3. First Camp~

916 Kata
- Kamar Alleysa - Suara alunan musik bernuansa jazz menggemang di dalam kamar yang dibalut dengan manis berwarna merah muda. Alleysa duduk di atas ranjang dengan sandaran bantal di belakang kepalanya sambil membaca novel kesukaannya. Sesekali Alleysa tersenyum membaca isi novelnya. Yah! Alleysa menyukai novel yang bergenre romantis. Seorang membuka pintu kamar Alleysa tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Vaaro kakak Alleysa. "Al, Ada Carla di bawah sana" Vaaro berjalan mengambil laptopnya yang berada di atas meja Alleysa yang ia pinjam kemarin malam. "Biarkan saja. Tanpa disuruh pun, Carla akan naik ke kamarku" Alleysa acuh dan kembali melanjutkan bacaannya. Sesuai dengan perkataan Alleysa, Vaaro yang sudah bersiap memanggil Carla tiba-tiba Carla sudah berada tempat di pintu kamar Alleysa dengan senyuman tipis di bibir ranumnya. Vaaro menatap Alleysa. "Sepertinya, Kau benar Al". Vaaro meninggalkan kamar Alleysa dengan kedipan nakal mengarah Carla. Carla berjalan menuju ranjang Alleysa dan duduk disampingnya. "Al, besok kau ikut?" Carla menoleh ke arah Alleysa. Alleysa yang masih asyik membaca novelnya menjawab pertanyaan Carla tapi matanya masih tetap jatuh ke novel kesayangannya. "Kemana?" "Besok ada kegiatan outdoor kampus yang tiap tahun sekali di adakan" Carla merampas novel yang Alleysa pegang saat ini. Alleysa menatapnya sinis, tapi di balas senyuman ngejek dari Carla. "Apa itu penting?" "Hem.. Yeah! Menurutku penting. Kau kan mahasiswa baru, kalau kau ikut kau bisa lebih banyak mengenal mereka. Al" Carla tersenyum dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang Alleysa. Alleysa memutar bola matanya yang tampak memikirkan ucapan Carla. "Ehm.. baiklah. Besok Aku ikut. Kau ikut juga, kan?" Carla mengangguk menandakan ia juga akan ikut berpartisipasi dalam kegiatan outdoor kampusnya yang jatuh hari esok. "Aku tidur disini yah, Al" Carla menarik selimut tebal milik Alleysa hingga menutupi setengah tubuh Carla. "Apa kau sudah mem-packing perlengkapanmu?" "Sudah Aku packing, besok tinggal berangkat. Tapi, akan ku pastikan sebelum kau bangun Aku akan lebih dulu kembali kerumah" Ucap Carla meremehkan Alleysa yang selalu saja telat bangun pagi. Alleysa kembali memutar bola matanya, dan menarik selimut yang sama yang ia kenakan bersama Carla. ***** - Dendelion University, Australia - Semua orang tampak sudah siap untuk kegiatan hari ini yang akan berlangsung 2 hari. Pakaian musim dingin sudah memenuhi lapangan Dendelion University. Alleysa memakai pakaian yang dapat menghangat tubuhnya. Dua hari kedepan ia akan tidur di alam terbuka begitupun dengan mantel bulu Carla yang melekat sempurna di tubuhnya. Alleysa memainkan ponselnya, dan Carla sedang asyik memotret dirinya sendiri yang tampak manis mengenakan mantel bulu berwarna biru dengan topi yang menutupi setengah wajahnya. Alleysa tersentak saat ponselnya di tarik paksa oleh seseorang yang tidak lain adalah Zayn bersamaan dengan Carla yang menghentikan selfie-selfiannya saat melihat Zayn berjalan ke arah mereka. "Iiiiisssshhhhhh" Alleysa mendongak dan mendapati Zayn-lah yang merampas paksa ponsel yang berada di tangan Alleysa. "KAU!" Alleysa menatap Zayn sinis. Zayn tertawa saat melihat layar ponsel Alleysa yang dipenuhi dengan banyak kata-kata. "Apa yang kau baca? Kau terlalu banyak membaca hal-hal yang membosankan seperti ini" Alleysa menghiraukan perkataan Zayn, dan melangkahkan kakinya maju untuk mendapat ponselnya kembali. "Berikan ponselku!" "Kenapa kau suka sekali mengganggu orang?" Zayn terdiam mendengar perkataan Alleysa dan maju hingga jarak ia dan Alleysa semakin dekat. "Kau yang lebih dulu menggangguku, Alleysa!" Alleysa tersentak saat Zayn berada sangat dekat dengannya. Di tatapnya wajah Zayn yang terlihat sempurna, dengan alis hitam yang selaras, mata biru yang terpancar indah, bulu mata yang panjang, rahang yang terpahat dengan sempurna serta bibirnya yang tipis. "Aku tidak pernah mengganggumu!" "Apa Kau lupa dengan kejadian kemarin? Kau masih berhutang sesuatu padaku!" Alleysa menarik napas panjang dan berusaha mengontrol emosinya setelah semalam Carla menceritakan segalanya. Awal mula Carla bisa di perbudak oleh Hito hingga kekejaman Zayn yang selalu Carla lihat secara langsung. "Zayn, tidak akan pernah melepaskan seseorang yang telah mengganggu dan mengusiknya. Masalah sedikitpun, akan terasa sangat lama apabila berurusan dengan Zayn. Makanya, kalau Zayn mengganggumu kau harus mengalah kalau Kau tidak ingin berlama-lama berurusan dengan dia" "Zayn memiliki obsesi tinggi pada suatu hal. Kalau kau sudah tidak asyik dia akan meninggalkanmu!" "Zayn menjadi sangat di takuti di kampus, saat yang lainnya tau kalau Zayn adalah anak seorang mantan mafia meskipun orang tuanya sudah meninggal. Tapi, dia menjadi semakin Brutal dan yeah! Dia salah satu orang yang membantu keuangan di kampus ini" Ingatan Alleysa membuatnya menahan diri, karena ia tidak ingin berurusan lagi dengan Zayn. "Berikan ponselku, Zayn!" "Tolong!" Zayn mengulas senyum di bibir tipisnya dan berjalan meninggalkan Alleysa tanpa mengembalikan ponselnya. "Shiiiittt!" Alleysa mengumpat dan mengejar Zayn. Carla mulai panik saat Zayn kembali bermain-main lagi kepada Alleysa. Alleysa menarik lengan Zayn yang dipenuhi oleh Tatto dan memaksa tubuhnya berbalik. "Tolong kembalikan ponselku, Aku mohon" Zayn menyipitkan kedua matanya menatap heran kearah Alleysa. "Kenapa kau berubah jadi seperti ini? Apa kejadian kemarin membuatmu malu memamerkan paha mulusmu itu?" "Tolong, Aku tidak ingin bermasalah dengan mahasiswa lain disini. Aku ingin hidupku tenang. Okay! Aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku salah! Aku minta maaf. Mulai sekarang, Aku tidak akan mengurusi apa yang bukan urusanku. Tapi, tolong berikan ponselku!" Alleysa berkata panjang lebar dan hanya dibalas kekehan kecil dari mulut Zayn. "Tidak semudah itu Alleysa. Jika, kau sudah berurusan denganku itu tidak akan pernah menjadi masalah yang gampang terselesaikan. Carla sudah cerita padamu, kan? Dan kau? Ingin hidup tenang dikampus ini setelah berurusan denganku? Justru akan ku buat hidupmu tidak tenang disini!" Zayn merengkuh bahu Alleysa dan menatap mata hazel milik Alleysa. "Ponselmu akan kuberikan setelah sampai di tempat camp" Zayn memberikan kalimat terakhirnya untuk Alleysa dan meninggalkannya. "Ya tuhan! Kenapa jadi seperti ini!" Alleysa mengacak rambutnya dan segala umpatan yang keluar dari mulutnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN