Selepas jogging pagi, aku duduk santai di kursi teras bawah rumah mengistirahatkan diri. Teras itu persis di depan kamar kosong di lantai bawah. Di rumah yang ku tempati saat ini, ada 5 kamar tidur, 4 kamar tidur di atas dan terisi semua, sisanya 1 kamar di lantai bawah yang masih kosong. Kamarnya berukuran besar, paling besar dibanding kamar di lantai kedua, tapi karena sendirian di bawah jadinya nggak ada yang berani.
Aku mengambil handphone dari saku celana melihat jadwal kuliah, ternyata hari ini tidak ada jam kuliah. Sejenak terpikir ingin mengajak Dewi jalan pagi atau siang ini, karena malamnya aku ada janji dengan teman-teman BEM.
Sambil menikmati roti dan sebotol s**u coklat dingin yang ku beli sepulang jogging pagi, aku coba menghubungi Dewi. Kalau belum bangun keterlaluan sih.
“Dewi? Ada kuliah hari ini?”
“Ada Ram, pagi ini aja sih, kelas terakhir sebelum ujian minggu depan, kenapa Ram?”
“Oh gitu, aku mau keluar, mau ikut?”
“Keluar kemana?”
“Aku libur hari ini, niatnya sih mau ke JCM aja. Jadi kepikiran ngajak kamu, kalau mau.”
“Aku selesai kelasnya jam 9.45, gak papa nungguin dulu?”
“Gak papa, kan mall bukanya jam 10 an juga, pas tuh ke JCM kan 20 menitan.”
“Oke deh, ketemu nanti yah, bye.”
Aku naik ke atas, mereka semua masih tidur. Kami semua di kontrakan ini satu kelas, jadi kalau libur kuliah pada bangun siang.
Aku mengambil handuk dan turun ke bawah untuk mandi, karena semua kamar mandi ada di lantai bawah.
Saat sedang mandi, terdengar suara orang menggedor beberapa kali pintu kamar mandi. Aku menyiramkan air ke badan, agar terdengar suara air tumpahan tandanya ada orang di dalam, karena tidak boleh berbicara selama di kamar mandi kan? Tapi tetap aja suara ketukan itu terdengar lagi dan berkali-kali.
“Masih mandi, bentar lagi selesai.” teriak ku akhirnya dari dalam kamar mandi.
Sampai aku selesai mandi suara ketukan itu sudah tidak terdengar lagi. Aku keluar melihat sekeliling lantai bawah tidak ada orang. Palingan juga sudah pakai kamar mandi di dekat dapur. Lagian, ada kamar mandi dua, masih aja gangguin yang lagi ada orangnya.
Di kamar setelah aku berpakaian, aku duduk di meja belajar dan menghidupkan laptop. Aku menghidupkan musik Dewa dari spotify di laptop kemudian melihat-lihat foto saat liburan ke Bali. Niatnya ingin membuat tulisan di blog tentang jalan-jalan ke Bali.
Saat sedang menulis blog Agus membuka kamar. Seperti biasa, dia selalu inspeksi anggota rumah setelah bangun tidur dan menanyakan jika ada yang tidak dilihatnya.
“Eh, kamu ni gimana sih, masa gak denger kalau ada yang lagi mandi di kamar mandi?” tanya ku ke Agus, karena di kamar mandi dekat garasi hanya digunakan aku, Agus, dan Rahmat. Sedangkan, kamar mandi dekat daput digunakan oleh Gilang, Madia (boy), dan Abiq.
“Hah? Apaan?” setelah menjawab Agus langsung menutup pintu dengan gaya bodo amatnya.
Aku mendatangi Rahmat di kamarnya. Dia masih tidur. Mungkin tadi dia dari kamar mandi terus tidur lagi. Aku cuma ingin beritahu, kalau jangan gangguin orang yang lagi ada di kamar mandi.
Tidak lama kemudian Andi bangun dan yang lain pun bangun. Rahmat masuk ke dalam kamar ku ingin mengisi baterai handphonenya, karena di kamarnya tidak ada rol kabel atau terminal listrik.
Saat sedang menulis, aku menanyakan perihal kejadian tadi pagi ke Rahmat.
“Mat, kamu tadi buang air kan?”
“Iya.”
“Kalau ada orang di dalam kamar mandi, tunggu lah dulu, masa digedor, gak konsen, gak baik juga.”
“Gedor apanya?” tanya Rahmat dengan nada datar sambil melihat-lihat handphonenya.
“Ya gedor pintu kamar mandi bawah, aku lagi mandi malah digedor.”
“Kapan kamu mandi?”
“Tadi pagi, jam 6 an.”
“Aku loh Ram baru turun ini buang air. Ini jam setengah 8 ni malahan. Agus paling tuh.”
“Aku tadi nanya Agus, bukan dia juga.”
Rahmat diam dan aku pun diam.
“Ada yang gangguin kali. Hahaha.” sahut Andi sambil tertawa.
