Dress Hitam

2160 Kata
Tin! Suara klakson mobil berwarna putih mengusik pendengarannya. Larrisa menatap tanpa gairah. Dia acuh tidak menghiraukan mobil putih itu. Larrisa merasa tidak ada hubungan dengan mobil itu, dia terus fokus ke depan menunggu lampu berubah warna. Sekali lagi mobil itu mengklakson tepat di sebelah perpajakannya. Awalnya dia mengiraa kalau mobil putih itu sedang menyapa wanita di sebelahnya, sampai akhirnya dia terbelalak melihat Eliot, turun dari dalam mobil putih itu. Yang paling membuat dia kaget setengah mati adalah ketika Eliot berjalan menghampiri dirinya. "Ke-Kenapa kau bisa di sini?" Larrisa dengan bingung menatap ke sekeliling untuk memastikan bahwa berdirinya Eliot di depannya benar memang untuk dirinya. Larrisa bingung, kenapa seorang direktur yang sibuk semacam Eliot bisa secara kebetulan berada di dekat gedung. "Bukannya kau kembali ke perusahaanmui?" "Hanya kebetulan lewat," jawabnya membual. Dia menggaruk tengkuk lehernya. Eliot pun merasa ada yang aneh dengan tingkahnya. Dia heran mengapa bisa berpikir untuk menghampiri Larrisa. Bahkan yang paling membuat dia merasa menjadi orang paling bodoh adalah ketika dengan nekat berani mengikuti Larrisa hingga ke gedung bak seorang penguntit. Meski tidak percaya dengan kata kebetulan, Larrisa mencoba mengangguk dan meyakini perkataan Eliot. "Lalu kenapa kau malah turun dari mobil?" tanya Larrisa lagi. Eliot terdiam sejenak. Dia pun sedang bertanya demikian pada dirinya sendiri. Jangankan Larrisa, dia pun bingung mengapa kakinya tiba-tiba menginjak rem mobil dan melangkah ringan menemui Larrisa. "Kakekku ingin bertemu denganmu," jawab Eliot mengaur. Mulutnya asal celetuk. Hanya alasan itu yang terlintas di otaknya. Pria cerdas lulusan Oxford terbaik itu malah membodoh saat berbicara dengan Larrisa. Eliot melonggarkan kerah bajunya lalu kemudian memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. Seketika suasana menjadi begitu panas. Tenggorokannya kering setelah membual karangan bebas. "Apa?!" Larrisa semakin tertekan. Bola matanya melebar besar seakan hendak keluar. "Secepat itu?" "Intinya kau bersiap saja. Selanjutnya akan ku kabari nanti," sambung Eliot. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya tanpa berpamitan pada Larrisa. Eliot tampak terburu-buru. Langkahnya seakan didesak waktu. Belum lagi karena tadi dia sempat salah arah saat berbalik ke arah mobilnya, membuat geraknya seperti orang salah tingkah. Eliot menginjak pedal gas mobil milik managernya itu tanpa peduli akan Larrisa. "Ada apa dengannya? Aneh sekali," kata Larrisa sambil melihat mobil putih itu menghilang dari pandangannya. Larrisa tidak terlalu memikirkan tentang sikap awkward Eliot. Pikirannya semakin penuh berisi tentang perjodohan dan kontrak perjanjian itu, apalagi setelah melihat wajah Eliot, dia semakin frustasi. Dia sangat frustasi hingga lupa dengan niatnya untuk berjalan-jalan ke taman. Seleranya hilang sesaat melihat pria yang sudah mengancam dirinya tanpa ampun. Larissa kembali ke rumahnya dan ingin mengurung diri selama beberapa hari kedepan. Dia tidak akan keluar dalam keadaan apa pun. Larrisa ingin terlihat terpuruk seperti di drama televisi, menunggu iba dari pencipta dan keajaibannya. *** Fajar menyingsing dan menebus celah jendela kaca besar milik Larrisa. Membangunkan lelap malam itu. Dia membuka mata meski enggan melangkah. Mulai merangkak lambat sempoyongan membuka tirai tebal berwarna merah muda. "Selamat pagi dunia fana!" teriak Larrisa sambil meregangkan badannya. Dia menghentakkan tangan dan kakinya, menghilangkan pegal di badan. Larrisa turun dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bersama ayahnya. Seperti biasanya, dia tidak merapikan rambut kusutnya dan bahkan belum mencuci muka. "Pagi, Ayah," sapa Larrisa. Tuan Steven tersenyum bangga melihat putrinya, meski sedikit kecewa dengan penampilan putrinya yang begitu jorok dan pemalas. "Wih, tumben Ayah tersenyum padaku pagi begini. Biasanya ceramah karena aku belum mandi," sindir Larrisa sambil menuangkan air ke gelas kosong di depannya. Dia langsung meminum gelas yang sekarang penuh dalam sekali tegukan saja. "Tidak… Ayah hanya sedang bersyukur," jawab Tuan Steven tanpa menghilangkan senyum indah itu. Dia terus menatap putrinya itu sambil berucap terima kasih karena akhirnya putrinya itu berhasyi mendatangkan menantu idaman yang tampan dan cerdas. "Benarkah? Ada kabar baik?" "Tentu saja." Tuan Steven meletakkan potongan ayam di atas piring putrinya. "Putri Ayah akan segera menikah, siapa yang tidak senang?" Tuan Steven tertawa bahagia selepas mengucapkan kalimat syukurnya. Uhuk! Larrisa tersedak nasi goreng yang baru dia suapkan ke mulutnya. Kerongkongannya serasa tersumbat, tertutup hingga udara tak masuk ke dalam paru-paru. "Siapa yang akan menikah?" tanya Larrisa dengan mata terbelalak. "Hahaha, Tuan Erdogan bilang kalau cucunya sangat menyukai putri Ayah ini," jelas Tuan Steven. Perasaan Larrisa sudah tidak enak. Dia mengkhawatirkan akhir dari kisahnya dengan Eliot. Semua hanya sandiwara, tapi kedua belah pihak keluarga begitu serius untuk menyunting Larrisa dan Eliot. Siapa yang menduga jika ternyata ayahnya sangat berharap dengan pernikahannya dengan Eliot? Larrisa tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ayahnya jika tahu kalau sebenarnya dia hanya berpura-pura menerima perjodohan tersebut. Dia tidak ingin ayahnya kecewa berulang kali karena dirinya, cukup untuk satu kebohongan, Larrisa tidak sanggup menambah kebohongan lainnya. "Ayah, aku tidak benar-benar menginginkan pernikahan diantara kami," jelas Larrisa. Dia mengumpulkan keberanian untuk jujur kepada Tuan Steven. Dia merasa berdosa ketika harus menutupi tentang kontrak perjanjian yang dibuat oleh Eliot. "Jangan terburu-buru, pelan-pelan saja." Tuan Steven tertawa lebar. Dia mengerti kisah anak muda, toh dia juga pernah mengalami. Tuan Steven murni mengira bahwa putrinya hanya kesulitan beradaptasi perihal perjodohan. "Nanti juga akan terbiasa," lanjutnya seolah paham. Melihat raut wajah ayahnya yang begitu antusias, Larrisa putus asa. Dia merasa sia-sia bercerita pada ayahnya. Bagaimana menyadarkan orang yang sedang jatuh cinta? Begitulah sulitnya menjelaskan keadaan Larrisa pada Tuan Steven. "Aku sudah kenyang. Mau mandi." Larrisa berhenti mengunyah. Dia mengecup pipi ayahnya dan kemudian naik ke atas kembali. "Semangat kerjanya, Ayah." Di lain sisi pada waktu yang bersamaan, dengan keadaan yang sama. Eliot yang tengah sarapan pagi bersama kakeknya di ruangan besar dan mewah, terdengar perbincangan sunyi tentang perjodohan itu. Meja bundar dikelilingi kursi berbaris melingkar, duduk seorang kakek dan cucu sedang menyantap masakan ala luar negeri. Dengan hanya ada pisau dan garpu di seberang tangan mereka. Masing-masing meletakkan kain putih di pangkuan mereka, mencegah percikan yang jatuh saat sedang menyuapi makan. "Bagaimana…." Belum sempat Tuan Erdogan menyelesaikan pertanyaannya, Eliot membuka mulut dan menyalip kalimat kakeknya itu. "Kakek bisa atur jadwal makan malam dengan putri Tuan Steven," katanya tanpa menatap Tuan Erdogan. Trang! Tuan Erdogan terbelalak dan berhenti dari suapan sendok garpu di tangannya. Dia meletakkan garpu itu lalu menatap cucunya dengan serius. "Apa yang kau katakan?" Jantungnya hampir pecah saat cucunya yang kolot perihal wanita itu tiba-tiba membahas putri Tuan Steven. "Jangan main-main soal ini," sambung Tuan Erdogan tidak percaya. Dia tidak yakin betul jika cucunya dengan mudah menerima perjodohan itu. Sudah berkali-kali dia ditipu cucunya, Eliot. Berulang kali dijanjikan pernikahan, sampai sekarang tidak ada satu wanita pun yang dihadirkan untuknya. "Aku serius, Kakek," ucap Eliot meyakinkan. Meski wajahnya tidak melukiskan sebuah keyakinan. "Jangan menipuku lagi. Aku sudah jera dijahili cucu durhaka sepertimu," jawab Tuan Erdogen tidak terpancing. "Aku sudah mengundangnya. Tinggal memeberikan jadwal temu. Jika tidak bisa, aku akan batalkan." Jawaban Eliot begitu dingin. Seakan malas berdebat dengan kakeknya yang sukar percaya padanya. Memang salahnya karena terus menipu kakeknya perihal calon istri, hingga kakeknya tidak percaya lagi padanya. "Anak kurang ajar! Ajak dia sekarang, cepat!" kata Tuan Erdogen senang. Suaranya yang berat dan serak terdengar sangat bersemangat. Pipinya yang sudah berkerut itu melebar hingga sudut matanya menyipit. "Tentu saja dia harus sering makan dengan kita. Hubungan kalian harus lebih intim. Bukan begitu, Eliot, hahaha." Tidak ada kabar yang lebih membahagiakan baginya selain daripada kabar tentang percintaan cucunya. Tuan Erdogen hanya menunggu untuk menimang cicit, kebahagiaannya kini hanya berasal dari Eliot. Usianya tidak muda lagi, baginya keluarga adalah aset berharga. Pintanya sebelum mati adalah melihat cucu kesayangannya itu hidup bahagia bersama keluarga baru. Dia tidak bisa meninggalkan Eliot sebelum memastikan kebahagiaan cucunya. Cucunya itu tidak mendapat kasih dari orang tua. Baru saja berusia delapan tahun, dia sudah ditinggal ayah ibu. Dia tahu betapa sulit dan menyakitkan perjalanan hidup Eliot untuk menjadi dewasa. Jika diukur kasih sayang Tuan Erdogen menurutnya masih sangat kurang. Tidak ada yang bisa dia lakukan sebagai seorang kakek. Dia hanya ingin membuat Eliot bahagia, hanya itu impiannya saat ini. Semua akan dia berikan kepada sang cucu, bahkan dia rela berkorban demi kebahagiaan sang cucu. "Kapan kau berikan aku cicit?" tanya Tuan Erdogen menyeletuk sesak tidak bersabar. Uhuk! Air yang tengah diteguk Eliot seakan sulit ditelan. Dia menyapu bibirnya dengan kain putih bersih di sebelahnya. "Kami tidak menikah secepat itu," jawab Eliot dengan jantung yang berdetak laju. Telinganya terasa panas karena tidak menyukai pertanyaan kakeknya yang terlalu jauh. "Ba-Bagaimana mau punya anak," sambungnya menggerutu. Pipinya memerah malu mendengar pertanyaan kakeknya. "Aih, jaman sekarang punya anak baru menikah sudah biasa. Aku merestui hubungan seperti itu," ucap Tuan Erdogen tanpa menyaring perkataannya. Dia benar-benar sudah tidak sabar dengan kehadiran cicit, jalur ilegal pun dia rela. "Kakek, aku ini pria yang bertanggung jawab, sesuai kode etik. Aku akan menjaga Nona Larrisa dengan baik. Jangan bahas ke sana lagi, kami baru saja memulai hubungan ini," jelas Eliot panjang lebar. Dengan cepat dia melerai kakeknya untuk membahas lebih jauh tentang Larrisa. "Dasar anak kolot," cemooh Tuan Erdogen. "Dimana Joan? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tuan Erdogen menatap sekeliling. Biasanya manager cucunya itu sudah akan hadir di pagi hari menjemput Eliot. Hari ini dia tak melihat batang hidung Joan. "Dia tidak akan datang," jawab Eliot. "Tumben sekali?" Tuan Erdogen keheranan. "Dia tidak bekerja hari ini?" tanyanya lagi. "Aku membawa mobilnya, dia tidak punya transport untuk menjemputku." "Kenapa kau bawa mobil Joan? Kemana mobilmu?" "Di gudang," jawabnya singkat. "Lalu…." Eliot langsung berdiri dari kurisnya. Dia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu merapikan dasi yang dia kenakan. "Aku permisi, Kek. Sudah jam kerja." Dia meninggalkan Tuan Erdogen dikala masih banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. "Kakek masih belum selesai membahas Larrisa!" teriak Tuan Erdogen memanggil cucunya yang begitu pembangkang. *** Dua hari telah berlalu. Kehidupan Larrisa tidak berubah sama sekali, dia melakukan aktivitas seperti biasanya. Tanpa ada kekangan dari pihak manapun. Padahal dia sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi Eliot dan Kakeknya. Nyatanta direktur Will Group itu tidak ada kabar, atau hanya sekedar memberitahu jadwal makan malam bersama kakeknya. "Apa dia sudah lupa dengan kontrak itu?" batinnya kebingungan. "Aish, kenapa aku yang malah mempertanyakan. Bukankah itu bagus Larrisa?" Secepatnya Larrisa menghentikan lamunannya. Tok-Tok! Suara ketukan pintu berulang dan kasar dari luar kamarnya terdengar munusuk ke telinganya. Larrisa lantas membukanya langsung, melihat siapa yang begitu rusuh mengganggu keheningan kamarnya. "Siapa yang menggedor pintu, ha?!" Tangannya menggenggam pintu dengan kuat lalu menariknya dengan kencang. Mukanya terlihat murka, tidak senang dengan orang yang sudah mengetuk pintunya dengan keras. Sungguh dia sangat terganggu. "Bi Sayi?" Larrisa memadamkan amarahnya sesaat melihat wanita paruh baya itulah yang sudah menganggu kebisingannya. Dia langsung tersenyum mengubah raut wajahnya. "Nona Risa, Tuan Eliot berada di bawah menunggu Anda," kata Bi Sayi menyampaikan keadan rumahnya yang dihebohkan dengan kedatangan Eliot. "Ke-Kenapa dia bisa datang ke sini?" Larrisa dengan panik tidak tahu harus apa menutup pintunya dan langsung turun ke bawah. Dia tidak peduli dengan pakaian rumahan yang dia kenakan. Tangan baju yang menjuntai menutupi seluruh tangannya, dan celana panjang yang sangat longgar. Tampak pakaian itu terlalu besar di tubuh gadis ramping itu. Rambutnya juga begitu kusut. Hanya dijepit jedai kecil dan rambut selebihnya terurai tidak beraturan. "Apa yang kau lakukan di sini?!" Larrisa berteriak sambil menunjuk Eliot dengan jari lentiknya. Dia berjalan cepat ke arah Eliot dengan mata terbelalak kaget melihat kehadiran pria itu. Tuan Steven yang duduk berbincang santai bersama Eliot langsung menelan ludah melihat penampakan putrinya yang begitu gaduh, tidak ada anggun anggunnya. "Larrisa, jaga sikap!" Tuan Steven menegur putrinya dengan sedikit senyum menekan. Dadanya sesak melihat putrinya datang dengan kondisi mengerikan itu di depan Eliot, si pria yang paling perfeksionis. "Kenapa kau bisa ke sini?" Larrisa berdiri di samping Eliot yang tengah duduk dengan tampang tidak terusik melihat kebisingan yang diciptakan Larrisa. Dia menebalkan telinga dan matanya agar menghindari Larrisa yang membuat Eliot picing mata. "Eliot, Larrisa memang suka melantur sehabis bangun siang. Dia akan berkemas. Jangan ambil pusing," kata Tuan Steven pada Eliot. Harga dirinya seolah dipertaruhkan karena putrinya yang tidak tahu aturan itu. Tuan Steven begitu cemas jika sampai Eliot mengurungkan niatan menikahi Larrisa. Cepat-cepat dia menyuruh Bi Sayi membawa Larrisa pergi berkemas. "Untuk apa aku berkemas? Hey! Hanya aku yang tidak tahu apa-apa di sini." Larrisa mencoba tetap berdiri di perpajakannya meminta penjelasan, meski Bi Sayi terus menarik Larrisa, mengajak gadis itu berkemas. "Tunggu dulu, Bi! Kenapa aku harus berkemas begini?" Larrisa tetap saja banyak bertanya selama tangan Bi Sayi menarik tangannya naik ke atas kamar gadis itu. "Hari ini Tuan Erdogen mengajak Nona Larrisa makan di villa pribadi keluarga William," jelas Bi Sayi dengan rangkuman. "Aku belum setuju!" Larrisa berontak akan turun ke bawah lagi, untuk menyampaikan penolakan tersebut. Dengan cepat Bi Sayi menahan gadis liar itu sekuat tenaga. Dia menarik tangan Larrisa dan memasukkan ke dalam kamar bersama dengannya. Gadis yang sudah dianggapnya sebagai cucu sendiri itu memang sulit dikendalikan, bahkan dia, sebagai pengasuh Larrisa sejak kecil cukup letih menghadapi gadis itu. "Nona Larrisa sebaiknya berkemas dengan cepat, jangan membuat Tuan Eliot menunggu di bawah. Tuan Steven akan marah pada Anda nantinya," terang Bi Sayi. Meski berat melangkah, Larrisa dengan terpaksa mengganti pakaiannya dan berdandan. "Anda tidak mandi?" tanya Bi Sayi saat melihat gadis itu memilah baju di lemari. "Aku baru selesai mandi, Bi. Ada apa?" "Ti-Tidak." Bi Sayi terdiam seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN