Bab 1
Seorang gadis berambut panjang terurai berdiri di halte, menunggu bus menuju ke rumahnya. Gresia Ananta namanya, mahasiswa semester terakhir dengan setumpuk kesibukan. Banyak hal yang dia suka, mulai dari makan mie instan saat hujan turun, minum the hangat saat mengerjakan tugas, dan menatap wajah sang pujaan hatinya. Gelano Aditchandra, sejak beberapa tahun terakhir pria itu selalu mengacaukan pikiran dan hatinya. Sudah lama memang tapi dia belum berani menyatakan perasaannya pada pria itu. Gelano terlalu berharga untuk dijauhi.
Gelano Aditchandra adalah segalanya. Dia sudah menganggap Gelano sebagai kakaknya, teman, sahabat dan cintanya. Itulah mengapa dia tidak berani mengungkapkan perasaannya ini pada pria itu. Ada kalanya seseorang memilih diam daripada kehilangan segalanya. Biarkan seperti ini saja, mengalir seperti air sungai. Untuk saat ini, dia tidak siap kehilangan.
“Haduh udah malem nih, kok belum dateng ya busnya?” gumam Gresia, melirik sekilas arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Handphone-nya tiba-tiba berdering, menandakan ada seseorang yang meneleponnya. Tertera nama ‘Kak Lano’ di layar handphone-nya. Secepat kilat, Gresia langsung mengangkatnya. Dia menggigit bibir bawahnya, menunggu Gelano mengeluarkan suaranya. Beberapa detik hening, tidak ada suara apa pun di seberang sana.
“Halo Kak Lano?”
“Gres, aku ingin mengatakan sesuatu.”
Sesuatu? Tunggu, pasti sangat penting.
“Apa Kak?”
“Kamu datang langsung ke apartemen saya, ya. Segera datang, saya … saya sangat memebutuhkanmu.”
Tut
Sambungan diputus sepihak oleh Gelano. Suara Gelano terdengar berbeda. Lemah dan tidak berdaya. Apa mungkin Gelano sakit? Ya, bisa saja, karena sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Gelano. Keduanya sibuk, dia sibuk, begitu juga Gelano. Hari minggu pun dia habiskan untuk bergelut dengan skripsi. Walau sangat ingin bertemu, tapi cita-cita paling utama untuknya.
Menunggu bus saat ini adalah perkara mustahil untuk ditunggu. Dia memilih memesan taksi online, mahal memang tapi untuk Gelano yang selama ini sudah banyak membantunya, membayar taksi dari jarak kampusnya ke apartemen Gelano yang tidak seberapa. Tidak lama menunggu taksi yang tadi dia pesan sampai. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, khawatir dengan keadaan Gelano. Sesosok pria kuat, tiba-tiba meminta bantuan padanya. Ini sungguh mengkhawatirkan.
Berkali-kali dia meminta pada sopir agar mencepatkan laju kendaraannya. Kakinya mengetuk-ketuk, berusaha menghilangkan rasa cemasnya. Keringat dingin bercucuran, membasahi pelipisnya. Dia menelepon Gelano, sayangnya tidak angkat. Tidak ingin menyerah, dia mencobanya lagi dan lagi, sebelum handphonenya mati karena baterai handphone-nya habis.
“Ya Allah, semoga Kak Gelano gak papa,” harapnya, menoleh ke arah jendela mobil.
Akhirnya, Gresia sampai di depan apartemen Gelano. Segala kelincahan yang Gresia miliki dikeluarkan, untuk lari menuju apartemen Gelano. Sudah beberapa dia mampir ke apartemen Gelano, sekadar belajar atau masak bersama, jadi dia sudah hafal jalan-jalannya. Tidak hanya itu, dia bahkan tahu pin apartemen Gelano.
Sesampainya di dalam apartemen Gelano, Gresia memanggil-manggil nama si pemilik apartemen. Lama memanggil, tidak ada sahutan, akhirnya dia berteriak sambil berlari mencari keberadaan Gelano. Apartemen Gelano begitu luas, susah baginya untuk menemukan keberadaan Gelano. Tiba saja pada kamar terakhir, yaitu kamar tamu. Awalnya dia mengira tidak mungkin dia menemukan Gelano di sini. Pasalnya pria itu merasa muak melihat kamar itu. Namun di luar dugaan, Gelano ada di dalam kamar itu. Gelano duduk di lantai, sambil bersandar di tempat tidur. Di sampingnya ada beberapa botol minuman keras.
Tunggu?
Minuman keras?!
Mengapa Gelano kembali meminumnya, padahal pria itu sudah berjanji di depannya untuk menjauhi minum-minuman terlarang itu. Gelano sudah mabuk, benar-benar mabuk. Aroma menyengat dari minuman terlarang itu, sangat mengganggu indera penciumannya.
“Kak!” panggil Gresia, berlari ke arah Gelano lalu duduk di lantai—berhadapan dengan Gelano.
Gelano mendongkak, dia tersenyum saat melihat Gresia ada di hadapannya. Senyuman lebar yang terukir di bibirnya, berubah menjadi tawa ringan. “Gres, kamu dateng?”
“Kak, kenapa Kakak minum? Kak Lano ‘kan udah janji sama Gres, gak bakal minum lagi. Ada masalah ya?”
Seketika Gelano terdiam dengan kepala tertunduk. “Kamu benar Gres, aku lagi ada masalah, besar. Sangat-sangat besar,” lirih Gelano, kedua tangannya terangkat membentuk lingkaran besar.
“Kak, kalau Kakak lagi ada masalah cerita sama aku. Aku pas—”
“Kamu sibuk Gresia!” potong Gelano berteriak. Pria itu bangkit dari duduknya, diikuti oleh Gresia. “Kamu sibuk, selalu sibuk dan terus sibuk. Lagi pula siapa aku? Aku cuma orang asing yang kebetulan kenal sama kamu.”
“Kak, Kak Lano ngomong apa? Kenapa jadi serius gini, Kakak itu segalanya buat aku. Kakak itu temen, sahabat dan keluarga aku. Kakak itu berarti banget bu—”
Belum sempat Gresia menjelaskan, Gelano lebih dulu membungkam mulut Gresia dengan ciuman. Degupan jantung keduanya berpacu cepat. Gresia diam, menyusun kembali kesadarannya. Untuk pertama kalinya, Gresia melakukan kiss. Perasaannya kini campur aduk, kaget, senang, dan perasaan lain yang sebelumnya tidak pernah Gresia rasakan. Pria itu—orang yang sangat Gresia cintai—mengambil alih mulutnya, bermain-main dengan lidah. Namun, berbeda dengannya, dia hanya diam. Di satu sisi dia senang, dan di sisi lain dia bingung. Bingung, apakah Gelano melakukan ini karena cinta atau … pria itu sering melakukan hal seperti ini karena mabuk, bersama wanita lain?
Gelano melepaskan tautannya, memeluk tubuh Gresia singkat lalu mencium keningnya. “Gresia, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, dari dulu sampai saat ini dan selamanya.”
Deg!
“Aku suka segalanya tentangmu, Gres. Saat menggenggam tanganmu, memelukmu dengan erat, membuatmu tertawa bahagia, mengusap rambutmu, makan bersamamu dan segalanya. Aku mencintaimu, aku … aku takut kehilanganmu,” lanjutnya. Dia menggenggam kedua tangan Gresia, mengecup lama punggung tangan gadis itu.
Ternyata, Gelano merasakan perasaan yang sama dengannya. Gresia tersenyum bahagia, memeluk tubuh Gelano erat, sangat erat seperti tak ingin kehilangan sosok pria yang sedang ada di pelukannya.
“Aku juga, aku juga cinta sama Kak Lano. Aku pikir, cintaku bertepuk sebelah tangan tapi ternyata enggak. Aku seneng banget!” balas Gresia antusias.
Namun, malam yang dirasa sangat membahagiakan bagi Gresia, tapi ternyata menjadi malam terburuk. Semuanya terenggut, hal berharga dalam hidupnya terenggut. Semuanya diberikan sukarela, dituntun oleh hasrat cinta. Gelano mabuk, dan dia tahu kalau pria itu sedang mabuk. Entah dorongan dari mana, dia melakukan hal di luar nalar bersama Gelano.
Haruskah dia bahagia karena Gelano juga mencintainya?
***
“Gresia bodoh,” Gresia memaki dirinya sendiri.
Gresia pulang tanpa menunggu Gelano bangun. Pagi-pagi buta dia pergi meninggalkan apartemen Gelano. Penyesalan memang selalu datang terakhir, saking cintanya dia tidak bisa berpikir jernih. Dia memang mencintai Gelano, tapi bukan berarti dia bisa memberikan harta paling berharga seorang wanita padanya. Belum tentu Gelano menjadi suaminya ‘kan? Pesan dari mendiang neneknya, tidak bisa dia jalani.
Hancur.
Semuanya hancur.
“Bodoh! Gresia bodoh, mati aja kamu!” teriak Gresia, air matanya mengalir deras. Berjalan gontai sambil menjambaki rambutnya. Beruntunglah keadaan lingkungan masih sepi, bisa-bisa dia disangka orang gila. Lebih parahnya, ada orang jahat yang merampoknya.
Selintas ingatan soal semalam tiba-tiba muncul. Betapa menjijikkannya dia semalam, menampakkan tubuh b***l di hadapan pria. Rasanya dia ingin menjerit, berdoa semoga waktu kembali terputar. Jika dia diberikan kesempatan memutar waktu, maka dia tidak akan mengangkat panggilan Gelano apalagi pergi ke apartemen pria itu.
Gelano tahu betul kalau dia selalu menjaga kehormatannya. Akibat pengaruh dari minuman beralkohol, pria itu tidak sadar telah mengotori harga dirinya. Gelano tidak salah, di sini dia yang salah, seharusnya dia tidak datang semalam. Seharusnya dia menyibukkan diri dengan kelanjutan skripsinya.
Sekali lagi, tanpa berperasaan Gresia memukul kepalanya kencang. “Sekarang gimana Gresia?! Kalau hamil gimana, Gresia? Gimana, bodoh!” makinya.
“Habis main sama cowok ya, Neng?” tanya seseorang membuat Gresia terlonjak kaget.
Perlahan Gresia berbalik, di sana ada dua orang pria sedang tertawa.
“Cowoknya gak mau tanggung jawab ya, Neng? Sini sama Abang aja, Abang pasti tanggung jawab kok.”
Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba tubuhnya gemetar, selangkah demi selangkah dia berjalan mundur. Kedua pria itu saling bertatapan lalu melangkah maju, mendekati Gresia.
“Cowok jaman sekarang, cuma mau enaknya doang. Sini sama Abang, Abang janji kasi lebih enak, kalau hamil Abang tanggung jawab.”
“Ya Tuhan! Tolong Gresia! Tolong!” jeritnya dalam hati.