Episode 13 Luna, Apa Kabar?

1777 Kata
Pangkalan Bun, Aku banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku Ibnu Battutah selama penerbangan. Banyak yang mengatakan penjelajah dengan jarak tempuh terjauh adalah Columbus ataupun Marco Polo, tapi ternyata semua itu salah. Ibnu Battutah lah orangnya. Dia merupakan seorang muslim yang pertama kali melakukan penjelajahan terjauh di muka bumi. Hanya sayang kisah penjelajahannya jarang diketahui banyak orang. Tak terasa hampir satu jam aku mengudara. Aku melihat ke jendela pesawat dan mengenali tampilan daratan dibawah. Sudah hampir 6 bulan aku tidak mengudara di langit Kota Manis ini. Awan hitam tebal menyelimuti langit kota, sepertinya akan turun hujan atau sedang turun hujan? Aku disambut oleh orang asing. Katanya supir baru ayahku. Heran, kenapa bukan dia saja yang langsung menjemput? Aku ini anak orang atau anak ayah? Sepertinya emas dan uang lebih berharga daripada ikatan darah sendiri. Di rumah hanya ada aku dan adik ku. Ada juga sih bi Ani di dapur. Supir yang mengantarku segera kembali ke kantor ayah. Setelah menaruh koper dikamar, aku keliling-keliling rumah. Aku masuk ke kamar adik ku, terlihat dia sedang asik bermain game di laptopnya. Namanya Reno. Aku mengetuk pintu kamarnya dan dia pun menoleh. Dengan tatapan penuh binar di matanya dan senyum bahagia dia segera meninggalkan laptop dan menyalamiku. “Baru sampai bang?” tanya adik ku sambil duduk kasurnya. “Baru banget malah.” aku melihat sekeliling kamar adik ku. “Keren nih, jadi studio rekaman ya? Buat youtube?” “Gak juga sih, bang, cuman kalau main game sekalian direkam terus coba-coba share ke youtube aja.” “Banyak yang nonton?” “Lumayan, temen sekolah sama orang-orang daerah lain aja paling.” Aku hanya mengangguk. “Udah makan bang? Mau minta buatin bi Ani?” tanyanya sambil berdiri ingin mendatangi bi Ani di dapur. Aku menahannya. “Udah, gak usah, tadi aku udah minta di buatin coklat hangat aja. Aku balik kamar ya.” Aku mengambil segelas coklat hangat dan sambil menenguknya beberapa tegukan sambil aku melihat-lihat isi kamar ku. Belum banyak yang berubah. Foto-foto ku bersama Luna masih terpajang di meja belajar dan masih terpasang rapi di dinding kamar. Sesekali aku tersenyum melihat foto-foto kami. Teringat momen-momen kebersamaan yang kini hanya tinggal sebuah kenangan. Hujan perlahan mulai mengguyur seisi kota. Aku mengantuk, tapi sepertinya rasa kantuk itu dapat takluk dengan rasa rindu terhadap suasana rumah, terhadap seisi kota, dan terhadap dia permata hatiku yang telah hilang. Luna? Apa kabar dia? Lama kelamaan, aku merasa seakan hujan membawa kenangan itu semakin nyata. Aku bingung apa yang ku lihat antara genangan dan kenangan. Seketika aku sempat berfikir membenci hujan karena telah membawa Luna muncul dihadapan ku walau hanya berbentuk bayang. Tapi lucu kalau aku harus membenci hujan, karena aku merasa diriku seperti hujan sore ini. Hujan merupakan janji setia langit terhadap bumi. Rinduku pun sama seperti hujan ini. Rinduku sederas hujan sore ini yang tumpah dari langit tanpa ada yang sanggup membendungnya. “Kepikiran Luna ya bang?” tanya adik ku tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamarku. “Eh kamu? Masuk lah. Biasa, kepikiran dikit-dikit.” balasku. Reno mengambil foto ku bersama Luna yang terpasang di dinding dan memperhatikannya sambil duduk di kursi meja  belajarku. “Pacar barunya itu Fikri namanya bang. Orang tuanya temen papah juga.” ujar Reno. “Iya, aku tahu, sempat ada di kirimin Reza fotonya.” “Alasannya putus pasti LDR ya?” “Katanya sih gitu, tapi seminggu kemudian posting sama pacar barunya. Tapi dia ngajak meet up sih kalo aku balik. Gimana?” “Udah lah bang, biarin aja. Itu ngajak meet up biar dia gak merasa bersalah aja. Buktinya dia udah punya pacar kok.” Adikku menaruh kembali foto yang diambilnya dan jalan keluar kamar. “Eh, ntar malam ada acara gak?” tanyaku. “Gak ada sih bang.” jawab Reno cepat. "Kenapa?" “Ntar habis magrib keluar yuk, ke cafe gitu. Sekalian keliling kota. Ajak Aini aja gak papa.” Reno hanya mengangguk dan menghilang di balik pintu. Aku kembali memperhatikan foto-foto ku dan Luna kemudian mengambil handuk dan segera membersihkan badan. Setelah shalat magrib, aku duduk di ruang tengah rumah dengan pakaian siap jalan. Reno masih dikamarnya menunggu kabar dari Aini, pacarnya. Reno sudah lama berpacaran dengan Aini. Sekitar 2 tahun mereka menjalani hubungan. Kami juga akrab dengan Rina, karena memang setiap dari kami punya pacar harus diajak ke rumah untuk dikenalkan dengan orang tua, terutama ibu. Aini juga kenal dengan Luna karena dulu sering ketemu kalau aku dan Reno mengajak pasangan kami makan malam atau sekedar nongkrong di cafe. “Bang, yuk. Aini dah nunggu di rumahnya.” ujar Reno. “Okeh, kamu yang nyetir ya.” Malam ini suasana kota sangat ramai. Baru 6 bulan aku tinggalkan kota ini ternyata perkembangan sangat cepat. Tapi tetap yang tidak ada di kota ini adalah Mall. Karena kalau ada Mall pasti akan rugi. Masyarakatnya lebih memilih ke luar pulau jika ingin membeli brand yang hanya ada di Mall. Sampai di rumah orang tua Aini, aku hanya menunggu di mobil sedangkan Reno turun menemui orang tua Aini. Rumah orang tua Aini tidak jauh dari rumah kami. Orang tuanya Aini juga teman dari orang tua kami. Semoga aja hubungan mereka tetap baik-baik aja. Tidak lama Reno dan Aini berjalan menuju mobil. Aku turun dan pindah duduk ke kursi belakang. “Wih! Ada bang Rama, apa kabar nih orang Yogya?” tanya Aini dengan sumringah. “Nah ketemu nih sama orangYogya.” lanjut Reno. “Alhamdulillah, baik-baik.” jawabku singkat. “Loh bang, di depan aja, aku gak papa di belakang.” ujar Aini menahanku membuka pintu belakang. “Gak papa, kamu sama Reno di depan aja santai.” Kami banyak mengobrol sepanjang perjalanan. Untungnya Reno dan Aini bisa diajak bercanda jadi obrolannya bisa lebih santai. Mereka juga menanyakan tentang Yogya. Sesekali juga Aini membahas tentang Luna. Dia tahu aku sudah putus dengan Luna karena Reno cerita. Sampai di cafe yang kami tuju, kami segera turun. Cafenya sangat ramai pengunjung. Ada yang sedang pacaran, kumpul-kumpul anak SMA, ibu-ibu sosialita, dan ada juga yang sedang rapat para pebisnis muda. Kami memilih meja di pojokan ruangan karena hampir penuh, syukur masih ada meja kosong. Kalau ada yang baru datang lagi setelah kami pastinya tidak ada meja kosong lagi. Sambil menunggu pesanan aku menikmati alunan musik dari seseorang yang memainkan biola. Reno dan Aini asik ngobrol dan mesra-mesraan berduaan dihadapanku. Sesekali aku hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. Aku selalu berfikir semoga Aini tidak pergi dari Reno. Karena siapa lagi yang bisa menjadi tempat ceritanya Reno, teman main, teman makan, dan lainnya kalau bukan Aini? Ayah dan Ibu kami jarang pulang ke rumah. “Bang, jangan diem aja dong, cerita kek, apa kek.” celetuk Aini kepadaku. “Mau ngomongin apa? Aku lagi dengerin orang main biola tuh.” “Eh, ini tuh cafe yang sering di datangin bang Rama sama Luna dulunya.” ujar Reno. “Iya bener. Dulu belum seramai ini, kami sering ke sini dan duduk di situ.” aku  menunjuk ke salah satu pojokkan cafe dan seketika aku, Reno, dan Aini antara terdiam kaget atau bingung. “Hah? Kok ada itu...” ujar Reno terbata-bata. Posisi yang ku tunjuk persis tempat ku dan Luna dulunya sering duduk, bersamaan di situ ada Luna dan pacar barunya sedang duduk di meja yang ku tunjuk. Aku dengan cepat merubah posisi duduk dan sedikit menutup wajahku. “Astaga... Kok bisa kebetulan gini sih.” ujarku sambil menutup sebagian wajahku dengan tangan. “Tadi kita gak lihat-lihat dulu ya.” lanjut Aini masih dengan wajah kagetnya. “Gimana bang? Mau pindah aja atau gimana?” tawar Reno yang sudah merogoh koceknya ingin mengambil kunci mobil. Kebetulan juga pesanan kami baru datang. Aku menenangkan pikiran. Kembali duduk seperti semula. Aku memutuskan tidak pindah tempat. Kalaupun Luna menyadari ada kami di cafe yang sama pun tidak jadi masalah. “Bang, udah, disini aja. Kalau kita pindah dan Luna ngeliat kita jalan keluar diem-diem pasti dia mengira abang masih gak mau ketemu dia, dan merasa abang belum move on dari dia.” jelas Aini dengan nada pelan. “Iya juga, santai aja deh bang. Kalo dia bayar kasir nanti juga lewatin meja kita, kalo dia gak negur ya kita tegur duluan aja.” tambah Reno. Aku hanya menganggukan kepala mendengar penjelasan mereka. Kadang rasanya lucu kalau diberi nasihat masalah hati dari adek-adek ku ini. Tapi inilah contoh nyatanya ilmu itu tidak harus dari orang yang lebih tua dan menolak nasihat dari yang lebih muda. Pengalaman orang bisa aja beda-beda dan mungkin mereka berdua pernah lebih dulunya merasa hal yang kurasa sekarang. Lama kami berada di café itu, aku masih saja menikmati alunan musik yang dimainkan violin sewaan café dan sesekali ikut nimbrung obrolan Reno dan Aini. Suasana yang awalnya biasa-biasa, seketika berubah menjadi sedikit kekuan untukku. Karena tidak nyaman rasanya jika harus menoleh ke arah dimana Luna dan pacarnya sedang duduk berdua. “Eh, itu tuh, dia pulang.” Reno menunjuk ke arah Luna. “Hah? Yaudah sih, dia lewat sini juga.” balasku. Aku merubah posisi duduk, menegakkan badan dan merapikan jaket yang ku kenakan. Ada rasa sedikit gugup ketika mendengar Luna dan pacarnya ingin pulang dan pasti menuju kasir yang berada dekat dengan tempat kami duduk. Ternyata Luna dan pacarnya hanya meminta bill dan membayar ditempat duduk mereka. Persis seperti yang selalu ku lakukan ketika nongkrong di café atau di warung makan. Silih berganti orang mulai pulang. Kami pun memutuskan untuk pulang, karena sudah jam 10 malam juga. Tidak baik membawa perempuan lebih dari jam 10 malam. Walaupun Aini adalah pacar adik ku, tapi tetap harus ku pantau dan menasehati Reno untuk hubungan mereka. Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam dibelakang. Pikiranku kembali muncul bayang-bayang Luna. Luna yang aku rindukan dan Tuhan mewujudkan kerinduan ku itu, meskipun dengan kondisi dan rasa yang berbeda. Pakaian dress biru dongker yang dikenakannya tadi masih, lambut hitam pekat, dan kulit putihnya masih jelas terekam dalam ingatanku. Ternyata dia baik-baik aja. Syukurlah…. “Ren, makasih ya. Bang, makasih ya bang sudah ngajak jalan. Jangan kelamaan galaunya bang, semangat!” Aini turun dari mobil dan segera masuk ke rumahnya setelah mengucapkan kalimat itu. Aku hanya tersenyum kecil dan pindah tempat duduk di samping Reno. “Masih kepikiran Luna bang?” tanya Reno. “Yah, wajar lah. Aku ngantuk pingin tidur.” jawabku singkat. Sampai rumah aku menghidupkan musik spotify lagu Republik yang judulnya Tiada Guna Lagi. Segera ku rebahkan badan di kasur kamar tidur. Beberapa kali aku menarik nafas panjang sambil melihat pajangan foto Luna di dinding kamar. Terkadang yang membuat kita rindu itu bukan karena orangnya tapi momen kebersamaannya. Orangnya mungkin sekarang sudah berubah, tapi momennya tidak akan pernah berubah. Ketika melihatnya baik-baik aja rasanya sudah cukup tenang. Aku tersenyum kecil dan perlahan memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN