bab 7

1179 Kata
Awalnya berjalan seperti biasanya, Alfa fokus bekerja meski merasa sedikit terganggu dengan penampilannya hari ini. "Bro, nanti malam Lo ada acara gak?" tanya Aldo. "Kayaknya enggak, kenapa?" "Dea ngajakin nongkrong di cafe biasa!" "Oh, ya udah gue ikut!" Aldo mengangguk dan menggeser kursinya kembali ke tempat semula. Zia dan keluarganya sedang menikmati sarapan bersama di vila milik keluarganya, mencoba melupakan luka di hatinya yang masih menganga. "Zio, Tante Vera apa kabar?" "Dia baik! oh iya aku denger Ibu Lisna sempat masuk rumah sakit ya?" "Iya, tapi sekarang udah pulang cuman masih harus istirahat cukup, belum boleh bepergian jauh." "Oh!" ungkap Zio seraya mengambil s**u hangat dan langsung pergi menikmati mentari pagi. Barly sedang sibuk di dapur membuat sarapan di temani Bi Idoh, ia fokus dengan masakannya sampai tidak menyadari keberadaan Zia. Zia memperhatikan Barly dari atas sampai bawah, penampilannya dari dulu tidak pernah berubah sangat menarik meski hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. "Kenapa kamu belum menikah? aku pikir kamu sempurna, harusnya sudah menikah! atau jangan-jangan ...." Barly menoleh melihat putri bosnya itu dengan mengangkat satu alisnya. "Jangan ngaco kamu! aku masih normal." Jawabnya dengan mengacak rambut Zia gemas. Zia memanyunkan bibirnya, lalu duduk sambil terus memperhatikan asisten ayahnya. "Tipe wanita yang kamu inginkan seperti apa?" "Pertama dia harus wanita." Zia memutar bola matanya malas. "Yang kedua, dia bertanggung jawab dengan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri, apapun yang dipilihnya, entah dia menjadi ibu rumah tangga biasa atau dia mau bekerja selama dia melakukannya dengan seimbang aku sih bersyukur saja." Seandainya Alfa bisa satu pemikiran dengan Barly, mungkin keadaan ini tidak perlu di lewatinya. Tidak perlu hatinya merasa sakit, fisiknya juga tidak perlu menerima kekerasan dari suaminya itu. "Andai saja kata-kata itu keluar dari mulut Alfa!" ucapnya dengan pelan, namun masih bisa di dengar oleh Barly. Seminggu berlalu, Zia dan yang lain sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Sedang Alfa dia masih bergelut dengan selimutnya, ini hari Minggu jadi ia malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Keadaan kamarnya layak seperti kubangan sampah, tisu berserakan di mana-mana, baju kotor hampir menutupi seluruh lantai kamarnya, bahkan bau busuk mulai menyeruak dari sana. Hidungnya beberapa kali mendengus bau tidak enak, terpaksa dia bangkit dan melihat sekitarnya dengan jijik. Perlahan dia mulai membereskan semua kekacauan di kamarnya, turun ke ruang tengah dan ke dapur. Semuanya ia bereskan sendiri dan kembali bersih seperti semula, badannya terasa pegal yang disertai peluh yang bercucuran. "Zia benar-benar tega! masa ninggalin suaminya lama bener!" gumamnya dengan frustasi. Sejak kemarin ia mencoba menghubungi istrinya itu, namun sayang tidak di hiraukan. Pesannya juga hanya sekedar di bacanya. Alfa menghubungi ibunya, meminta ia untuk datang dan memasak makanan. Perutnya sudah keroncongan, sejak tadi pagi ia belum makan apapun. Bahan makanan di kulkas sudah habis, mie instan pun tidak ada. Hidupnya jadi berantakan, segala sesuatunya ia kerjakan sendiri. "Ya ampun! anak ibu kok kusut begini sih?" Ibunya Alfa merasa prihatin dengan penampilan anaknya, ia menyimpan beberapa kantung belanjaan. "Aku lapar, Bu! tolong masakin makanan untuk aku." "Istri kamu kemana? eh, rumah ini kok sepi, pembantu kamu kemana?" "Semua orang pergi liburan, entah kapan mereka pulang ke rumah ini!" "Istrimu itu keterlaluan, ninggalin suaminya sendiri tanpa persiapan apapun! lagian tuh pembantu mau aja di ajak liburan, padahal kamu 'kan yang gaji dia." Omel ibunya Alfa, sedang tangannya sibuk memotong sayuran. Alfa hanya diam tak bergeming, ingatannya kembali pada malam itu. Ketika dirinya merampas kalung dan menamparnya, itu pertama kalinya ia menampar Zia. Entah kenapa hatinya merasa cemburu, ketika Barly yang notabenenya hanya seorang asisten begitu memperhatikan Zia. Sorenya rombongan Zia kembali ke rumah, ketika pintu di buka. Ia disambut oleh ibu mertuanya dengan tatapan tajam, hatinya masih sakit, dia memutuskan untuk melewati mertuanya menuju ke kamar di ikuti bi Juju dan Barly yang membawa koper. "Zia!" seru Alfa dari bawah tangga!" Zia menoleh tanpa sepatah katapun. "Kita perlu bicara!" "Bicaralah!" jawab Zia tegas. Bi Juju dan Barly meneruskan langkahnya menuju kamar Zia. Zia turun satu langkah hanya untuk mensejajarkan posisinya dengan Alfa. "Kenapa telepon dan pesan yang ku kirim tidak ada balasan satupun?" "Bukan 'kan sudah jelas, Bi Idoh menulis pesan di atas meja makan, jika penghuni rumah ini pergi liburan. Jadi untuk apa kamu bertanya, aku dimana dan sedang apa?" "Sudah jelas kamu tidak menghargaiku sebagai suami, kamu pergi seenaknya tanpa memikirkan aku, selama satu Minggu ini aku melakukan pekerjaan rumah sendiri. Dimana harga diriku sebagai laki-laki, hah?" hardik Alfa dengan jari telunjuknya yang menunjuk-nunjuk ke arah istrinya. "Lantas dimana harga diri kamu sebagai laki-laki setelah menampar istrinya karena alasan yang gak jelas dan berharap jika kamu menelepon dan mengirim pesan, aku harus membalasnya seolah semua itu tidak terjadi hah? apa pernah kamu meminta maaf? enggak 'kan?" "Apa ketika kamu meminta maaf, itu akan membuat harga dirimu jatuh juga?" kali ini Zia berbicara seraya mendekati suaminya itu. Alfa diam sejenak, kepalanya menunduk. "Alfa tidak mungkin menampar kamu tanpa sebab, ibu tahu anak ibu seperti apa! jadi jika Alfa melakukan hal yang membuatmu sakit hati, itu berarti kamu yang salah." Sergah Ibu mertuanya. "Hei!" kali ini Zio yang berteriak pada ibu mertua kakaknya yang baru masuk ke dalam rumah. "Berani sekali anda menyalahkan, Kakak saya! jelas-jelas anak anda yang kurang ajar." "Oh, jadi kamu adiknya si Zia, pantas saja sama-sama kurang ajar! percuma kaya namun miskin ahlak!" Zio menatap ibu mertua Kakaknya dengan tajam, melangkah mendekatinya dan meraih kerah Alfa dengan kuat. "Bilang pada ibumu, jika sekali saja mulut dia mengucapkan hal yang buruk tentang Kakakku, aku pastikan saat itu juga mulutnya tidak akan bicara selamanya." "Zio, lepasin dia!" seru Zia dengan keras. Terpaksa Zio melepaskannya dan memilih berdiri di samping Barly yang ada di atas tangga. Terdengar Alfa mengambil nafas dalam, "Kamu memilih menjadi ibu atau tetap mempertahankan jabatan kamu sebagai CEO? pilihan kamu menentukan masa depan rumah tangga kita." "Satu yang pasti aku akan memilih keduanya, jika kamu tidak bisa menerimanya itu urusan kamu. Perlu kamu tahu, wanita itu multi peran. Dia bisa melakukan segala hal, jika peran ibu rumah tangga dan menjadi wanita karier bisa dilakukan keduanya, kenapa harus memilih salah satu." "Kamu benar-benar keterlaluan Zia, mentang-mentang kamu menjadi pemilik perusahaan bisa seenaknya saja!" celetuk ibu mertuanya yang mendapat peringatan dari Zio dengan tatapan tajamnya. "Ibu, kenapa aku yang harus memilih hah? apa pernah ibu meminta Alfa untuk memilih menjadi ayah atau seorang karyawan kantor?" Semua bungkam tak ada lagi yang menyangkalnya. "Aku lelah, keputusanku tetap sama. Aku akan menjadi ibu sekaligus menjadi CEO!" tukasnya seraya pergi ke kamar menemani Ana yang sudah terlelap. Barly memutuskan untuk pulang, sedangkan Zio memilih menginap, takut kakaknya disakiti suaminya lagi. Keesokan paginya, Zia dan Zio sarapan bersama. Alfa yang baru datang ikut bergabung meski tidak ada sapaan selamat pagi atau embel-embel lainnya, sama halnya dengan Zia melakukan hal yang sama menganggap suaminya tidak ada. "Kak, mulai hari ini aku akan tinggal di sini!" ucap Zio memecah kesunyian. "Baiklah, kamu minta izin dulu sama ayah dan Tante Vera." "Semalam udah minta izin sama mereka, nanti siang Kak Barly yang mengantar semua pakaianku ke sini. Oh iya, nanti aku antar Kakak pergi ke kantor ya!" Zia mengangguk dengan cepat, sedangkan Alfa fokus dengan sarapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN