Episode 17 Perempuan Di Warung Kopi

1402 Kata
Hari kedua ku di Aceh sekaligus hari terakhir ku dapat berkeliling wisata di Aceh karena besok pagi harus ke bandara untuk kembali Yogya. Jalan-jalan boleh, main boleh, liburan boleh, tapi jangan lupa dengan kuliah. Atau yang bekerja jangan lupa dengan kerjaannya. Kecuali kerjaannya ya jalan-jalan. Aku mulai perjalanan agak siang, karena tujuan hari ini bukanya jam 9. Setelah sarapan lontong sayur depan hotel, aku diantar travel menuju Museum Tsunami. Sepanjang jalan menuju Museum Tsunami aku baru melihat sisa-sisa bencana Tsunami yang melanda Aceh tahun 2004. Masih ada sisa reruntuhan rumah yang tidak direnovasi kembali oleh pemiliknya karena kesusahan dana atau pemilikinya telah meninggal dalam bencana itu. Ada juga kapal-kapal nelayan yang masih dibiarkan begitu aja di atas rumah-rumah warga. Sala satu puing-puing kapal yang menjad lokasi wisata adalah PLTD Apung yang terseret ombak hingga beberapa meter di daratan. Bangunan Museum Tsunami Aceh cukup unik dan luas. Seperti museum lainnya seperti rekam jejak kejadian tsunami yang terpampang rapi dalam kaca-kaca, ada juga cerita pendek tentang detik-detik kejadian tsunami, edukasi tentang proses terjadinya tsunami, ruang bioskop mini. Ada satu ruangan yang ketika aku melewatinya aku berhenti sejenak. Musiknya pun segera berubah dalam ruangan itu, pencahayaan meredup. Antara sedih dan mencekam. Disekitaran dinding ruangan itu tertulis nama-nama semua korban meninggal dari bencana Tsunami Aceh tahun 2004. Sejenak aku dan beberapa pengunjung lainnya memanjatkan doa bagi mereka yang telah menjadi korban dalam peristiwa itu. Setelah keliling museum aku menyempatkan waktu masuk ke salah satu toko jualan souvenir Aceh. Ada kantinnya juga, sekalian aja aku memesan pop mie. Hari ini banyak pengunjung. “Setiap hari selalu ramai kaya gini ya bu?” tanyaku ke salah satu penjaga kantin. “Ndak juga de, ini kan ada lomba siswa tingkat nasional, jadi rombongannya ke sini.” jawab ibu itu. Setelah menghabiskan pop mie dan membeli souvenir Aceh, aku menuju parkiran dan segera menuju tujuan selanjutnya yaitu Rumoh Aceh. Rumoh Aceh ini dulu katanya merupakan rumah tinggal dari pahlawan perempuan Indonesia yaitu Tjut Njak Dien. Rumah panggung tersusun dari kayu-kayu. Rumah ini memiliki halaman yang luas. Apalagi karena rumah ini model rumah panggung, bagian bawah rumah juga bisa dijadikan tempat bermain. Dari kejauhan tidak terlihat seperti area wisata. Terlihat seperti rumah masyarakat pada umumnya tapi model jaman dulu. Tidak ada pengunjung yang datang. Aku disambut oleh pemandunya. Aku diajak berkeliling-keliling rumah itu. Terlihat di ruang pertama foto-foto Tjut Njak Dien. Ada beberapa kamar di dalamnya dengan jendela kecil di tiap-tiap kamar. Kalau ada yang pernah nonton film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, interior rumah ini hampir persis sama dengan rumahnya Hayati. Wajar, kan sama-sama dari Sumatera dan budayanya pun pastinya tidak jauh berbeda. Memang sebuah rumah yang sederhana. Tapi dari rumah ini lahir perempuan yang berani melawan orang-orang yang menginjak harga diri bangsanya. Kalau sekarang gimana ya kondisinya? Produk luar negeri lebih terpandang dibanding menggunakan produk lokal. Katanya sih tanda kemajuan peradaban. Aku mengambil beberapa foto di dalam dan di taman area rumah. Karena tujuanku sudah selesai dan wisata yang ku kunjungi sudah cukup menunjukkan kalau aku sudah pernah ke Aceh, jadi aku meminta ke supir travel mengantarkan aku ke salah satu warung kopi. Aku juga belum pernah merasa roti canai langsung dari tanah Aceh. “Pak cari warung kopi yang ada roti canai juga ya pak.” “Oh kalau itu banyak pak di sini. Cafe gak masalah kan pak?” “Iya deh, gak papa.” Di cafe itu aku duduk di pojok ruangan sambil menunggu pesanan Kopi Gayo dan Roti Canai khas Aceh di hidangkan. Aku membuka album di handphone melihat-lihat foto yang ku ambil selama perjalanan ke tempat wisata. Sekalian upload di i********:. Tidak lama pesanan ku datang. Kopi Gayo dan Roti Canai selai coklat? Atau saus coklat? Entahlah yang penting ada coklatnya. Aku meneguk air putih kemudian mulai mencoba roti canai terlebih dahulu. Rasanya tidak terlalu berbeda dengan yang dijual orang di Kalimantan dan di Yogya. Mungkin selai atau saus coklatnya yang terasa berbeda. Karena kalau di Kalimantan atau di Yogya, roti canai coklat hanya ditaburi serutan coklat diatasnya. Aku menarik gelas yang berisikan Kopi Gayo, kopi khas masyarakat Aceh. Baru serutan pertama aku sudah merasakan rasa pahit yang pekat. Aku dengan cepat mengambil botol air mineral untuk menutupi rasa pahitnya. Bahkan perlu ditambahkan dengan roti canai dengan selai coklatnya baru rasa pahit itu mulai menghilang. “Pahit ya?” tanya seseorang dari meja sebelah. Aku menoleh. Itu seorang perempuan dengan senyuman manis di bibirnya. “Iya, pahit rasanya.” jawabku masih sibuk mengulang meminum air mineral dan menelan roti canai dengan selai coklatnya. “Kenalin, aku Keira.” ujar perempuan itu memperkenalkan namanya dan menyodorkan tangan kanannya ke arah ku. “Rama.” balasku dan mengenggam tangannya untuk bersalaman. “Dari Yogya ya? Kebiasaan yang manis-manis. Nih punya ku juga gak keminum.” “Kok tahu aku dari Yogya?” “Itu, gantungan di tas mu ada nama kampusnya.” tunjuk Keira ke arah tas ku. Aku baru ingat, di tasku ada gantungan souvenir kampus. Keira kemudian melanjutkan membaca buku ditangannya. Tampilannya santai, rambut hitam sependek bahu, pakaian kaos, celana pendek, dan sepatu sport. Traveller juga kayaknya? “Kamu asli mana?” tanyaku penasaran kalau Keira memang seorang traveller. “Asli Bali. Kenapa?” Nah benar, dia traveller juga. Kelihatan dari gaya tampilannya. “Gak, gak papa.” “Suka jalan-jalan juga?” tanyanya mulai mengubah posisi duduknya menghadap ke arah ku. “Ya lumayan, buat tulisan-tulisan di blog.” Keira menutup bukunya, kemudian dari wajahnya terlihat dahinya mengerut. “Kayaknya kamu gak ingat kalau kita pernah ketemu.” “Kita? Ketemu? Dimana ya?” “Kita itu satu pesawat dari Jakarta, kita juga satu kapal sewaktu penyeberangan ke Balohan. Kamu kemarin ke Balohan kan? Kapal yang pagi?” “I..iya. Emang iyaya kita pernah ketemu? Maaf aku gak terlalu memperhatikan orang sekitar.” Keira tersenyum, kembali mengubah arah kursinya seperti semua dan membuka buku bacaannya. “Udah lah, gak perlu minta maaf. Itu biasa kok, dan malahan kita ketemu lagi disini.” “Kamu sendiri memang liburan ke sini? Sendiri?” “He-em, sendiri aja. Kenapa? Takut godain perempuan tiba-tiba pacarnya muncul gitu?” dia kembali tersenyum. “Oh bukan, Cuma pingin tahu aja.” Kami mulai banyak mengobrol wisata di Aceh, pengalaman traveling ke berbagai daerah dan tempat-tempat yang unik. Seru juga kalau ketemu teman baru di perjalanan. Tapi paling penting menambah relasi pertemanan. Keira dari Bali mungkin dia banyak tahu tentang tempat-tempat wisata di Bali yang belum pernah terekspos masyarakat. “Kalau di Bali ada masih banyak ya tempat-tempat wisata yang jarang diekspos media?” tanyaku. “Iya, banyak banget. Orang-orang kan Cuma tahu nya Kuta, Sanur, Tanjung Benoa, Pura uluwatu. Sekarang juga ada GWK sama dinner di Jimbaran.” “Yah itukan memang paket wisata, jadi memang itu-itu aja tempatnya.” “Iya sih, tapi gak papa lah, itung-itung jaga kelestarian lingkungan juga.” “Maksudnya? Jaga kelestarian lingkungan?” “Iya, jaga lingkungan. Coba deh perhatiin, tempat-tempat yang ku sebutin tadi itu sudah gak ramah lingkungan kan? Banyak sampah, polusi laut, udara, macem-macem deh. Kalau wisata-wisata yang masih “perawan” tadi itu di ekspos media, pasti banyak pengunjung, terus pasti banyak sampah, jadinya kotor deh.” Perempuan ini menarik. Punya sudut pandang lingkungan dan wisata yang berbeda dari yang lain. Kalau aku sudah pasti masuk tulisan di blog. Tujuannya memang untuk promosi tempat wisata dan kuliner di Indonesia. Waktu sudah hampir dzuhur, aku pergi ke kasir membayar pesanan ku. Sepertinya Keira masih betah duduk ditemani bukunya itu. “Aku duluan ya.” ujarku. “Oh oke, sampai ketemu lagi. Tapi kalau sampai ketemu lagi, pasti ada yang aneh sih.” “Maksudnya aneh?” “Gak, gak papa.” Aku berjalan menuju pintu cafe, kemudian teringat sepertinya harus minta kontaknya Keira. “Kenapa lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Keira melihat ke arah tempat ku duduk tadi. “Ada.” “Apa? Gak ada apa-apa nih.” “Nomor kontak kamu, ketinggalan.” ujarku dengan sedikit malu-malu. Keira seketika menundukkan kepalanya menahan senyum di bibirnya. “Ya ampun, kirain apa. Sini handphone aku yang tulis. Tapi ingat, jangan ngubungin kalau ada hati yang harus dijaga loh ya.” Aku hanya mengerutkan dahi ku dan Keira seketika melepas tawa kecilnya. Setelah Keira menuliskan nomor handphonenya aku pun kembali jalan menuju pintu cafe dan segera minta antar pulang ke hotel. Aku ingin menghabiskan waktu setengah hari untuk beristirahat dan menulis. Malamnya berkemas barang agar tidak ada yang tertinggal besok subuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN