bab 5

1039 Kata
bab 11 Notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Alfa, ternyata Dea yang mengirimnya pesan. Dia adalah salah satu teman kuliahnya dulu, namun Dea lebih memilih membuka usaha butiknya ketimbang bekerja di kantor. Alfa membuka pesan dan membukanya, sebuah foto yang masih belum di unduh terpampang di sana. Tanpa mencurigai foto apa, ia mulai mengunduhnya. Jantungnya berdegup kencang, bagaimana tidak? foto istrinya terpampang nyata sedang di gandeng pria lain, ya dia Barly, asisten mertuanya sendiri. "Zia, ayah kamu menitipkan sesuatu, sebentar aku ambil dulu!" Barly mengambil kotak berwarna hitam yang ada di dashboard mobil. "Ini apa?" "Buka saja!" Dengan antusias ia membuka kotak itu, matanya berbinar ketika melihat isinya. "Waw, cantik sekali! eh, bukankah ini edisi khusus yang dikeluarkan perusahaan kita?" Barly mengangguk dengan cepat, perusahaan bosnya itu melingkupi beberapa sektor, salah satunya sektor perhiasaan terbaik di Indonesia. "Mau aku bantu pakaikan?" Zia mengangguk dengan cepat, ini adalah hadiah terindah dan tentu saja karena edisinya terbatas hanya satu perhiasan yang dibuat seperti ini. Mereka keluar dari mobil Lamborghini, namun kini memakai mobil ayahnya yang di pakai Barly tadi. Sedang mobil Zia di bawa supir ke rumah ayahnya. "Ayo pegangan!" tangan Zia melingkar di tangan Barly, berjalan dengan anggun meski sesekali ia hampir jatuh. Namun dengan sigap Barly menyeimbangkan langkah anak bosnya itu. "Selamat ulang tahun untuk Pak Robert, saya Zia anaknya Pak William." Ia menyalami sang tuan rumah seraya memberikan kado yang sudah di bawa Barly dari rumah ayahnya. "Waw, ini sebuah kehormatan bisa bertemu dengan CEO dari Grup Haera, pantas saja William memilih mundur, sepertinya kamu jauh lebih berkompeten." Mereka saling bertukar senyum dan saling memuji, bahkan istrinya Robert sudah mulai akrab dengan Zia. "Oh, iya bukankah ini asistennya William ya?" tanya Angel, istrinya Robert. "Iya, saya asistennya Pak William, namun sekarang merangkap sebagai asisten putrinya!" "Kalian cocok, semoga berjodoh ya!" celetuk Angel yang hanya di tanggapi senyuman oleh mereka berdua. Selama pesta, Barly tidak sedikitpun menjauh dari tubuh Zia. Ia masih setia di sisinya, sesekali memastikan pijakan bosnya itu tidak terhalang sesuatu. Bahkan dalam sekejap, banyak dari perusahan lain yang ingin bergabung dengan perusahaannya dan itu menjadi kebanggaan tersendiri untuk Zia. "Kamu Zia 'kan?" tanya salah seorang wanita yang seumuran dengannya. "Iya, maaf anda siapa ya?" "Tidak perlu tahu, cuman aku merasa kasihan pada suamimu saja! apa kamu lupa jika sudah mempunyai suami? sedangkan di sini kamu malah bergandengan dengan pria lain. Dasar w************n!" Zia tersenyum dan lebih memilih pergi meninggalkan wanita tadi yang sama-sama sedang mengambil minuman, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja ingatannya berputar pada pesta Aldo dulu. Ya, wanita tadi dikenalnya, dia salah satu teman suaminya yang menghina dirinya. "Kamu, Dea 'kan?" Yang ditanya menghentikan aktifitas minumnya seraya tersenyum sinis. "Mentang-mentang sekarang sudah jadi bos, kamu malu membawa suami kamu sendiri ke sini?" "Dengarkan aku! jika kamu mengusikku karena aku datang dengan pria lain, kenapa kamu tidak menanyakan alasannya langsung pada teman baikmu itu! untuk kali ini, aku tidak akan membiarkan orang sepertimu menghina diriku!" Zia melanjutkan langkahnya mendekati Barly yang kini meraih tangannya, karena takut ia terjatuh. "Tadi bicara dengan siapa?" bisiknya karena musik mulai memenuhi ruangan Aula Hotel. "Salah satu teman Alfa yang dulu menghinaku, tapi kamu tenang saja aku sudah membungkamnya." "Baiklah, jika merasa kurang nyaman bilang saja biar aku yang membereskan dia!" "Gak usah repot-repot, dia hanya tidak suka dengan perubahanku saja. Kamu jangan menjadi seperti ayah yang diktator!" Zia menajamkan tatapannya pada Barly. Tepat pukul 11 malam, mereka baru pulang. Barly mengantar Zia sampai pintu rumahnya, dia hanya ingin memastikan anak bosnya itu pulang ke rumah dengan aman. "Baru pulang!" seru Alfa ketika Zia membuka pintu dengan lebar. "Iya, tadi aku sudah mengirim pesan padamu, namun kamu tidak meresponnya." Barly yang mendengar perkataan Alfa, memilih berdiri di samping Zia menunggu apa yang akan di lakukan selanjutnya. "Sepertinya kalian menikmati pestanya dengan sangat akrab, melupakan aku di sini yang menunggu." Barly hendak mendekati Alfa, namun di tahan oleh Zia. Ia yakin kini Barly merasa geram pada suaminya. "Mas, kita bicara nanti saja! aku cape mau ganti baju dan istirahat. Lagipula perkataanmu tidak masuk akal!" "Oh ya, bahkan sekarang kamu berani menolak saat suamimu sendiri ingin berbicara!" bentak Alfa dengan membanting remote tv. Tubuh Zia bereaksi, hampir saja ambruk karena terkejut apalagi dirinya masih menggunakan sepatu yang haknya tinggi. "Alfa! berhenti bersikap seperti anak kecil!" pekik Barly yang tak kalah lantang, sedang tangannya masih memegang lengan Zia menahan tubuhnya yang tadi akan jatuh. "Diam kamu! kamu tidak berhak ikut campur urusan rumah tanggaku." "Jelas aku akan ikut campur, ayahnya menitipkan Zia padaku. Jadi apapun yang berhubungan dengannya maka akan menjadi urusanku!" Alfa tertawa dengan seringai yang tidak jelas, "Apa kamu menyukai istriku? sampai-sampai dari awal pesta hingga sekarang tanganmu masih saja memegang dia!" bentaknya dengan mata yang melotot. Zia yang merasa jengah karena tuduhan suaminya, membuka sepatu dan melemparnya ke depan Alfa. "Perlu kamu tahu, Barly hanya membantuku karena sepatu itu haknya tinggi! apa kamu mau aku terluka? hah?" Suaminya hanya diam menatap sepatu di hadapannya, memang benar haknya tinggi, tapi faktanya dikalahkan oleh egonya sendiri. "Barly, lebih baik kamu pulang! ini sudah malam, aku akan baik-baik saja. Dan jangan beritahu Ayah apa yang terjadi di sini!" Ia melangkah hendak menaiki tangga, namun tangannya di cekal oleh Alfa, membalikkan tubuhnya dan mengambil kalung yang dipakai Zia dengan paksa, sampai terputus. "Apa-apaan kamu, Mas!" Barly hendak mendekat, namun mata Zia mengisyaratkan agar dia diam ditempatnya berdiri saat ini. "Kenapa? kamu gak terima jika kalung pemberian dia aku rusak?" telunjuknya menunjuk Barly yang mengangkat alisnya heran. "Itu bukan dari Barly, itu hadiah dari ayah!" "Jangan bohong, kamu!" sebuah tamparan melayang dan mendarat di pipi kanan Zia yang mulus. "Zia!" pekik Barly seraya membantunya yang tersungkur di dekat tangga, kini pipinya memerah bahkan bekas jari suaminya terpatri di sana. Tanpa di duga, Barly melayangkan tinjunya pada wajah Alfa, bukan hanya sekali namun beberapa kali. Bi Idoh yang mendengar suara keributan di bawah tangga mendekat, memisahkan Barly yang masih menghajar Alfa dengan membabi buta. "Mas, hentikan nanti Pak Alfa bisa meninggal!" Barly menghentikan tinjunya dan meraih tubuh Zia yang masih ambruk di lantai. Ia membawanya ke kamar Zia. Bi Idoh membantu Alfa yang wajahnya kini berlumuran darah, "Biar bibi obatin ya!" "Gak usah, biar aku saja!" tukas Alfa seraya menyambar kunci mobil dan keluar dari rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN