Hari Pertama SMA
Prov Dhena
Akhirnya wisuda SMP selesai dan pada akhirnya aku berserta teman-teman ku akan meninggalkan sekolah kami tercinta untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu SMA.
Kata orang seragam SMA yang berwarna abu-abu memiliki arti tenang dan dewasa, aku juga tidak tau apakah itu berlaku untuk ku, karena aku terlahir sebagai anak bontot dari tiga bersaudara, dan kebetulan kami perempuan semua. Jujur saja bukannya aku tak senang, tapi sekolah yang akan jadi rumah ke dua ku saat ini bukan sekolah yang ku inginkan dengan berbagai macam fasilitas di dalamnya.
"Perkenalkan nama saya Adena Larasati saya dari SMP Citra Bangsa, saya harap kita cepat kenal dan bisa bersahabat dengan baik" Kami semua memperkenalkan diri saat hari pertama di kelas, dan kini giliran ku.
"Cie... cie... Lian" dengar ku saat berjalan menuju bangku yang kosong untuk ku tempati.
"Cantik juga" bisik seseorang yang duduk di seberang bangku ku.
"Selanjutnya Bayu Kuncoro silahkan maju" panggil bu Uci wali kelas ku pada siswa berikutnya sesuai urutan abjad huruf depan nama sepertinya.
Jam istirahat pun tiba, kami memang belum aktif belajar mengajar, setelah perkenalan wali kelas kami mempersilahkan kami untuk berdiskusi memilih ketua dan wakil kelas dan pengurus kelas lainnya seperti sekertaris, bendahara dan seksi kebersihan.
Apesnya aku terpilih untuk jadi sekertaris pada pemilihan tersebut.
Humff.... Jadi begini Sekolah Favorite di kota kami, yang santer terdengar isinya ada lah anak-anak pintar, yang sebagian besar akan di terima di perguruan tinggi terbaik di dalam ataupun luar negeri.
Sebelumnya aku bersekolah di SMP swasta ternama di kota ini, tidak semua bisa bersekolah disana karena memang biayanya masuk, dan SPP yang tergolong menengah keatas alias mahal. Aku memaksa orang tua ku untuk menyekolahkan ku disana karena semua kakak ku alumnus dari SMP Citra Bangsa.
Tapi aku terpaksa mengikuti kemauan ayah ku untuk bersekolah di SMA negeri karena pertimbangan kedua kakak ku yang sedang kuliah dan cukup besar biayanya jika aku memaksa melanjutkan SMA di sekolah ku terdahulu, kemungkinan aku tidak bisa kuliah nanti karena tabungan ayah tidak cukup. Jadi aku terpaksa mengikuti kemauan ayah ku demi mengejar impian ku kuliah di fakultas kedokteran yang ku inginkan nanti.
"Assalamualaikum Mamaaa dhena Lapar ...!" sapa ku saat pulang sekolah sambil merengek.
"Cie .. cie... putih abu-abu" ledek kak Dilla
"Apaan sih kak, berisik!" Sudah kesal di sekolah, tambal jengkel lagi liat kak Dilla.
"Idihh ... pulang-pulang kok marah-marah, kenapa ngak punya temen Lo yah" kak Dilla emang paling reseh, tapi kadang suka bener omongannya.
"Gimana mau punya teman, orang semua rata-rata isinya kutu buku semua mah, di sekolah pada bekel makanan, jarang yang mau makan di kantin, pulang mereka langsung go home, ngak ada yang melipir ke mall atau ngajak nongki di cafe gitu, dan paling kesel kalo di tanya kenapa jawabnya hampir sama ngak punya uang!" Aku menirukan gaya mereka pada kak Dilla dan mama, lalu merebahkan diri ke sofa.
"Loh bagus dong Dek, mereka di bawakan bekal orang tuanya, itu kan makanan sehat dari pada jajan yang belum tau bahan apa yang di campur dalam makanannya" seperti biasa mama selalu ambil segi positive, ku akui mama ku ini memang wanita yang bijak, karena pergaulannya dalam berorganisasi dan mau tak mau jadi ketua dengan posisi jabatan yang Papa emban, walaupun aku tak banyak mengerti pekerjaan Papa saat ini.
"Ihh mama kayak anak TK tau bawa bekal is not funny Mah" kak Dilla dan mama menertawakan ku yang sedang frustasi.
"Sudah sini makan dulu, cup cup anak mama capek yah, mama sudah siapin makanan ke sukaan dhena nih" Mama ku paling bisa menenangkan ku di saat emosi ku sedang meletup-letup.
"Enak mah, pokoknya semua masakan mama enak" Sudah cantik, lembut, pintar masak apa yang kurang dari figur mama ku ini, kadang aku bercermin apa aku bukan anak mama yah yang karakternya berbeda dengan ku.
"Nak kan makan di rumah tuh de, uang sakunya utuh kan bisa di tabung tuh, Jangan buat beli baju terus tiap bulannya hahaha"
Aku menghela napas panjang untungnya karena makan masakan mama yang enak aku tidak terpancing ucapan kak Dilla yang suka sekali mengusikku.
"Usstt sudah jangan ngeledek Dhena terus apa Dil" tegur mama.
"Tapi bener juga tuh dek, ada baiknya uangnya di tabung baju Dhena kan masih banyak dan bagus semua sayang kan kalau harus beli baru" mama ku kadang suka gitu entah pro kemana dia, kadang aku juga merasa bukan bagian dari keluarga ku ini, wajah ku sama sekali berbeda dengan kakak-kakak ku, wajahku lebih tirus dan berkulit putih pucat seperti mama sedangkan kedua kakak ku berkulit sawo matang seperti papa, mereka terkadang iri dengan paras ku, tapi mama dan papa mengatakan selalu menyayangi kami semua, walaupun aku juga merasa ada yang berbeda sepertinya ada rahasia di keluarga ku ini.
"Iya deh Mah" jawab ku tidak mau memperpanjang perdebatan, aku ingin sekali ke kamar dan beristirahat.
"Ma Dilla mau ke mall yah sekalian ke salon, besok papa mau ajak Dilla ikut main Golf" Tukas kak Dilla.
"Idihh kok Dhena ngak diajak sih kak?" Rengek ku, sejujurnya aku juga ngak mau ikut karena cuma jadi lalat hidup saja, pernah aku memaksa untuk ikut tapi papa dan kak Dilla malah pergi meninggalkan ku dengan supir papa yang lain untuk mengantar ku pulang, tapi aku tidak pernah cerita pada mama, karena ku pikir mama juga hanya bisa diam saja.
"Dhena masih kecil de nanti pukulnya ngak akurat, sayang kan dah bayar mahal-mahal hahaha" kak Dilla.
Setelah selesai makan aku kembali ke kamar ku dan melihat benda pipih yang belum ku sentuh lagi sehabis pulang sekolah. Ternyata banyak pesan masuk dari beberapa teman baik ku dan dari group sekolah lama ku.
'Hai Dhena gimana kesan pertama kali di sekolah baru mu' tanya putri salah satu sahabat ku.
'Di sekolah ku lumayan cukup menyenangkan' balas ku di aplikasi hijau. Rata-rata dari mereka memamerkan fasilitas sekolahnya dan ada juga yang melanjutkan untuk kuliah di luar negeri.
Aku membaringkan tubuh ku dan mencoba memejamkan mata, tapi bukan terpejam aku justru teringat wajah seseorang yang sangat familiar di ingatan ku, dia sepertinya sering datang ke dimensi mimpi ku. Tapi saat di sekolah sulit sekali untuk untuk mengingat wajah itu, aku sudah berusaha mencoba menggali ke tempat dimana aku melihatnya dalam mimpi ku, tapi hasilnya nihil.