Episode 6 Putus Cinta Itu Lebih Berat Dari Pada Rindu

1132 Kata
Akhirnya aku pindah ke kontrakan baru. Kamarku di lantai dua dan cukup besar untuk semua barangku. Rumah yang nyaman, dapur juga luas di lantai bawah, dan paling penting ramai. Kontrakan Lana dan yang lainnya juga bubar. Mereka memilih kost masing-masing, ada juga yang tinggal di asrama daerah. Sudah hampir dua minggu aku di kontrakan baru dan ini bulan ketigaku di kuliah di Yogya. Andi juga mulai sering menginap di kontrakan kami. Ada juga Noval sesekali menginap jika sudah terlalu larut malam, karena rumah tantenya jauh di daerah Godean. Sebenarnya masih ada satu kamar kosong di lantai bawah dan cukup untuk mereka berdua tidur sementara waktu. Tapi mungkin mereka lebih nyaman tinggal di rumah keluarga. Jadwalku pun mulai padat. Selain kuliah, aku juga mulai kembali memperbanyak review tempat-tempat wisata dan kuliner di Yogya dan setelah itu mengirimkan reviewnya ke pihak-pihak yang memberi sponsor travelling. Jalan-jalan gratis kan lumayan. Tapi sejauh ini belum ada pihak yang memberikan sponsornya, tapi aku percaya orang yang yakin dengan mimpinya pasti Tuhan selalu memberi jalan. Aku memang hobi jalan-jalan travelling ke berbagai tempat wisata yang jarang di kunjungi orang lain. Tujuan ku pertama yaitu mengenalkan Indonesia ke orang-orang Indonesia sendiri. Karena jaman sekarang banyak anak muda yang pengetahuan tentang budaya, tempat wisata, dan makanan tradisional Indonesianya rendah. Mereka lebih banyak tahu tentang budaya Korea, Jepang, Amerika. Bahkan sampai konsumsi makanan dan gaya tampilannya pun meniru budaya luar. Miris. Aku juga mulai ikut program kaderisasi BEM fakultas. Untuk orang yang dulunya anti dengan organisasi, setelah mengikuti langsung kegiatan organisasi di kampus ternyata seru juga. Atau mungkin memang organisasi di sekolah dengan di kampus berbeda? Tapi yang pasti aku punya banyak kenalan baru. Teman-teman kontrakan juga ikut gabung di BEM. Awalnya dulu mereka ragu-ragu ikut gabung, sekarang malah mereka lebih aktif dari aku. Seperti Agus sudah menjadi ketua kegiatan Aksi Hari HIV di Tugu Yogya, Andi yang sudah jadi andalan BEM setiap agenda untuk menjadi koordinator media dan dokumentasi, Rahmat sudah punya banyak relasi bahkan relasi antar universitas. Sedangkan aku masih harus banyak melihat dan belajar, karena terlalu asik dengan website travelling. Aku sangat terobsesi dengan pekerjaan itu. Tapi kasihan dengan Madia (boy), dia nggak bisa ikut kaderisasi BEM karena gugur di tahap wawancara pertama. Malam ini ada kegiatan terakhir dari proses kaderisasi BEM fakultas. Kami-kader BEM, diminta dari pengurus BEM untuk membuat acara sederhana penutupan kaderisasi yang melibatkan seluruh mahasiswa FKM. Kami membuat acara yaitu acara Rangking 1. Pesertanya lumayan ramai. Ada sekitar 100 mahasiswa yang ikut. Meskipun rasionya tidak sebanding dengan jumlah seluruh mahasiswa FKM, tapi untuk acara kader baru, dan secara pribadi untuk ku yang baru mengenal organisasi acara ini sudah luar biasa. Sepanjang hari aku belum menghubungi Luna. Aku berfikir akan mengabari Luna sepulang dari kegiatan malam ini. Aku hanya ingin memberitahu kalau akhir tahun ini aku pulang, karena ada libur dua minggu sebelum ujian akhir semester. Sekalian aku mau menanyakan apakah kiriman gelang dan kalung yang ku pesan dari Clarisia sudah sampai. Kurang lebih jam 9 malam acara kami selesai dan bersamaan dengan itu tuntas lah tugas kami sebagai kader BEM FKM. Tinggal tunggu pengumuman lolos atau tidak menjadi anggota dan pembagian posisi struktural di BEM. Saat sedang jalan menuruni tangga bersama teman-teman kontrakan untuk pulang, Sania mendekati ku dan berbisik kecil. “Rama, ada yang nyari.” “Siapa?”                                                                                             “Itu.” Sania menunjuk ke salah satu perempuan yang sedang berjalan di depan kami. Itu Dewi. “Dewi?” tanya Andi. “Iya, udah ya, bye.” Sania langsung turun cepat menyusul Johan yang sudah menunggunya di parkiran. Aku tidak terlalu memperdulikan omongan Sania tadi, karena pikiran ku ingin segera pulang dan memberi pesan ke Luna. Luna juga tumben nggak memberi kabar sebelum berangkat sekolah. Mungkin kesiangan bangunnya, sehingga tidak sempat buka handphone. Sampai di kontrakan, setelah membersihkan badan, aku menghidupkan tv dan mengambil handphone. Sepanjang jalan pulang dari kampus seperti terasa ada beberapa getaran pesan masuk di handphone ku. Ku lihat, benar aja pesan itu dari Luna. Aku mikirnya pas banget aku mau ngasih tahu aku bakal pulang minggu depan. Baru aja aku buka Line dan ku klik chat dari Luna. “Kak? Lagi sibuk nggak? Adek mau bilang sesuatu. Maaf ya kak, adek mau minta kita udahan aja ya kak, bukannya adek gak sayang sama kakak, adek sayang banget sama kakak, kakak tu beda dari yang lain, kakak gak gatel kayak cowok-cowok lain selama kita pacaran, kakak juga sering ngasih surprise ke adek, dan sekarang adek baru nerima hadiah kalung dan gelang dari kakak. Tapi adek harus jujur kak, adek gak kuat LDR lama kayak gini kak. Maafin adek ya kak, adek janji kalau kakak nanti pulang, kita tetap harus meet up ya kak. Maaf kak, adek memang salah.” Aku tidak tahu apa yang ku rasakan setelah membaca pesan itu. Tapi spontan aku menarik nafas, mencoba menenangkan diri, kemudian membalasnya dengan tetap tenang. “Iya dek, gak papa, kalau memang itu pilihan adek, kakak bisa terima. Terima kasih yah, sudah bisa kenal dan jadi salah satu orang yang adek percaya selama setahun lebih kita pacaran. Kakak gak papa, disimpan yah kalung sama gelangnya, kalau mau di pake juga gak papa. Udah malem, adek besok sekolah kan? Tidur aja gih dulu, biar tenang yah. Night.” “Maafin adek kak, adek gak tahu kenapa kita sampai kayak gini, padahal awalnya manis dan baik-baik aja. Maaf kak, maaf.” Perasaanku seketika campur aduk. Awalnya merasa senang, seketika berubah 360 derajat menjadi hati yang mati tanpa rasa. Cinta yang selama ini aku berusaha dan berjuang menjaganya dan ku pikir akan dapat perlakuan yang sama di sisi lainnya, ternyata tidak berbalas. Cinta yang selama ini dalam pikiran adalah cinta sebenarnya cinta, ternyata kembali menjadi fana, hilang dalam sekedipan mata. Rasa cinta seperti mimpi yang lenyap ketika terbangun. Rasa ingin pulang menjadi hambar. Seakan harapan kebahagiaan yang ada di kepalaku beberapa jam yang lalu ingin ku hapus dan tidak pernah ku bayangkan walau sedetik. Aku mematikan tv, kembali menarik nafas panjang dan mendatangi Andi yang sedang duduk di balkon kamar Rahmat. “Ndi, sibuk gak?” “Gak, kenapa?” “Ke Kaliurang yuk.” “Malam-malam gini?” “Iya, yuk. Mat, ikut gak?” “Boleh, ku ajak Abiq dulu bentar.” Ternyata kata-kata patah hati itu bukan sekedar kata-kata. Jika dirasakan benar-benar, hati memang terasa seperti patah, seperti ingin jatuh. Aku masih tidak bisa mengerti kenapa kalimat putus itu bisa terucap dari Luna? Padahal kemarin dan sebelum-sebelumnya Luna bertingkah seperti biasanya di chat maupun telepon. Romantis dan manis. Aku seketika terpikirkan, apakah semua orang di dunia ini pernah menerima kejadian yang sama? Dan rasa patah hati yang sama? Apakah jalan kehidupan seseorang harus melalui fase-fase menyedihkan seperti yang ku rasa? Tidak adakah cara untuk melewatinya agar tidak jatuh pada lubang kesedihan? Ternyata merasakan patah hati itu lebih berat dari pada rasa rindu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN