Episode 9 Mencoba buka hati lagi?

1057 Kata
Aku duduk di balkon kamar Rahmat sambil menikmati segelas coklat hangat dan alunan musik dari band Padi yang berjudul Semua Tak Sama. Band Padi merupakan salah satu band terbaik Indonesia yang lagunya masih enak di dengarkan jaman kekinian. Sebenarnya ada juga Dewa, Sheila On 7, D’masiv, Kerispatih, dan beberapa band lainnya. Menurutku, lagu-lagu yang baru booming kekinian kurang memiliki "jiwa", kisahnya juga lebih ke cinta-cintaan anak SMA dan kebanyakan hanya bertahan beberapa minggu atau beberapa bulan di tangga musik Indonesia. Aku mengintip dari celah kamar Agus. Agus setiap malam telponan dengan pacarnya. Gilang selalu sibuk main game, tapi kalau baru dapat kenalan perempuan jadinya juga sama kayak Agus, telponan sampai larut malam. Begitu juga boy, malam selepas isya, kamarnya menjadi area akses terbatas, entah tidur atau telponan dengan ibunya di Papua. Hanya aku dan Rahmat yang hampir setiap malam selepas makan malam bersantai di kamar masing-masing atau di balkon kamarnya Rahmat. Sedangkan Abiq pun sering keluar malam untuk mengerjakan tugas kelompok. Rumah akan sedikit ramai jika Andi dan Noval datang berkunjung sebentar atau mengajak ngopi di luar. “Sepi banget, kamu ngapain Mat?” aku mengintip isi layar handphone Rahmat. “oh, Humairoh ya?” “Biasa, chat bebeb dulu, haha, anjir aku jijik sendiri.” “Mat, Dewi gimana Mat?” “Apanya gimana nih? Haha” Rahmat merupakan salah satu teman yang ku kenal kalau diminta pandangan tentang perempuan fokusnya pasti lebih ke arah pembahasan tubuh dan sensual. “Ya orangnya, gimana?” “Kamu mau deketin Dewi? Bukannya dia deket sama Farid ya? Kating kita tu.” “Iya sih, tapi gimana kalau coba ku chat? Respon gak ya?” “Ya coba aja. Tapi kayaknya pasti di respon sih, gaya gaya cewek kaya Dewi itu kan welcome ke semua orang, tergantung benefitnya apa, kayaknya sih.” jelas Rahmat dengan gaya kalimat analisisnya. “Friend with benefit gitu ya? Tapi menarik juga ni cewek.” “Ya aku gak tau juga sih, cuma gelagatnya mirip cewek-cewek yang kayak gitu.” Tanpa tunggu lama lagi, segera ku chat Dewi. “Dewi?” Tidak lama, aku mendapat balasan dari Dewi. “Iya Rama, ada apa?” “Kemarin ada Sania minta tolong ambilkan foto di kamu ya?” “Oh, Sania ada bilang gitu ya? Udah kok Ram, udah di ambil Sania, kamu lama sih, hehe.” “Maksudnya lama?” “Iya, fotonya udah di ambil Sania.” “Aku gak tau kost mu soalnya, jadi gak ke ambil deh fotonya.” “Owalah, kost ku dekat aja dari kampus Ram, di dekat Xt Square sini.” “Oh, yaudah deh, kapan-kapan kalau ada yang diambil lagi ntar kan udah tau kostnya.” “Hehehe, emang ngambil apaan lagi Rama? Kan fotonya udah tu diambil sama Sania.” “Apa aja, ngambil Dewi nya kali.” “Wkwkwk, bisa bisa, Rama bisa becanda ya orangnya.” “Emang aku serius terus ya?” “Yang ku tau sih gitu Ram dari temen-temen.” “Berarti itu serius juga.” Chat kami pun terputus, hanya ada keterangan “dibaca” dari chat terakhir ku ke Dewi. Anaknya menarik juga, tidak sombong, dan santai, benar kata Rahmat, anaknya welcome sama orang baru kenal. “Boleh juga kayaknya Mat.” aku menunjukkan isi chat ku dan Dewi ke Rahmat. “Buat seriusan atau main-main nih? Kalau buat main-main sih boleh lah, kalau buat serius jangan mematok ekspektasi tinggi di awal, belum kenal sama orangnya.” “Iya juga sih, tapi kasihan perempuan kalo bahan jadi mainan perasaan, coba besok tes ombaknya lagi ya.” Tapi dalam hati tetap masih ada rasa mengganjal untuk mendekati perempuan lain. Aku membuka galeri foto di handphone yang masih penuh foto ku saat bersama Luna. Aku berniat tidak menghapus semua foto sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Meskipun aku sudah punya pacar nantinya atau bahkan istri, sepertinya. Sama seperti buku album dari Nur pun akan tetap ku bawa kemana pun. Bagiku, foto kenangan bersama orang terkasih dulunya dapat membantu menjaga ku dalam kesepian dan rasa sunyi. Karena keluarga tidak juga memiliki banyak waktu untuk menjadi tempat berbagi cerita atau sekedar berbicara tentang cita-cita. “Ram, dimana?” chat dari Reza. “Di kontrakan, kenapa?” “Susul aku di Alkid, aku sendirian kayak anak hilang aja nih.” Aku melihat dari balkon, ada motor baru parkir di halaman rumah, itu Andi. Pas banget, aku ajak Andi aja. “Ku ajak Andi ya, temen kampus.” “Oke boleh, cepat! Tempat orang jualan tempura.” Belum sempat Andi menaiki tangga ke lantai atas, aku menahannya dan mengajaknya menyusul Reza di Alun-alun Kidul. Senang rasanya jika berkeliling Yogya malam hari. Menikmati udara dingin malam yang berhembus lembut sepanjang jalan Kusumanegara. Memperhatikan orang berjualan pecel lele, sate, cafe, dan mahasiswa yang menikmati sepiring nasi telur di burjo. Bahkan, aku pun sering keliling melewati jembatan legendaris Jembatan Sayidan, melewati Malioboro, dan mencari macet di Alun-alun kidul, kemudian pulang. Hanya untuk proses penenangan diri. Sesampainya kami di Alkid dan bertemu dengan Reza, yang pertama ditanya Reza sudah pasti tentang aku putus dengan Luna. Aku sudah mulai malas menceritakan Luna ke orang-orang, meskipun sebenarnya aku belum bisa move on sepenuhnya. Tapi rasa jengkel yang membuat ku malas membahasnya sementara waktu. Akhirnya kami hanya mengobrol seputar dunia perkuliahan, cerita masa lalu yang lucu, dan sesekali membahas perempuan, aku juga cerita baru menghubungi Dewi tadi di kontrakan. “Serius?” tanya Andi. "Kamu chat sama Dewi?" “Iya, oke sih orangnya, asik kok.” “Mana coba aku liat orangnya Ram.” Reza memintaku menunjukkan foto Dewi. Aku menunjukkan foto profil Line Dewi ke Reza, karena akun i********: ku masih tertaut dengan handphonenya Luna. Mungkin besok atau malam ini aku buat aku baru aja, yang sekarang harus segea dihapus. “Gak cantik, tapi manis, gak bosenin kalo diliat lama kayaknya.” ujar Reza yang mulai mengeluarkan ilmu menerawangnya. “Aku juga lagi deketin anak UII, teman Mila.” “Sama-sama FK?” “Iya, cantiknya orangnya.” “Ya iyalah, namanya juga mahasiswa UII.” timpal Andi. “Apalagi hukum nya, beh, yang di Tamsis.” Meskipun Andi baru kenal dengan aku dan Reza di awal kuliah, tapi dia mudah beradaptasi, jadi tidak kaku kalau di ajak nongkrong. Aku berniat mengajak Dewi jalan besok. Hitung-hitung buat perkenalan. Kalaupun ajakanku ditolak, itu tidak jadi masalah, selagi belum berhubungan di chat lebih jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN