Episode 12 Banyak Perempuan Murahan

1240 Kata
Yogyakarta, Kampus hari ini tidak terlalu ramai, tenang, dan parkiran pun banyak yang kosong. Hari ini ujian semester pertama ku di bangku perkuliahan. Karena dapat jadwalnya siang, jadi aku menunggu di sekretariat BEM sambil menulis liburan di Bandung kemarin. Di sekretariat ada Rara dan Putri yang sedang asik mengobrol sambil di tangan mereka membuka print out materi dosen. Tapi ku lihat lebih banyak ngobrolnya daripada membahas materi. “Hey.” sapa ku sambil melepas sepatu. “Weh, ada yang habis dari Bandung nih.” balas Putri. “Iya, gila sih Rama, orang mau ujian dia malah jalan-jalan.” tambah Rara. “Gimana? Seru gak Bandung? Aku lihat di update Path mu semalam.” tanya Putri. “Yah gitu lah, banyak dapet capeknya aja.” ujarku sambil menghidupkan laptop. “Hahaha, kenapa tuh?” tanya Putri. “Ya habisnya cuma dapet wisata kawah doang, Kawah Putih di Ciwidey sama Kawah di Tangkuban Perahu.” “Loh gak sempat ke yang tempat miniatur rumah-rumah jadul itu Ram?” tanya Rara. “Farmhouse? Sempat sih, tapi ya tetep aja capek dijalan, bukan capek di tempat wisatanya.” “Tapi foto-foto yang kamu upload tu loh Ram, yang bagus dikit coba.” ujar Putri. Mereka berdua-Putri dan Rara, merupakan teman dekat perempuan ku semenjak aku ikut organisasi di BEM dan kami juga satu kelas. “Yah yang penting ada fotonya aja deh kalo aku ya, hahaha.” “Kapan yuk kita camp di pantai gitu, ajak Andi segala Ram, seru tuh.” seru Rara. “Boleh boleh.” jawabku sambil mengangguk. “Kamu ngapain sih Ram?” tanya Rara melihat ku tidak terlalu memperhatikan ajakannya. “Oh ini, nulis blog. Kalau habis jalan-jalan atau ada yang dipikirin biasanya ku tulis disini.” “Seru juga kayaknya, nanti ku search deh websitenya.” "Kamu udah belajar Ram?" tanya Putri. "Udah kemarin-kemarin, kalau belajar beberapa jam sebelum ujian, aku malah bisa lupa." Mereka kembali membaca materi dan sesekali ngobrolin kegiatan organisasi, dosen saat perkuliahan, dan harapan-harapan kalau sudah lulus nanti. Padahal baru ujian di semester 1. "Kamu gimana Ram?" tanya Putri. "Apa tu? Kalau udah lulus nanti ya?" tanyaku sambil tetap mengetik jari-jari di laptop. "Iya, aku sih harusnya kerja di lingkungan kesehatan juga. Bukan aku aja sih, tapi kita semua lulus kesehatan memang harusnya gitu kan." ujar Putri dengan yakin. "Aku ya maunya gitu juga, kerja di lingkungan kesehatan, punya buku untuk dipelajari orang lain " jelas ku. "Punya buku?" tanya Rara. "Kamu mau jadi dosen?" "Punya buku kan gak harus jadi dosen, yang jadi dosen aja belum tentu punya buku malah. Niat ku ya simpel, orang tau kesehatan itu apa, ngenalin kesehatan masyarakat itu apa, ilmu-ilmu yang kita pelajari nanti bisa digunain untuk kasus yang nyata." "Kamu mah enak ya Ram, orang tua dan keluarga mendukung untuk kamu sampai disana, lah kayak kami ini." balas Rara dengan nada pesimis. "Kalian mikirnya gitu ya?” ujarku sambil terfikir andai aja mereka tahu kondisi keluarga ku kayak gimana. “Aku gak se enak yang kalian pikirkan juga, kalau enak enak aja mungkin aku gak disuruh kuliah, langsung nerusin kerjaan keluarga, tapi kan disuruh kuliah berarti disuruh usaha sendiri dulu, disuruh belajar juga." "Emang makin susah cari kerjaan di negara yang kaya raya ini, katanya kaya sih." celetuk Putri. Selesai menulis blog, aku meminta Rara dan Putri membaca dan menyebarkan tulisan ku. Itung-itung promosi walaupun bahasanya masih sembarangan, tapi yang penting karyanya. Sedang asik mengobrol, datang Johan ke ruang BEM dengan membawa sebungkus plastik cimol. “Sepi banget, mana yang lain?” tanya Johan. “Ya namanya juga ujian bang.” jawab Putri. “Halah, ujian itu dibawa santai, jangan tegang, jangan baru belajar dekat ujian.” “Persis banget dua orang ini.” ujar Rara. “Omongan sama, modelnya sama, cuma bentuk bodi aja yang beda, bang Jo model gemuknya, kalau kamu Rama, model kecilnya, hahaha.” “Ada satu lagi yang beda.” ujar Johan. “Apa tuh?” tanya Putri dan Rara bersamaan. “Percintaannya gak hoki, haha.” Johan menepuk-nepuk pundakku sambil tertawa. “Kalo itu sih keliatan bang, habis putus sama yang di Kalimantan dulu itu, galaunya di kelas minta ampun dah.” tambah Rara sambil menahan tawanya. “Eh kamu ada chat Dewi gak?” tanya Johan berbisik. “Ada sih bang, baru tadi malam pas pulang dari Bandung itu, tapi gak di balas nih sampe sekarang.” “Pantesan, selama di Bandung kemarin kamu gak ada chat dia?” “Gak ada, bang, emang kenapa?” Johan mengangguk kemudian mengeluarkan handphonenya menunjukkan isi chat nya dengan Dewi beberapa hari lalu. “Oooo, gitu ya? Kenapa dia chat abang? Kenapa gak langsung chat aku aja?” tanya ku setelah membaca chat Dewi dengan Johan. “Hmm, pasti lagi ngomongin Dewi ni ya?” tanya Putri, aku hanya mengangguk. “Kemarin, malam minggu, aku ngajak Sania jalan, terus Sania ngajak Dewi ternyata dia datang sama cowok lain, temen SMA nya di Kalbar, katanya.” “Yah, pupus lagi dong mim?” ujar Rara. “Yah mau gimana lagi.” balas Johan. “Gila, cepat banget ya? Kalo aku kan cuma ngajak jalan dia nih, lah dianya diajak jalan beberapa cowok, murah banget ternyata.” ujarku dengan nada sedikit kesal. “Yaudahlah ya gak papa, mungkin karena ada cowok baru itu chat mu udah gak dibalas lagi. Katanya juga sih kamu sibuk dengan organisasi, jarang ngasih kabar, sama katanya terlalu royal, gitu gitu lah, alasan klise.” “Aduh repot ya kalo para lelaki berdua ini udah ngomongin cewek.” ujar Rara mendengar obrolan ku dengan Johan. “Lagian cewek kayak gitu tinggal aja Ram, gak usah dipikir, cari yang lain aja. Aku juga kaget dia datang sama cowok lain, malas aku jadinya kalo temen ku malah dimainin kayak dia Ram. Alasannya banyak, bilang aja ada cowok lain.” “Udah lah Ram, lagian kalau aku dan Rara perhatiin semenjak kita ospek si Dewi itu juga memang kayak gitu, gatel.” ujar Putri. “Tapi Rama kan memang suka model-model kaya Dewi dan Luna, tapi balik lagi Ram cinta itu bisa kalah sama orang lama atau kalah sama yang selalu ada, dan dia lebih milih teman lamanya.” tambah Rara. “Aku sih biasa aja, kalau udah nyaman baru di pacarin, gak mungkin juga ku pacarin baru kenal seminggu dua minggu gitu, Ra, bukannya hubungan langgeng palingan sebulan dua bulan juga putus ntar. Kalo gak serius mending menjauh aja, gitu kan?” “Lah, nyinggung aku nih, aku sama Sania cuma kenal dua minggu terus pacaran.” ujar Johan sambil mengunyah cimol di mulutnya. “Nah, hati-hati tu bang, kata Rama cepat putusnya.” “Hahahaha.” seketika kami tertawa mendengar kalimat yang diucap Rara. Memang sangat sedikit yang akan mengira hubungan Johan dan Sania putus ditengah jalan. Banyak yang berpandangan mereka pasangan yang cocok. Mungkin karena kejadian di hari terakhir ospek, Johan mendapat predikat sebagai Kakak tingkat terganteng dan Sania mendapat predikat mahasiswi tercantik. “Udah deh, malas coba-coba dekat perempuan untuk sekarang, mungkin nanti lagi aja.” ujarku. Ternyata benar kata orang, kalau belum siap untuk move on jangan mencoba untuk mencari hati yang baru. Pilihannya hanya ada dua, kita yang meninggalkan hati dan membuatnya terluka, atau pilihan kedua kita yang ditinggalkan oleh hati karena dia merasa masih ada orang lain dalam hati kita. Lebih baik aku berkegiatan yang lain dulu sampai bayangan Luna benar-benar hilang atau mungkin kembali pulang. Menyibukan diri dengan kegiatan organisasi, menulis pemikiran, dan travelling dengan teman-teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN