Villa Baru

2142 Kata
Kaki putih mulus milik gadis liar itu turun dari tangga dengan bungkusan heels panjang. Hentakan kakinya begitu ramah terdengar di tiap langkah. Sorotan mata langsung tertuju padanya. Sempat mereka terbelalak melihat gadis lusuh tidak beraturan tadi berubah menjadi putri anggung nan cantik. Dress hitam berpadu manik putih di lingkaran lengan bajunya membuat pesonanya kian bertambah. Di lehernya melingkar liontin bermata satu dan juga sepasang anting kecil yang menjadi aksesoris Larrisa. Rambutnya di ikat dengan model ponytail hingga meracik aksen menggemaskan dan menawan dalam sekali gus. Dress hitam yang menutupi garis bahu hingga lutut itu membuat Eliot terperanjat dari diam. Deg! Eliot menyukai warna hitam. Terutama ketika melihat dress hitam dan juga heels hitam yang dipadukan dengan liontin serta sepasang anting, membuat dirinya gelap sejenak. "Putri Ayah memang cantik. Pantas Eliot langsung jatuh cinta pada pandangan pertama." Lelucon Tuan Steven menegur Eliot dari kekagumannya. Dia langsung mengalihkan bola matanya ke arah berlainan dan menunduk kemudian. Sebisa mungkin Eliot menampakkan raut tidak terpesona sama sekali. "Ehm." Eliot mendeham untuk menghilangkan gugupnya. Dia langsung membuka kancing tangan bajunya dan melipat hingga ke siku. Larrisa langsung menjegilkan matanya ke arah Eliot. Bibir yang sudah dibalur lipstik merah merona itu menyudut samar-samar karena perangai Eliot. Sudah lelah berdandan, tapi pria itu sama sekali tidak menoleh padanya. "Ck," decaknya kesal. "Ayo, kalian berangkat sekarang. Tuan Erdogen sudah menunggu lama," ucap Tuan Steven menghancurkan keheningan. "Kalau begitu, kami pamit dulu, Tuan Steven." Eliot dengan formalnya membungkuk pada ayah Larrisa. "Jangan terlalu kaku begitu. Kau panggil ayah saja," gurau Tuan Steven sambil menepuk bahu pria yang tingginya tidak setara dengannya. "Tentu saja, Ayah." Deg! Larrisa langsung ternganga mendengar mulut ringan Eliot dengan mudahnya memanggil ayahnya dengan panggilan yang sama seperti dia. Larrisa tak habis pikir kalau pria itu dengan berani melakonkan sandiwara yang amat sempurna. Bahkan dia saja sampai bergetar hatinya melihat sandiwara bak nyata itu. Keduanya kemudian dihantarkan Tuan Steven dan juga Bi Sayi hingga naik ke dalam mobil. Mereka melambai bahagia ketika Larrisa, putrinya pergi bersama Eliot. "Entah kebaikan apa yang kulakukan di masa lalu, sampai bisa punya menantu seperti Eliot," decak Tuan Steven tersenyum. Bi Sayi hanya bisa membalas dengan senyuman. *** Di dalam mobil, keduanya duduk di belakang supir pribadi kakeknya Eliot. Tidak ada perbincangan diantara mereka. Larrisa terus menatap ke samping memandang jalan, sedangkan Eliot terus memainkan ponsel genggam miliknya tanpa henti. "Tuan Erdogen sudah sampai di villa, Tuan," lapor supir pribadi kakeknya itu. "Hmm," angguk Eliot tanpa menatap supir itu. Matanya terus fokus memainkan ponsel genggam miliknya dan gak peduli dengan sekeliling. Jengkel dengan Eliot, Larrisa menepuk tangannya sekali dengan sangat keras, hingga Eliot menatap ke arah gadis itu. Plak! Sekali lagi dia menepuk tangannya. Kali ini dia mengangkat agak sedikit jauh dari tepukan yang pertama. "Apa yang kau lakukan?" Eliot menatap Larrisa dengan heran. Dia menaikkan sebelah alisnya merasa aneh melihat Larrisa. "Tidak, ada nyamuk," jawab Larrisa cepat. Matanya tidak berkedip sama sekali. Dia melebarkan matanya sedikit ke arah Eliot lalu tersenyum kaku pada pria itu. Seolah sedang melemparkan kemarahan pada Eliot. "Nyamuk? Apa mengganggu Anda, Nona?" tanya supir itu panik. "Tentu." Tatapa nmata Larrisa kembali dilemparkan pada Eliot. "Aku sangat terganggu," sambungnya lagi. Larrisa menyipitkan matanya hingga sudut tajam tatapannya jelas menusuk Eliot. Dia seakan mengecam Eliot tanpa jera. Ponsel yang tengah dipegang Eliot langsung dimasukkannya ke dalam saku. Dia menggulir bola matanya ke arah jendela mobil karena merasa terancam dengan tatapan wanita itu. Larrisa membuka kaca mobil itu dan kemudian mengeluarkan kepanya sedikit ke luar. Dia menikmati angin sejuk yang menghembus wajahnya. Senyum tipis pun terukir sempurna di wajah Larrisa, dia begitu senang dengan suasana saat ini. Begitu tenang, hingga sejenak dia lupa dengan masalah hidupnya. "Pak, naikkan kaca mobilnya!" perintah Eliot. Larrisa melirik Eliot dan kemudian perlahan memasukkan wajahnya. Dia cemberut berat sampai raut wajahnya terlihat menyebalkan. Larrisa begitu marah di dalam hatinya, karena Eliot menjahili kesenangannya. Kaca mobil itu kemudian tertutup rapat hingga angin tak dapat menembus ke dalam mobil itu. Larrisa meremuk dress hitam yang sedang dia kenakan karena merasa kesal dengan tingkah Eliot. Rasanya ingin memukul kepala pria itu hingga jatuh pingsan. Tangan gadis itu sudah terkepal kuat seolah bersiap melemparkan tinjuan maut ke arah Eliot. Dia mengeraskan rahangnya dan menggerutu hebat di dalam hatinya. "b******n kurang kerjaan," benaknya merutuk pria di sebelahnya. Perjalanan mereka begitu jauh, sudah hampir satu jam belum juga sampai ke tujuan. Mata Larrisa sudah sangat berat hingga tidak mampu menahan kantuk itu. Dia menyenderkan kepalanya ke samping jendela lalu tertidur dengan pulas. Duk! Duk! Suara ketukan kepala Larriss ke kaca jendela mobil itu. Terus menganggu telinga Eliot dengan suara yang ditimbulkan Larrisa. Dia menarik nafasnya panjang, lalu meletakkan telapak tangannya di samping kepala Larrisa, hingga kepalanya tidak lagi terbentur ke kaca jendela tersebut. Dia merasa bising dan terganggu dengan suara itu. Namun kini setelah menyalipkan telapak tangannya di kepala Larrisa, dia malah menyesal, tangannya keram karena terlalu lama menggantung menahan kepala Larrisa. Tangannya kini benar-benar kesemutan, hingga tidak sengaja menarik tangan panjangnya dari sisi Larrisa. Dug! Benturan keras terdengar dari kepala Larrisa. "Auch!" Larrisa merintih kesakitan. Dia terbangun dari tidurnya dan dengan mata sayu melihat sekeliling. Tidak ada yang berbeda sejak saat matanya terpejam hingga terbuka kemabli, mereka tetap berada di dalam mobil, dengan keheningan yang begitu menusuk. Larrisa menatap Eliot, dan kemudian supir yang membawa keduanya. Eliot langsung mengalihkan pandangannya. Dia takut jika gadis itu menyadari perbuatan yang telah dia buat. Dia takut jika gadis itu mengingat kejadian tadi. "Ini kapan sampainya?" tanya Larrisa bosan. "Sebentar lagi, Nona," jawab supir itu. "Lama sekali," tambah Larrisa. "Berapa menit lagi?" Larrisa terus menanyai supir itu dengan pertanyaan beruntun. Eliot dengan nada datar dan dingin ikut menimpali. "Turun saja dari sini! Berisik." Larrisa terdiam tidak berani berkutik. Meski dalam hatinys sudah antri mengutuk pria kejam tak berperasaan itu. Hatinya yang lemah itu seakan teriris dengan perkataan Eliot. Dia menyandarkan badannya dan membuang wajah dari Eliot. "Aku mau pipis," desis Larrisa dalam hati. Dia menggenggam tangannya lalu menekan sedikit perut sejajar dengan kantung kemihnya. Dia menggigit bibirnya keras untuk menahan rasa ingin buang air itu. "Pak, masih lama, tidak?" tanya Larrisa dengan muka kaku menahan rasa buang air kecil. Eliot langsung menangkap raut wajah Larrisa namun tidak terlalu menanggapi. Dia terus fokus menatap ke arah jalan tanpa menghiraukan gadis itu. Larrisa sudah benar-benar tidak tahan. Seakan sekantong air akan menerobos keluar dari dalam sana. Dia memegang tangan Eliot spontan dan dengan muka memelas mengadu pada pria itu. "Aku tidak tahan lagi." Larrisa meremas lengan baju Eliot dan sedikit menjepit kedua pahanya. Eliot terkejut dengan sentuhan tangan kecil wanita itu. Lekas dia menyuruh supir pribadi kakeknya itu berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Saat mobil itu berhenti, Larrisa melompat dan berlari dengan kencang ke toilet di kedai itu. Tanpa basa-basi dia mendobrak pintu kedai dan masuk ke dalam. "Ehm." Larrisa tersenyum lega saat seluruh air itu keluar. Dia kini kembali nyaman dan tidak kesulitan lagi. *** Tuan Erdogen kian sibuknya mempersiapkan sambutan hangat untuk cucu juga calon istri cucunya. Dia memerintahkan seluruh pelayanan di villa untuk mengatur segalanya sesuai perintah. Ketika mobil yang membawa Eliot dan Larrisa tiba, pintu pagar villa dengan cekatan dibuka oleh petugas jaga di pos. Ramai-ramai pelayan berpakaian hitam putih menunduk serentak dan sejajar berdiri lalu membungkuk menyapa kedatangan mereka. Tidak hanya sampai di situ saja, ketika pintu mewah menjulang tinggi itu terbuka lebar, barisan wanita dengan celemek putih kecil terikat di pinggang membungkuk seluruhnya. Sepanjang gelaran karpet merah di villa itu berjejer rapi pelayan-pelayan dengan senyuman keramahan. Berdiri di ujung karpet itu seorang pria tua dengan jas rapi serta dasi bercorak abstrak. "Selamat datang, Eliot… dan juga… calon istri cucuku nantinya, Larrisa Camory." Tuan Erdogen tersenyum lebar bersamaan dengan kibaran tangan yang membentang, dia menunggu dekapan hangat dari keduanya. Larrisa melirik ke arah Eliot. Menunggu arahan dari pria yang tinggi badannya jauh di atas kepala Larrisa. Sayangnya, pria itu tampak sedang malu melihat kelakukan kakeknya sendiri. Eliot memegang pelipisnya dan bola matanya mengarah ke bawah, seolah tidak tahan melihat kakeknya. "Apa yang dilakukannya?" decak Eliot pelan. Dia begitu malu hingga tak sanggup menatap sekeliling. Larrisa berjalan lebih dulu meninggalkan Eliot, lalu dengan cepat memasang senyum lebar. Dia memeluk Tuan Erdogen hangat. "Terima kasih sambutannya, Kakek," ucap Larrisa bersikap akrab. Tidak terlihat kecanggungan diantara keduanya. Hingga Eliot tercengang dengan situasi ini. Dia mengira bahwa Larrisa akan sulit beradaptasi dengan kakeknya yang sedikit aneh itu, ternyata kekhawatirannya terbantah. Dia baru ingat kalau kakeknya dan Larrisa sama-sama aneh, tentu tidak akan sulit untuk mempersatukan mereka. "Aku terlalu mengkhawatirkan mereka," tambah Eliot berdecak pelan. "Sangat cantik seperti dugaan Kakek. Tuan Steven harus bersyukur karena punya putri semanis ini. Apa kau lelah? Bagaimana perjalanan kalian?" Tuan Erdogen tidak berhenti berbicara. Mulutnya terus mengeluarkan pertanyaan dan pernyataan. Sampai Larrisa sendiri tidak tahu harus menjawab bagian yang mana terlebih dahulu. "Kapan kalian berencana akan menikah?" Deg! Larrisa membatu seketika. Senyumnya beku sejenak dan tidak bisa bergerak. Dia menoleh pelan menatap Eliot yang juga sama terkejutnya dengan pertanyaan Tuan Erdogen. "Ka-Kami be-belum…." "Secepatnya," timpal Eliot memotong. "Tentu saja. Hahaha." Dengan tawa lepas, Tuan Erdogen menepuk pundak cucunya yang tinggi itu dengan jatahan tangan yang tidak sampai. "Kakek siapkan makanan di sana. Mari!" ajak Tuan Erdogen. Dia mengayun tangannya memanggil Larrisa secara khusus. Tatapannya pada Larrisa begitu tulus, dia menyukai Larrisa dan berharap akan menjadi pendamping cucunya kelak. *** Hanya ada empat bauh kursi dan meja di tengahnya. Ruangan itu tidak terlalu besar, hanya memuat beberapa orang saja. Bahkan tempat itu begitu minimalis. Terlihat dari cat abu-abu dipadu putih itu baru saja dioleskan. Wangi begitu menyengat terendus hingga seluruh bangunan terasa masih basah. "Villa ini masih baru, Kakek?" tanya Larrisa yang sudah akrab berbaur dengan Tuan Erdogen. "Kau memang jeli. Aku baru membangun ini," jawab Tuan Erdogen selepas menyaupkan sesendok pasta ke mulutnya. Eliot merasa