di sini aja.”
Kenapa wanita yang aslinya sangat sulit diatur ketimbang bayangannya. Wanita ini juga jauh dari kata seksi. Pakaian sangat tertutup. Aku jadi tidak bisa melihat tubuhnya yang seksi dan mulus. Tidak ada celah buat aku melihat tubuhnya. Tetapi aku semakin penasaran.
“Ya udah kalau kamu mau di sana aja. Saya juga enggak maksa,” kataku mengalah dengan keinginannya.
“Ini foto aslinya.” Aku melempar amplop coklat yang tadi aku terima dari Farale.
“Mmmm... berarti foto itu sudah enggak ada yang beredar kan?” tanya Ajeng.
“Kamu udah periksa internet lagi enggak?” tanyaku.
“Belum,” jawab Ajeng.
“Coba kamu lihat dulu.”
“Biar lebih enaknya sambil duduk sini?” Aku menyuruh dia untuk duduk di sampingku.
Tetapi, dia tetap memilih untuk tetap berdiri. Bahkan, dia memeriksa handponenya juga sambil berdiri. Aku merasa dia sangat ketakutan berada berdua dengan diriku. Entah mengapa, perempuan yang ada di depanku, sangat berbeda dengan perempuan yang aku temui di Bandung waktu itu.
Perempuan yang ada di depanku, terlihat seperti perempuan terpelajar. Dengan Baju dinasnya dan tas yang dia sandang, dia terlihat seperti wanita karir. Dia tidak terlihat seperti w*************a. Siapa sebenarnya perempuan ini. Mengapa aku merasa penasaran dengan dirinya.
“Oke, berarti semua foto sudah dihapus kan ya? Berarti saya pulang sekarang,” katanya setelah mengecek semua berita di internet.
“Gitu aja? Masak dia mau pergi begitu aja?” gumamku kesal.
Aku sudah menanti dia dari kemarin. Dan sekarang dia pergi begitu saja?
“Mmmm… kamu mau pulang pakai apa?” Aku langsung buru-buru mencegah dia untuk keluar dari sini.
“Ya mobil saya,” jawab dia datar.
“Emang kamu tau mobil kamu di mana?” tanyaku.
“Oh iya. Mobil saya lagi diambil sama Farale.” Dia seperti baru ingat bahwa mobilnya tidak ada di depan.
“Ya udah berarti kamu tunggu aja dulu di sini,” bujukku.
Aku langsung mengirim pesan ke Farale untuk tidak membawa mobil Ajeng ke sini. Dan jika Ajeng telepon jangan di terima.
“Mmmm… saya mau hubungi asisten kamu dulu,” kata Ajeng sambil mencari nomor Farale. Dan sepertinya nomor Farale belum dia simpan.
Dia berkali kali mencoba menelepon Farale, tetapi tetap tidak ada yang mengangkatnya. Dia terlihat sangat putus asa.
“Udah tunggu aja dulu, siapa tahu dia lagi di jalan. Dan hapenya di-silent,” kataku terus membujuk dia untuk duduk di sampingku.
“Dan kamu emang enggak mau tahu, siapa yang udah merencanakan ini semua?” Aku memancingnya, agar dia mau memperhatikan diriku.
“Siapa?” tanyanya penasaran.
“Oke dia mulai penasaran,” gumamku pelan. Pancinganku berhasil ditangkap oleh mangsa.
“Mmmm… kalau mau tahu, kamu ke sini dulu.” Aku terus meminta dia untuk bergabung dengan diriku.
Akhirnya, dia pun mau mendekat ke tempatku. Walau pun dia duduk sangat jauh, tetapi setidaknya dia sudah mau duduk.
“Oke, aku udah duduk. Cerita sekarang,” paksanya.
“Kamu orangnya enggak sabaran banget ya?” kataku.
Tetapi, dia diam saja, tidak menjawab. Dia hanya menunggu aku menceritakan tentang pelakunya.
“Mmmm… kamu enggak mau minum dulu?” Aku menawarkan dia sesuatu yang berada di atas meja.
“Enggak usah.” Dia langsung menolaknya mentah mentah.
“Mmmm… ya sudah. Kalau enggak mau saya aja yang minum.”
Aku meminum salah satu minuman keras yang ada di meja. Tetapi, aku hanya meminum yang kadar alkoholnya rendah. Agar malam ini, aku tidak mabuk. Dan aku bisa menikmati malamku bersama perempuan ini.
“Kamu yakin enggak mau minum?” Aku mencoba menawarkannya kembali.
Tetapi, dia hanya diam. Perempuan ini memang sangat sulit untuk didekati.
“Oke oke… kamu mau lihat wajah pelakunya kan?” tanyaku.
Dan dia hanya mengangguk.
“Ini, asisten saya sempat merekam pelakunya yang sedang menghapus foto foto itu.” Aku mencari file video yang tadi dikirim oleh Farale.
“Kalau mau lihat, kamu duduk lebih dekat lagi sini,” kataku.
Dia pun meletakkan tasnya dan kemudian berjalan ke tempat dudukku. Setelah dia dekat, dia mengambil handpone yang aku berikan. Namun, setelah dia memegangi handpone ini, aku langsung merebahkan tubuhku di atas sofa ini. Sehingga, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas diriku.
“Aaaaa…” teriaknya saat dia jatuh di atas tubuhku.
Tangannya masih memegangi handpone ku. Sedangkan, aku tidak juga melepas handpone itu dari genggamanku.
Di saat dia sadar, dia langsung melepaskan handpone-nya. Dan berusaha bangun dari atas tubuhku. Tetapi, aku buru buru mencegahnya. Aku langsung menarik pinggangnya, agar tubuhnya tepat berada di atasku.
Cantik, lembut. Wajahnya sangat dekat dengan diriku. Matanya yang indah, sungguh sangat indah untuk dipandangi. Hidungnya yang mancung, menambah manis wajahnya. Bibirnya yang seksi, sungguh menggoda. Aku tidak sabar untuk mencium bibirnya yang seksi itu. Tanpa aku sadari, aku melepas handponeku yang berada di atas kepalaku. Kemudian, tangan ini mulai memeluk erat tubuhnya yang indah.
Entah mengapa, aku merasakan perasaan yang tidak asing. Aku sempat melihat bayangan orang yang mengambil ciuman pertamaku. Saat itu, aku sedang tidak sadarkan diri. Dan saat aku terbangun, aku merasakan sentuhan lembut dari bibir seorang wanita. Walau itu hanya dilakukan sepersekian detik. Namun, tetap saja itu adalah ciuman pertamaku. Sejak saat itu, aku penasaran dengan sentuhan seorang wanita. Tetapi, sentuhan mereka tidak pernah sama dengan sentuhan perempuan itu. Hangat dan manis.
Sampai sekarang, aku tidak dapat menemukan perasaan itu lagi. Tetapi, saat aku bersama Ajeng, ada perasaan yang hampir serupa. Bahkan, bayangan perempuan berkaca mata itu juga muncul, saat Ajeng tepat berada di atas tubuhku. Siapakah perempuan ini?
“Kamu tambah seksi aja,” godaku.
Aku melihat wajahnya berubah menjadi merah. Dia terlihat tambah manis dalam keadaan malu malu seperti sekarang.
“Lepaskan.” Namun tiba-tiba dia meronta di atas tubuhku.
“Ah… hentikan. Kamu jangan seperti itu,” desahku sambil menahan gesekan yang timbul karena tubuhnya yang bergoyang di atas diriku.
“Kamu kenapa?” Ajeng terlihat bingung dengan tingkah anehku.
“Gara gara kamu, ada sesuatu yang tegang di bawah,” kataku.
“Aaaaa…” Ajeng berteriak dan langsung bangun dari atas tubuhku dengan sekuat tenaga.
“Dasar m***m,” bentaknya.
“Katanya kamu enggak akan menyentuh perempuan,” kata Ajeng.
“Kata siapa?” Siapa yang sudah bergosip di belakangku.
“Kata si Reny eh Rendy,” kata Ajeng mengingat nama orang yang mengantarkannya tadi.
“Dia bilang apa?” tanyaku penasaran.
“Dia bilang… itu mu enggak bakalan bangun.” Dia terlihat malu saat mengatakannya.
“Sembarangan aja, aku laki-laki normal. Pasti bangun, mau lihat?” aku menawarkan diri untuk dilihat olehnya.
“Aaaa… dasar mesum.” Lagi lagi dia berteriak memanggil diriku m***m. Dia juga menutup matanya dengan kedua tangannya.
“Bisa bisanya di saat seperti ini, kamu bangun,” protesnya sambil terus menutup matanya.
“Ini kan gara gara kamu?” kataku tidak mau disalahkan.
“Pokoknya, aku mau pulang sekarang. Kalau di sini lama lama bisa gawat. Bisa bisa kejadian di Bandung terulang lagi,” katanya dengan kesal.
“Emang itu yang aku harapkan,” gumamku.
“Apa?!” Dia sepertinya mendengar apa yang aku katakan.
“Maksudnya, emangnya kita di Bandung ngapain?” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Mmmm… aku enggak ingat,” kataku.
Sudah pasti itu bohong. Aku yakin dia pasti masih mengingat kejadian yang di Bandung.
“Kamu mau aku ingatkan?” aku menggeser tempat dudukku, agar lebih dekat dengan dirinya.
“Kamu mau mulai dari mana,” bisikku di telinganya.
“Aaaa…” tiba-tiba dia menamparku dengan mukaku dengan punggung tangannya.
Pukulannya sangat keras. Dan sepertinya ada sesuatu yang keluar dari hidungku.
“Darah,” kataku terkejut melihat darah yang ada di tanganku, setelah menyeka sesuatu yang keluar dari dalam hidungku.
Akhirnya Ajeng pun melihat ke arahku. Dan dia melihat ada darah segar yang mengalir dari hidungku. Barulah dia terlihat sedikit tenang.
“Kamu mimisan,” katanya sambil melihat hidungku.
“Kamu enggak lagi mirikin sesuatu yang jorok kan? Sampai kamu mimisan seperti ini,” tanya Ajeng.
“Hello! Ada yang enggak sadar habis mukul orang,” kataku dengan kesal.
“Siapa?” Dia malah bertanya.
“Menurut kamu?” aku balik bertanya.
“Aku?” Dia tidak yakin, jika dia telah memukul seseorang.
“Yang berdarah siapa?” tanyaku.
“Kamu,” jawabnya sambil menunjuk diriku.
“Berarti yang memukul siapa?”
“Ya bukan berarti aku!” Dia tidak juga mau mengakui telah melukai diriku.
Asal kamu tahu, kamu bukan saja melukai hidungku. Tapi kamu juga melukai hatiku.
“Udah dari pada berdebat, kenapa kamu enggak obatin aku sih?” keluhku.
“Ah enggak usah, nanti juga berhenti sendiri,” katanya dengan santai.
“Dasar perempuan kejam, tidak berperasaan.”
Aku kecewa mendapati seorang perempuan yang tidak peduli sama sekali dengan diriku. Dan yang lebih menyakitkan, perempuan ini yang aku tunggu tunggu dari hari kemarin.
Namun tiba-tiba, perempuan itu memegangi kedua pipiku. Dan dia menyandarkan diriku pada bagian belakang kursi.
Apa yang akan dilakukan oleh perempuan ini?
Apa kali ini aku akan mimisan karena membayangkan sesuatu yang hot, seperti perkataan Ajeng tadi?
Ajeng, kamu sangat manis.