PELAMPIASAN

1546 Kata
Tidak mudah menggantikan orang lama dengan orang baru. Ada perasaan yang terluka meski ingin melangkah ke tempat yang lebih baik. Bagi seorang laki-laki ketika sudah bertahan pada satu wanita maka akan sangat sulit mengganti tempat wanita itu dihati meskipun tetap bisa menjalani dengan wanita baru. Perasaan Risa masih tidak karuan. Hati Risa berdebar sangat kencang. Risa tidak menyalahkan Chen dengan apa yang baru saja terjadi. Risa yang memulai untuk lebih dekat dengan Chen. Risa yang mengambil langkah mengecup bibir Chen lebih dulu. Risa tidak tahu kalau laki-laki yang terluka dan sedang dalam emosi gairah pada wanita lebih tinggi. Risa bukan wanita polos yang tidak mengerti tentang laki-laki, Risa pernah berpacaran beberapa kali dan pernah juga berpacaran dengan sangat serius. Tapi tetap saja hati Risa tidak bisa dikendalikan, Risa seperti menemukan kembali perasaan yang baru. Perasaan jatuh cinta lagi pada seorang laki-laki. Risa kaget karena Chen baru saja menyentuh bagian atas tubuh Risa, tapi Risa juga bahagia karena akhirnya bisa lebih dekat dengan Chen. Risa melihat Chen masih sibuk menelpon Walda. Chen sudah memberikan intruksi kepada Risa untuk masuk ke dalam kamar dan membereskan beberapa barang yang Chen minta. Risa masuk ke dalam kamar, Risa melihat ke seluruh sudut kamar Chen. Kamar yang sangat minimalis, tidak banyak barang di kamar Chen. Hanya ada meja kerja, kasur, Tv dan lemari. Pemandangan di kamar Chen sangat indah, menghamparkan hampir keseluruhan kota Jakarta. Setelah melihat-lihat seluruh kamar Chen, Risa kembali fokus pada apa yang Chen minta. “Beberapa pasang baju, alat mandi dan obat-obatan pribai. Duh apa mana tau aku barang-barang itu disimpan dimana?” Risa bicara sendiri. “Oke, kayanya gue ambil baju aja dulu.” Risa mendekat ke arah lemari, ketika membuka lemari Risa bingung baju apa yang harus dibawa. Di dalam lemari hanya ada baju santai saja, baju untuk tidur dan kaos kaos biasa. Risa membuka semua pintu lemari dan tidak menemukan baju yang lebih formal. Risa mengambil beberapa kaos dan beberapa celana pendek. Risa juga menyiapkan beberapa baju dalam untuk Chen. Risa menaruh semuanya di atas kasur. Risa kembali melamun dan pusing dengan apa yang harus dilakukan. “Duh apalagi ya, obat-obatan dana pa ya. Aku bingung juga, aku juga bingung mau masukin barang kemana karena gak ada tas nya.” Risa melihat ada pintu di kamar Chen. Risa mendekat ke arah pintu dan hendak membuka pintu tersebut, tapi Chen keburu datang masuk ke kamar. Risa langsung melihat ke arah Chen yang baru saja masuk. “Maaf Pak, saya bingung harus menyiapkan apa? Saya gak tahu barang-barang Bapak ada dimana saja.” Risa bicara sambil kebingungan. Chen masuk lebih dalam. Mendekat ke arah Risa. Chen membuka pintu yang hendak Risa buka. Pintu menuju ruang ganti. Chen masuk ke dalam ruang ganti dan mengambil tas ransel kecil. Chen juga mengambil beberapa baju dari ruang ganti dan dari lemari yang ada di kamar. Chen masuk ke dalam toilet mengambil alat mandi dan membuka laci yang ada di bawah Tv. Chen mengambil beberapa obat yang sering diminum. Chen memasukan semuanya ke dalam tas ransel sementara itu Risa hanya berdiri tertegun. Risa tidak bisa membantu Chen karena bingung harus apa yang dibantu, Chen sudah melakukan semuanya sendiri. Chen melihat ke arah Risa, Risa sudah merapihkan diri tapi masih terlihat berantakan. Chen mendekat ke arah Risa. Perasaan Risa kembali gak karuan, hati Risa berdebar sangat kencang. Chen memegang bagu depan Risa, Risa sudah akan pasarah tapi yang Chen lakukan hanya mengkancingkan bagian atas baju Risa “kancing atas kamu masih terbuka.” Risa menelan ludah. Risa mengira Chen akan melanjutkan apa yang tertunda barusan tapi ternyata Chen kembali bersikap dingin. Risa gelagapan dan langsung mengecek kancing yang sudah Chen kancingkan “Ada yang bisa saya bantu lagi Pak? Kalau sudah gak ada saya permisi ke luar kamar?” Risa bertanya pada Chen. Chen tidak kalah salah tingkah dari Risa, Chen juga bingung harus melakukan apa. “Ya, semuanya sudah beres. Kamu bisa keluar kamar.” Chen mengijinkan Risa ke luar kamar. Risa dengan segera pergi ke luar kamar, di luar kamar Risa menarik nafas dalam-dalam. Risa mengibas-ngibaskan diri padahal sudah jelas Ac di dalam rumah berfungsi tapi seluruh tubuh Risa terasa mendidih. Tidak lama Chen keluar membawa ransel. Risa duduk di ruang tengah merapihkan bekas meeting. Chen juga duduk di ruang tengah. “Risa…” Chen memanggil Risa, Chen ragu ketika akan bertanya tapi Chen harus meluruskan semuanya. Chen mengelus bagian belakang kepala. “Saya minta maaf dengan apa yang tadi malam terjadi, dan barusan. Sepertinya saya sudah kelewatan batas. Saya minta maaf untuk semua kesalahan yang barusan terjadi.” Chen dengan suara yang sangat pelan meminta maaf kepada Risa. Risa tertunduk dan mengangguk pelan. “Iya Pak, saya juga minta maaf.” Risa menjawab apa yang Chen katakan sebelumnya. Hanya kesalaha! Pak Chen menganggap semuanya hanya kesalahan saja sementara gue menganggap semua yang terjadi dianatar gue dan Pak Chen tadi malam dan barusan sangat istimewa. Gue emang harus sadar diri dalam hal perasaan. Hanya karena seorang laki-laki melempar senyum ke gue bukan berarti dia jauh cinta. Hanya karena aku dan Pak Chen sudah berciuman mesra penuh gairah bukan berarti Pak Chen jatuh cinta sama aku. Sekali lagi aku harus sadar diri. Risa melamun melihat kosong ke arah bawah sambil berkata dalam hati. Chen melihat Risa sedang melamun, Chen merasa bersalah dan merasa tidak enak hati. Tapi saat ini Chen sedang tidak ada waktu memikirkan bagaimana kemudian mengembalikan perasaan Risa menjadi baik-baik saja. Chen sedang sibuk dengan diri sendiri. Chen sibuk mengurus semua kasus hukum yang saat ini sedang menjerat. Chen tidak ada waktu untuk memikirkan wanita termasuk Kessy. “RISA!” Chen memanggil Risa dengan nada suara yang cukup keras. Risa tersentak sekaligus.”Eh, iya Pak. Maaf gimana Pak?” Risa kembali bertanya. “Gak gimana-gimana, sebentar lagi Walda dan yang lain akan datang lagi disini. Kamu bisa pesan makan untuk beberapa orang? Untuk makan siang disini.” Chen kembali memberikan Risa perintah. Chen berharap bisa mencairkan suasana. “Iya Pak bisa, saya akan pesan melalui aplikasi. Maaf, untuk makan siang Bapak mau makan apa?” Risa mulai bersikap normal karena Chen juga sudah berusaha bersikap normal. “Saya ingin makan banya daging, jadi tolong pesankan makanan yang banyak dagingnya.” Chen memberikan perintah. “Kalau gitu, pesan steak aja gimana pak?” Risa kembali bertanya pada Chen. “Boleh, sekalian saya juga ingin spagethi.” Selera makan Chen sangat banyak. Chen ingin melampiaskan emosinya kepada makanan. Risa langsung melihat beberapa menu di aplikasi penyedia makanan. Selagi Risa sibuk melihat apliaksi Chen memperhatikan Risa. Seandainya saja yang duduk di hadapan gue adalah Kessy, gue udah gusur ajak ke ranjang. Disaat seperti ini gue sangat butuh Kessy. Setidaknya kalau ada Kessy gue bisa melampiaskan semuanya sebelum gue pergi ke kantor Polisi. Gak bisa gue pungkiri saat ini yang gue butuhkan cuma Kessy. Risa hanya pelampiasan kekesalan gue terhadap Kessy. Gue gak ada perasaan apa-apa sama Risa, sama sekali gak ada. Risa cantik tapi belum bisa bikin gue jatuh cinta. Chen berbicara dalam hati sambil melihat ke arah Risa. Risa melihat ke arah Chen yang sedang melongo ke arah Risa. “Pak, sudah saya pesan untuk beberapa orang.” Risa memberitahu Chen dan Chen mengangguk. Chen melihat ke arah jam tangan “Kenapa Walda belum juga datang ya?” Chen bicara sendiri sambil melihat ke arah pintu masuk, Risa ikut melihat ke arah pintu masuk. “Mungkin sebentar lagi Pak.” Risa menjawab Chen. Risa melihat beberapa berita mengenai Chen di HP. Risa melihat satu tayangan youtube yang ada wajah Kessy nya. Risa memutar wawancara wartawan dengan Kessy. Chen mendengar suara youtube yang Risa putar. Kessy memebrikan pernyataan pada media bahwa dirinya sudah putus dari Chen sejak lama. Kessy juga menambahkan bahwa hubungan Kessy dan Chen saat ini masih baik tapi tidak sebatas rekan kerja karena Kessy merupakan salah satu pemegang saham di perusahaan Chen. Saat beritanya diputar Risa melihat ke arah Chen. Chen seperti tidak peduli dengan apa yang Risa putar. Chen hanya diam saja duduk menatap ke arah pintu masuk menunggu Walda datang. Chen mendengar semuanya tapi Chen tidak mau mempertontonkan kesedihan lagi dihadapan Risa. Chen sudah tahu kalau Kessy memang berkhianat tapi hati Chen tetap menerima Kessy, Chen seolah tidak mau menerima fakta bahwa Kessy adalah orang yang sudah membuat hidup Chen menjadi kacau saat ini. Bell rumah Chen berbunyi, Risa melihat Chen masih sibuk melamun. Risa bisa maklum dengan sikap Chen karena masalah yang Chen hadapi sekarang cukup berat. Risa bergegas membuka pintu rumah Chen. Walda dan tim langsung masuk. “Dimana Pak Chen?” Walda terlihat sangat khawatir. “Di dalam Bu.” Walda berjalan dengan cepat menuju ruang tengah. Chen terlihat baik-baik saja meskipun raut muka Chen memang terlihat sangat kesal. “Gimana Walda kamu sudah cek semuanya?” Chen langsung bertenya ketika melihat Walda muncul. “Sudah Pak, saya sudah cek semuanya dan kita juga sudah kerja sama dengan Hotmin. Nanti sore Hotmin akan bergabung dengan kita untuk mengantar Bapak ke kantor Polisi.” Chen mengangguk. “Baguslah kalau begitu.” Chen duduk kembali. Semua orang yang ada di ruangan ikut duduk. Semua hening. Tidak ada yang berani bersuara, situasi kali ini benar-benar sudah genting. Semua orang yang ada di ruangan sudah tidak tahu harus berkata apa. “Saya ke lobby dulu ambil makanan Pak.” Risa memecah keheningan. Chen mengangguk. Risa segera pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN