CCTV

1180 Kata
CCTV Salah satu perasaan yang paling menyakitkan yang ada di muka bumi ini adalah dikhianati orang yang paling disayang. Sakitnya bukan hanya menusuk ke dalam hati tapi juga memberikan rasa tidak percaya dan semakin tidak percaya semakin hati tidak mau menerima. Chen sudah jauh lebih tenang sepulang dari Kantor Polisi. Chen sudah selesai mandi dan sekarang sedang duduk di ruang tengah ditemani oleh segelas wine. Chen menatap ke luar jendela. Suasana malam ini terasa sangat panas, Chen masih belum sepenuhnya lega karena Chen tahu kalau Jono masih menyimpan bukti yang akan memberatkan. Chen terus memikirkan bukti apa yang Jono punya sementara Chen tidak merasa ada data yang dipalsukan atau data yang dibuat tidak real.  Chen juga beruntung karena meskipun ada keterangan saksi yang memberatkan tapi dua orang saksi yang memberatkan tidak punya bukti perintah, sms atau panggilan telpon dari Chen. Kesimpulannya bukti yang dikumpulkan jelas tidak bisa untuk menjebloskan Chen masuk jeruji penjara. Chen mengambil HP di dalam saku celana. Banyak sekali pesan yang orang kirimkan kepada Chen tapi Chen hanya mengkonfirmasi pesan dari Kakek Ernest dan Nenek Mira. Chen hanya berpikir untuk menenangkan kedua orangtua dan pacar Kessy. Tapi Kessy sampai saat ini belum juga membalas pesan yang dikirimkan oleh Chen. Disaat seperti ini Chen berharap Kessy datang dan menemani, memberikan pelukan yang hangat. Chen berharap Kessy bisa menjadi tempat bersandar tapi nyatanya Kessy bahkan mengabaikan pesan dari Chen. Sesaat pikiran Chen melayang kemana-mana, Chen berpikir mungkin saja Kessy stress dan sekarang sedang clubbing. Tapi kemudian Chen berpikir positif lagi, mungkin saja Kessy sengaja mematikan atau menyimpan HP karena banyak yang menghubungi untuk konfirmasi kondisi Chen. Untuk Kessy, Chen selalu meluangkan hati dan pikiran berpikiran positif. Chen duduk di depan TV. Awalnya Chen tidak pernah merasa curiga dengan rumah yang ditempati saat ini. Tapi kemudian Chen merasa sangat penasaran. Chen sudah lama tidak melihat CCTV yang ada di rumah ini. Sebenarnya tidak guna juga melihat CCTV karena keamanan rumah sangat ketat. Tidak ada satu orangpun yang tahu password rumah Chen termasuk Kessy. Kessy beberapa kali ke rumah tapi tidak bisa masuk sendiri dan harus menunggu Chen karena untuk membuka pintu hanya bisa memakai jempol tangan Chen saja. Chen melihat CCTV dan memperhatikan satu persatu, seperti dugaan Chen ruangan hanya nampak lengang. Chen memeriksa seluruh ruangan CCTV dan masih tetap sama, tidak ada satu orangpun yang datang. Chen menarik nafas dengan sangat lega. Ada alasan Chen tidak pernah membiarkan orang lain tahu termasuk Nenek dan Kakek password rumah, karena Chen sangat butuh privasi. Di rumah Chen ada beberapa berkas penting yang disimpan dalam satu ruangan. Berkas perusahaan dan juga surat-surat kerjasama. Chen baru saja akan mematikan CCTV tapi kemudian CCTV milik Chen bersuara. Seperti ada orang yang berusaha membuka pintu rumah. Chen melihat ke jam yang tertera di layar TV.  Jam masih menunjukan pukul dua belas siang. Chen mengingat-ngingat sambil melihat ke CCTV, apakah dalam satu bulan ini Chen pernah pulang siang hari? Chen merasa tidak pernah pulang siang hari, lalu siapa yang membuka pintu? Chen penasaran dengan orang yang akan masuk ke rumah. Chen meneguk wine sampai habis dan menuangkan lagi. Chen dengan seksama menunggu orang yang membuka pintu muncul. Hanya butuh beberapa detik orang yang membuka pintu mulai terlihat. Chen awalnya tidak yakin karena orang itu mengenakan topi hitam yang menutupi muka. Jelas sekali orang tersebut seorang wanita karena memakai dress longgar hitam. Chen sebenarnya sudah tahu kalau orang itu yang masuk Kessy, tapi karena orang yang masuk belum membuka topi Chen mencoba menepis kenyataan kalau yang masuk adalah Kessy. Kessy terlihat melihat ke seluruh ruangan rumah Chen. Kessy sudah hapal sekali rumah Chen termasuk ada satu ruangan yang Chen khususkan untuk menyimpan file perusahaan. Kessy melihat ke atas mencari CCTV, tapi yang Kessy tahu di rumah Chen tidak dipasang CCTV itu kenapa pengamanan di luar rumah sangat ketat. Sebelum masuk Kessy sudah menutup CCTV di depan pintu, jadi Kessy sudah merasa aman sekarang. Kessy membuka topi dan merapihkan rambut. Kessy terlihat menelpon seseorang. Chen hanya diam melihat orang yang masuk ke dalam rumah adalah Kessy. Chen meneguk kembali wine yang tersisa di gelas dan kembali menuangkan wine. “Kessy, bagaimana bisa Kessy masuk ke rumah ini? Kessy tidak pernah gue beritahu password rumah ini. Kalaupun gue beritahu, untuk apa Kessy diam-diam datang ke rumah? Bukankah seharusnya dia ijin dulu? Gue merasa tidak pernah menerima permintaan Kessy ijin masuk ke rumah.” Chen berbicara sendiri. Kessy menelpon beberapa menit, cukup lama. Kemudian Kessy masuk ke dalam kamar Chen. Chen terus memantau apa yang Kessy lakukan dari layar TV melalui CCTV. Chen melihat Kessy sudah berada di kamar. Kessy terlihat mencari-cari barang. Kessy membuka laci-laci kemudian menutup kembali dengan rapi. Kessy juga mencari di lemari pakaian tapi tetap tidak menemukan apa-apa. Kessy juga masuk ke ruangan ganti dan membuka satu persatu lemari tapi sepertinya yang Kessy cari tidak ada. Kessy terlihat berpikir. Kessy yakin sekali kalau Chen pernah bilang menyimpan semua dokumen di ruangan yang ada di rumah. Kessy kesana kemari mencari pintu ruangan itu tapi tidak ketemu. Kessy juga mengetuk-ngetuk dinding karena Chen pasti menyembunyikan pintu yang terhubung ke ruangan tersebut. Kessy sudah hampir frustasi tapi belum juga menemukan apa yang Kessy mau. Kessy terilah menelpon lagi seseorang. Pandangan Chen tidak bisa beralih dari Kessy. Chen memandang dengan sangat lekat dan memastikan tidak ada satu gerakan apapun yang terlewatkan dari Kessy. Kessy duduk di tempat tidur sambil menelpon. Entah siapa yang Kessy telpon, entah apa yang akan Kessy lakukan. Hati Chen terus bertanya-tanya, memikirkan semua kemungkinan yang akan Kessy lakukan sampai pada pertanyaan “Siapa yang menyuruh Kessy melakukan semua ini?” Kessy menemukan salah satu tab milik Chen yang sudah tidak terpakai. Kessy menyambungkan USB ke tab milik Chen. Kessy menunggu tab sebenatar sambil terus menelpon orang. Chen tersenyum sinis, Kessy tidak akan dapat apa-apa dari tab tersebut karena seluruh data sudah Chen pindahkan ke tab yang selalu Chen bawa. Tidak lama Chen kepikiran dengan tab yang selalu Chen bawa. Chen pause sebentar tayangan CCTV dan Chen mengambil tab yanga da di tas kemudian Chen duduk lagi di depan TV. Chen menyalakan kembali tayangan CCTV sambil memperhatikan tab yang dibawa. Chen kaget sekali karena ada alat yang tersambung ke tab milik Chen. Alat yang sangat kecil letaknya di lubang micro sd. Chen hanya menarik nafas. Chen kembali meneguk wine. Kali ini Chen menghabiskan seluruh wine yang tersisa di botol dan menuangkan ke dalam gelas. Chen melihat Kessy mengembalikan tab. Tidak berselang lama Kessy pergi ke luar rumah. Setelah Chen melihat Kessy berjalan ke luar rumah Chen menyenderkan diri di kursi. Pikiran Chen sudah tidak karuan dan hati Chen jelas terasa sangat sakit. Chen memukul-mukul d**a sendiri berharap apa yang barusan dilihat yang begitu menyesakan d**a hanya ilusi saja. Chen baru saja menghabiskan satu botol wine. Muka Chen sudah terasa panas dan rasanya sangat lemas. Bell rumah Chen berbunyi, Chen mengira yang datang adalah Kessy tapi ketika dibuka yang datang adalah Risa dengan membawa banyak dokumen di tangan. Risa melempar senyum kepada Chen. Chen mempersilahkan Risa masuk. Chen menyuruh Risa datang besok pagi mengantarkan beberapa dokumen karena Chen besok tidak bisa ngantor, tapi ternyata Risa datang malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN