Trauma

1133 Kata
Kini 7 tahun telah berlalu, Dhena sudah menjadi koas dan sekarang sedang praktek kedokteran di salah satu rumah sakit terpencil di kota Nusa. Iya kota yang sangat jauh dari tempat tinggalnya dahulu, namanya saja di kota tapi fasilitas di sini jauh dari kata memadai. Satu-satunya rumah sakit yang masih berdiri di kota ini, sangat jauh dari kata layak karena bangunan dan fasilitas rumah sakit ini belum pernah di diperbaharui sama sekali semenjak berdiri. Rumah sakit ini hanya mempekerjakan 2 orang dokter, 1 orang perawat gigi dan 3 perawat. Awalnya Dhena ragu untuk bekerja disini, tapi Dia terpaksa memilih kota ini sebagai tujuan praktiknya karena sejujurnya Dhena ingin pergi sejenak dari kehidupan sekarang, mencoba bertahan dan melupakan masa lalunya, masa lalu yang membuatnya berfikir hidupnya kini tidak lah penting. Tapi di tempat ini mengajarkan Dhena selalu bersyukur dan menghargai dirinya sendiri. Teryata banyak orang-orang di sini yang masih membutuhkan kehadirannya. Karena sifatnya Dhena sedang magang disini, maka hampir setiap hari dia berdinas disini, dokter senior disini sering pergi ke pelosok untuk misi kesehatan lainnya. Tapi Dhena senang disamping mengasah kemampuannya untuk menangani berbagai macam keluhan pasien, Dhena senang hari-harinya diisi dengan kesibukan dan berguna untuk orang lain. "Dok Dhena tolong! ada pasien yang luka bakar!" teriak salah satu perawat rumah sakit Nusa. "Iya Ina, saya segera ke IGD" jawab Dhena bergegas bangun dan berlari ke sana. "Dimana Pasiennya suster" tanyanya. "Disini dok, pasien usia 36 tahun luka bakar serius di bagian d**a dan perut" Ina menjelaskan sambil memberikan pertolongan pertama pada pria tersebut, Dhena ingin membantu nya tapi tiba-tiba satpam dan warga lain berlari dengan menggendong pasien berikutnya. "Dok, kata Tama masih ada beberapa pasien yang mengalami luka bakar, ini biar Ina tangani" kata Ina sepertinya mungkin korban lebih dari 3 orang. "Tama tolong ambil persediaan NaCL di gudang" Dhena berteriak saat pasien berikutnya masuk dan ini lukanya lebih serius karena mengenai sebagian wajah dan badannya. Dhena membersihkan luka bakar itu dengan cairan NaCL, mereka tampak kesakitan saat Dhena menyentuh bagian yang melepuh aku memberikan salep antibiotik setelahnya. "Pasien berikutnya dok!" teriak tama yang memapah pasien tersebut dari ronsen yang Dhena baca pasien ini mengalami patah pinggul kanan serta engkel kaki kiri. "Tama tangani dulu, beri gips pada bagian ini sampai dengan ini, setelah selesai saya nanti saya ke sana" jawab Dhena. "Baik dok, pasien satu lagi dok di tirai ujung" ucap Tama. "Hah! masih ada, iya nanti saya cek" Dhena segera menuju tirai paling ujung, setelah membuka tirai itu tubuh nya gemetar saat melihat pasien tersebut. Seketika dia berpegangan pada ujung brangkar tempat tidur pasien. Iya traumanya kambuh jika melihat seragam yang saat ini di kenakan pasien ku, untung saja tidak ada siapapun yang melihat nya dalam keadaan seperti ini. Dhena berusaha menarik nafas dalam dan meyakinkan dirinya bahwa dia baik-baik saja "Dia bukan Papa, tidak bukan dia bukan papa hanya profesi dan seragamnya Dhena tenanglah" bisiknya dengan suara parau. Setelah dia sadar, Dhena memeriksa kondisi pasien di hadapannya, pria ini mengalami luka bakar pada lengan kirinya, Dhena terpaksa menggunting baju pria tersebut. "Dok, salep antibiotik habis!" teriak Ina. "Astagfirullah" rasanya tadi dhena ingin menusuk pria dihadapan itu, jika saja Ina tidak mengagetkannya. "Ina tolong, gantikan saya sebentar, saya akan segera kembali" "Dokter tapi-" "Lukanya pada bagian lengan dan sebagian d**a kiri, bersihkan dan kompres dengan NaCL, aku segera kembali" Dhena segera berlari ke halaman belakang rumah sakit dan memetik beberapa daun ludah buaya. "Sudah Ina, ini berikan pada pasien pertama, jika salep luka bakar tidak ada Ina bisa gunakan lidah buaya sebagai penggantinya" Dhena menjelaskan sambil mencuci dan mengupas kulit lidah buaya yang tadi diambilnya. "Wah dokter brilian banget idenya" puji suster Ina. "Aku pernah membaca literatur, sudah cepat sana" tukas Dhena. Dhena mengoleskan lidah buaya pada lengan dan d**a pasien yang mengalami luka bakar, syukurlah Ina sudah menyingkirkan pakaiannya. Ina sepertinya tau dia akan mengalami hal ini, Ina salah satu orang yang tau masalah trauma yang dialami Dhena, suster Ina sudah berkeluarga dan semenjak dhena tinggal disini, dia sudah menganggap Dhena sebagai kerabatnya sendiri. "Apa yang kamu lakukan!" pasien ini bangun dan berusaha untuk duduk. "Ah, Sa- saya hanya mengobati luka anda" Dhena baru menyadari ternyata pria dihadapannya ini cukup tampan, badanya yang kekar dengan kulit coklat dan mata hitamnya membuat Dhena jadi sedikit grogi. "Ini di rumah sakit?" tanya pria itu sambil meringis menahan sakit. "I-iya benar seperti kau lihat, ini rumah sakit sekarang anda berada di rumah sakit Tingkat I Nusa" Dhena berusaha menjelaskan tanpa memperlihatkan kegugupannya. "Obat apa itu? apa yang kau oleskan ke tubuhku ini, Auchh!" dengan cepat Dhena menahan tangan pria itu, saat dia ingin mengangkat daun lidah buaya dr lukanya. "Ini daun lidah buaya sebagai pengganti antibiotik, berbaringlah mungkin sedikit membuatmu tidak nyaman dan perih nanti setelah ini saya akan memberikan anda obat untuk meringankan rasa sakit" belum selesai dhena memberikan penjelasan dia sudah memotong ucapannya. "Tidak perlu! saya masih bisa menahan rasa sakit" Sepasang mata itu bertemu, cukup lama mereka berpandangan dengan jarak yang cukup dekat, tapi seketika pria itu memutuskan pandangannya. "Bagaimana kawan saya yang lain?" tanya nya pada Dhena. "Oh dua diantara hampir sama dengan anda mengalami luka bakar dan satu lagi mengalami cedera pinggul dan kaki" Dhena menjelaskan kondisi pasien yang lain. "Syukurlah" "Auchh! permisi beri aku ruang aku harus memastikan keadaan mereka" pria itu langsung berdiri, membuang selimutnya dengan kasar lalu berjalan menuju brangkar pasien yang lain. 'Beri aku ruang apa kurang luas jarak antara aku dan dia, dasar pria aneh!' ucap Dhena dalam hati. "Dok, sini deh" panggil suster Ina. "Eum Kenapa?" tanya Dhena. "Ganteng banget ya dok" bisik suster Ina. "Siapa?" tanya Dhena sambil mengerutkan dahi. "Loh dokter emang nggak lihat, itu pasien yang dokter tanganin barusan" Ina menunjuk tempat tidur di hadapannya. "Oh pria yang disini, biasa aja Ina lagian kalo ganteng bisa jadi dia sudah berkeluarga" jawab dhena sambil tersenyum geli melihat Suster Ina cemberut. "Ih dok Dhena mah, nggak bisa banget liat orang seneng!" Suster Ina pergi dengan kesal meninggalkan Dhena yang masih terpaku di tempatnya. Semua pasien sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, itu artinya Dhena bisa sedikit meregangkan badan malam ini. "Dok, si kriting rewel aku tinggal pulang dulu yah dok" ucap suster Ina. "Loh sus Ina, pasien kita lumayan banyak kan malam ini" tukas Dhena, niat hati Dhena ingin rebahan seperti nya tidak bisa "Kriting, nggak mau bobo dok kalo Ina nggak pulang malam ini, nggak tau akhir-akhir ini dia manja banget dok" Ina mencoba menjelaskan perihal anak nya yang masih berusia 1 tahun. "Humf ya udah deh, tapi Tama standby kan na?" tanya Dhena malas. "Iya dok, aku sudah bilang dia. Besok pagi-pagi sekali Ina sudah datang dok janji" sus Ina mengacungkan jari kelingkingnya pada Dhena. "Iya salam buat kriting yah na" ucap dena. "Okeh dok, nanti Ina sampaikan malam dok cantik" Ibu anak satu itu pergi, dan meninggalkan Dhena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN