Matahari sudah menampakan diri di langit timur. Aku keluar kamar segera menuju lobi hotel menitipkan kartu kunci kamar dan menemui supir travel yang akan membawaku menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Tujuan pagi ini Nol Km Sabang di Pulau Weh. Karena menyeberang pulau, jadi tujuan pertama harus Pulau Weh, hari kedua besok tinggal keliling Aceh aja.
“Mau cari sarapan dulu pak?” tanya supir travel itu.
“Oh gak usah pak, saya sudah beli persediaan roti sama s**u pak.” jawabku. Aku berfikir kalau aku sarapan bisa-bisa sakit perut sepanjang perjalanan nantinya.
Sampai di pelabuhan Ule Lheue, aku turun menuju loket pemesanan tiket. Travel tadi segera pergi dan akan kembali ketika aku memberi kabar sudah kembali dari Pulau Weh.
Hanya sedikit orang yang ingin menyeberang. Mungkin karena weekday jadi hanya para pelancong yang ingin menyeberang ke Pulau Weh. Sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal, aku mengambil buku filsafat yang ku bawa sejak dari Yogya. Sekalian mengisi perut dengan roti dan s**u coklat yang ku beli sebelum berangkat tadi pagi.
Tidak perlu waktu lama menunggu, terdengar panggilan untuk menaiki kapal penyeberangan menuju Pulau Weh. Kapalnya tidak besar. Tidak seperti kapal penyeberangan di Gilimanuk atau penyeberangan Bali-Lombok.
Penyeberangan akan di tempuh selama 1,5 jam atau 2 jam. Setelah peragaan keselamatan disampaikan, kapal yang ku tumpangi akhirnya berlayar. Suasana didalam kapal sangat nyaman. Tempat duduknya seperti dalam pesawat 3 kursi satu barisan. Karena sepi, jadi sisi kanan dan kiri ku tidak ada penumpang. Tersedia juga layar tv di masing-masing kursi untuk menonton film yang sudah disediakan pihak kapal.
Aku membuka handphone berniat ingin membalas pesan Luna. Padahal sudah hampir sewindu kami berpisah. Tapi tetap aja kalau Luna datang kembali walau hanya sekedar memberi kabar atau basa-basi sulit rasanya untuk tidak membalasnya kembali.
Aku mengurungkan niat membalas pesannya semalam. Mungkin Luna juga sudah berangkat ke sekolah. Nanti malam aja aku balas pesannya.
Tidak terasa kapal sudah bersandar di dermaga pelabuhan Balohan. Airnya sangat jernih. Banyak anak-anak yang lompat dari dermaga untuk berenang dan menunggu siapa aja dari pelabuhan melemparkan koin ke mereka yang sedang berenang.
Beberapa bule-bule melemparkan koin-koin dari saku mereka. Aku juga tidak mau kalah. Aku melempar beberapa koin dan uang lembaran. Kan kalaupun basah nanti bisa dikeringkan dan tetap berharga. Terlihat bahagia dari wajah anak-anak itu.
Tapi kenapa mereka tidak sekolah? Apa di Pulau ini tidak ada sekolah? Atau mungkin untuk berniat sekolah pun mereka tidak mampu?
Di parkiran aku sudah ditunggu supir mobil yang akan membawaku keliling Pulau Weh dan Sabang.
“Hallo pak Rama. Mari saya masukan ke belakang tasnya.”
“Oh iya, boleh pak.”
Sepanjang perjalanan menuju Nol Km di Sabang hanya ada pemandangan hutan dan di sisi sebelahnya adalah laut. Air lautnya sangat bersih berwarna biru langit. Beberapa orang ku lihat sedang bersiap ingin diving. Awalnya aku ingin diving di sini. Tapi setelah pikir-pikir dengan budget terbatas aku memutuskan untuk tidak diving atau snorkeling di Aceh.
“Dari mana pak?” tanya supir.
“Saya dari Kalimantan pak. Mumpung belum masuk kuliah jadi jalan-jalan dulu.”
“Oh kuliah ya? Saya kira kerja wartawan tempat-tempat wisata pak.”
“Oh bukan, saya mahasiswa kebetulan baru minggu depan masuk kuliahnya jadi sempatin ke sini dulu. Lihat-lihat batas wilayah Indonesia pak.”
“Kalau batas Indonesia itu sebenarnya bukan tugu titik Nol Km nya pak. Tapi ada lagi yang paling ujung pak.”
“Oh ya? Terus kenapa Sabang dijadikan batas ujung Indonesia pak?”
“Mungkin dulu karena di Sabang ada penghuninya, ada kehidupan masyarakat, sedangkan pulau lain di sekitarnya tidak ada masyarakat. Jadi diberilah istilah tanda-tanda kekuasaan Indonesia bermula dari Sabang sampai Merauke.” jelas supir itu.
Sampai di Nol Km Sabang, banyak orang berjualan rujak buah. Terlihat beberapa pengunjung sedang bermain dan memberi makan kera-kera kecil. Aku turun membawa tas ransel menuju lokasi tugu titik Nol Km.
Ku kira tempatnya mewah dan tertata rapi. Itulah kenapa jangan terbiasa memasang ekspektasi terlalu tinggi terhadap suatu hal di dunia. Kebetulan ketika aku berkunjung tugu Nol Km nya sedang dalam renovasi. Jadi cuma bisa foto dari jauh. Untungnya ada tulisan “Kilometer 0 Indonesia”. Jadi ada foto untuk cover tulisan di blog dan untuk upload di media sosial.
Setelah foto di tulisan “Kilometer 0 Indonesia”, tidak ada lagi yang bisa ku lakukan selain menikmati pemandangan laut dari pinggiran tebing dan membeli rujak untuk mengisi perut. Aku melihat beberapa turis bule pun sekedar foto-foto di bawah Tugu Nol Km dari kejauhan. Ada juga warung makan yang menyediakan masakan bakar dan makanan instan seperti pop mie, minuman dingin, dan lainnya.
Ada gerombolan wisatawan sedang sibuk mencari tapi salah satu anggota mereka yang hilang. Yah, namanya juga banyak kera makannya hati-hati dengan barang bawaan. Kayak aku dulu sewaktu berkunjung ke Pura Uluwatu di Bali, niat ingin mendinginkan kaki jadi aku lepas sepatu di tanah. Dari jauh seekor kera berlarian dan mengambil sepatuku kemudian tidak kembali lagi. Terpaksa keliling Pura Uluwatu tanpa alas kaki. Sudah mirip pemangku agama Hindu ingin beribadah aja jadinya. Pakai topi Bali, sarung Bali dan berjalan tanpa alas kaki.
“Pak, ayok kita balik aja pak.”
“Oh sudah keliling-kelilingnya?”
“Sudah pak, fotonya sudah cukup juga.”
Kami melanjutka perjalanan kembali ke Pelabuhan Balohan.
“Itu memang kayak gitu aja pak disana?”
“Iya pak, memang hanya ada Tugu Nol Km nya aja. Biasanya para tamu sambil makan di warung atau makan rujak pak. Kan perjalanan dari pelabuhan tadi jauh, jadi pengunjungnya bisa langsung isi perut sampai sana.”
Aku hanya mengangguk sambil melihat-lihat foto di handphoneku.
“Ini langsung ke Balohan pak?” tanya supir itu.
“Oh iya pak, langsung aja. Biar nanti keliling di Aceh aja saya pak.”
Sampai di Pelabuhan Balohan kebetulan ada kapal yang ingin berangkat menuju Aceh, jadi aku bisa langsung ikut naik di kapal itu.
Aku membuka laptop mulai mencicil tulisa traveling hari ini. Lumayan waktu menyeberangnya lama bisa digunakan menulis blog. Orang-orang di sekitarku juga sibuk melihat foto-foto mereka. Kalau yang turis bule beda, mereka sibuk membaca buku.
Saat bersandar di Pelabuhan Ulee Lheu, aku sudah ditunggu supir travel tadi pagi. Aku meminta mencari tempat makan siang terdekat dan segera menuju Masjid Baitturahman Aceh atau dikenal juga dengan sebutan Masjid Raya Aceh.
Ada ungkapan yang dikenal di masyarakat bahwa Aceh adalah Serambi Mekah karena masyarakat di Aceh menerapkan hukum-hukum islam dalam kehidupan sehar-hari. Sebenarnya alasan itu tidak sepenuhnya benar. Kenapa Aceh disebut sebagai Serambi Mekah? Itu karena zaman dulu orang-orang Indonesia jika ingin berangkat ibadah haji atau umrah, kapal yang mengangkut jemaah haji atau umrah itu singgah di pelabuhan Aceh sebagai persinggahan terakhir di wilayah Indonesia. Tapi kalau ada masyarakat yang berpendapat seperti alasan yang pertama itu juga tidak jadi masalah.
Di Masjid Raya Aceh aku segera takjub melihat bangunan masjidnya. Semua serba putih dan memiliki payung-payung seperti yang ada di Masjid Agung Semarang dan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid ini merupakan bangunan yang sangat bersejarah. Tidak hanya sebagai tempat perlindungan rakyat Aceh sewaktu adanya perlawanan dari penjajah tapi masjid ini juga bersejarah karena satu-satunya bangunan yang tidak hancur ketika terjadi Tsunami.
Setelah shalat dzuhur, aku berkeliling masjid dan mengambil beberapa foto interior dan eksterior masjid. Ada yang shalat di dalam ada juga yang shalat di teras luar masjid. Tidak habis-habisnya bangunan masjid ini membuat ku kagum. Tidak hanya umat muslim tapi juga turis bule masuk ke dalam wilayah masjid hanya sekedar mengambil foto secara langsung.
Aku duduk di tengah-tengah teras masjid. Saking luasnya tidak ada halangan antara orang shalat dan orang yang lalu lalang. Aku memperhatikan payung-payung yang ada di teras masjid.
“Dari mana pak?” tanya seorang laki-laki tiba-tiba yang duduk di dekatku.
“Saya dari Kalimantan.”
“Pantas kelihatan kalau orang baru di Aceh sering memperhatikan bangunan masjid ini.”
“Oh ini saya cuma lihat-lihat bangunan masjidnya. Keren banget arsitekturnya. Ada payung-payungnya juga” Jawabku.
“Bapak ini wartawan?”
“Bukan, saya mahasiswa tapi saya mengambil foto untuk keperluan tulisan website saya.” Jawabku. “Bapak masyarakat sekitar sini?”
“Saya marbot masjidnya pak. Tapi kalau ada yang meminta dijelaskan sejarah bangunan dan arsitektur bangunan saya bisa menjelaskan, karena banyak turis yang sekedar hanya ingin tahu bukan untuk ibadah.”
“Oh maaf, saya gak tahu. Boleh saya ambil beberapa foto untuk bahan tulisan saya?”
“Boleh pak, boleh sekali malah.” ujar bapak itu. “Masjid ini merupakan masjid kesultanan raja Aceh. Ada dua versi yang menjelaskan sejarah tahun berdirinya masjid ini, ada yang bilang tahun 1612 dan ada pula yang menjelaskan lebih awal yaitu 1292. Nah pada zaman kolonial Belanda, masjid ini dijadikan benteng pertahanan warga Aceh. Tempat tinggal dan tempat berkumpul karena lokasinya yang sangat luas. Beberapa pilar ini berbentuk payung persis seperti masjid Nabawi di Madinah.”
“Tapi bagian interiornya persis seperti masjid Istiqlal ya pak, banyak pilar-pilarnya juga.”
“Iya pak, itu karena beberapa bagian atapnya berbentuk datar. Kecuali di tengah yang berbentuk kubah.”
“Kalau berbentuk datar semua nanti semakian banyak pilar jadinya mirip kayak kuil-kuil di Yunani ya pak. Haha.”
“Sebenarnya bukan karena mirip kuil atau tidak mirip. Ilmu arsitektur itu perlu memperhatikan gerakan udara di dalam bangunan. Semakin banyak pilar maka semakin sedikit celah udara yang berada di dalam bangunan itu. Maka dibentuk lah kubah atau atap melengkung untuk memenimalkan pilar sehingga sirkulasi udara lebih lancar.”
“Oh iya bener pak bener. Kubah kan seperti parabola ya, tidak perlu menggunakan pilar dibawahnya karena lengkungan kubah sudah mampu menahan beban bentuk lengkungnya sendiri.”
Setelah shalat ashar, aku minta diantar pulang ke hotel. Badan rasanya sudah capek di perjalanan seharian. Perjalanan yang menarik kali ini. Selain dapat sejarah dan kesenangan berwisata, aku juga jadi belajar ilmu arsitektur. Sepertinya bisa dijadikan tema baru dalam tulisan-tulisanku selanjutnya jika berkunjung ke. bangunan-bangunan bersejarah lainnya.