"Gunting kecil ini nggak boleh ketinggalan," Ibu menyodorkan di hadapanku. "kalau perlu gantungi di beha, biar nggak lupa dan nggak kelihatan. Terus, kalau mau keluar rumah, rambut jangan digerai, nanti diikuti dedemit." Padahal aku sudah mengenakan penutup kepala. "Jangan makan di dalam kamar. Satu lagi, harus banyak gerak, biar bayinya gampang lahirnya nanti." My my my! Sejak tadi, Ibu tidak henti-hentinya memberiku wejangan yang well-menurutku agak berlebihan-itu. Kukira, dengan Ibu tinggal di sini, aku akan mendapatkan sekutu untuk melawan pria kaku seperti Pram. Ini malah lebih buruk! Aku pusing dibuatnya. Untung dia mertuaku, kalau saja dia Pram, aku sudah membungkam mulut cerewetnya dengan mulutku. Semua yang dia katakan tidak bisa otakku terima. Oke, yang terakhir bisa dipikirk