“Ram, kayaknya iya deh.” ucap Rahmat dengan nada yang serius sambil menunjukkan sesuatu dari handphonenya. “Nih, ini nih semuanya di handphoneku hasil fotonya blur dan coba liat jamnya, jam 6 pagi kemarin.”
“Terus? Kepencet paling.” tanyaku sambil menulis.
“Handphone ku itu pake kunci Ram, dan ku taruh di atas meja samping kasur tidur ku, terus ini fotonya gak semua keatas, ada yang fotoin lantai juga kayak handphonenya kebalik gitu. Paginya ku ambil handphone itu masih ada di atas meja.”
Seketika aku terdiam tidak menanggapi penjelasan Rahmat. Beberapa bulu terasa berdiri merinding.
Aku pindah ke kontrakan ini karena di kost aku sendirian dan di kontrakan Lana banyak kejadian yang aneh. Kenapa malah ada lagi kejadian aneh di rumah yang kami tempati saat ini?
Aku tidak melanjutkan obrolan dengan Rahmat dan memilih untuk tidak memikirkannya lagi. Andi masih berbaring dan Rahmat kembali ke kamarnya setelah baterai handphonenya terisi.
Hampir jam 10, Dewi memberi kabar kalau dia menungguku di kost nya.
Aku bersiap mengenakan baju kaos dan jaket biru dongker serta celana jeans hitam. Entah kenapa ada sedikit perasaan gugup, padahal sebelumnya belum pernah aku merasakan rasa gugup ketika ingin menjemput perempuan yang baru ku kenal untuk diajak jalan. Sepertinya karena masih ada rasa bersalah jika membonceng perempuan jalan selain Luna. Ah, sudahlah mau gimana lagi? Mungkin sudah waktunya untuk move on. Luna aja sudah punya pacar baru.
Sampai di depan kost Dewi, tidak lama Dewi pun keluar. Dia berjalan menuju kendaraan yang ku parkir. Penampilannya sederhana tapi terlihat menarik dengan atasan kemeja biru dongker, celana putih, tentunya mengenakan jilbab juga. Sepertinya hanya kebetulan jika warna bajunya dan jaketku sama-sama biru dongker.
“Mau kemana kita?”,tanya Dewi sambil memasang helm dan naik ke belakang.
“Ke JCM aja, udah makan? Laper gak?”
“Belum sih, kan tadi masuknya pagi, jadi belum sempat cari sarapan.”
“Okeh, kita berangkat yah, pegangan loh.” kata ku sambil tertawa kecil.
Selama diperjalanan kami banyak bercerita layaknya orang baru pertama kenal. Apalagi kalau bukan seputaran kampus, teman-teman dekat seperti Sania, hobi, dan lainnya. Ya wajar, kan di chat cuma “say hello” aja, jadi perlu pendekatan lebih.
Sampai di JCM, aku mengajak Dewi makan di Food Court lantai paling atas. Seperti biasa, makanan di mall mah melepas gengsi aja. Rasanya kalau diberi nilai dari 1 sampai 100, mungkin 5 atau 7 lah. Orang-orang Indonesia yang hobinya makan di mall aku menilai hidupnya kurang komplit. Mereka tidak pernah merasakan nikmatnya makanan di kaki lima atau emperan jalan.
Aku hanya memesan mie aceh dan Dewi memesan iga bakar.
“Kamu sering ke sini?” tanya Dewi.
“Lumayan, kan di sini ada Planet Surf (PS) nya, di Amplaz gak ada.”
“Oh suka ke sana juga ya? Aku biasanya kalo nge-mall yang deket aja kayak Amplaz atau Lippo sih.”
“Di PS bagus motifnya. Oya, aku tanya nih, kamu tau kenapa namanya Amplaz?”
Dewi menggeleng sambil mengunyah iga bakar di mulutnya.
“Ambarukmo nya diambil dari nama lokasi yang sekarang jadi bagian dari Hotel Ambarukmo. Dulunya tempat istirahat para istrinya sultan. Sama kaya Ambarbinangun yang di Bantul.”
“Ooo, gitu ya." jawab Dewi tidak semangat. "Kamu suka sejarah gitu ya Ram?”
“Suka, suka banget malah. Aku yakin sejarah itu bakal mengulang dirinya sendiri dalam bentuk yang sedikit berbeda tiap zaman. Jadi, kalau muncul tanda-tanda satu jaman, aku bisa ngerti kejadian ini pernah ada di jaman dulunya.”
“Hmm, gitu ya.”
“Yok, udah selesai? Mau liat-liat sekalian belanja dulu atau mau nonton?”
"Hm? Kita mau nonton?"
"Ya terserah aja, gak mau juga gak papa, mau kemana?"
"Cari barang mu dulu aja Ram, ntar kita ke Jolie aja ya, aku mau beli barang di sana aja."
"Okeh."
Aku mengajak Dewi masuk ke Planet Surf. Ku kira orangnya bodo amat dan tinggal duduk diam, ternyata beberapa pakaian ditawarkannya untuk ku coba.
"Ram, udah dapet pilihan? Coba deh ini, bagus kayaknya."
"Okey, ku coba yah. Tunggu bentar."
Pilihannya menarik dan bagus. Selera fashion Dewi ternyata menarik juga. Beberapa perempuan yang pernah kutemui kalau diajak bahas gaya penampilan, sebagian besar kurang mengerti nama brand dan lebih penampilan seadanya.
Setelah berbelanja pakaian, kami keliling muter-muter di mall. Karena tidak ada lagi yang dibeli dan Dewi tidak mau diajak nonton, jadi kami kembali ke parkiran menuju Jolie. Kalau perempuan-perempuan yang tinggal lama di Yogya harusnya tahu Jolie itu apa dan dimana.
Sampai di Jolie, gantian aku menjadi pemilih barang untuk Dewi. Aku sebenarnya tidak suka dan tidak pernah juga diminta perempuan untuk memilih barang yang ingin mereka beli. Tapi itung-itung sekali-kali nggak apa-apa, namanya juga lagi PDKT.
Dewi meminta ku memilihkannya topi untuk jalan sekalian untuk foto studio. Aku mengambil topi model baret berwarna merah marun. Karena kulitnya putih dan warna merah cocok dengan warna kulit putih, menurutku.
"Ni, coba yang ini, bagus gak ya?" ujarku memberi topi yang ku ambil.
"Oke deh, yuk ke kasir." Dewi menarik tanganku.
"Hah? Coba dulu, gak dicoba?"
"Udah gak usah, aku percaya kok."
Aku berfikir perempuan ini beda dari yang lain. Semakin penasaran aku dengan Dewi. Kayaknya niat untuk main-main bisa berubah jadi serius.
Setelah selesai berbelanja, aku mengantar Dewi pulang dan sebelum pamit aku memberitahukan kalau nanti malam aku hubungi lewat chat.
Mungkin terdengar aneh, tapi aku selalu melakukan itu ke setiap perempuan yang sedang dekat dengan ku atau pun yang sudah jadi pacar. Menurutku walaupun itu simpel atau bahkan sepele tapi pasti ada kesan tersendiri dengan perempuannya.
Sampai di rumah ku lihat Andi masih rebahan main handphone di kamar. Gila memang orang ini, bisa tahan tidak mandi padahal hampir sore.
Aku kadang heran dengan orang-orang yang terbiasa sarapan sebelum membersihkan dirinya. Apa tidak risih ya? Mahasiswa kesehatan untuk hal sederhana aja masih tidak patuh, gimana mau beri penyuluhan ke masyarakat?
Lulusan kesehatan masyarakat sangat berbeda dengan tenaga medis lainnya seperti dokter, apoteker, bidan, dan perawat. Kesehatan masyarakat memiliki paradigma sehat dalam diri pribadinya. Pandangan yang mengharuskan setiap insan makhluk hidup-manusia, selalu dalam kondisi sehat baik jasmani, rohani, sosial, dan ekonomi. Kalau orang-orang menanyakan lulus kesehatan masyarakat bisanya apa? Ya bisanya bikin masyarakat tidak sakit, jangan sampai minum obat, harus berperilaku hidup bersih dan sehat, dan sebagainya.
Aku duduk di meja belajar, karena sedang tidak ada bahan untuk tulisan di blog, jadinya aku baca buku novel yang baru ku beli. Dari kemarin dibeli tapi belum dibaca sama sekali. Targetku setiap bulan harus menghabiskan membaca 1-2 buku.
“Udah makan Ram?” tanya Andi.
“Udah tadi.”
“Eh, kamu jalan sama Dewi ya?”
“Iya, kenapa?”
“Gila, cepat banget.”
“Sudah jalan sama Dewi aja Rama?!?” teriak Agus dari kamarnya mendengar obrolan ku dengan Andi.
“Orang nya seru aja sih, Ndi, tapi gak tau lah nanti kedepannya ni.” lanjutku sambil membaca buku.
“Dah yuk, cari makan dulu.” ujar Agus yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.
“Gak lah, aku dah makan, sama Andi atau Rahmat, atau boy tuh.”
“Boy ni ansos orangnya, sibuk dengan dunia sendiri.” sahut Andi.
“Biarin aja, kan asalkan gak ganggu orang. Kalau ansos dan nyinyirin orang itu baru rese namanya.” balasku.
Dewi memang menarik dan aku ingin mengenalnya lebih jauh. Masalahnya, perasaan suka dan kesepian itu beda tipis. Sama-sama butuh orang untuk dikasihi, bedanya cuma di waktu. Kalau suka dengan seseorang perasaannya bisa bertahan lama, tapi kalau kesepian perasaannya sebentar terus pergi.
Saat membaca novel lembar demi lembar, tiba-tiba aku menerima chat dari ibuku.
“Rama, hari jumat besok ikut ke Bandung ya, ajak temannya satu atau dua orang kalau ada yang mau. Cari tiket kereta atau pesawat dari Yogya aja. Mamah langsung dari sini.”