Ajeng POV Akhirnya, aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan. Di dalamnya, seorang Andrew sedang duduk di sebuah sofa panjang yang berbentuk L. Dia bersandar dengan tangan di bentangkan pada sandaran kursi. Gayanya sangat menunjukkan sikap sombongnya. Aku tidak boleh lama-lama berada di sini. Jika masalah foto itu selesai, aku harus segera pergi dari sini. “Malam Mas Andrew,” sapa orang yang mengantarkan aku ke ruangan ini. “Malam Rendy,” katanya. Hah, Rendy. Akhirnya aku tidak bisa menahan tawaku. Namun, sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan suara tawaku terdengar oleh Rendy. “Ah Mas Andrew gimana sih. Kan saya udah bilang kalau malam nama saya Reny tapi kalau siang nama saya Rendy,” katanya. “Iya… iya, Reny,” kata Andrew. “Mas, ini saya bawakan tamunya,” katanya. Sekarang

