“Ajeng?!” Lagi-lagi aku mendengar nama yang sama. “Bos, saya perlu lihat orang itu enggak?” tanya Farale. “Orang apa?” “Ah Bos, suka pura-pura enggak dengar.” “Mmmmm… itu lihat, makanannya udah datang.” Aku mencoba mengalihkan perhatian Farale. Aku yakin, perempuan yang tenggelam ini bukan Ajeng yang aku kenal. Sekarang, dia sedang ada di Jakarta. Tidak mungkin, dia berada di sini. “Bos yakin, saya enggak usah lihat perempuan itu?” tanya Farale lagi. “Kita makan dulu. Saya udah lapar.” “Tadi katanya belum lapar.” “Terserah saya. Perut perut saya. Saya yang tahu kapan laparnya kapan enggaknya.” “Iya… iya…” Walau pun tidak menyuruh Farale untuk melihat perempuan yang tenggelam itu. Aku yakin, dia pasti mencari tahunya nanti. Aku yakin itu. *** Ajeng POV “Aduh, kepalaku saki

