Dengan hati berbunga-bunga, Oase menghampiri kedua temannya. “Coba tebak kenapa aku sangat senang hari ini,” ucapnya. Ia menatap mereka tak sabaran, berharap ditanya agar ia bisa menceritakan pengalaman kencan pertama dengan Maria. Rivano dan Ciro saling tatap, tak mengerti maksud Oase. Mereka bahkan tak yakin apakah temannya itu sedang senang atau tidak. Intonasi suara dan raut wajah Oase selalu membuat mereka kesulitan untuk memahami pemuda itu. Sekalipun Oase selalu merasa bahwa dirinya sangat ramah dan bersahabat, nyatanya tak ada satu orang pun yang berpikir demikian. Ketidaksinkronisasian wajah itulah masalahnya. “Jadi apa yang terjadi?” Rivano mengalah dengan pura-pura tertarik, dia bertanya dengan basa-basi. Jadinya Oase bisa langsung bercerita dan berhenti memberi isyarat yang

