Bab 6

1605 Kata
Bertahun-tahun sudah tapi Gelano belum juga menemukan keberadaan Gresia. Kewarasannya nyaris hilang dan semangat hidupnya berkurang. Mengerjakan pekerjaan sebagai landasan kewajiban, sisanya dia pakai untuk mencari keberadaan Gresia dan juga anaknya. Tidak tahu apakah Gresia dan anaknya masih hidup. Sudah membayar banyak orang, tapi tidak ada satu pun yang bisa menemukan seorang wanita yang awam akan dunia luar. Kini di hidupnya tersisa raga, nyawa sudah melayang-layang entah ke mana. Di sebuah ruangan Gelano melampiaskan kemarahannya. Membabi buta dirinya sendiri. Merasa menjadi manusia terbodoh dan terjahat sedunia. Membiarkan Gresia hidup kesusahan di dunia luar tanpa satu pun orang yang mendampinginya. Kesalahan ada pada dirinya, seharusnya dia yang mendapatkan hukuman bukan Gresia. Wanita itu korban, dan dia adalah tersangka. Sampai kapan pun dia tidak akan menyerah sebelum dia menemukan Gresia. Pandangannya kosong. Selama ini dia membayangkan kehidupan indah bersama Gresia. Sekarang jangankan hidup bahagia, cukup melihat Gresia baik-baik saja dia akan tenang. Andai Gresia marah dan membencinya, dia tidak peduli. Meski dia tidak bisa bersama Gresia lantaran kebencian wanita itu terhadapnya, dia tidak peduli. Ceklek! Pintu ruangan terbuka lalu tertutup kembali. Langkah berat seseorang semakin terdengar di telinga Gelano. Sudah hafal siapa gerangan yang masuk ke dalam ruangan. Selain ibunya, tidak ada lagi yang boleh masuk ke ruangan ini. Sebuah ruangan berisikan puluhan buku yang tersusun di lemari, di samping dekat jendela kaca terdapat tanaman hias bervas putih, dua sofa bed, satu meja belajar berwarna putih dan tirai dua lapis menjuntai di kedua sisi jendela. Sebuah ruangan khusus untuk bersantai. Ruangan ini dia akan berikan untuk Gresia setelah mereka menikah nanti. Tangan putih dengan sedikit kerutan itu menyentuh bahu Gelano. Permata, duduk di samping putranya. Sedih sekali melihat putranya hidup tanpa ada semangat. Sudah berkali-kali dia menyuruh Gelano melupakan Gresia tapi Gelano malah marah. Kesalahan Gelano sangat besar, dan dia mengerti itu. “Dari kemarin kamu belum makan. Mama antar makanan ke kamar kamu tapi kamu enggak makan,” ujar Permata khawatir. Gelano jarang sakit, tetapi beberapa tahun terakhir putranya mudah sakit. Berkali-kali dia harus menghantar putranya ke rumah sakit. Permata mengembuskan nafasnya panjang. “Kamu sudah berusaha keras mencari keberadaan Gresia, Nak. Kehidupan akan terus berputar dan akan selalu berputar. Hidup kamu enggak stuck di Gresia, kamu harus melanjutkan hidup. Di dunia luar, bagaimana Gresia bisa hidup?” Gelano menatap sang ibu marah. Selain mudah sakit, Gelano juga sensitif. Tidak bisa terkena singgungan barang sedikit saja. Tangan Permata ditepis oleh Gelano. “Maksud Mama, Gresia sudah meninggal?” “Menurut Mama seperti itu, Lan. Masalah yang Gresia hadapi itu besar. Mustahil—” “Shut up!” bentak Gelano, sontak saja Permata kaget bukan main. Pertama kalinya Gelano membentak seperti itu. “Aku mohon, Mah. Jangan berkata seperti itu. Aku akan berusaha lagi, sekali lagi. Setelah itu aku akan pasrah dan menuruti kemauan Mama untuk menikah kembali. “ Setelah mengatakan itu, tanpa berbalik dan menatap Permata, dia keluar dari ruangan itu. Pintu ruangan sedikit terbanting menimbulkan suara debuman keras. Tubuh Permata tercengang. “Mama sayang sama Gresia, tapi Mama lebih sayang Gelano. Mama enggak akan biarin, masa lalu kelam membunuh kamu. Enggak, bahkan sekalipun Mama taruhkan nyawa Mama. Mama akan lakuin itu.” Isak Permata menjatuhkan tubuhnya ke lantai. “Maaf, maafin Mama.” *** Ditatapnya bingkai foto mendiang suaminya. Tidak, lebih tepatnya foto pernikahan Permata dan Rezasa. Tidak terasa air mata mengalir membasahi bingkai itu. Buliran air berlinang menimpa wajah suaminya. Berkali-kali Permata menghapus air matanya. Mungkin saja buliran air mata ini akan menyakiti suaminya di akhirat sana. Bukan menangisi kepergian suaminya, tetapi dia menangisi putranya yang nyaris gila. Sering sekali berkhayal dan membayangkan Gresia ada di sini, sebagai istri. Bahkan Gelano membeli banyak boneka, seolah tahu anak Gelano berjenis kelamin perempuan. Lebih gila lagi, Gelano menceritakan dongeng di kamar yang sudah dia siapkan khusus untuk anaknya. “Mas, aku enggak kuat lagi. Aku enggak kuat lihat anak kita,” lirih Permata, mengusap bingkai foto itu. Kehidupan sempurna lagi-lagi terenggut, setelah dia kehilangan suaminya, dia tidak ingin lagi kehilangan anak semata wayangnya. Tidak! Permata akan melakukan apa pun demi menyelamatkan putranya dari kehancuran. Hidup ini akan selalu berputar. Kehidupan putranya masih panjang, tanpa Gresia, Gelano harus tetap menjalani hidupnya. Setiap hari dia selalu mengangkat kedua tangannya, berdoa. Meminta kebahagiaan untuk keluarga ini. Namun, ternyata ribuan kali berdoa saja tidak cukup. Kenyataannya Gelano masih tetap berkecimpung di lumpur hitam tanpa ada niatan keluar dari lumpur itu. Kendati demikian dia akan tetap berdoa dan selalu begitu. Tidak ada tempat lain lagi selain kepada sang pencipta, Tuhan-nya. “Mas, aku akan berusaha sebaik mungkin. Mengulurkan tanganku, membantu putra kita keluar dari lumpur itu. Aku akan mengorbankan apapun untuk kebahagiaannya. Bantu aku, Mas.” Dipeluknya bingkai foto erat, membayangkan mendiang suaminya tengah memeluk tubuh ini. Sudah cukup, dia akan mengeluarkan Gelano dan membuat Gelano bahagia. *** “Tante!” seru seseorang. Wanita berusia 24 tahun itu memeluk erat seorang wanita paruh baya. “Keyla! Apa kabar? Gimana bisnis kamu?” tanya Permata melepaskan pelukan wanita bernama Keyla. Rambut panjang diikat tinggi itu hampir mengenai mata Permata. Keduanya tergelak. “Duh, rambut kamu makin panjang aja.” “Alhamdulillah baik, Tante. Bisnis aku udah lumayan berkembang sih. Kecil-kecilan tapi lumayan, udah buka dua cabang. Ralat, mau bangun cabang di kota ini,” cerita Keyla antusias. “Wah, Alhamdulillah. Kamu emang punya bakat berbisnis. Tante sering tawarin kamu kerja di kantor Gelano, tapi kamu nolak,” gerutu Permata yang sangat menyayangkan potensi Keyla. Kepandaian wanita itu membuatnya kagum. Di mana pun dan apa pun yang wanita itu kerjakan pasti berhasil. Tidak heran, Keyla tipe pekerja keras dan memiliki jiwa seorang pebisnis. Kelak, Keyla akan sangat sukses. Keyla menggeleng cepat. “Tante udah banyak berkorban buat aku. Tante jadi ibu aku, biayain aku sekolah sampai sarjana dan Tante juga yang modalin bisnis aku. Sekarang aku mau balas semua kebaikan Tante, walau sampai kapan pun aku enggak akan bisa balas kebaikan Tante. Apa puna permintaan Tante, aku akan berusaha mengabulkannya. Tante segala-galanya bagi aku,” tutur Keyla menggenggam kedua tangan Permata lalu mencium punggung tangannya, “kalau bukan karena Tante, aku bukan siapa-siapa. Tante minta aku buat kerja sama Kak Gelano, aku nolak karena aku mau mandiri. Prinsipku, ‘mau ngerjain orang, bukan dikerjain orang’ hahaha, pasti Tante muak ‘kan denger aku ngomong gini?” Selalu Keyla seperti ini. Keberadaan Keyla di sini membuat hati Permata sedikit terhibur. Dia tertawa, merangkul tubuh jangkung dengan kesusahan. “Kamu itu memang pintar, Key. Sama kayak Gelano, kata dia ‘sebesar apa pun penghasilan kalau bekerja di tempat orang lain tetap saja menjadi pesuruh, beda sama bisnis sendiri, kita yang nyuruh-nyuruh’ kamu belajar dari Gelano, Key?” “Tante jangan bercanda. Kak Gelano jarang berinteraksi sama aku. Dia cuek, aku ngajak ngobrol dia jawab seadanya. Ngomong-ngomong Tan, kenapa aku enggak denger kabar pernikahan Kak Gelano? Apa dia enggak berniat menikah?” tanya Keyla penasaran. Umur Gelano sudah sangat matang dan siap untuk menikah. Sampai saat ini Keyla belum mendengar kabar tentang Gelano, apa jangan-jangan Gelano sudah menikah tapi Permata tidak memberitahunya. Seketika Permata terdiam. “Lano, Lano belum berniat menikah. Dia sibuk kerja sampai lupa waktu. Jangankan menikah, makan saja harus dipaksa-paksa. Ambisinya menggebu-gebu, terlebih orang yang dia cintai pergi.” “Ah, Kak Lano memang selalu berambisi. Dari dulu sampai sekarang,” gumam Keyla. “Dan kamu mirip Gelano, Key.” “Tante serius? Aku mirip Kak Lano?” Wanita itu lagi-lagi tertawa. Lebih tepatnya menertawai diri sendiri karena bisa-bisanya disamakan dengan Gelano. Si pria dingin dan cuek, seribu ambisi dan tidak menyenangkan. Soal bisnis nomor satu, sedangkan kehidupan menyenangkan nomor dua. Berbeda dengannya, bisnis nomor 2 kehidupan menyenangkan nomor 1. “Iya, pola pikirnya juga. Tapi ya, kamu lebih oke si.” “Udah-udah Tante, aku sakit perut nih. Masa Tante banding-bandingin aku sama orang kayak Kak Lano. Enggak sebanding dong, berat sebelah. Kak Lano jauuuh lebih unggul. Aku ada di samping dia, langsung didepak,” canda Keyla. Seketika langkahnya terhenti, membuat langkah Permata ikut terhenti. “Ini Tante, ayam crispy dan cake. Buatan aku sendiri.” Dua kantung plastik berwarna putih bertulis ‘Ayam Keykey’ disodorkan oleh Keyla, langsung diambil oleh Permata. Dilihat-lihat bungkus plastik itu dari berbagai sudut. “Wah, ini ayam di resto kamu tah? Asik!” seru Permata tidak sabar mencicipi hasil dari bisnis Keyla. Keyla membuat usaha berbagai macam olahan ayam, salah satunya menu terfavorit ayam crispy dan ayam pedas gila. Cabang utama ada Bogor dan dia juga akan membuka cabang di Jakarta. Usahanya laris manis dan tengah digemari oleh banyak orang. Sudah banyak review dari selebgram dan artis-artis terkenal. “Nanti cabang yang ada di sini, aku mau Tante yang meresmikannya.” “Jangan begitulah Key, ih buat Tante malu aja,” tolaknya tersipu. “Aku udah niatnya begitu. Sengaja buat di kota ini biar Tante, ibuku tersayang yang resmiin langsung. Keyla enggak mau tahu, pokoknya harus Tante.” Permata terkekeh. “Iya, tapi kamu nganggap Tante ibu kamu. Kok enggak pernah tuh Tante denger kamu manggil Tante ‘Mama’ padahal Tante pengen lho dipanggil Mama sama kamu.” “Boleh Tan? Aku pengen juga, tapi enggak enak sama Tante. Masa aku tiba-tiba manggil Tante, ‘Mama’ nanti langsung disinisin Kak Gelano.” Mereka berdua berjalan masuk, duduk bersamaan di sofa. Permata mencubit pipi Keyla gemas, saking gemasnya dia ingin mengantungi Keyla di sakunya. “Boleh dong, masa enggak boleh. Gelano enggak pernah peduliin itu.” “Oh iya, Tan eh Ma. Aku mau izin tinggal di sini, dua mingguan boleh?” Izin Keyla ragu-ragu. “Mau selamanya juga boleh!” balas Permata antusias. Senang sekali, dia berharap kedatangan Keyla ke sini membawa kebahagiaan. “Mau jadi menantu, Mama juga boleh,” sambungnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN