Yogyakarta,
Alarm handphone berdering menunjukkan jam 3 pagi. Aku segera bangun untuk shalat tahajud kemudian mandi untuk bersiap berangkat ke Aceh pagi ini. Tiket yang di booking Abdurahman yang misterius itu merupakan flight pertama jam 6 pagi, jadi aku harus berada di bandara lebih awal. Meskipun perjalanan menuju bandara di Yogya pagi hari tidak akan terhalang macet. Lagipula Bandara Adi Sutjipto tidak jauh dari kontrakan ku. Sekalian cari sarapan di bandara aja.
Reservasi hotelku hanya 2 hari. Jadi aku perlu maksimalkan waktu selama 2 hari di Aceh agar tidak ada tempat wisata ikonik di Aceh yang terlewat, dan pastinya memuaskan para pembaca websiteku, terutama si misterius. Aku masih tidak percaya ada orang yang ingin memberikan uangnya cuma-cuma hanya untuk kesenangan membaca cerita perjalanan dari orang lain. Kenapa tidak dia sendiri yang berkeliling? Tapi itulah rencana Tuhan, tidak ada yang bisa menebaknya. Kuncinya satu, jika kita bersungguh-sungguh dalam ibadah, Allah bakal memberi rezekinya dari arah yang tidak kita sangka-sangka.
Sambil sarapan di waitting room aku mencoba membuat list lokasi wisata yang harus aku datangi. Paling pertama harus wisata dan kuliner yang hanya ada di Aceh. Di Aceh banyak wisata pantai untuk snorkeling dan scuba diving, tapi aku hanya memilih Pulau Weh karena bisa sekalian menyambangi Kota Sabang. Kemudian aku list juga Museum Tsunami Aceh, Rumoh Aceh yang dulu katanya merupakan rumah pahlawan perempuan rakyat Aceh yaitu Tjut Njak Dien. Kalau untuk kuliner sudah dipastikan Mie Aceh, Ayam Tangkap, dan Roti Canai. Untuk yang lainnya sama aja seperti di daerah lain seperti sate dan sayur lodeh/santan.
Tepat jam 6 pesawatku boarding. Hanya berbekal tas ransel aku segera berjalan menuju pesawat. Aku sangat jarang membawa banyak barang. Bahkan dulu sebelum aku kuliah di jurusan kesehatan, tiap liburan dengan keluarga aku hanya membawa beberapa lembar baju dan celana, laptop, alat mandi, dan sendal ganti. Tapi sekarang ranselku ditambah dengan kebutuhan P3K. Aku juga tidak pernah membawa kamera. Hanya mengambil 1-2 foto untuk kenang-kenangan dan bahan cover website. Karena keindahan Tuhan itu seyogyanya harus di nikmati, cari tahu sejarahnya, cari tahu kisah rakyatnya, dan sebagainya. Bukan sibuk dengan ambil foto kanan-kiri-atas-bawah terus kalau ditanya sejarah atau kisahnya malah tidak tahu apa-apa.
Penerbangan menuju Aceh perlu transit di Jakarta. Aku duduk di tepi jendela. Pramugari mulai memperagakan sistem keselamatan di pesawat. Tapi sepertinya para penumpang tidak ada yang benar-benar memperhatikan mereka melakukan demo sistem keamanan, seakan-akan para penumpang sudah hafal dan lancar melakukannya. Paling ada beberapa mata lelaki yang memperhatikan pramugari yang sedang demo sistem keselamatan itu. Bukan karena mereka peduli dengan peragaannya tapi hanya ingin memperhatikan kecantikan para pramugarinya aja.
Pesawat take off dengan mulus. Terlihat di sisi kiri pesawat Gunung Merapi dengan gagahnya menyambut pagi kami di pesawat. Pantas aja kalau Merapi sedang erupsi tidak ada penerbangan yang dapat berjalan. Karena memang saking dekatnya. Beberapa orang dalam pesawat mencoba mengamil foto Gunung Merapi. Sepertinya tidak hanya aku yang pernah merasakan flight pagi dari Yogya.
Sepanjang penerbangan aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku. Dua bapak-bapak disebelahku ada yang tidur dan ada anak muda juga yang sibuk membaca buku sedari take off tadi. Ku lihat buku itu bergambar Stephen Hawking, judulnya tidak terlalu jelas k****a.
“Suka baca buku filsafat ya mas?” tanya orang yang tepat duduk disebelahku.
“Iya mas, baca-baca aja, ngisi waktu kosong.” jawabku kemudian menutup buku yang k*****a.
“Kenalin, Pungki.” ujarnya menyodorkan tangan tanda salam perkenalan.
“Ohiya, aku Rama.” balasku menyalami tangannya.
Baru kali ini ada orang yang berkenalan dengan ku di pesawat. Biasanya, orang-orang bodo amat.
“Asal mana?”
“Aslinya aku Kalimantan, tapi sekarang lagi kuliah di Yogya.”
“Oh gitu, ini mau ke Jakarta liburan atau apa ni”
“Bukan, kebetulan mau main-main ke Aceh, tapi kan transit di Jakarta dulu ni ya.”
Pungki hanya mengangguk.
“Kuliah apa di Yogya?”
“Aku ambil jurusan kesehatan masyarakat sih kebetulan.”
“Keren, terus, itu bukunya filsafat, ku kira kamu jurusan filsafat atau sejarah.”
“Ini cuma untuk bahan bacaan dijalan aja. Kalau gak nyuri waktu kosong gini kapan lagi aku bisa baca-baca buku selain kesehatan.” jawabku. “Ohya, kamu memang tujuannya ke Jakarta?”
“Iya, aku mau jenguk saudara di Jakarta, dia kuliah di Jakarta.”
“Suka baca bukunya Hawking ya? Itu lihat bukunya tadi.” aku menunjuk buku ditangan Pungki.
“Oh iya, aku suka aja baca buku-bukunya Hawking, Einstein, yang seperti itu.” jawab Pungki dengan semangatnya.
Aku hanya mengangguk.
“Ohya aku boleh tanya gak?” tanyanya.
“Boleh, kalau aku bisa jawab ya? Tanya apa?” tanyaku.
“Kamu islam ya? Dari tadi ku lihat selama baca buku jarimu tetap berdzikir?”
“Oh iya, itu yang ku lakuin tadi namanya dzikir.” balasku sambil tertawa kecil.
“Ohiya dzikir, bener ya.”
“Iya, kenapa ya? Kamu nasrani atau apa?” tanyaku.
“Bukan, aku meyakini semua tercipta karena sains, itu aja.”
Pungki ini orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan.
“Apa semua orang islam melakukan itu setiap waktu?” tanyanya.
“Oh dzikir? Seharusnya iya, karena kami diperintahkan mengingat Tuhan kami saat keadaan apapun.” jawabku.
“Tapi kenapa yang lain gak ngelakuin itu.” tanyanya lagi.
Aku sedikit tersenyum.
“Kita kan gak tau isi hati dan pikiran orang lain. Mungkin mereka juga memikirkan dan mengingatkan Tuhan dalam bentuk yang lain. Kamu liat bapak itu?” tanya ku menunjuk bapak yang melihat ke arah luar jendela pesawat. “Dalam hati dan pikirannya kemungkinan dia sedang mengamati awan yang bergulung-gulung di luar, atau ibu yang berkerudung kuning disebelah sana. Itu mungkin sedang mengamati laut dibawah dan itu semua merupakan cara-cara kami mengingat Tuhan kami.” jelasku.
Pungki hanya menganggukkan kepalanya dan mengamati awan bergulung di sisi luar jendela.
“Tapi kan awan bergulung diluar itu akibat uap air, lautan juga tercipta karena bumi telah mengalami beberapa fase purba.” jawabnya. “Aku tanya lagi nih, dengan kalian tetap mengingat Tuhan di pesawat itu tetap aja gak membantu pesawat ini baik-baik aja kan? Sampai tujuan dengan selamat atau kecelakaan?” tanya Pungki lagi.
Aku tersenyum kecil.
“Kenapa kamu tanya gitu?”
“Karena menurutku alat transportasi apapun bisa bekerja dengan baik atau gak itu tergantung dengan sistem mesinnya kan? Dan misalkan pesawat ini terjadi masalah saat terbang kalaupun berdzikir atau berdoa kepada Tuhan yang kalian yakini itu, tetap aja pesawat bakal jatuh kan?”
Aku menarik nafas panjang.
“Di agama kami, itu ada namanya takdir. Pesawat ini aman atau tidak tetap aja manusia harus berusaha yang terbaik, sisanya serahkan ke Tuhan. Kalau pun terjadi kecelakaan, agama kami mengajarkan bahwa itu hanya akan membawa kami ke kehidupan selanjutnya, bukan suatu kengerian.”
“Yang kalian sebut akhirat itu ya? Disana ada surga dan neraka itu?”
“Iyap benar, akhirat.”
“Emangnya kalian seyakin itu pasti masuk surga? Atau mungkinkah surga dan neraka itu hanya iming-iming kitab suci kalian agar Tuhan kalian minta disembah aja.”
“Mas, bagi agama kami, masuk surga atau neraka itu bukan kami yang memutuskan, tapi Tuhan kami, Allah. Kalau ditanya alam akhirat, surga, neraka itu ada atau gak ada, kami di wajibkan yakin itu semua ada. Karena kalau kami tidak yakin salah satu aja, misal kami yakin ada surge tapi gak ada neraka itu artinya kami gak beriman dengan Tuhan kami, syarat beriman salah satunya percaya dengan yang gaib, dan surga, neraka, akhirat, itu semua gaib tertulis dalam kitab agama kami.”
Pungki tiba-tiba tersenyum dan menepuk pundak ku.
“Kalau aja semua orang yang beragama islam minimal kaya kamu gini, mungkin agama kalian yang bakal menguasai dunia ya.” ujarnya masih menepuk pundak ku.
“Sebenarnya setiap manusia itu anak-anak akhirat. Jadi, setiap orang wajib belajar tentang bagaimana kehidupan dia akhirat kelak. Tapi sayangnya, masih sebagian banyak manusia hanya ingin menjadi anak-anaknya dunia. Jadi, mereka hanya belajar, mencari tahu, dan mencari keuntungan tentang dunia.”
“Oh iya tapikan kamu mahasiswa kesehatan? Apa boleh ngomong di depan umum tentang hal-hal religi?”
“Dalam keyakinan kami dan agama manapun, belajar dan menyampaikan hal-hal keagamaan itu wajib untuk setiap individu, kami mengenalnya dengan sebutan tablig atau syiar keagamaan. Agama kami tidak memandang profesi, jurusan kuliah, tingkat ekonomi, sosial, dan lainnya, intinya wajib mengetahui agamanya. Agama kami hadir untuk menghapus semua perbedaan dan klas-klas di masyarakat.”
Pungki kemudian tertawa kecil dan kembali membaca buku yang dibawanya.
Aku senang bertemu dengan orang-orang seperti Pungki. Orang yang tidak percaya adanya Tuhan tapi masih ingin mendengarkan dengan seksama penjelasan Tuhan dari seseorang yang percaya adanya Tuhan.
Pesawat kami akhirnya landing di Bandara Soekarno-Hatta. Aku dan Pungki segera berpisah di luar bandara. Pungki dijemput saudaranya dan aku harus lanjut ke terminal lainnya untuk pesawat jurusan Aceh.