bab 6

1097 Kata
Bi Idoh yang tahu Nyonya rumah sudah pulang beringsut keluar dari kamar meskipun dalam keadaan heran, karena Zia di gendong oleh Barly. "Terima kasih, Bi! udah jagain Ana." Ucap Barly dengan sebuah senyuman. "Sama-sama, Mas! tapi ...." bi Juju melirik ke arah Zia yang sudah duduk di atas tempat tidurnya dalam keadaan diam. "Bi!" tegas Barly. "Ah, saya keluar dulu, Mas!" Barly mengangguk dan langsung mengunci pintu kamar, membuka kotak P3K yang menempel tepat di samping pintu. Dengan telaten mengobati luka di sudut bibir Zia menggunakan salep. "Jangan pura-pura kuat, kalau mau menangis, lakukan!" Zia menunduk, bahunya naik turun, ya dia menangis dalam diam. Hanya air matanya saja yang keluar begitu derasnya, Barly meraih tubuh Zia memberinya pelukan, mengusap punggungnya dengan lembut. "Terima kasih!" ungkapnya setelah merasa tenang. "Malam ini aku akan temani kamu, di sini! tidak ada bantahan, biar aku tidur di sofa. Aku tidak ingin Ayah kamu membunuhku dengan perlahan." "Baiklah, tapi janji jangan bilang sama ayah!" "Oke." Paginya mereka sarapan tanpa Alfa, entah kemana semalam dia pergi satu yang pasti dalam hati Zia, ia tidak akan perduli lagi pada suaminya. Masa bodoh dengan kewajibannya sebagai seorang istri. "Bi Juju, nanti siang Bibi bawa baju ganti untuk waktu seminggu, kita akan liburan ke Bali!" "Baik, Bu!" Suara bel rumah di tekan dengan kuat, Bi Idoh segera menghampiri ke arah pintu dan membukanya. Terlihat sosok pria muda, berpenampilan modis, lengkap dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal membuat pria ini menjadi lebih tampan. "Buongiorno!" sapanya dalam bahasa Italia. "Udahlah, duduk! jangan banyak drama ini masih pagi!" celetuk Barly. Yang di suruh duduk, memajukan bibirnya seperti anak kecil. Meskipun pada akhirnya ia duduk juga di samping Zia, setelah sebelumnya menggendong Ana. "Ayah nyariin, Kak Barly karena semalam gak pulang! bisa-bisanya kalian mengganggu waktu tidurku. "Hai, Ana! my princess!" Zia hanya diam melihat interkaksi mereka, kini tatapan mereka beradu, pria tadi tersentak karena melihat sudut bibir Zia terluka. Ia menggeser duduknya, mengembalikan Ana pada pengasuhnya. "Ini kenapa?" tanyanya dengan mata yang terus menyipit. "Telepon ayah atau jujur?" "Sarapan dulu, nanti kita bicara!" tukas Zia yang hanya di balasnya dengan tatapan yang lebih tajam lagi. "Aku gak bohong!" Setelah Zia mengucapkan kalimat itu, baru dia memalingkan wajahnya dan langsung melahap nasi goreng yang ada di piring Zia. "Kebiasaan!" dengus Zia dengan kesal. "Jadi, kamu kenapa terluka?" "Aku bertengkar dengan Alfa!" "Sudah kuduga! sekarang dia sudah berani bermain kasar, awas saja aku akan membalasnya dengan tongkat golf yang ada di rumah." "Zio, sudahlah! tidak akan ada yang mencampuri urusan rumah tanggaku, baik itu ayah, ibu, kamu bahkan Barly sekalipun." "Lalu sekarang kemana si b******k itu pergi?" "Aku gak tahu, mungkin pergi ke rumah ibunya!" "Maafkan aku yang gak bisa jagain, Kak Zia!" Ya, Zio adalah adik Zia. Dulu mereka sering bertemu, namun bukan di rumah. Karena sekarang seluruh dunia sudah tahu jika Zia adalah anak William, maka adiknya itu tak sungkan untuk datang ke rumahnya. "Mau ikut gak ke Bali?" tanya Zia. "Pasti dong! habis dari sini, langsung pulang, kita bertemu di bandara aja." "Satu lagi, jangan mengadu pada ayah tentang masalah Kakak!" mohon Zia dengan tatapannya yang sayu. "Berhenti memperlihatkan tatapanmu itu! ya, ya, aku janji aku gak bilang!" Zio paling luluh jika kakaknya sudah mengeluarkan mimik wajah yang tertindas, padahal dalam kenyataannya dia adalah wanita kuat. Alfa masih bergelut dengan selimut tebalnya, meski sinar matahari sesekali mengenai wajahnya. "Alfa, bangun! ibu udah siapin air hangat." Alfa menguap dengan lebar, lalu sedikit mengiris kesakitan. Wajahnya sudah di penuhi lebam dan sudut bibirnya terluka. "Paksa istrimu untuk berhenti bekerja, kalau tidak mau juga, minta sama dia agar jabatan kamu di naikan setara lebih tinggi dengannya!" "Laporkan ke polisi pria yang semalam menghajar kamu, dia pantas menerimanya! enak saja menghajar anak ibu yang ganteng ini." Timpal ibunya lagi dengan mebalik-balikan wajah Alfa. "Nanti siang aku pulang ke rumah, aku akan buat perhitungan dengan Zia." Siangnya Zia, Ana, Bi Juju, bi Idoh dan Barly sudah siap berangkat ke Bali. Sedangkan Zio pulang ke rumah, sekalian membawa baju ganti dirinya dan Barly. Sengaja Zia membawa semua orang untuk membalas sakit suaminya itu. "Tumben pintunya di kunci?" gumam Alfa di teras rumah, ia merogoh kunci dari saku celananya, untung saja ia membawa kunci cadangan. Pintu dibuka dengan lebar, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Karena penasaran, ia pergi ke dapur melihat Bu Juju yang tidak ada di sana. Ketika melewati meja makan, matanya melihat secarik kertas. "Pak, Alfa! bibi ikut Bu Zia liburan ke Bali." Alfa meremas kertas itu dan membuangnya, mengangkat bahu tidak peduli. Ia yakin, ia bisa hidup tanpa mereka semua. Ia masuk ke dalam kamarnya, yang berantakan. Mainan Ana juga berserakan di atas tempat tidurnya. "Dasar istri gak punya kerjaan, rumah gak pernah beres!" ocehnya seraya menyingkirkan mainan anaknya sebelum merebahkan badannya. Hari beranjak sore, Alfa yang merasa terganggu tidurnya karena perutnya yang tiba-tiba lapar, bangkit dan menuju dapur. Membuka kulkas berharap ada masakan Bi Idoh yang bisa di hangatkan, namun sayang tidak ada. Yang ada hanya sayuran mentah dan beberapa bumbu dapur. "Dia pikir dia wanita hebat! ketika dia gak ada di rumah, aku juga bisa melakukannya sendiri." Alfa terus saja mengomel seraya tangannya mengocok telur, membuka beberapa lemari hanya ada mi instan dan ikan sarden. Dia pun makan seorang diri, egonya masih terlalu tinggi tanpa mempedulikan istrinya. Keesokan paginya, ia bangun kesiangan padahal harus pergi ke kantor. Selesai mandi, mencari kemeja yang akan di gunakan hari ini, tapi tidak ada di sana. Dengan langkah cepat menuruni tangga menuju ruangan untuk menyetrika, kemejanya masih menggantung di sana dalam keadaan kusut. "Sial, kenapa juga tuh pembantu pergi sebelum menyertikanya!" omelnya dengan frustasi. Dengan terpaksa ia menyertikanya sendiri, sekalipun hasilnya tidak serapi pekerjaan Zia dan Bi Juju setidaknya ini bisa di pakai hari ini. Piring kotor yang masih tergelatak di wastafel, sampah bekas memasak berserakan, baju kotor yang belum dicuci membuat rumah ini semakin berantakan. "Ada apa dengan baju, Lo? jangan bilang Lo tidur memakai kemeja itu!" tanya Alexa dengan terus melihat penampilan Alfa dari atas kepala sampai ujung kaki. "Enak aja, ini gara-gara istri gue dia membawa semua orang yang ada di rumah pergi liburan, jadi baju ini gue setrika sendiri." "Aww, rekor baru nih, Alfa Mahendra menyetrika bajunya sendiri!" "Udah, diem Lo." Tukasnya seraya masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Zia dan yang lainnya masih berada dalam kapal jet pribadi milik ayahnya, ia melepaskan beban yang selama ini menghimpit dadanya. Seringai mulai memenuhi setiap sudut bibirnya, masih teringat jelas kejadian semalam ketika suaminya dengan sangat mudah menampar pipinya. "Aku akan membuatmu mati perlahan, Mas! agar kamu tahu bagaimana rasanya melakukan hal yang sia-sia!" gumamnya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN