Episode 15 Pertama Kali Makan Ganja

1099 Kata
Aceh, Aku sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda jam setengah 6. Segera aku memesan taksi untuk membawaku ke penginapan. “Selamat sore, tujuannya kemana pak?” tanya supir taksi. Aku mengambil handphone dan menunjukkan alamat hotel kepada supir taksi. “Ini alamatnya pak. Jauh gak ya pak?” “Lumayan pak, sekitar 20 menitan dari bandara.” “Oh oke, gak papa pak.” Langit Aceh masih terang. Aku baru sadar kalau ternyata Aceh merupakan bagian paling barat Indonesia. Waktu maghribnya lebih lama dibanding daerah barat Indonesia lainnya. Sepanjang jalan aku mengambil foto-foto kota menggunakan handphone. Jalanannya sepi. Tidak semegah ekspektasi dalam khayalan ku. Dulu ibuku pernah cerita kalau dulu sering berkunjung ke Aceh. Katanya mewah dan megah. Nuansa islaminya pun sepertinya tidak terasa seperti apa yang ada di ekspektasiku. “Pak, jalanan sepi ya pak? Kalau Mall nya dimana ya pak?” aku menanyakan Mall karena menurutku Mall adalah salah satu representasi bahwa masyarakat daerah sekitarnya hidup dengan ekonomi yang mapan. Artinya daerah itu maju dalam sisi ekonomi. “Memang sepi pak. Bangunan yang hancur akibat Tsunami masih belum dibangun kembali. Pasca Tsunami agak kesusahan untuk bangkit pak.” jelas supir taksi dengan nada yang pesimis. “Oh gitu ya pak? Soalnya kalau orang-orang cerita tentang Aceh pasti isi ceritanya gak pernah jauh dari kemewahan dan kemegahan budaya, sosial masyarakatnya.” Aku melihat beberapa laki-laki menggunakan pakaian seragam antara berwarna hijau kecoklatan atau coklat kehijauan. Seperti polisi atau tentara ya? “Itu baju polisinya kok beda ya pak?” tanyaku. “Oh itu? Itu bukan polisi yang biasanya pak.” Hah? Bukan polisi yang biasanya? Memangnya ada yang luar biasa atau biasa-biasa aja? “Maksudnya pak?” “Iya, itu Polisi Syariat pak namanya.” “Bedanya sama polisi yang ada itu apa pak?” “Kalau polisi syariat ini biasanya mereku untuk menegur warung-warung yang buka lewat jam 9 atau 10 malam pak, dilarang ke pantai malam hari dan juga memeriksa kalau ada yang boncengan bukan muhrimnya, intinya seputar syariat islam pak.” jelas supir taksi itu. “Oh jadi gak ada warkop-warkop yang buka sampe malam gitu ya pak?” “Gak ada pak, tapi mungkin ada aja yang nyuri-nyuri kesempatan.” “Oh kalau pantai? Kenapa pak?” “Yah namanya kita kan pernah kejadian bencana Tsunami pak, jadi lebih waspada. Jadi kalau malam pantai ditutup.” Aku sampai di hotel tepat waktu magrib daerah Aceh. Magribnya jam 6 lewat, hampir setengah 7. Hotelku yang merupakan bookingan dari Abdurahman si misterius berada di pesisir pantai. Terlihat beberapa tenda-tenda warung makan di sekitar hotel. Hotelnya tidak terlalu besar. Tapi untuk traveling tidak masalah. Lagi pula aku juga sendirian. Setelah selesai membersihkan badan dan shalat, aku keluar mencari makan malam. Tempat makan tenda di sekitar hotel tidak jauh beda dengan di jawa, Cuma bedah sebutan aja. Kalau di jawa di sebut pecel lele, kalau di Kalimantan di sebut warung makan seafood, kalau di Aceh mungkin cuma warung makan aja ya sebutannya. Aku berjalan ke ujung jalan sampai di satu tempat makan bertuliskan Rumah Makan Bang Yasir. Salah satu menu yang menarik perhatian ku yaitu Mie Aceh. Kenapa harus diberi nama daerah? Bedanya apa? “Silahkan, mau pesan apa?” tanya pelayan menghampiriku dan memberikan daftar menu. “Ini semua daftarnya lengkap?” “Lengkap pak, ada semua.” “Oke, saya pesan mie aceh 1, air mineral 1, coklat hangat 1.” “Baik, ada lagi pak.” “Udah, itu aja.” Suasana tempat makan cukup ramai. Beberapa datang bersama keluarga mereka. Aku mengupload foto kota Aceh di i********:. Sekalian agar pemberi sponsor misterius tahu kabarku sudah berada di Aceh. “Permisi, ini pesanannya pak. Mie aceh 1, air mineral 1, dan coklat hangat 1 ya pak. Silahkan.” Dari tampilannya mie aceh sama dengan mie goreng lain pada umumnya. Mienya besar, dan sedikit berair. Sayurnya juga banyak. Baru suapan pertama, aku merasa aneh di lidah. Bukan manis, bukan pahit, bukan juga asam atau asin. Kayak ada bumbu tambahan selain bumbu mie goreng biasanya. Awalnya ku piker karena suapan pertama atau juga badan kurang fit setelah penerbangan yang panjang seharian. Ternyata aku baru ingat, masakan di Aceh ataupun seluruh daratan Sumatra itu menggunakan bumbu khusus yaitu ganja. Sayang porsi mie nya banyak, jadi tidak sampai ku habiskan. Sambil menikmati coklat hangat kepala ku terasa pusing. Efek ganjanya mulai terasa. Mungkin karena baru pertama kali makan masakan dengan bumbu ganjanya. Untung aku memesan s**u coklat, minimal ada efek mengurangi pusingnya setelah minum s**u. Setelah makan, aku kembali ke hotel. Masih dengan rasa sedikit pusing di kepala. Aku terfikir selama dua hari aku bakal makan dengan rasa masakan yang tidak biasa di lidah. Perut ku mulai terasa mual. Sampai di kamar aku meminum obat penetral perut. Karena biasanya kalau ada masalah di kepala itu ada kaitannya dengan masalah di perut. Aku menghidupkan laptop untuk menulis tentang mie aceh malam ini. Lumayan, hari pertama sudah dapat satu bahan tulisan untuk blog. Kalau ada kejadian konyol seperti mala mini, biasanya aku menulis sambil ketawa sendiri. Itulah enaknya kalau punya tempat alternatif untuk bercerita. Saat sedang asik menulis, handphone ku bergetar tanda pesan masuk. Aku melihat DM dari Abdurhaman si misterius. Dia mengucapkan terima kasih telah bersedia menerima sponsor darinya dan menunggu tulisan ku selama di Aceh. Aku juga melihat ternyata ada DM dari Luna. Tumben Luna DM? Ada apa ya? Setelah beberapa lamanya kami tidak saling memberi kabar ya karena putus. “Kak, lagi di Aceh ya?” “Iya de, tumben nih, ada apa?” Baru beberapa menit aku kembali menulis handphone ku kembali bergetar. Palingan dari Abdurahman. Tanggung sedikit lagi blog pertama di Aceh selesai. Supaya tidak terganggu konsentrasi saat menulis. Kadang kalau ada gangguan, beberapa kisah inti atau kisah lucu bisa terlupakan. Meskipun bisa direvisi lagi nantinya. Jam menunjukkan angka 9. Pusing kepala masih terasa. Aku mematikan laptop dan memeriksa pesan-pesan yang masuk di handphone. Kalau grup sudah pasti ratusan chat. Seharian dari Yogya aku tidak membuka grup sama sekali. Chat personal juga baru mala mini aku buka dari Abdurahman dan Luna. “Wah, asik dong? Sama siapa kak disana?” balasan chat dari Luna. “Baru hari pertama, aku sendirian aja.” “Oh gitu ya, ajak-ajak dong kak lain kali.” Aku kaget melihat chat Luna minta ajak travelling. Kenapa tiba-tiba pesan dari Luna kayak gitu ya? Jangan-jangan sudah putus sama pacarnya. Tapi aku tidak membalas pesan Luna. Baru mau benar-benar melupakan malah datang lagi. Aku mematikan lampu dan memasang alarm pukul 4 subuh. Karena kecapean, takutnya kelewat waktu subuh. Lagi pula besok harus berangkat pagi. Karena aku janjian dengan pihak travelnya jam 7 pagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN