bc

Obses Murid dan Dosa Manis Bu Guru

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
kickass heroine
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
highschool
office/work place
childhood crush
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

"Cita-cita saya menikahi Naya Tishea Samantha!"

Riuh sorak satu kelas seketika pecah mendengar pernyataan itu. Di depan papan tulis, wajah Bu Naya memerah sempurna. Sebagai guru muda berusia 25 tahun yang terkenal jomblo sejak lahir, Naya tidak pernah menyangka cowok pertama yang menyatakan perasaan padanya adalah anak didiknya sendiri.

“Kalau Ibu bersedia, saya siap menafkahi Ibu."

Bagi Naya, itu hanyalah gombalan bocah puber yang sedang tebar pesona. Namun, Naya keliru. Anak didiknya itu tidak pernah bermain-main dalam ucapannya. Akankah Naya menyerah atau justru terjebak cinta terlarang antara guru dan anak didiknya?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
“Sayang, aku masukin ya?” Wanita itu mendorongnya pelan lalu menggeleng kecil. “Sayang, tahan dulu. Ini pertama buat aku. Takut sakit,” bisik wanita itu, suaranya terdengar sehalus sutra di telinga Mihan. Suasana di dalam kamar pengantin itu begitu remang-remang, sunyi, dan dipenuhi aroma bunga yang sangat memikat. Hati Mihan berdegup sangat kencang melihat sosok wanita tercantik di depan matanya sampai dia tak sabar ingin mencicipinya segera. Wajah wanita itu dan siluet tubuhnya benar-benar memikat. “Janji bakalan pelan kok, Sayang,” bisik Mihan penuh rayu. "Tapi… sebelum sepenuhnya jadi milik kamu, kamu benaran janji menjadikan aku satu-satunya, kan?" Mihan meneguk salivanya menatap wanita itu tak sabaran. "Iya," jawab Mihan tak ragu, suaranya mendadak berubah serak. Dia menggenggam jemari wanita itu yang terasa begitu hangat. "Kalau minta cium kamu dulu, boleh?" Wanita itu tersenyum malu-malu, menundukkan kepalanya sedikit sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Iya, boleh...," katanya sambil menunduk malu. Mihan tersenyum kemenangan melihat pipi wanitanya yang merah padam. Dengan perlahan, dia mengikis jarak dan memejamkan matanya ketika bibir mereka akhirnya bersentuhan, Mihan merasa seolah ada kembang api yang meledak di dalam dadanya dan membuatnya merasa membubung tinggi ke langit ke tujuh saat mulai menyapu lembut bibir wanita itu. Dengan pergerakan kecil Mihan membawa tubuh wanita itu ke dalam dekapannya tanpa mengakhiri ciuman nikmat mereka. Kemudian melepasnya dengan lembut sambil menatap mata sayu wanita di bawahnya. Mihan berbisik dengan nada yang luar biasa lembut untuk merayu wanita cantik itu. "Sayang, sekarang udah boleh belum aku masukin?" bisiknya, tangannya gemetar menahan gejolak hebat di dalam tubuhnya. "Janji... sakitnya kayak digigit semut aja." “Iya, boleh. Tapi… janji ya pelan-pelan aja,” bisik wanita itu akhirnya. “Hm, janji.” Mihan mengambil ancang-ancang. Namun, tepat ketika Mihan siap bertempur di malam pengantinnya, menyatukan seluruh pusaka miliknya ke dalam kenikmatan surga dunia, tiba-tiba saja— BYURRRRRRR! Air dingin mengguyur wajah Mihan dengan telak. "MIHAN! BANGUN! HARI PERTAMA SEKOLAH MALAH MOLOR KAMU!" Mihan langsung melompat tegak di atas kasurnya. Dia terbatuk-batuk hebat, napasnya tersengal-sengal antara kaget setengah mati, kedinginan, dan... kekecewaan berat karena malam pengantin itu hanyalah bunga tidur. “Sial, cuma mimpi,” umpatnya dalam hati. Di depannya, Bunda sudah berdiri tegak dengan satu tangan berkacak pinggang memegang gelas kosong. Sementara di ambang pintu, berdiri anak kecil berseragam merah putih, adik perempuan kecilnya yang berusia tujuh tahun, berdiri sambil tertawa mengejek. "Kak Mihan tidulnya jelek! Tadi pas adik masuk, Kak Mihan melem-melem sambil monyong-monyong kayak ikan koi!" celetuk Artila dengan wajah polos tanpa dosa. “Cewek cadel diem gak lu!” teriak Mihan sambil melempar bantal ke arah adiknya yang masih belum bisa menyebut R itu. “Adik kamu aja sudah siap dari tadi! Kamu masih enak-enakan di kasur,” omel Bunda lagi. Mihan hanya mematung. Namun, sedetik kemudian, Mihan merasakan ada sesuatu yang hangat, lengket, dan basah di bagian bawah tubuhnya. Dengan panik, Mihan melihat ke bawah lalu langsung menarik badcover untuk menutupi bagian bawah perut hingga pahanya. Wajahnya yang semula pucat seketika berubah merah padam seperti tomat matang. “Ini gue mimpi basah deh keknya,” ujarnya dalam hati. Menyadari ada yang ganjal, mata Bunda melotot tajam menatap ke arah kasur Mihan. "Mihan!” panggil Bunda. “Kamu itu udah delapan belas tahun, ya! Tapi masih aja ngompol!" "Hah?! Eng-enggak, Bun! Siapa yang ngompol, sih? Ini bukan ngompol!" bantah Mihan gagap, suaranya naik satu oktaf karena panik luar biasa. "Alasan aja kamu! Itu kasur sampai basah gitu! Kalau bukan ngompol apa?” Saat Bunda ingin memastikan Mihan cepat mencegah wanita itu. “Udah, Bunda keluar sana! Biar aku yang beresin sendiri!” Mihan tidak mungkin menjelaskan kepada ibunya bahwa itu adalah hasil mimpi basah pertama dalam hidup remajanya. Agak telat memang tapi paling mengecewakan kenapa di momen paling sakral itu harus dikacaukan oleh ibunya. “Awas ya, kalau kamu nyucinya nggak bersih!" “Iya, bawel banget sih!” “Sana cepetan bergerak! Nanti kamu tambah telat!” omel Bunda sebelum akhirnya berbalik pergi bersama anak bungsunya yang terus mengejak Mihan. “Kak Mihan ngompol, Kak Mihan ngompol,” seru Artila sepanjang langkahnya. “Punya anak ganteng bukannya berguna, malah bikin naik darah terus,” gerutu Martha sambil beranjak bersama putrinya. *** Mihan sudah duduk di pojok belakang ruang kelas barunya di SMA Negeri 12 Amarta. Suasana sekolah yang panas dan fasilitas seadanya membuat sisa kekesalan Mihan sejak pagi semakin memuncak. Tetapi semenyebalkannya sekolah baru yang bau-bau kemiskinan ini, kemarahan Mihan akibat momen mimpi basahnya yang dirusak bunda lebih mengesalkan. Bosan dan malas jadi murid pindahan, Mihan melipat tangannya di atas meja, lalu menaruh kepalanya di sana, malas-malasan dan sama sekali tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Kebangkrutan keluarganya sangat menguras energinya. Rasanya hidupnya tak akan sama lagi. Semua hal yang dia bangun di sekolah lamanya telah berakhir dan tergantikan dengan kelas yang terasa neraka ini. Baru beberapa detik menutup mata birunya, suara ketukan pintu terdengar, disusul suara langkah sepatu yang anggun berjalan menuju meja guru di depan kelas. Mihan tetap bergeming dalam posisi tiduran di meja. "Selamat pagi, anak-anak," sebuah suara lembut terdengar menyapa kelas. Mihan yang awalnya tidak peduli, mendadak menegang. Jantungnya berdegup satu kali dengan sangat keras. Suara itu... terasa sangat tidak asing di telinganya. Seperti suara yang baru saja dia dengar beberapa jam lalu di dalam mimpinya. Dengan rasa penasaran yang mendadak memuncak, Mihan pelan-pelan mengangkat kepalanya dan menoleh ke depan kelas. Detik itu juga, napas Mihan rasanya berhenti berputar. Di depan kelas, berdiri seorang wanita muda mengenakan seragam dinas berwarna cokelat khaki yang pas di tubuhnya. Rambutnya hitam bergelombang sebahu, dengan bulu mata lentik alami, mata bulat yang jernih, dan kulit eksotis manis khas daerah yang sangat mempesona. Tak salah lagi guru itu adalah wanita yang sama persis dengan yang ada di dalam mimpi basahnya tadi pagi! "Sebelum kita melanjutkan pelajaran. Ibu mau kasih info kepada kalian semua bahwa kelas kita kedatangan murid pindahan dari kota." Mata bulat wanita itu menyapu isi kelas, lalu berhenti tepat pada cowok blasteran Belanda yang memiliki mata biru dan tubuh paling dominan di kelas. Mihan melotot syok saat mata mereka bertemu, masih tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Wanita itu tersenyum manis sekali. "Mihan, ya? Ayo, silakan maju ke depan untuk memperkenalkan diri,” pintanya ramah. Mendengar namanya dipanggil oleh suara itu, seluruh bulu kuduk Mihan meremang. Pikirannya langsung melayang ke adegan di mana dia berbisik, ‘Sayang, aku masukin ya?' “Mihan?” panggil Bu Naya kembali. Mihan sontak berdiri dari bangkunya dengan lutut yang mendadak lemas. Saat dia melangkah maju ke depan kelas, seluruh tubuhnya mulai gemetaran hebat karena menahan rasa gugup, malu, dan syok yang bercampur aduk. “Silakan,” kata Bu Naya selaku guru Matematika dan sekaligus wali kelas Mihan mulai hari ini. Mihan mengepal tangannya, menahan gugup hingga dia berkeringat dingin. Sampai ketika dia sudah tak lahan lagi menahan diri lalu keseimbangannya limbung. Kepalanya mendadak berputar hebat. Tepat ketika dia memandang wajah wanita itu tanpa sempat mengeluarkan satu kata pun, pandangan Mihan mendadak gelap. BRUK! Mihan jatuh pingsan telak di depan kelas. Kelas langsung riuh penuh kepanikan. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
749.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
982.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
361.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook