- Wenthworth Falls, New South Wales -

Berada sekitar 2,5 jam dari kota Sydney di tempuh bus Dendelion University menuju Wenthworth Falls yang akan menjadi tempat camp mereka selama 2 hari.
Alleysa duduk tepat di samping Carla dengan membaca kembali novelnya, sedangkan Carla yang sudah terlelap menutupi wajahnya dengan topi kupluk berwarna coklat.
Suasana bus 1, bus yang Alleysa dan Carla tempati adalah bus khusus perempuan. Berbeda dengan bus 2 yang penghuni di dalamnya adalah segerombolan pria yang sangat berisik mengganggu konsentrasi supir yang mengendarai bus itu.
Suasana bus 2 sangat berisik, dimana teman-teman Zayn mulai membully kembali anak yang lemah. Mempermalukannya dan melecehkannya. Sorak-sorak dari semua penghuni bus membuat seorang pria kecil dan kurus yang tengah berdiri di depan mereka dengan wajah yang menunduk malu. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka hingga bus dengan pelan menyandarkan tubuhnya di sisi kanan jalan masuk menuju Wenthworth Falls .
Alleysa turun diikuti Carla yang berada tepat di belakangnya.
Alleysa menghirup udara yang sejuk menusuk ke hidung kecilnya, menutup kedua matanya merasakan setiap hembusan angin yang menerpanya sambil membentangkan kedua tangannya. "Sangat damai disini".
Seseorang tiba-tiba mendekat ke arah Alleysa dan mendaratkan tubuhnya yang kekar dan jenjang menuju tubuh Alleysa yang sedang membentangkan kedua tangannya.
Alleysa merasakan sebuah benda keras menghantam tubuhnya yang sedang menikmati suasana damai di tempat ini.
Yah! Itu adalah Zayn.
Alleysa tersontak mendapati Zayn yang tengah memeluknya. Dengan sekuat tenaga Alleysa mendorong, tapi Zayn menahan tubuh Alleysa dengan lengan kekarnya.
"Suasana yang pas untuk kita berdua Alleysa!" Bisik Zayn membuat Alleysa bergidik.
Hito merangkul pinggang Carla bersamaan dengan mata Carla yang membesar. Di kecup pipinya, tapi Carla hanya diam dan menikmatinya tanpa penolakkan.
Alleysa meronta untuk di lepaskan, hingga Zayn merasa kesal seolah-olah Alleysa merasa jijik bersentuhan dengannya. Zayn melepaskan Alleysa dan mendorongnya hingga Alleysa terjatuh.
"ALLEEE!" Teriak Carla lalu di balas tatapan kejam oleh Zayn.
"Diam kau Carla! Hito urus kekasihmu itu! Jangan sampai Aku memintanha untuk telanjang lagi disini!" Raut wajah Zayn kembali menampakkan kesangarannya.
Semua mata yang melihatnya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tahu jika berurusan dengan Zayn sama saja mencari mati.
Alleysa mulai menyeimbangkan dirinya dan berdiri tepat di hadapan Zayn.
Alleysa kembali teringat ucapan Carla yang selalu menyuruhnya mengalah agar Zayn melepaskannya dan merasa bosan kepadanya.
Dengan mata yang tajam dan sinis, bibirnya yang terkatup hingga rambutnya yang berantakan menutupi setengah wajahnya. Alleysa berjalan menuju Zayn, lalu memalingkan wajahnya dan meninggalkannya tanpa sepata katapun membuat Zayn frustasi melihat tingkah Alleysa yang berubah sejak peristiwa di gedung belakang kampus.
Zayn meremas rambutnya dan mengumpat.
Zayn mengejar Alleysa dan menahan lengannya.
"Kau tidak ingin ponselmu kembali?"
Alleysa teringat akan ponselnya yang tadi Zayn rampas darinya.
"Ohyah! Berikan ponselku!"
Zayn kembali mengulas senyum di bibirnya merasakan kemenagannya karena Alleysa kembali menanggapi permainannya.
"Kalau kau ingin ponselmu, biarkan Aku merasakan bibir manismu itu Alleysa!"
Alis Alleysa mengeryit, matanya menyipit dan membuang napasnya secara kasar. Mencoba menata kembali emosinya yang kini tersulut.
"Tolong Zayn, Aku tidak ingin bermain-main. Berhenti menggangguku!"
"Tapi, Aku senang bermain-main denganmu Alleysa!"
Zayn merasa Alleysa berbeda dari semua orang yang selalu ia ganggu dan bully dengan kejam. Alleysa mempunyai sisi unik yang selalu menjadi candu Zayn untuk menganggunya. Alleysa sangat sabar menghadapi Zayn.
"Tolong kembalikan ponselku, Zayn!" Alleysa kembali memohon dengan menatap mat biru Zayn yang di penuhi oleh bulu mata yang lebat.
"Okay! Akan Aku berikan nanti malam!"
"Berhentilah main-main, Zayn! Aku capek, kembalikan ponselku!"
Zayn mengabaikan perkataan Alleysa dan meninggalkannya kembali tanpa memberikan ponsel Alleysa.
Alleysa ingin teriak.
Berteriak sekencang mungkin.
Kenapa ia bisa berurusan sama pria gila seperti Zayn.
Alleysa mencari Carla dan mendapatinya sedang menonton Hito yang sibuk mendirikan kemah buatnya.
Hito kesusahan mendirikan kemahnya, membuat Carla tersenyum kecil menatapnya.
Cukup lama Hito bergelut dengan kemah yang sejak tadi tidak kunjung selesai dan akhirnya ia menyerah dan memanggil mahasiswa lain untuk memasangnya.
"Hey! Kau pria pendek! Sini Kau! Pasangkan tenda ini, cepat!" Suara parau Hito membuat pria yang sedang memasang kemahnya menghampirinya dan memasang kemah buat Alleysa dan Carla.
Alleysa melihat sisi lain dari Hito. Yeah! Mungkin itu yang membuat Carla jatuh hati padanya.
"Sudah selasai"
Carla tersenyum melihat Hito begitupun Alleysa yang mendekati Hito dan mengulas senyuman kecil di bibirnya.
"Kau berguna juga" Perkataan singkat Alleysa mampu membuat Hito tersenyum sombong.
*****
- Pukul 09.00 PM -
Sebagian orang tengah berkumpul di tengah tenda yang sudah tertata rapi. Begitupun Alleysa dan Carla yang duduk di atas batang pohon raksasa dengan mantel bulu kesayangannya.
Zayn menatap Alleysa yang tengah asyik bercanda ria bersama Carla sambil memegang s**u coklat panas di tangan kanannya.
Seorang dengan tatto di lengan kirinya mencuri perhatian orang orang yang ada di alam bebas itu.
"Guys! Bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan yang seru?"
Zayn adalah orang pertama menyetujui di ikuti Hito dan beberapa orang lainnya.
Alleysa tampak tidak tertarik dengan permainan yang Joe tawarkan. Sedangkan Carla menyetujuinya.
"Aku kembali ke tenda yah, Carl!"
Alleysa berdiri dan langkahnya tertahan oleh ucapan Zayn.
"Hei Kau! Kenapa kau tidak ikut main? Apa kau takut? Apa kau seorang pecundang?" Kekehan Zayn membuat semua orang meremehkan Alleysa.
"Sudah Al, masuk saja" Carla berbisik.
Alleysa yang terpancing oleh ucapan Zayn, berbalik dan menatapnya tajam begitupun dengan tatapan Zayn ke Allyesa.
"Okay! Aku ikut!"
"Baiklah! Bagaimana kalau kita mulai dari Kau nona Haston" Ucapan Joe membuat semua orang yang ikut serta dalam permainan itu bersorak dan beberapa dari mereka bersiul.
"Jadi permainannya disini, kalian harus memilih antara 'Truth or Dare' Yeah! Mungkin ini permainan lama, tapi sangat seru jika dimainkan banyak orang di alam terbuka seperti ini. Jika kalian memilih Truth kalian harus mengatakan yang sebenarnya. Dan jika itu Dare kalian harus menerima tantangan dari si pemberi tantangannya. Bagaimana? Kalian mengerti?" Joe menjelaskan bagaimana permainan ini akan menjadi lebih menarik.
"So, kita mulai dari.... " Kalimat Joe menggantung saat matanya mencari mangsa pertama. "Ehm... Yeah! Kau Alleysa"
Alleysa tersentak saat mengetahui dirinya lah yang terpilih.
"Truth or Dare"
"Truth!"
Alleysa memilih Truth berkat bisikkan Carla.
"Okay! Dari kalian ada yang mau memberikan pertanyaan untuk Alleysa?"
Zayn kembali menjadi orang pertama mengangkat tangannya saat Joe menyelesaikan kalimat terakhirnya.
"Alright! Zayn, berikan pertanyaanmu"
Zayn tersenyum tipis dan matanya menatap Alleysa yang juga menatapnya. Langkah kaki Zayn membuat Alleysa bergetar panik begitupun dengan Carla.
"Apa kau pernah melakukan percintaan panas, Alleysa?"
*****