Dokter Mega tersenyum lembut, setelah mengatakan kalau janinku baik-baik saja. Aku yang terlalu berlebihan, baru kontrol tiga hari yang lalu dan sekarang aku sudah ada di sini lagi. Aku hanya tidak ingin sedikit pun ada kesalahan pada bayiku. Apa itu salah? Kurasa sama sekali tidak. Tuhan tahu itu. "Kapan bisa kelihatan jenis kelaminnya, Dok?" Dokter Mega kembali tersenyum. Namun, sekarang senyumnya berbeda. Dia terlihat geli atas pertanyaanku beberapa. "Itu masih lama. Udah nggak sabar banget kayaknya." Pandangannya beralih ke Pram yang sejak tadi hanya diam di sampingku. "Ayahnya yang nggak sabar, ya?" Pram menggeleng. "Saya nggak keberatan apa pun jenis kelaminnya. Pasti sama-sama menggemaskan." Kuberitahu, Pram akan berubah menjadi lelaki pendiam saat masuk ke ruangan Dokter Mega.

