Bab 2

1206 Kata
Bab 2 “Sial, kepalaku sakit sekali,” ringis Gelano, bangkit dari tidurnya. Gelano memijat kepalanya pelan, entah sudah berapa banyak gelas minuman beralkohol yang dia minum. Kepalanya terasa sangat berat, dan lagi semalam dia bermimpi b******a dengan Gresia. Mimpi itu membuatnya gila. Terasa nyata tapi tidak mungkin. Sebelumnya dia pernah berjanji pada Gresia untuk tidak meminum minuman beralkohol. Semalam, pikirannya benar-benar kacau. Gresia sibuk dengan skripsinya, karena kesibukan gadis itu, dia jadi tidak bisa sering bertemu bahkan jarang. Sehari tidak bertemu Gresia, waktu seperti berjalan lambat. Cintanya untuk Gresia begitu besar. Ketakutan di dalam dirinya semakin membelenggu. Dia takut Gresia direbut orang lain, dan dia takut Gresia mencintai orang lain. Saat itu terjadi, pasti dia akan gila. Untuk menghindari kegilaan dirinya, dia harus cepat-cepat menyatakan perasaannya secara langsung di depan Gresia. Ada dua kemungkinan jika dia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya; diterima atau ditolak. Bagaimana, setelah dia menyatakan perasaannya, Gresia menjauhinya? Pria itu turun dari ranjang, alangkah kagetnya dia bangun dengan tubuh b***l. Dia mendesis, menutup matanya. “s**t, jangan-jangan semalam aku lakuin hal konyol? Menjijikkan, tapi … mneyenangkan hahaha. Semoga besok dapat mimpi yang sama, tentunya dengan Gres.” *** Setelah Gresia berhasil kabur dari dua orang pria m***m, dia langsung mengurung diri di kamar. Hari ini dia selamat berkat bantuan dari seorang penjual kopi keliling. Dia tidak bisa membayangkan, hal apa yang akan terjadi jika penjual kopi itu tidak datang. Setelah hancur oleh Gelano, akan tambah hancur lagi jikalau kedua orang pria itu melakukan hal yang sama seperti apa yang Gelano lakukan padanya. Tubuhnya bersandar di balik pintu, sebelum melorot ke bawah seperti jelly. Kedua lututnya ditekuk kemudian dia peluk. Beberapa saat lalu, air matanya sudah terhapus. Mana mungkin dia menampakkan sosok kehancurannya di depan orang tua dan kakak laki-lakinya. Selama ini dia selalu kekurangan kasih sayang, dituntut menjadi yang terbaik kapan pun dan di mana pun. Baik akademis, non akademis maupun sikap. Setelah menjadi yang terbaik barulah mereka menyayanginya, ketika dia melakukan kesalahan barang sekali pun. Tidak peduli kecil atau besar, mereka menghukumnya. Menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Sekarang apa? Dia sekarang menjadi aib. Seberapa kasar sikap keluarganya saat tahu dia sudah mempermalukan nama baik keluarganya. Handphone-nya berdering, dia mengambil handphone di tas kecilnya lalu melihat ke arah layar. Tampaklah nama kotak Gelano di sana. Haruskah dia mengangkatnya? “Halo?” “Hai, Gres. Kamu sibuk ya? Gimana skripsi kamu, lancar?” tanya Gelano di seberang sana, tanpa beban dan perasaan bersalah sedikit pun. Gresia diam, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan tangisannya. Apa Gelano tidak mengingat soal semalam? “Kenapa kok diem? Oh ya, aku mau jujur. Maaf ya, aku langgar janji aku ke kamu. Semalam aku minum, maaf ya Gres.” Gelano benar-benar tidak ingat soal semalam. Tut “I-iya, jangan minum lagi ya Kak. Nanti orang lain kena imbasnya,” balas Gresia pelan, sebelah tangannya mencengkeram ujung kaosnya erat-erat. Sekuat mungkin, menahan tangisannya agar tidak turun. “Ya udah, semangat ya Gres. Semoga cepet wisuda, biar bisa masak bareng lagi.” Tut Gresia mematikan sambungan teleponnya. Handphone yang dia pegang terjatuh ke lantai, tangisannya pecah. Cepat-cepat dia menutup mulutnya, tidak ingin diketahui oleh orang rumah. Tangannya bergetar hebat, dadanya sesak. Gelano tidak mengingat apa pun, bagaimana caranya dia memberitahunya? Apakah pria itu akan percaya? Memberitahu? Bahkan mengakuinya saja dia sulit. Kehancurannya baru saja dimulai. Kehidupan terbaiknya akan runtuh. Satu persatu, dan itu pasti. *** “Gelano, kamu serius mau kerjain projek ini?” Gelano mengangguk yakin. Projek ini tidak bisa dia tinggalkan karena dengan projek ini, perusahaannya akan semakin berkembang. Hari ini adalah jadwal pemberangkatannya, dan ibunya terus saja menahannya agar tidak pergi. Ibunya pasti khawatir, membiarkan anaknya pergi ke negara asing selama berbulan-bulan. Namun bukan Gelano namanya, si keras kepala yang tidak akan membiarkan tekadnya dan kemauannya hancur dalam sekejap. Apalagi dengan alasan khawatir. “Iya, Ma. Mana bisa aku tinggalin projek ini setelah aku persiapin matang-matang. Oh tidak bisa, jawab Gelano seraya berdiri, menatap sang ibu sambil cengengesan. Permata—ibu Gelano—melayangkan tangannya ke lengan Gelano, memberikan pukulan keras. Berharap putranya kesakitan dan tidak jadi pergi meninggalkannya. Gelano adalah putra semata wayangnya. Hanya Gelano seorang yang selama sepuluh tahun ini menjadi kekuatannya, setelah suaminya meninggal di medan pertempuran. Semua orang mengenang jasa beliau, begitu juga dengannya yang sangat bangga memiliki suami seperti almarhum Rezasa—suaminya. Sekarang Gelano sudah dewasa, sebentar lagi Gelano akan menjalani kehidupan berumah tangga. Rasanya dia belum siap, melihat anaknya tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Setelah dipukul oleh Permata, Gelano malah tertawa terbahak-bahak. Pukulan ibunya seperti bayi yang menendang. Bukan sakit yang dirasa tapi melegakan, sebetulnya lengannya ini kaku dan butuh pukulan agar kembali lemas. “Ngapain ketawa?!” sewot Permata, berpura-pura marah pada putranya. “Ya, lucu jadi aku ketawa.” “Mama marah loh, Lan.” “Tau.” “Yaudah jangan jadi pergi, Mama sendirian di sini,” pintanya memelas. Gelano menghela nafasnya panjang, memegang kedua bahu ibunya. “Ma, Lano bukan anak kecil lagi. Lano bisa jaga diri di sana, lagian ini bukan yang pertama kali,” jelas Gelano meyakinkan ibunya, “Ini perusaaan Lano sendiri, masih kecil, tapi Lano pengen ngubah jadi lebih besar. Gelano mau buat Mama sama Papa bangga. Gelano mau, Papa tersenyum di sana. Liat anaknya udah enggak cengeng lagi.” “Janji ya, pulang cepet. Nanti Mama kangen gimana?” “Janji, Mama kalau kangen Lano tinggal telepon. Nanti Gelano sering hubungi Mama di sana.” Permata diam. “Sekarang Mama udah izinin Lano?” tanya Gelano dibalas anggukan lemah oleh Permata, “Gelano pergi ya?” “Hati-hati.” “Iya Mamaku yang cantik. Udah ya, Lano udah telat nih.” Gelano mengecup kedua pipi ibunya lalu pergi meninggalkan ibunya sendirian. Semua ini dia lakukan demi dirinya sendiri, orang tuanya dan Gresia. Setelah lulus sarjana nanti, Gelano janji akan langsung melamarnya. Dia siap, apa pun jawaban dari Gresia. Seandainya wanita itu mencintainya, dia akan membuat Gresia mencintanya dan seandainya Gresi mencintai orang lain maka dia akan melepaskannya. Apa pun, itu, setelah Gresia lulus, dia akan melangkah agar tiak tertinggal oleh orang lain. *** “Semalam kamu ke mana aja? Pulang pagi?” Langkah Gresia terhenti, perlahan dia berbalik. Di sana ada seorang pria yang usianya dua tahun lebih tua darinya, berdiri sambil melipat kedua tangannya di d**a. Diberi pertanyaan seperti sontak saja Gresia kaget. Dia pikir, keluarganya tidak sadar dengan kepulangannya tapi ternyata Revaldo—kakaknya—tahu. Dari pada ayah dan ibunya, dia lebih takut pada kakaknya. Lebih tegas, disiplin, tak terbantahkan dan yang paling menyeramkan kakaknya temperamental. Tidak jarang, Revaldo menyakiti fisiknya. “ke pe-perpustakaan kampus, Kak. Cari buku sambil ngerjain skripsi,” jawab Gresia takut-takut. Terpaksa dia berbohong. Andai kata dia jujur, maka habislah dia. Revaldo menatap adiknya curiga. “Bohong kamu, kamu gak buat aneh-aneh ‘kan?” “Enggak, Gessy gak aneh-aneh kok.” “Awas aja, kalau sampe buat aneh-aneh apalagi sampe cemarin nama baik keluarga, habis kamu,” ancam Revaldo, lantas pergi dari hadapan Gresia. Gresia terdiam, hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. Kakinya tiba-tiba lemas, tidak lama tubuhnya melorot ke bawah. Atensinya tertuju pada jejak sepatu yang membekas di lantai. Jejak sepatu itu milik Revaldo. Seolah takdir memperingatkannya, bahwa kehidupan sebenarnya sebentar lagi akan dimulai. Dimulai … dari sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN