"Kamu nggak ikutan nginep, Dhe?" Dhea menggeleng, menyampirkan tas selempang bewarna hitam, kemudian tersenyum menatapku. "Udah ada janji sama teman." "Pacaran terus kamu...." "Ya gimana ya, Mbak. Namanya orang cantik." Fuck. Aku mengangguk paham. Dia memang cantik dan jawabannya sialan benar. "Siap-siap, Ibu kayaknya bakal seratus lebih cerewet saat tahu Mbak Ra hamil," bisiknya, sembari menyeringai. Dia bahagia melihatku akan mendapatkan masalah. "Well, kapan lagi ada momen Mbak Ra akan kalah sama Ibu, kan?" "k*****t kamu, Dhe!" Tawanya meluncur, diiringi gerakan mengibaskan tangan ke udara. Sepersekian detik, Dhea melangkah meninggalkan kamarku. Dan, setelah itu, otakku langsung bekerja dengan membuat possible scene yang akan terjadi antara aku dan Ibu nanti. Berdiri, aku akan

