Sudah seminggu setelah Luna menyatakan putus hubungan dengan ku melalui chat. Aku banyak menghabiskan waktu di basecamp BEM sepulang kuliah. Aku terpilih menjadi kepala departemen seni, budaya, dan olahraga di BEM. Kebetulan juga kegiatan tambahanku saat ini selain kuliah aku sering mengunjungi tempat-tempat seni dan budaya walaupun masih seputaran Yogya dan aku juga merupakan anggota tim futsal di fakultas. Jadi bidang itu bidang yang cocok untukku.
Kadang aku berfikir, apa ini rencana Tuhan? Mengalihkan perhatianku dari Luna dan urusan percintaan dan mulai mencari kegiatan lainnya seperti gabung organisasi di kampus.
Untungnya teman-teman BEM lumayan bisa membantu menghibur untuk beberapa waktu. Aku dan teman-teman kontrakan sering kumpul makan, bermain musik, dan mulai ikut diskusi-diskusi seputar politik, ekonomi lingkup kampus maupun negara. Aku mulai mengenal kata-kata baru, mulai baca-baca buku yang berkaitan dengan politik dan ekonomi. Padahal koleksi rak buku isinya novel semua.
Awalnya aku berfikir untuk apa ngobrolin politik, ekonomi, sosial negara apalagi kampus. Mungkin karena aku terbiasa di lingkungan keluarga yang bekerja di pemerintahan, jadi aneh kalau aku malah ikut kritik, meskipun beda daerah tapi sepertinya sama aja.
Bagiku menjadi bagian dari oligarki itu menyenangkan, dan setelah aku analisis bahwa oligarki itu memang selalu ada. Kita butuh orang kepercayaan seperti keluarga dan teman dekat yang menjadi pilihan utama dalam hal apapun di kehidupan. Mungkin orang-orang yang menolak oligarki karena mereka belum pernah merasakan nikmatnya menjadi bagian dari oligarki.
Organisasi juga mengajarkan banyaknya perbedaan pendapat antar individu. Tapi meskipun berbeda pendapat dalam berbagai hal, aku tetap menikmatinya. Tidak sedikit perempuan-perempuan yang berpendapat diluar nalarku selama ini. Dulu ku pikir perempuan yang menarik adalah perempuan yang cantik, gaul punya banyak teman dan berpenampilan kekinian. Tapi ternyata perempuan cantik menurutku memiliki kriteria tambahan lainnya seperti perempuan yang memiliki pemikiran luas terlihat lebih menarik. Perempuan yang tidak anti dengan buku dengan berbagai jenis genre buku. Semakin banyak diskusi membuat logika semakin berjalan.
Johan menghampiriku saat aku sedang asik menulis blog di teras basecamp. Blog bagiku merupakan teman dikala sedih dan sunyi menghampiri. Tidak selalu menulis, kadang aku hanya membaca kisah perjalananku sendiri. Sekedar mengingat tempat-tempat indah di Indonesia.
Setelah gabung di organisasi pun tulisanku semakin beragam, tidak hanya tentang perjalanan, tapi juga tentang pemikiran. Menurutku menyatakan pemikiran melalui blog seru karena tidak semua orang ingin mendengar cerita, pendapat, dan khayalan kita kan?
“Ram, lagi ngapain?” tanya Johan.
“Gak ada bang, nulis blog aja. Kenapa bang? Ngajak main ps?”
“Gak dulu deh, ntar malam aku mau jalan sama temen mu itu.”
“Sania? Udah jadian ya denger ceritanya dari temen-temen tadi.” balasku sambil tetap fokus menulis, sesekali tersenyum.
“Waduh? Udah kesebar aja ya? Padahal baru 3 hari kemarin aku nembaknya.”
“Ya cepat lah bang, hahaha.” ujarku sambil tertawa, dalam hati berkata biasa aja.
“Kamu punya pacar ya Ram?”
Mendengar pertanyaan itu, aku berhenti mengetik dan meneguk sebotol coklat milo dingin.
“Gak ada bang, kenapa nih? Tumben nanya gitu bang.”
“Kamu deketin Dewi gih.” ujar bang Johan sambil menyandarkan badannya di tembok.
Aku menghela nafas panjang. “Abang disuruh Sania ya?”
“Gak kok. Dewi ketemu aku kemarin di depan ruang dosen, ngobrol-ngobrol, eh, di ujungnya dia nanyain kamu.”
Aku mengambil kembali laptop.
“Yah, kan cuma nanya bang, mungkin ada perlu lain.”
“Ya entahlah Ram, coba aja dulu, cantik juga kan anaknya? Gak malu-maluin juga kalo diajak jalan. Udah deh, aku cabut dulu ya, besok kalau main ps ku kabarin deh.”
“Oke bang hati-hati.”
Selesai menulis di blog, aku mengajak Andi ke toko buku. Sudah lama nggak cari novel di Gramedia, sekalian cari buku berkaitan dengan organisasi di Soping.
Dari kecil, aku punya cita-cita menjadi seorang penulis buku. Dulu, setiap kali ayah pulang dari perjalanan dinasnya, ayah dan ibu selalu membawakan ku buku-buku untuk dibaca. Ada cerita bergambar, buku tentang tata surya, dan sejarah. Makannya aku sedikit banyak mengerti tentang tata surya dan perkembangannya sampai saat ini, juga kisah-kisah sejarah dunia seperti Marco polo dari Italia, Alexander The Great dari Makedonia, Darius dari Persia, Cleopatra dari Mesir, dan banyak lainnya. Tapi sepertinya sekarang akan sulit mengulang memori indah itu.
Untuk kisah-kisah di Indonesia aku banyak dapat cerita dari ibu. Karena ibu kan suka baca buku sejarah Indonesia dan legenda di masyarakat sebelum tidur. Maka dari itu setiap kami pergi berlibur, selain mengunjungi tempat wisata alam tapi juga kami ke tempat-tempat yang ada kisah dan nilai sejarahnya, setelah itu ku tulis di blog.
Di tempat ku, di Pangkalan Bun sangat sulit mencari buku, karena sangat minim toko buku. Kecuali di kota terdekat seperti Sampit atau Palangkaraya. Alasannya sederhana, karena hampir sebagian besar masyarakat Pangkalan Bun sering pulang pergi liburan atau urusan bisnis ke luar pulau, sehingga penyedia kebutuhan primer seperti pakaian, alas kaki dan lainnya tidak dari Pangkalan Bun. Apalagi kebutuhan sekunder dan tersier. Sebulan bisa 2-3 kali pulang pergi Kalimantan-Jawa, jadi mobilisasi informasi dan gaya hidup cepat mengikuti trend yang sedang booming.
Saat sedang melihat-lihat novel yang ingin dibeli, terdengar suara pesan masuk di saku celana ku. Aku melihat pesan dari Reza. Mungkin ingin mengajak jalan, ku masukan kembali handphone ke dalam saku celana.
“Udah?” tanya Andi.
“Udah sih, ini aja.” aku menunjukkan novel yang ku pilih ke Andi. Novel Percy Jackson.
“Tumben gak ambil sherlock holmes lagi.”
Aku memang senang dengan novel Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Seorang ahli kimia kalau tidak salah yang berawal dari kekaguman terhadap dosennya mencampur-campur zat kimia selama dia pendidikan. Atas observasinya itu mengantarkannya menjadi seorang penulis cerpen detektif di koran harian Inggris dulunya. Saat ini cerpen-cerpennya itu menjadi sebuah buku. Kalau ada yang pernah baca novel Sherlock Holmes atau menonton filmnya, kasus-kasus yang dipecahkan tidak pernah lepas dari benda-benda zat kimia dan temannya seorang dokter yang memahami segala macam jenis ramuan obat, dan obat itu zat kimia juga.
“Gak lah, ini juga seru kayaknya, mitologi yunani diubah jadi bentuk novel. Pearcy ini kan kalau di mitologi Yunani dia anaknya Dewa Poseidon. Cari cerita baru aja. Kamu ambil apa?”
“Aku ini aja.” Andi menunjukkan buku Catatan Seorang Demonstran karangan Soe Hok Gie. Kalau anak-anak pergerakan mahasiswa pastinya familiar dengan si penulis Soe Hok Gie. “Jadi ke Soping?”
“Boleh, paling cari satu buku lagi aja disana.”
“Tapi cari makan dulu lah ya, laper kayaknya ni.”
Selesai membayar di kasir kami langsung singgah di tempat makan sop ayam Pak Min Klaten. Salah satu andalan aku dan Andi kalau sudah kelaparan. Sambil menunggu pesanan siap, aku mengambil handphone teringat pesan dari Reza tadi.
“Ram, kamu udah putus dengan Luna?”
Aku bingung Reza tahu dari siapa? Aku aja baru cerita ke Andi dan Noval. Tapi dibawah chatnya ada foto yang belum ku download.
Setelah ku download itu foto screenshot Instagramnya berisi gambar postingan Luna dengan seorang laki-laki mengenakan pakaian sekolah pramuka sedang berdiri bersebelahan dengan latar sekolah. Reza memberi lingkaran di captionnya yang bertulis “sayang deh”. Pacar barunya mantan? Gila, secepat itu?
Saking bingungnya apa yang harus ku balas ke Reza, aku memberi lihat ke Andi foto kiriman Reza itu. Andi terdiam sejenak memperhatikan detail gambarnya.
“Hahaha. Haduuhhh. Cewek cantik kayak Luna ternyata bisa kurang ajar juga ya, hahaha.”
Aku segera membalas chat Reza.
“Iya Za.”, sepertinya itu cukup tanpa penjelasan panjang Reza harusnya sudah paham apa alasan kami putus, dan aku sekarang mengerti kenapa Luna minta putus.
Secepat itu dapat pacar baru? Sepertinya tidak mungkin jika tidak dari jauh hari mereka sudah melakukan pendekatan. Aku mengenal Luna. Luna tidak bisa menerima kata cinta dari orang lain kalau belum kenal dalam waktu yang lama.
“Berarti itu tu alasannya putus. Emang bener berarti, dia gak kuat LDR. Namanya juga kan anak SMA, butuh pacar, butuh teman main.”
Aku menggeleng kepala dan masih melihat foto kiriman Reza.
“Gila ya, udah lama kenal, pacaran setaun lebih, tapi masih bisa patah karena jarak dan motivasi hubungan yang berbeda. Aku maunya serius, tapi Luna nya masih di lingkungan pertemanan SMA yang butuhnya hanya sebatas pacar, belum ke arah yang lebih jauh.”
“Udah, kayaknya Dewi boleh lah tuh, dah gas aja.”
“Gak jadi deh ke Soping, jadi males, dah dapat 1 buku ini aja.”
“Hahaha, oke lah. Eh, aku numpang istirahat di tempat kalian ya.”
Sambil makan terlintas di kepala ku kalau aku harus menghubungi Dewi setelah pulang nanti. Tapi, masih ragu. Aku deketin Dewi cuma untuk balas dendam dan berujung main-main atau memang serius jalanin hubungan?