Andrew POV Ajeng memegangi ke dua pipiku dengan sangat lembut. Darah yang keluar dari hidungku, masih suka keluar sedikit demi sedikit. Kemudian, dia meletakkan kepalaku ke sandaran kursi dengan berlahan lahan. Dia berada sangat dekat dengan diriku. Tangannya juga masih terasa lembut di pipiku. “Ka… kamu mau nga… pain?” tanyaku yang gerogi diperlakukan seperti ini oleh Ajeng. “Katanya mau diobatin?” katanya dengan santainya. “Hah.” Aku pun terkejut dengan yang baru saja dia katakan. Lalu tiba-tiba dia mengangkat dagu ke atas. Hingga aku harus mendengak. Padahal, aku sempat berpikir dia akan mencium diriku. Ternyata, itu hanya khayalanku saja. Tidak lama kemudian, dia menyumpal hidungku dengan tisu. Walau sebelumnya dia sudah membersihkan bekas darahnya terlebih dahulu. “Aku kirain k

