Bab 3

1087 Kata
Tiga bulan sudah, Gresia menjalani hidupnya seperti biasa. Namun, keadaannya akhir-akhir ini tidak biasa. Pusing dan mual secara mendadak. Selama tiga bulan dia stres, di satu sisi dia memikirkan soal skripsi dan di sisi lain dia takut ada hasil dari perbuatannya bersama Gelano. Kemarin dia membeli beberapa testpack secara diam-diam. Ternyata hal yang dia takutkan selama beberapa bulan terakhirnya jadi nyata. Setiap hari dia berdoa pada Tuhan, agar kehidpannya kembali lancar tanpa kendala. Dia berdoa semoga Tuhan melupakan segala ingatan tentang malam itu. Dua garis biru di testpack tersebut memperlihatkan jawaban atas semua doanya. Gresia seorang pendosa, dia melupakan sesuatu yang tidak seharusnya dilupakan. Tuhan sudah muak, akhirnya sekarang Tuhan memberikan hukumannya. Ada sebab ada akibat, dia melakukannya dan dia juga yang harus menanggung semuanya. Dia berdiri di depan cermin, memandang lekat-lekat wajah sembabnya. Mau menangis selama apa pun, masalah tidak akan selesai. Jurang kesengsaraan sedang melambai-lambai ke arahnya, menantikan dia masuk ke dalam jurang itu. Dalam beberapa bulan lagi, perutnya akan membesar. Cepat atau lambat keluarganya pasti akan tahu. “Apa? Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya pada dirinya sendiri. Dia mengusap perutnya lembut, tidak percaya kalau di perut sekecil ini ada kehidupan lain. Bayi ini tidak salah, dia yang salah telah menghadirkannya di situasi rumit seperti ini. Sungguh dia belum siap, melihat keadaan yang akan terjadi nanti. Perutnya tiba-tiba mulas, dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi di dalam perutnya.   *** “Gessy! Kamu kenapa? Sakit? Hari ini kamu sidang!” “Gessy?” Lama tidak ada jawaban, Revaldo langsung masuk ke dalam kamar adiknya. Pandangannya mengedar, menatap ke segala arah. Terdengar suara adiknya sedang muntah di dalam kamar mandi. Keningnya mengernyit bingung, tidak biasanya adiknya muntah-muntah seperti ini. Entah mengapa dia memikirkan hal yang tidak-tidak tentang adiknya. Gresia adalah adiknya, mana mungkin dia melakukan sesuatu di luar batas. Beberapa bulan terakhir, adiknya sedang dalam masa sibuk menyelesaikan skripsi. Begadang setiap hari, karena itulah kondisi adiknya jadi seperti ini. Tiba saja ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mendekat ke arah meja rias. “Apa ini?” gumamnya, menyingkap sesuatu yang tertutup oleh sehelai tisu. Matanya melotot, beberapa langkah di mundur ke belakang. Ini tidak mungkin ‘kan? Iya, adiknya tidak mungkin melakukan ini. Selama ini dia selalu mengajarkan adiknya hal-hal baik. Mustahil bagi Gresia melakukan semua ini. “Gessy!” panggil Revaldo. “GRESIA! Keluar kamu!” teriak Revaldo marah. Ceklek Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Gresia di balik pintu kamar mandi. Wanta itu kaget bukan main, di kamarnya ada Revaldo. Kedatangan Revaldo ke kamarnya, membuat jantungnya memberontak. Pasalnya, di tangan Revaldo ada testpack yang baru dia gunakan tadi. Cepat atau lambat, semuanya akan terbonngkar tapi dia tidak menyangka kalau kakaknya akan tahu secepat ini.  “Apa ini Gessy?” tanya Revaldo, mengangkat tespack itu ke atas, “jawab sialan! b******k! Tidak tahu diri!!” lanjutnya membentak Gresia. Nada suaranya sangat tinggi, telinga Gresia menjadi pekak mendengar suara itu. Revaldo melangkah cepat mendekati Gresia, namun bersamaan dengan itu Gresia ikut berjalan mundur. Sebelum Gresia mundur lebih jauh lagi, Revaldo mengapai lengan adiknya lalu dicengkeramnya kuat-kuat. Wanita itu meringis kesakitan, menangis tersedu-sedu meminta agar dilepaskan olehnya. Semakin Gresia mengeluarkan suara tangisnya, Revaldo semakin mengeratkan cengkeramannya. Revaldo tidak peduli, apakah tangan adiknya akan patah atau tidak. Kemarahan sedang menyelimuti dirinya. “A-ampun Kak. I-iya, Gessy … Gessy hamil,” jawab Gresia, air matanya tiada henti mengalir. Suara isak tangisnya semakin kencang, saat cekalannya beralih dengan menjambak rambutnya. “Kurang apa? Kakak udah percaya sama kamu, dan sekarang? Mau ditaro di mana nama baik keluarga ini huh?!” Plak! Revaldo menampar pipi Gresia kencang, membuat wajah Gresia terhuyung ke samping. Sangat kencang, saking kencangnya, sebelah sudut bibirnya berdarah. Gresia tidak berdaya, wanita itu pasrah berada di genggaman kakaknya. Saat marah, Revaldo tidak akan mengasihani siapa pun termasuk dengan dirinya. Bukan kondisi tubuhnya yang Gresia pikirkan saat ini, tapi kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya. Bayi yang ada di dalam kandungannya tidak salah, tidak sepantasnya bayi itu mendapatkan hukuman akibat dari ulah ibunya. “Maaf, Kak. Aku gak sadar, a-ampun maafin aku,” mohon Gresia, bersimpuh di kaki Revaldo. Namun, tanpa perasaan  pria itu menendangnya tanpa ampun. “Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Pergilah dari sini, pergi yang jauh dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Aku sudah muak melihat mukamu.”   *** Kabar kehamilan Gresia sampai di telinga kedua orang tuanya. Mereka berdua marah, sama halnya seperti Revaldo tadi, mereka menamparnya setelah itu mereka mengusirnya. Dia hancur, batin dan fisiknya terluka. Impian yang tinggal beberapa hari lagi teraih, mungkin akan sirna. Wajahnya bonyok, darah segar mengalir di dahinya. Tidak puas menendangnya, Revaldo membantingnya ke tembok. Alhasil keningnya tidak sengaja terbentur ujung nakas. Entah dia harus ke mana sekarang. Dia hanya mempunyai keluarga dan Gelano. Gelano … kenapa pria itu tidak ada kabar? Dengan tangan gemetar, dia mengambil handphone kemudian mencari nama kontak seseorang. Ya, Gelano, dia akan menelepon Gelano. Hanya pria itu yang bisa membantunya saat ini. Berat memang, tapi dia harus memberitahu kebenarannya pada Gelano. Semuanya, dia akan memberitahu. Sudah beberapa kali dihubungi, tapi diangkat. Ke mana pria itu? Sungguh dia sangat membutuhkan sosok pria itu. “Kak, aku mohon angkat. Aku mau ketemu sama Kak Lano,” pintanya cemas. ‘Nomor yang Anda hubungi, tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi.’ Menyerah! Sejenak dia merenung, menatap nama kontak Gelano di handphone-nya. Seumpama dia menceritakan semuanya pada Gelano, akankah pria itu percaya? Terbukti saat pria itu meneleponnya, pria itu malah menceritakan hal lain bukan inti dari masalah sebenarnya. “Ya Allah, maafkan hamba yang sudah melakukan sesuatu yang Engkau benci. Bukankah setiap manusia berbuat salah, berhak mendapatkan kesempatan? Maka, tolong aku, beri aku kesempatan kedua untuk hidup lebih baik lagi.” Gresia berdoa di dalam hati. Meminta segenap hati dan ketulusan, semoga semua doanya terkabul. Hari ini dia akan pergi jauh, sangat-sangat jauh. Pergi meninggalkan semuanya, impian, keluarga, harapan dan cinta, dia tinggalkan. Di tempat yang jauh itu, dia akan menjaga diri sebaik mungkin demi calon buah hatinya. “Bismilah. Ayo kuat Gessy, kamu gak sendirian. Ada Allah sama calon anak kamu di di sini.” Dipaksa tegar oleh keadaan seperti mencoba berdiri di lumpur hidup. Lumur yang menyedot tubuhnya agar masuk dan terperangkap di dalam. Jika dia tidak berpegangan pada sesuatu benda kokoh maka dia akan masuk ke dalam. Sekeras apa pun, sekejam apa pun dunia kepadanya nanti atau pun sekarang, dia akan coba menghadapinya. “Ayo Nak, kita pergi.” Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal kota kelahiran, selamat tinggal impian dan orang-orang yang dia sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN