Episode 7 Belum Bisa Move On

1694 Kata
Hujan turun sangat deras sejak siang. Sudah jam 7 malam dan aku masih nyaman untuk tetap tinggal di kasur. Sudah dua hari aku tidak aktifkan handphone. Lagi pula siapa juga yang menghubungi? Orang tua juga jarang menghubungi, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Selalu aku yang menelpon lebih dulu, itupun jika butuh bantuan pemenuhan kehidupan, selebihnya tidak ada. Semenjak kejadian malam Luna memutuskan hubungan denganku, aku merasa hilang semangat. Mulai malas berangkat kuliah. Pinginnya menenangkan diri beberapa waktu kedepan. Aku mengambil handphone di meja belajar. Beberapa pesan masuk dari teman-teman dan grup. Ku buka galeri handphone, melihat-lihat fotoku bersama Luna. Rasa tidak percaya kalau Luna sampai hati menyatakan putus hubungan. Hanya karena LDR? Kenapa yang lain bisa dan kami tidak bisa? Di sebelah laptop ada buku album foto dari Nur. Ku buka halaman demi halaman. Mulai muncul juga ingatan-ingatan sewaktu SMA. Dua tahun PDKT tapi akhirnya aku dan Nur pun tidak jadi pacaran. Wajar aja kalau sampai sekarang Nur masih tidak mau menerima pesan dari ku. Aku buka Line, paling atas ada chat dari Sania. Tumben? “Ram, boleh minta tolong?” chat Sania dari sejak kemarin malam. Tumben. Semenjak kejadian SMA dulu Sania tidak pernah menghubungi ku lagi. Kalau ketemu pun hanya mengobrol sebentar dan bahas hal-hal penting aja. “Sori, San, dari kemarin aku gak megang handphone. Kenapa, San?” Tidak lama langsung ku terima balasan dari Sania. Kayaknya penting banget, padahal chatnya sudah kemarin. Biasanya orang sudah nggak peduli kalau balasnya lama bahkan berhari-hari. “Aku minta tolong dong Ram.” “Iya, tolong apaan? Kalo aku bisa bantu ku bantu.” “Aku, Dewi, dan teman-teman lain kemarin foto studio. Terus aku mau minta cetakan fotonya di Dewi.” “Terus? Aku nolongin apa nih?” “Nah aku gak tau kenapa, Dewi bilang harus Rama yang ambil foto di dia, kalo gak Dewi gak mau ngasih cetakan foto ke aku, gitu Ram.” “Hah? Apaan? Aku gak ngerti, ada nama ku segala?” “Iya, tolong dong Ram ambilin aja foto di Dewi, kamu chat Dewi.” “Aku? Chat Dewi? Gak ada badai gak ada hujan tiba-tiba nge chat kan aneh.” “Ya bilang aja kamu mau ambil cetakan foto punya Sania gitu, mau gak? Tolong dong.” “Ntaran deh, aku lagi gak mood San. Apalagi chat cewek yang gak dikenal.” Chat kami terputus. Terdengar suara pintu kamarku terbuka, itu Noval. “Sudah bangun kamu Ram?” tanya Noval. “Iya nih, rasanya capek banget badan ku.” “Kemarin di Kaliurang sampe jam berapa?” “Sampe jam 6 an lah kayaknya, balik tengah malam malah dingin, jadinya nyantai aja sampe pagi di Pocinan.” “Mau ikut ngopi lagi gak? Kopi Walik di Altar.” “Ujannya dah reda belum ya?” “Udah lah, ni kan aku kering kok dari rumah ke sini. Ajak Andi juga tuh sekalian. Lama gak ngopi.” “Boleh, aku cuci muka dulu bentar.” aku menghubungi Andi dan segera bersiap. Udara malam sangat dingin. Jalanan pun tidak seramai biasanya. Mungkin pada malas keluar habis hujan setengah harian. Sampai di Kopi Walik, aku dan Noval duduk di selasar luar cafe. Suasana di Alun-alun utara malam ini begitu sepi. “Val, aku coklat hangat aja ya. Udaranya dingin banget, enak yang anget-anget” ujarku sambil sesekali meniup telapak tangan dan menutup daun telinga. “Oke.” Aku melihat sekeliling ada beberapa becak sedang parkir. Di dalamnya pengemudi becak tidur diselimuti kain yang mungkin selalu mereka sediakan dibawah kursinya. “Kamu pernah naik becak, Val?” “Aku? Disini belum pernah sih, kan daerah jalan Godean sana jarang ada becak.” “Kayaknya seru juga ya sesekali kita berlagak jadi turis gitu, keliling Altar ke Alkid naik becak.” “Eh, kita ni memang turis lah, hahaha.” Aku kembali memperhatikan becak-becak yang terparkir di tepi jalan depan Kopi Walik. “Kenapa pengemudi becak rata-rata orang yang sudah tua banget ya?” tanyaku. “Iyaya? Aku baru merhatiin juga, kemana anak-anak mereka ya? Kalau kami di Papua orang tua disuruh bawa becak, jangan kan bawa becak, masih disuruh kerja berat aja terus anak-anaknya nyantai dirumah, udah di tempeleng pake bambu itu.” “Coba perhatiin, padahal ini kan lokasi parkirnya gak jauh dari Kraton, tempat tinggalnya pemimpin Yogya. Tapi masih ada gambaran masyarakat yang kaya gitu ya, tidur di emperan tadi tu kita lihat sepanjang jalan, ini bapak-bapak yang sudah usia rentan penyakit gini tidur di becak kedinginan, mungkin sehari cuma makan sekali atau bahkan belum sama sekali.” “Makannya itu, tanpa harus melihat data dari pemerintah aja ketimpang ekonomi masyarakat kita bisa di lihat langsung.” “Atau ni ya, anaknya juga kerja, tapi mungkin gak nutup ekonomi mereka di rumah, jadi bapak-bapak itu tetap cari kerja, ya nge-becak ini, mungkin sih ya.” “Mungkin, tapi harusnya jangan lah ya. Nah, tu Andi. Ndi!” Andi datang dengan gayanya rambut acak-acakan berjalan mendatangi kami di selasar café. “Dingin banget, jalanan sepi pula, makin dingin jadinya.” kata Andi sambil meniup kedua tangannya. “Emangnya kalau jalanan rame bisa jadi hangat?” tanya Noval. “Ini nih kalau dulu belajar fisika gak tuntas. Yaiyalah hangat, kan ada karbon asap kendaraan sama gerakan kendaraan itu gesekan udaranya bikin hangat.” jawab Andi yang masih meniupi tangannya saking dinginnya. “Logika fisikanya boleh juga nih.” balasku. “Ya makannya cari yang hangat-hangat nih.” ujar Noval. “Yang lain mana? Nyusul?” “Biasalah, Agus kalo malam gini kan telponan dengan pacarnya di Solo, Rahmat mager, kalo boy telponan dengan ibunya jadwal tiap malam.” jelasku. Pesanan datang, kami mengobrol mulai dari masalah perkuliahan hingga organisasi di kampus. Noval orangnya paling vokal diantara mahasiswa angkatan kami di kampus, saat nongkrong pun jadinya tetap paling banyak bicara. Telihat pengamen jalanan sesekali menghibur pengunjung cafe, ada juga yang request lagu untuk dinyanyikan bersama temannya atau untuk kekasih para pengunjung Kopi Walik. Kami request lagu Yogyakarta dari Kla dan Sayidan dari Shaggydog agar lebih terasa suasana sedang berada di Yogya. Kalau pulang ke Kalimantan aku sering mendengar cerita menarik dari orang-orang tentang pengalaman mereka ketika berkunjung ke Yogya. Bahkan, uniknya orang yang belum pernah ke Yogya sekalipun dapat bercerita tentang keindahan Yogya. Padahal banyak kota lain di Indonesia yang sebenarnya punya kebudayaan menarik dan wisata alam yang lebih indah. Tapi memang, sepertinya Yogya adalah kota yang tenang, damai, berbudaya, dan cerita yang ada di dalamnya sehingga membuat Yogya bagaikan rumah untuk siapapun. Aku mengambil handphone dari saku celana. Luna lagi apa ya? Ingin rasanya hati menanyakan kabar Luna malam ini. Tapi ku urungkan niat untuk menghubunginya. Aku tahu Luna, kalau dia baru putus pasti ada teman-teman yang menghiburnya. Aku melihat-lihat kontak di Line, aku berhenti pada kontak Dewi dan memerhatikan foto profilnya beberapa detik. “Nah, Rama mulai nakal ni.” kata Noval melihat ku memperhatikan foto profil Dewi. “Ingat Ram, kamu ada pacar di Kalimantan.” “Emang kenapa?” tanya Andi lalu memajukan badannya melihat tampilan handphone ku. “Waduh, Dewi ya? Hahaha.” “Ndi, hormon dopamin mu tinggi ya? Kamu itu ku lihat-lihat dari awal kuliah paling sering ketawa dibanding kita-kita yang sering di kontrakan. Haha…” ujar Noval meledek Andi. Andi orangnya memang humoris dan bersahabat. “Aku dah putus dengan Luna.” ujarku ke Noval dan Andi. “Hah? Putus? Kenapa? Kapan?” tanya Andi berentet. Aku memasukan kembali handphone ke saku celana. “Ya putus aja, ada kan beberapa malam kemarin ku ajak kalian ke Kaliurang? Nah itu aku baru dapat chat putus dari Luna, gak kuat LDR katanya.” “Hahaha” Noval tertawa sambil menepuk pundakku. “Sabar Ram, itu biasa. Luna kan masih anak SMA dan kamu udah kuliah mungkin lebih dewasa, anak SMA ya butuhnya yang dekat.” jelas Noval. “Iya juga sih, kadang cewek SMA kan masih butuh orang yang bisa bantu ngerjain pr nya, nemenin jalan kalau lagi bete atau capek pulang sekolah, ya dunia SMA gitu-gitu lah.” ujar Andi menambahkan. “Yah, mungkin gitu ya, aku gak tau juga. Kalo ada cewek yang minta putus, aku gak pernah nanyain alasannya, karena buat ku sebelum cewek itu bilang putus pasti ceweknya sudah mikirin kenapa harus putus, bukan cuma iseng, kalo pun ku coba pertahanin pasti ada aja rasa beda di ceweknya.” “Sayang banget tapi ya, udah ke Punthuk Setumbu cuma buat surprise ulang tahun sama anniv kalian ya? Hampir tiap bulan beliin boneka, gelang, kalung, tapi putus.” jelas Andi mengingat-ingat hal yang pernah ku berikan untuk Luna. “Hahaha, Rama… Rama.. Apa gak bisa pacaran biasa-biasa aja?” tanya Noval. "Gak usah terlalu royal gitu lah." “Aku kayak gitu karena aku mikirnya hubungan kami gak cuma untuk pacaran, tapi lebih dari itu.” “Yah, kamu ajak serius? Luna itu anak SMA Ram. Mungkin dia belum mikir kayak yang kamu pikirkan. Mungkin Luna mikirnya untuk pacar aja. Ya ada sih yang pacaran dari SMA sampe nikah juga ada.” lanjut Noval. “Udah deh, lagi males bahas Luna.” “Terus? Sekarang mau Dewi? Gas aja, kan Sania ya kemarin sudah ngasih kode waktu kita pulang dari acara BEM itu.” ujar Andi. “Ada pacarnya gak ya? Kan gak enak kalo ada pacarnya. Sania barusan nyuruh chat aja sih. Tapi gila juga, aku baru juga putus dengan Luna langsung deketin cewek lain, apa kata Luna kalau dia tau ntar, gak lah.” “Coba aja dulu Ram, minimal jadi teman, kamu kan udah dikenal satu angkatan, bahkan sampe kating-kating kita juga kenal sam kamu, mudah berteman, tampilan okelah ya hahaha, mau lah Dewi tu.” “Udah deh, balik dulu aja dah malam, makin dingin.” “Aku nginap kamar mu ya Ram, malas pulang, dingin.”, ujar Andi. “Val, aku ikut Andi aja deh, kamu balik aja biar gak kejauan, jalan Godean kan tinggal lurus aja itu.” Sepanjang malam di kamar aku kepikiran kenapa aku harus menghubungi Dewi? Apa alasan Sania itu benar? Atau cuma pancingan aja? Atau memang harus secepat itu untuk move on? Tapi sepertinya aku masih ragu membuka hati untuk yang lain. Aku belum bisa menghilangkan bayang-bayang Luna, belum bisa move on.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN