Bandung,
Liburan merupakan bagian dari kehidupan. Dalam kesehatan pun sangat dianjurkan untuk berlibur meskipun liburan dirumah sekedar melakukan refreshing jiwa dan fisik dengan cara membaca buku favorit, menonton film bersama keluarga atau teman, memasak, atau yang lainnya.
Kalau sudah penat dengan rutinitas sehari-hari orang tuaku biasanya mengajak pergi untuk berlibur. Meskipun mereka selalu bergantian, karena sepertinya sulit untuk liburan bersama lagi. Tapi aku masih berharap ke Tuhan agar semuanya kembali baik-baik aja, seperti keluarga normal lainnya.
Sebelum jalan-jalan, Aku, Lana, dan ibu menyempatkan sarapan di restoran hotel. Jadwal bookingan travel jam 8 pagi. Tapi dari jam 7 pagi pihak travelnya sudah standby di parkiran hotel, terpaksa kami meminta waktu sarapan lebih pagi dengan pihak hotel.
Sambil sarapan suasan hening. Kami masing-masing fokus menghabiskan makanan. Aku merasakan kalau Lana sedikit kaku dengan keadaan ini. Tapi dia mengerti kalau di keluarga jarang ada obrolan.
“Gimana kerjaannya, tan?” tanya Lana membuka obrolan dengan sedikit tertahan, mungkin takut.
“Lancar-lancar aja.” jawab ibuku dan suasana kembali hening.
“Kita hari ini kemana, tan?” tanya Lana lagi.
“Terserah aja kalian mau kemana. Tante kan cuma pingin liburan menjauh dari rutinitas aja.”
“Kita ke Museum Asia-Afrika sama Kawah Putih ya mah.” ujar ku.
“Bebas aja, terserah kalian mau kemana.” jawab ibuku, “Ohiya apa kabar Luna?”
Aku melihat Lana hanya tertunduk tidak berani menjawab.
“Ada aja.” jawabku singkat.
Ibu hanya mengangguk kepalanya dan Lana sesekali menoleh ke arah ku.
“Sibuk apa kalian selain ngampus?”
“Rama sudah sering kegiatan organisasi, tante. Kalau aku cuma ikut futsal sama beberapa lomba di bursa efek kemarin.”
“Ohya? Bagus tuh, bursa efek Jakarta?”
“Iya tante, di Jakarta.”
Selesai sarapan, karena sejak keluar kamar kami sudah dengan persiapan jalan jadi tidak perlu ke kamar lagi langsung ke mobil yang sudah menunggu di parkiran sejak tadi pagi.
Supirnya menyambut kami dan membuka pintu mobil mempersilahkan kami pagi. Sebelum berangkat bapak supir menoleh ke belakang dan memperkenalkan diri.
“Sebelumnya bu, mas, perkenalkan saya Teten dan akan menemani perjalanan ibu dan mas-mas keliling Bandung selama 2 hari kedepan. Tempat wisatanya sesuai permintaan ya bu dengan pihak travelnya kemarin?”
“Tuh, kalian mau kemana?” tanya ibuku ke kami berdua di kursi belakang.
“Jadwal pertamanya kemana, pak?” tanyaku.
“Tempat pertama itu ke….” pak Teten melihat catatan tujuan wisata yang diberikan pihak travel sesuai pesanan ibuku kemarin. “Tujuan pertamanya Museum Asia-Afrika, mas.”
“Oh, okeh, gak papa pak kesitu aja dulu.” jawabku.
“Oke, sesuai permintaan pertama kita ke museum asia afrika ya bu, kita berangkat sekarang.”
Selama diperjalanan menuju museum Asia-Afrika aku dan Lana asik mengobrol masalah perkuliahan, sejarah, percintaan, dan sesekali tentang agama. Bagiku setiap perjalanan dalam hidup tidak boleh diisi dengan hal-hal pembahasan yang tidak membuat diri kita perkembang jadi lebih baik. Aku paling tertarik dengan pembahasan agama dan sejarah.
“Oh ya, kemarin ada acara dirumah, kok mamah gak liat Luna ya?” tanya ibuku.
Lana tersenyum kecil sambil buang muka melihat ke luar jendela, aku masih malas membahas Luna untuk beberapa waktu ini.
“E.. itu mah, mungkin lagi ada janji sama temennya, jadi gak ikut.”
“Tapi Luna ada bilang ke kamu kalau ada acara di rumah?”
“Rama dah putus sama Luna, tante!” ujar Lana menimpali sebelum aku menjawab dengan alasan lainnya.
Ibu ku menaikan kaca mata hitamnya ke kepala dan menoleh ke belakang arah kami berdua dengan alis yang berkerut.
“PUTUS?!” tanya ibuku dengan nada sedikit menyentak.
“Iya mah, kami dah putus beberapa minggu kemarin.”
Ibu ku membalikan kembali posisi duduknya.
“Yaudah, cari yang lain, kemarin mamah nya masih ngobrolin kamu sama Luna sih soalnya, kirain kalian baik-baik aja.”
“Gak deh ma, nanti aja, masih enak sendiri.”
“Halah, pingin sendiri. Persis kaya papah mu itu, tau-tau ada perempuan lain di kantornya.” balas ibu dengan nada sinis dan jengkel.
Aku malas menjawab kalau ibuku sudah membahas hubungannya dengan ayah. Lana yang mengerti tentang keluarga kami hanya terdiam mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Aku belum mau cerita soal aku dekat dengan Dewi di Yogya. Lagi pula memang hatinya belum pergi dari Luna, jadi masih bingung juga sama yang namanya Dewi ini. Diajak serius atau sekedar kenal?
Sampai di kawasan Museum Asia-Afrika ternyata museumnya belum buka. Tertulis untuk hari sabtu dan minggu bukanya jam 9 pagi. Karena ibu tidak mau nunggu 1 jam lebih jadi kami langsung berangkat menuju wisata Kawah Putih Ciwidey.
Perjalanan menuju wisata Kawah Putih Ciwidey ini ternyata lumayan jauh. Perlu waktu kurang lebih 2 jam dari tengah kota, kawasan Museum Konferensi Asia-Afrika untuk sampai di Kawah Putih Ciwidey. Kalau tidak macet bisa lebih cepat.
Karena tidak membawa snack untuk cemilan, kami merasa mual saat melewati jalan menanjak dan berkelok menuju Kawah Putih Ciwidey. Untungnya di dekat parkiran banyak tempat makan dan restoran. Jadi kami istirahat sebentar untuk mengisi perut. Karena untuk sampai di kawahnya perlu naik lagi menggunakan ontang-anting, angkutan khusus yang disediakan pemerintah setempat.
Kalau saat perjalanan merasa perut tidak nyaman atau nafsu makan berkurang, itu biasa. Bisa karena perbedaan jenis makanan di daerah yang dikunjungi atau kondisi tubuh kurang fit akibat perjalanan atau bahasa kerennya jet lag.
Aku biasanya memesan nasi goreng atau mie rebus, karena dua menu itu paling aman untuk perut. Khawatirnya di paksa mencoba makanan baru atau khas daerah yang belum pernah kita rasakan, malah jadinya sakit. Apalagi di area wisata, kecuali di tempat khusus seperti di Kudus ada tempat makan khusus menyediakan menu Garang Asam, atau di Lombok ada restoran khusus menjual Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung tapi untuk yang tidak biasa makan bumbu kacang dan pedas sepertinya juga akan mengalami masalah dengan pencernaan. Jadi pentingnya menjaga dan adaptasi tubuh termasuk makanan dan minuman.
Selesai istirahat, kami bertiga langsung menuju tempat jemputan mobil ontang-anting. Mobil ontang-anting ini modelnya mobil angkot yang tempat duduknya di desain berbeda dan tanpa penutup kanan-kiri penumpangnya. Di tempat tunggu mobil kami diberi masker satu per satu oleh petugas.
Karena sudah jam 10 jadi dihimbau hanya boleh berada di lokasi tidak lebih dari 10-15 menit. Belerangnya mulai keluar jadi bahaya kalau ada yang keracunan dan sebagainya.
Rasa aneh aja, perjalanannya hampir 2 jam, tiket masuknya sih memang tidak terlalu mahal tapi hanya menikmati pemandangan hanya 15 menit? Tapi apa boleh buat, dari pada keracunan dan demi tulisan di blog, dengan tetap berharap segera ada pihak yang memberikan sponsornya.
Saat baru turun dari mobil ontang-anting, aroma belerang sudah tercium dari parkiran. Sangat menyengat aroma belerangnya menyebar. Terdengar dari gerbang masuk kawah pengunjung hanya boleh berada di lokasi sekitar 7-10 menit saja.
Kami segera masuk ke area lokasi kawah. Seketika kami disuguhi pemandangan yang indah. Air danau berwarna kehijauan, tebing dan tanah berwarna putih kekuning-kuningan, dan di beberapa titik ada semburan gas belerang dari dasar danau. Ada beberapa pepohonan hanya tersisa rantingnya tanpa daun.
Tidak banyak orang yang berada di kawah, mungkin karena tidak kuat dengan bau belerangnya. Sudah menggunakan masker tapi tetap tercium.
Menurut kisah yang pernah k*****a, Kawah Putih ini terbentuk akibat letusan Gunung Patuha abad ke 10. Lokasinya cukup instagramable dan tempat ini juga pernah menjadi salah satu lokasi shooting film Heart yang dimainkan Irwansyah dan Acha. Kalau masih pada ingat.
Kawah putih ini juga sering digunakan untuk foto prewedding. Tidak bisa terbayang harus sepagi apa take fotonya, karena kalau sedikit siang belerangnya akan semakin banyak. Semakin singkat waktu untuk take foto atau shooting film.
Dari kejauhan terdengar peluit penjaga gerbang memberi tanda untuk keluar dari lokasi karena waktu sudah lebih dari 10 menit. Terasa sedikit pusing setelah keluar dari kawah. Kasihan orang yang datang setelah kami, pasti hanya sebentar menikmati kawahnya.
Setelah dari Kawah Putih Ciwidey, ibu mengajak ke J-walk. Ujung-ujungnya belanja.
Aku dan Lana tidak ikut masuk keliling J-walk, kami duduk di rooftop mencari jajanan cireng dan baso aci.
Masih tercium bau belerang yang menempel di pakaian. Jadinya kami mencari tempat duduk yang agak pojokan. Tidak enak rasanya kalau sampai orang makan mencium bau belerang
"Gagal nih mau tebar pesona." ujar Lana sambil mengunyah baso aci di mulutnya, aku cuma pesan cireng, kurang suka baso aci, terasa aneh di mulut.
"Kenapa?"
"Bau belerang gini, mana ada cewek yang mau. Hahaha."
"Besok lah besok, siapa tau di Tangkuban Perahu dapat kenalan satu tuh. Haha."
"Eh kamu sama Dewi gimana? Masih lanjut chat an?"
"Dari kita berangkat gak ada ku kabarin sih."
“Yah, ilang lagi tu pasti.”
“Gak tau, ntar aja deh. Kalo lagi jalan-jalan gini males ngehubungin siapa-siapa.”
Ibu menghampiri kami dengan berbagai barang belanjaannya. Kami segera kembali ke hotel. Badan sudah capek. Bukannya capek jalan-jalan di tempat wisata, tapi capek duduk di dalam mobil.
Esok paginya kami melanjutkan perjalanan menuju wisata Tangkuban Perahu dan sekaligus ke Farmhouse. Kalau Kawah Putih di arah selatan Bandung, Tangkuban Perahu di arah utara Bandung. Dua hari kerjaan cuma lihatin kawah.
Aku meminta ke pak Teten singgah di supermarket terdekat untuk membeli cemilan. Kata pak Teten jarak tempuhnya kurang lebih kayak kemarin. Dua hari cuma capek dijalan.
“Ram, ada Luna like atau komen di postingan kamu semalam gak? Yang foto di Kawah Putih?” tanya Lana pelan.
“Gak ada. Kenapa?”
“Gak papa sih, ini ada komennya nih.” Lana melihat kan komen Luna di postingan instagramnya. “Cuma keren titik, gitu aja sih.” ujar Lana.
“Ya mungkin dia gak enak kalau komen di foto ku, mungkin.”
Sampai di parkiran mobil, kami harus melanjutkan naik ke kawasan Tangkuban Perahu menggunakan transportasi yang disediakan persis semacam di Kawah Putih. Pemerintahnya pintar sih, buka lapangan kerja untuk orang sekitar. Sebenarnya bisa aja mobil atau bus naik sampai ke atas, tapi nanti masyarakat sekitar tidak ada kerjaan.
Kami diangkut sampai di ujung jalan dekat kawah Tangkuban Perahu. Tidak ada yang istimewa, hanya suhunya yang rendah dan angin pegunungan yang kencang. Aku, Lana, dan ibuku hanya duduk melihat alam sekitar sambil menikmati ronde dan sate bakar. Ronde dan sate bakarnya pun harus segera dimakan dan dihabiskan. Kalau tidak, malah dingin, rasanya tidak enak lagi.
Setelah mengambil beberapa foto, aku membeli ikat kepala khas Jawa Barat, lumayan buat oleh-oleh diri sendiri dan cover website, daripada tidak sama sekali.
Sudah bosan dengan pemandangan yang terbatas, kembali turun ke parkiran mobil travel dan melanjutkan perjalanan ke Farmhouse. Di Farmhouse ini banyak kebun bunga dan bisa berfoto menggunakan pakaian bergaya tempo dulu. Kalau ini ibuku suka dan kami berdua pastinya diajak juga untuk berfoto.
Farmhouse isinya selain beberapa kebun bunga, juga dipenuhi miniatur-miniatur rumah bergaya tempo dulu. Kenapa ya pada suka bikin tempat wisata bergaya belanda atau jaman kolonial? Kenapa tidak bikin rumah-rumah adat Indonesia aja?
Beberapa shop juga berjualan merchandise dan s**u atau coklat, ada juga kandang domba. Bagi yang suka posting foto di i********: pastinya suka, karena lokasinya instagramable banget.
Selesai dari Farmhouse, kami langsung ke penginapan. Tiket kereta ku dan Lana terjadwal malam ini. Jadi ibu tinggal sendirian besok subuh baru ke Jakarta dan terbang balik ke Kalimantan. Aku meminta pak Teten sekalian mengantar kami ke stasiun kereta.
Di sudut-sudut stasiun banyak tertulis kalimat-kalimat indah yang menggambarkan tentang Bandung. Aku dan Lana tertahan pada kalimat “Bandung tercipta saat Tuhan sedang tersenyum”.
“Okelah kalo Bandung tercipta saat Tuhan sedang tersenyum. Tapi Yogya gak kalah juga.” celetuk ku sambil duduk menunggu kereta.
“Apa tuh?” tanya Lana sambil menikmati kebab di kursi tunggu kereta.
“Kalau Bandung tercipta saat Tuhan tersenyum, Yogya tercipta saat Tuhan jatuh cinta.”
“Hahaha. Pantes aja kata orang setiap sudut Yogya itu..”
“ROMANTIS! Hahaha.” ucap kami bersamaan.
Meskipun liburannya penuh dengan rasa capek di jalanan, tapi tidak masalah. Pengalamannya yang harus dirasakan. Kapan lagi bisa main ke Kawah Putih sama Tangkuban Perahu kalau tidak sekarang. Mungkin di waktu akan datang wisata Kawah Putih dan Tangkuban Perahu berubah bentuk karena aktivitas alam. Atau juga sudah tidak menjadi tempat wisata lagi karena dilupakan.
Banyak orang yang sebenarnya mampu tapi akhirnya tertunda atau tidak pernah liburan bersama keluarga, teman, atau pasangan karena alasan masih ngumpulin uang lah, masih banyak kegiatan lah, masih sibuk inilah, masih sibuk itu lah.
Memang benar, pengakuan dan apresiasi orang terhadap kinerja kita sangat diperlukan. Tapi, banyak orang yang lupa kalau menghargai diri sendiri pun lebih penting dari yang lainnya. Sisakan lah 1 hari dalam 1 minggu untuk mengurus diri kita sendiri, memanjakan jiwa kita dengan refreshing bisa berlibur, istirahat di kursi malas sambil menonton tv, membaca buku favorit, makan bersama keluarga, sahabat, teman, atau pasangan.
Aku hanya tidak ingin nanti di hari tua ketika sudah tua, aku akan mengatakan “Kenapa aku dulu nggak pernah kesana ya?”, “Dulu waktu masih muda kenapa aku nggak pergi keliling Indonesia ya?”, atau sewaktu lihat foto postingan teman-teman “Kayaknya seru ya diving di laut atau muncak ke gunung, kaya teman-teman dulu”.