Tidak ada yang tahu kapan kita akan menginjak rem atau malah akan membiarkan begitu saja. Untuk urusan cinta tidak pernah ada yang dengan mudah bisa ditebak. Cinta ibaratkan pergantian hari, jalannya tidak akan selalu bercahaya dan tidak akan selalu gelap.
Chen sudah duduk di ruang pemeriksaan. Chen sudah terbiasa berada disini, biasanya Chen berada disini untuk memeriksa beberapa karyawan yang melakukan korupsi di perusahaan Chen. Kali ini jelas sangat berbeda, Chen berada disini karena Chen yang berpotensi untuk menjadi tersangka meskipun Chen dipanggil oleh penyidik hanya sebagai saksi saja.
Chen duduk di ruangan yang sempit dan pengap. Ruangan kotak yang sudah dilengkapi dengan CCTV dan di salah satu dinding ruangan ada kaca yang langsung terhubung dengan kendali CCTV dan rekaman suara. Lampu di ruangan penyidikan tidak begitu terang. Hanya ada satu lampu gantung yang posisinya tepat berada di atas kepala Chen dan penyidik. Beberapa kali masuk ke ruangan penyidik, Chen masih belum tahu apa maksud dari design kontruksi yang ada di ruangan penyidik.
Gue udah beberapa kali duduk di ruangan ini. Biasanya posisi gue ada di dekat pintu ruangan dan hanya mengkonfirmasi beberapa data dengan membawa alat bukti. Saat ini gue duduk di pojok, dimana tidak akan mudah untuk melarikan diri. Baru kali ini gue merasakan ada tekanan yang luar biasa ketika berada di ruangan ini. Gue duduk tanpa data ditangan gue, meskipun Walda ada di samping gue tapi tetap saja gue merasa tidak aman saat ini. Mungkinkan ini hari paling apes urutan ke dua setelah gue nobatkan hari paling apes urutan pertama saat kedua orang gue meninggal. Tepat di hari ulang tahun gue. Chen terus bertanya-tanya dalam hati.
Walda yang saat ini tepat berada di samping Chen hanya diam saja. Ini juga pertama kali Walda mendampingi Chen melakukan penyidikan. Walda sudah melepaskan diri sebagai pengacara dan hanya fokus di perusahaan Chen. Mengurus semua kebutuhan legal perusahaan Chen. Tentu saja saat ini Walda tidak akalh grogi. Walda kali ini harus bersikap seperti pengacara untuk Chen. Tim pengacara untuk Chen baru bisa mendampingi tiga hari kedepan karena masih membereskan kontrak kerja sama dengan perusahaan dan Walda juga harus memberikan intruksi terlebih dahulu.
Hanya ada suasana hening saat ini di ruangan penyidik. Walda dan Chen sama-sama diam seribu Bahasa. Chen dan Walda tidak bisa berbicara apapun karena sudah pasti sepelan apapun suara yang dibuat oleh Walda dan Chen akan terekam dan khawatir akan dijadikan barang bukti.
Hanya suara membuka pintu yang memecah keheningan diantara Chen dan Walda. Seorang penyidik masuk. Pak Jono, yang bertugas untuk memeriksa Chen saat ini. Chen sudah kenal dengan Pak Jono, Chen langsung menundukan wajah. Chen tahu bagaimana liciknya Pak Jono. Pak Jono bukan orang yang baik, saat menangani kasus Chen saja. Pak Jono banyak meminta uang ke perusahaan Chen dengan alasan kasus akan dipercepat.
Pak Jono duduk di hadapan Chen. Pak Jono tersenyum bengis. “Apa kabar Bapak Chen Hartanto? Lama kita tidak bertemu ya, tidak nyangka kita bertemu dalam situasi yang begini.” Pak Jono menyimpan berkas di meja dengan kasar seolah ingin membuat Chen ketakutan. Chen sama sekali tidak merasa terganggu dengan apa yang Pak Jono lakukan. Chen masih kekeuh pada pendirian bahwa Chen tidak melakukan kesalahan apapun dan tidak mungkin pihak penyidik menemukan bukti apapun karena memang tidak ada yang perlu dibuktikan.
“Kabar baik Pak.” Chen hanya menjawab dengan singkat dilengkapi dengan senyuman hangat. Chen sama sekali tidak mau terprovokasi oleh penyidik. Chen ingin bersikap tenang. “Waw.. waw… waw… saya cukup kaget ketika yang duduk dihadapan saya saat ini adalah Bapak Chen. Biasanya kita duduk berdampingan dan menghadapi para koruptor, tapi ternyata sekarang malah Bapak sendri yang korup. Tabiat orang kaya mungkin memang begitu ya, kurang puas dengan kesuksesan yang didapat saat ini.” Pak Jono bicara dengan nada songong dan senyuman yang mengintimidasi.
Walda merasa tidak terima dengan apa yang Pak Jono katakan. “Bapak Chen datang memenuhi panggilan kesini bukan sebagai tersangka, tapi sebagai saksi. Jadi tolong hargai beliau.” Walda mengingatkan Pak Jono.
Pak Jono menyeringai “Saksi sangat dekat dengan title tersangka, mungkin saja dalam waktu beberapa jam juga akan jadi tersangka ya.. keculi jika ada keajaiban hee.. Pak Chen paham dengan apa yang saya maksud.” Pak Jono terus-terusan membuat Walda dan Chen kesal. Tapi Chen hanya tersenyum tenang.
“Bisa dimulai saja proses penyidikannya Pak?” Chen mempercepat basa basi yang dilakukan oleh Jono. “Jadi seperti yang sudah Pak Chen dengar sebelumnya bahwa Pak Chen dituduh melakukan penggelapan dana pemerintah atau dana public dengan nilai total sepuluh milyar di pembangunan jalan tol yang sedang perusahaan Bapak jalankan.”
Sepuluh Milyar, jumlah yang sangat kecil kalau gue mau korupsi. Nanggung banget gue korupsi sepuluh milyar, gue kira tuduhannya triliun. Dua puluh triliun gitu, kalau cuma sepuluh milyar sih gak akan berasa. Chen bicara dalam hati.
“Apakah ada buktinya?” Chen kembali mengajukan pertanyaan. “Oh Tentu dong, kami menyidiki orang tidak pernah tanpa bukti. Kami punya beberapa bukti kuat yang diberikan oleh karyawan Bapak dan juga pengakuan dari Karyawan Bapak untuk melicinkan aksi Bapak. Sebelumnya sudah ada dua karyawan Bapak yang kami sidik terlebih dulu dan keduanya mengaku semua yang dilakukan atas perintah Bapak.” Jono menjelasakan kepada Chen.
Chen tersenyum kecil dan melipakan kedua tangan kedepan. Chen memberikan penolakan dan ingi menutup diri. “Apa saya bisa dipertemukan dengan kedua karyawan saya? Saya ingi bertanya sama mereka apakah benar mereka diperintah oleh saya?”
“Tentu saja tidak bisa kami pertemukan Pak, mereka saksi yang dilindungi tidak sembarang kami pertemukan dengan Bapak karena dikhawatirkan akan merubah keterangan mereka sebelumnya.” Jono memberikan jawaban kepada Chen. Chen mengangguk. “Kalau begitu mulai saja pertanyaan penyidiknya, akan saya jawab semua dengan jujur.” Chen memberikan jaminan kepada Jono.
Jono mulai memberikan banyak pertanyaan yang menyudutkan kepada Chen. Jono mulai kesal dengan Chen karena Chen tidak menjawab sesuai yang Jono inginkan. Jono menilai Chen tidak kooperatif tapi Chen justru menjawab apa adanya. Chen tidak mengerti dengan apa yang Jono tuduhkan semua alibi yang Jono tuduhkan. Chen hanya tahu bahwa Jono sudah ditumpangi oleh seseorang yang sangat ingin melihat Chen jatuh. Tiga jam penyidikan sudah berlalu dan Chen menyangkal semua yang Jono tuduhkan.
Bukti yang Jono punya juga masih belum lengkap dan terlalu banyak yang rancu. Chen dibebaskan begitu saja. Walda dan Chen merasa bahagia karena penyidikan pertama sudah selesai. Walda dan Chen tentu saja sangat optimis bahwa Chen akan bebas dari kasus sekarang karena tidak ada bukti yang memberatkan. Chen dan Walda sudah berada di ruangan penyidik dan hendak pergi meninggalkan kantor polisi. “Tunggu sebenatar Pak Chen.” Jono memanggil Chen.
Chen dan Walda berbalik badan melihat ke arah Jono. Jono menghampiri Chen dengan wajah songong. “Jangan senang dulu, saya punya bukti yang akan memberatkan dan sedang saya siapkan. Sekarang anggap saja saya berbaik hati memberikan waktu untuk kamu istirahat sebelum saya mengungkap semuanya.” Jono tersenyum sinis.
“Kenapa sangat ingin saya dipenjara ketika semua sudah tidak ada yang harus disalahkan?” Chen melemparkan pertanyaan kepada Jono. Jono mendekat ke telinga Chen. Jono melihat kanan kiri karena takut ada orang yang melihat. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihat Jono berbicara pada Chen. “Bukan aku yang ingin kamu dipenjara, aku hanya memastikan saja kamu akan masuk penjara.” Jono langsung pergi begitu saja.
Walda sangat emosi mendengar apa yang Jono bisikan kepada Chen. Walda ingin mengejar Jono tapi Chen menahan langkah Walda. Chen menggelengkan kepala, memberikan intruksi kepada Walda untuk tidak pernah terpancing. Walda menarik nafas panjang dan menenangkan diri.
Chen dan Walda sudah berada di dalam mobil. “Saya besok tidak akan pergi ke kantor, saya akan menenangkan diri terlebih dahulu. Tapi saya ingin, kamu datang ke rumah saya. Ada yang ingin saya bicarakan.” Chen memberikan perintah kepada Walda. “Baik Pak, saya akan ke rumah Bapak sekalian membawa kabar dan hasil dari penyidikan hari ini. Tim hukum kita masih berada di kantor polisi untuk memantau dan memastikan semuanya.”
***
Chen menyalakan HP. Chen membuat relax tubuh dengan berendam di bethub. Chen hanya ingin bersantai. Ketika HP nyala Chen melihat banyak pesan yang masuk. Pertama-tama Chen memberikan kabar kepada Nenek dan Kakek kalau semua baik dan saat ini Chen sedang ada di rumah. Chen sama sekali tidak mendapatkan kabar dari Kessy. Kessy menghilang.
Chen berpikir kalau Kessy sangat shock dan belum bisa menerima apa yang terjadi hari ini. “Gue bisa terima kalau Kessy masih belum menghubungi gue, Kessy pasti masih Shock hati Kessy memang sangat lembut.” Chen tersenyum kecil. Chen menelpon Kessy tapi Kessy tidak mengangkat telpon dari Chen.
Chen mengirim pesan kepada Kessy. Sayang kamu pasti kaget dengan berita hari ini, kamu tenang saja, Kaka baik-baik saja. Semua berita yang ada tidak benar. Kaka sudah pulang ke rumah sekarang. Kaka sayang sekali sama kamu, kamu kabari Kaka ya biar Kaka juga merasa tenang.