Taman di area kampus menjadi sangat sepi. Dengan menurunnya suhu udara di pertengahan musim gugur, jelas ini bukan saat yang tepat untuk menggelar kain di permukaan tanah, membawa makanan untuk piknik di sore hari. Namun, kegilaan Kay dan Ciro yang entah sejak kapan menjadi akrab itu, telah menyeret Oase ikut dengan kegiatan bodoh mereka. Pemuda berparas manis itu mengeratkan mantelnya, berusaha melindungi diri dari embusan angin yang bertiup semakin kencang. “Apa yang kalian pikirkan? Makanannya keburu dingin sebelum sentuh, mana enak.” Oase mengeluh, tapi tangannya dengan cekatan mengambil satu per satu makanan yang tersaji di sana. Ia menjadi satu-satunya orang yang makan. Sedangkan kedua orang yang menyeretnya kemari, malah sibuk sendiri dengan urusan mereka. “Kalau mau makan, di ka