diasingkan dan dikucilkan. Mereka tidak menghargai keberadaan Eliot. Hanya dia satu-satunya manusia di ruangan itu yang tak ikut berbincang. Dia hanya duduk diam melahap makanan di hadapannya. Rasanya seperti seekor nyamuk diantara pasangan sejoli. Eliot menelan makanan di depannya dengan sangat terpaksa. Ingin rasanya ikut berbincang, tapi kakek dan gadis itu tidak memberi celah baginya. Dia merasa tidak berguna di kursinya kini. Batinnya mengumpat," Siapa sebenarnya calon suami gadis itu?" Ketika sedang asik berbincang. Tiba-tiba Tuan Erdogen menyebut nama Eliot. Lantas dia senang, namun dengan sikap jual mahalnya, dia menoleh lambat seolah tidak peduli dengan percakapan mereka. "Villa ini Kakek berikan pada Larrisa, hadiah karena sudah menjadi bagian keluarga kita." Tanpa merasa salah, Tuan Erdogen melepaskan senyum tulus kepada Larrisa dan Eliot. Dia begitu polos hingga tak menyadari bahwa keduanya sedang berbohong padanya. Dia memberikan kunci villa itu pada Larrisa tanpa hitung-hitungan. Tangannya begitu ringan memberikan villa mewah itu pada Larrisa. Gadis itu mengedipkan matanya berulang. Kemudian dia mencubit tangannya untuk memastikan bahwa sekarang dia berada di alam bawah sadar atau kenyataan. Dia terus berulang mencubit, memukul bahkan menampar pipinya. Dia tidak merasakan sakit apa pun. Batinnya tersentak kaget hingga sekujur tubuhnya kaku tidak berasa. Indranya mati total dan berhenti merasa. Larrisa masih kebingungan. Dia tidak merasakan sakit meski sudah berkali-kali dipukul bahkan digampar. Akhirnya Larrisa menatap Eliot. "Kita ada dimana?" tanya Larrisa membisik. Dia menutup bibirnya dari pantauan Tuan Erdogen. "Ck, bodoh!" Eliot tidak memberikan sinyal apa pun. Larrisa tersenyum. "Ini bukan mimpi, ini nyata," sambungnya. Larrisa menatap dalam mata Tuan Erdogen sambil menggeser kunci yang diletakkan kakek Eliot di depannya. "Ini terlalu berlebihan, Kek. Aku tidak bisa menerima hadiah seperti ini." Larrisa mendorong kunci villa itu dengan sopan. "Kenapa? Ini pemberian Kakek, tidak butuh penolakan, dan tidak menerima tolakan," tegasnya. Hendak meminta pertolongan kepada Eliot, pria itu sama sekali tidak menghiraukan Larrisa. Dia diam menonton Larrisa melewati kakeknya. "Mana hadiah untukku?" Eliot membuka pembicaraan. Akhirnya Larrisa jauh dari Tuan Erdogen. Sedaritadi dia belum juga minum karena kakek Eliot memberikan villa padanya. Dia langsung mengambil air dan menegukanya, membasahi tenggorokannya yang kering. Tuan Erdogen berenti tersenyum. "Kau memang serakah. Istrimu…." Brust! Larrisa menyeburkan air putih yang belum sempat ditelannya. Wajah Eliot terkena percikan air sembur dari mulut Larrisa. "Maafkan aku." Larrisa langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri kursi Eliot yang tepatnya berada di depannya. Dia mengambil kain bersih hendak mengeringkan wajah Eliot dari air semburan mulutnya. Eliot menepis tangan Larrisa dan beranjak pergi dari ruang makan itu. Wajahnya tampak murka. Matanya yang tajam membuat Larrisa ketakutan tidak karuan. Larrisa mengikuti Eliot sebagai tanda maafnya pada pria itu. Meski Eliot tengah kesal padanya, Larrisa tetap degil ingin menjumpai Eliot. "Bagaimana dengan villa ini?" Tuan Erdogen menunjuk kunci villa di atas meja makan. Larrisa berlari mundur ke belakang dan meraih kunci di meja tersebut. "Terima kasih, Kakek. Aku akan jaga villa ini. Tapi Eliot ku urus lebih dulu, kita bahas nanti." Larrisa berlari mengejar Eliot. "Tampaknya Larrisa sangat peduli pada cucuku," kutip Tuan Erdogen sambil tersenyum melihat larian terburu-buru kaki Larrisa. Eliot berhenti seketika, sampai Larrisa hampir menabrak bahu bidang Eliot. Untungnya dia dengan cepat berhenti sebelum tangannya menyentuh otot yang begitu s*****l itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN