Seharian Adrian mengajak Keyla berkeliling rumah. Menunjukkan satu persatu ruangan yang ada di rumah ini. Keyla senang melihat Adrian seniat ini menjalin hubungan serius dengannya, tetapi kesenangan itu hanya bersifat sementara yang akan langsung tergantikan oleh kesedihan dan kesakitan mendalam. Semakin lama dia menyembunyikan hal ini, semakin menyakitkan pula dia meninggalkan Adrian. Begitu juga Adrian yang sudah pasti kesusahan melepasnya.
Hubungannya dan Adrian tidak akan berlangsung lama. Dalam hitungan hari, semuanya akan berakhir. Cepat atau lambat Adrian akan mengetahui segalanya. Akan sangat marah Adrian ketika mengetahui ini. Sudah jelas Keyla tidak akan bersama Adrian tapi dia masih memberikan banyak harapan. Katakanlah Keyla jahat, kejam dan tidak mempunyai hati, tapi dia ingin menghabiskan waktunya bersama Adrian sebelum dia benar-benar berpisah.
Perpisahan yang teramat menyakitkan, entah dirinya atau Adrian.
“Aku takut kamu direbut orang lain. Percayalah, aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Mungkin aku akan gila tanpamu. Karena kamu akan selamanya menjadi milikku, selamanya.”
Kata-kata Adrian membuat Keyla takut. Pria itu akan nekat, melakukan apa pun demi tercapainya tujuan. Dia menatap Adrian. Pria itu sedang menjelaskan sesuatu, tidak! Lebih tepatnya sedang membayangkan sesuatu. Kini mereka berdua ada di kebun belakang. Dia pernah bercerita ingin memiliki pohon buah-buahan di belakang rumah saat dia menikah dengan Adrian. Sebelum menikah, Adrian sudah mengabulkan permintaannya. Luas kebun sekitar 50 meter itu ditanami berbagai jenis pohon buah-buahan. Pohon-pohon itu tertanam subur dan berbuah lebat. Jeruk, apel, stroberi, buah naga, anggur dan delima. Semuanya tertanam subur, ada yang sudah berbuah lebat ada juga yang belum. Keyla berlari, berputar-putar melihat kebun ini.
“Astaga Adrian! Kamu! Kamu ...? Gimana bisa? Ini, aku suka banget. Jauh dari apa yang aku mimpikan, lebih-lebih dari ekspektasi aku!” seru Keyla kesenangan. Dia berlari ke pohon jeruk, satu-satunya pohon yang sedang berbuah lebat. Sangat-sangat lebat bahkan pohon itu keberatan karena buahnya terlalu banyak. Matanya berbinar, menyentuh jeruk segar itu. “Adrian aku boleh petik ini?”
“Yes, Babe. Ini semua milikmu.” Tiada henti-hentinya Adrian tersenyum, kadang-kadang tertawa kecil melihat Keyla yang tampak begitu manis dan menggemaskan. Wanita itu jingkrak-jingkrak, mengambil jeruk mengupas kulitnya untuk dia makan. Saat jeruk itu masuk ke mulut, matanya semakin berbinar.
“Adrian! Manis! Manis banget!” Keyla berlari ke arahnya, menyodorkan sebiji jeruk yang sudah dikupas ke mulutnya. Langsung saja Adrian memakannya. “Makasih, makasih banyak! Aku kira Cuma ada di dongeng, kamu bisa wujudin.” Keyla memeluk Adrian erat.
“Ini Adrian, kamu mau apapun aku akan selalu berusaha mengabulkannya. I love you,” balasnya. Mengacak-acak rambut halus Keyla. Jika kemarin-kemarin Keyla akan merajuk saat rambutnya berantakan, sekarang wanita itu membiarkan rambutnya diacak-acak oleh Adrian. Pelukan itu semakin mengerat.
“I love you, too.”
Adrian merasakan sesuatu. Di sela-sela kebahagiaan melihat Keyla bahagia, entah kenapa ada secuil perasaan gelisah. Seolah Keyla hendak pergi darinya.
Pelukan Keyla dilepas, berlari ke pohon stroberi. Berjongkok, melihat detail stroberi-stroberi yang tertanam subur di tempat ini. Adrian menghampiri Keyla. Sibuk meneliti dan mengagumi buah-buah stroberi yang merah, ditolehkan wajah Keyla. Tatapannya beralih ke Adrian.
“Boleh dimakan?”
“Boleh, tapi kamu harus mencucinya dengan air garam.”
“Enggak boleh langsung dimakan ya?” tanya Keyla sedih. Padahal dia ingin langsung melahap stroberi yang ada di depannya.
“Enggak boleh Keyla.”
“Aku boleh bawa pulang?”
Adrian mengangguk. “Tentu, kamu boleh bawa pulang semuanya. Ini milikmu.”
“Ini tidak akan menjadi milikku, Adrian,” batin Keyla menundukkan kepalanya. Berpura-pura sibuk memperhatikan stroberi-stroberi, hati dan pikirannya sedang tidak sinkron. Di satu sisi dia khawatir sudah memberikan banyak harapan pada Adrian, di sisi lain dia bahagia bersama Adrian. Meski sebentar lagi dia akan berpisah.
Anggap saja ini yang terakhir kalinya. Setelah dia menikah nanti, dia tidak bisa lagi berhubungan dengan Adrian. Kesesakan di d**a merambat ke mata, membuat matanya memanas dan berakhir berair. Dia tersenyum, menutupi kesedihannya.
“Kalau begitu, aku ambil keranjang dulu ya? Kita ambil buahnya buat persediaan di rumah,” ucap Adrian lantas bangkit dari duduknya, berjalan ke pintu belakang rumah berniat mengambil keranjang.
Keyla menatap punggung Adrian.
“Keyla, kamu enggak boleh nangis. Kamu enggak boleh nangis. Enggak boleh, kalau kamu nangis Adrian bakal tahu semuanya. Jangan sampai hubungan kamu sama Mama Permata rusak, dia segalanya buat kamu,” ucap Keyla pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia ingin menangis, menumpahkan semua air matanya. Namun dia sadar, saat ini bukan waktu terbaik untuk menangis. Adrian tidak menyukai dirinya menangis.
Adrian kembali dengan keranjang berwarna hitam. Keranjang begitu besar. Berlarian ke arahnya, enggan membuat Keyla menunggu lama. Keyla bangkit dari posisi jongkoknya. Mengambil keranjang yang Adrian sodorkan.
“Ini terlalu besar Adrian,” ledek Keyla, tertawa terbahak-bahak melihat keranjang besar.
“Kita ambil semuanya!” putus Adrian, menunjuk semua buah masak.
“Buat siapa? Buat kamu juga ‘kan?”
“Buat kamu Keyla Flawati.”
Mata Keyla melotot, memukul bahu Adrian pelan. “Aku enggak bisa makan semuanya Adrian! Nanti kebuang ‘kan sayang. Aku mau ambil secukupnya aja. Oh ya, kamu tinggal di sini ‘kan?”
Adrian menggeleng. “Aku tinggal di apartemen. Aku kan udah bilang, ini rumah kita. Sebelum kita menikah, aku enggak mau tempati rumah ini. Kita akan tempati rumah ini bersama, Keyla.” Jemari Adrian tergerak, menggenggam erat sebelah tangan Keyla.
“Bagaimana bisa Adrian?” tanya Keyla dalam hati. Sebelah tangan yang digunakan menggenggam keranjang itu dia eratkan. Bibir bawahnya dia gigit kuat-kuat.
Bagaimana ini? Adrian sudah berharap lebih. Terlalu berekspektasi tinggi membuat lelaki itu akan jatuh terlalu dalam. Tatapan itu, betapa yakinnya tatapan itu. Senyuman bahagia di bibir Adrian akan sirna.
“Kita ambil buahnya sekarang?” Keyla mengalihkan. Melepaskan genggaman tangan Adrian, berlari memetik buah-buahan yang sudah masak.
Adrian mengikuti Keyla, memeluk wanita itu dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perut Keyla lalu berbisik, “aku ingin segera menikahimu Keyla. Mimpi buruk itu selalu menyerangku. Aku bermimpi kamu pergi bersama pria lain. Kamu tidak akan melakukan itu ‘kan Key?”
Deg!
Mengapa mimpi Adrian tepat sekali. Ragu-ragu dia membalikkan badannya. Menatap Adrian sambil tersenyum.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Adrian. Aku mencintaimu.”
“Bodoh kamu Keyla! Kamu memberikannya harapan lagi! Terkutuklah jiwa jahat ini!” makinya dalam hati.
“Aku takut Key, aku takut kehilanganmu. Saking takutnya setiap menit yang aku lewati tanpamu menjadi bumerang. Cepatlah berpikir Key, menikahlah denganku secepatnya,” lirih Adrian. Dia mengambil sesuatu di dalam saku jasnya, sebuah kotak berwarna merah berisikan cincin. Tanpa berbicara lagi, Adrian langsung memasangkan cincin itu jari manis Keyla membuat Keyla kaget. “Ini tanda kamu sudah terikat, Key. Kamu calon istrimu.”
“Tidak, Adrian. Ini akan semakin menyakitimu,” batin Keyla menjerit.
“Kamu tidak akan bisa pergi dariku, Key. Aku akan membunuh orang yang berani mengambil dirimu dariku.” Diciumnya punggung tangan Keyla lama. “I love you.”
“I love you too,” balas Keyla pasrah. Hanya Tuhan yang tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
“Keyla? Kamu dari mana, Nak? Mam cariin kamu, dan apa ini?” Permata bertanya sambil membuka kantung plastik berwarna putih di pantry. Matanya membelalak, tangannya mengambil salah satu buah yang ada di kantung plastik itu.
“Abis dari rumah temen, Ma. Kebetulan di rumah temen ada kebun gitu. Buahnya juga seger-seger, lebat lagi. Terus dia bekelin aku ini deh,” jawab Keyla tersenyum, mendekati Permata. Membantu Permata mengambilkan wadah untuk buah-buahan.
“Astaga buahnya bener, seger-seger. Temen kamu rajin ya, punya kebun sendiri. Pasti kamu suka banget di sana. Dulu aja pas Mama aja kamu ke kebun stroberi di Bandung, kamu jingkrak-jingkrak,” cerita Permata tertawa kecil. Mengingat kejadian dulu membuatnya tertawa. Hari itu, dia dan Keyla sedang liburan di Bandung. Salah satu tujuan mereka itu ke kebun stroberi, sampai disana Keyla langsung berlari ke pohon stroberi.
“Mama masih inget?” Keyla mendengkus kesal. Kejadian itu sudah sangat lama, tapi Permata masih mengingatnya.
“Masih dong, masa Mama enggak ingat.” Wanita paruh baya itu mengambil wadah lainnya untuk ditempati jeruk, karena hanya jeruk yang tidak harus dicuci.
“Mama juga, metik stroberi sampe banyak banget. 3 kg, bayangin aja. Abis itu dibawa pulang buat oleh-oleh. Oh ya ini, nih. Kejadian lucu.” Keyla mengetuk-ngetukan jemarinya ke dagu, mengingat. “Di hotel! Malem-malem Mama keluar sendirian, aku kira Mama ngelindur ternyata nyari tukang wedang jahe. Padahal udaranya lagi dingin banget. Sumpah aku udah khawatir banget, sampe lari-lari ngejar Mama. Sampe sana diketawain.”
Permata tergelak. Dia memetik jarinya, mengingat kejadian menarik bersama Keyla. “Mama juga ingat kamu pernah nangis karena dikejar monyet.”
“Mama!” tegur Keyla tidak suka. Kejadian dikejar monyet itu sangat menyebalkan, menurutnya itu aib yang mesti disembunyikan.
Manik mata Permata terhenti di jari Keyla. Di sana tersemat cincin berlian. Perasaan Permata tiba-tiba tidak enak. Dia meraih tangan kiri Keyla, menatap cincin itu lekat-lekat. Sementara Keyla panik, lupa melepas cincin itu.
“Ini cincin apa, Key?”
“I-ini pemberian dari teman, Ma. Dihari ulang tahunku dua tahu lalu. Teman kampus, oh, ini juga imitasi kok, bukan beneran,” dusta Keyla, “dia sendiri yang bilang gitu.”
“Temen kamu cewek apa cowok? Maksud Mama yang ngasih cincin ini?”
“Cewek, Mah.”
Permata berdecak kagum. “Wah Key, kamu ketipu. Ini berlian asli, walau ukurannya kecil tapi harganya enggak bisa disepelekan.”
Asli ....
“Mewah banget desainnya, pasti temenmu itu Deket banget sama kamu,” lagi Permata memuji cincin ini.
“Iya, Ma. Dia sahabat baik Key,” balas Keyla.
“Dia kekasihku, Ma. Dia bagian orang terpenting di hidupku setelah Mama,” lanjutnya dalam hati.
“Sempat Mama pikir kamu udah jadi tunangan orang lain. Uh, Mama kaget. Oh ya, Mama mau bilangin. Pertunangan kamu dipercepat. Malam ini, Gelano udah siapin cincinnya. Cuma kita-kita aja, Gelano mintanya gitu. Nanti pernikahannya Mama gak mau lagi nurutin permintaan Gelano, Mama mau buat pesta pernikahan yang mewah. Buat kedua anak Mama yang Mama sayangi,” kata Permata, memeluk Keyla.
Malam ini?
Tunangan.
Tanpa sadar setetes air mata mengaliri pipinya.
Itu artinya, dia akan memiliki dua tunangan sekaligus. Pertama Adrian dan kedua Gelano. Tuhan pasti sangat membencinya.