“Ram, gimana? jadi ikut kami gak?” tanya Agus sebelum masuk kuliah pagi.
“Yaelah, Gus, gak ada pertanyaan lain apa nih? Tanya kapan main futsal kek? Tanya tugas kek? Apa kek?”
“Yeh, ngapain aku nanya gituan. Rumah dulu tu gimana? Aku capek pulang pergi depok kampus, boy juga tu kasian pulang pergi Prambanan-Yogya.”
“Iya, aku jadi deh, dah ku telepon orang tua ku kemarin. Iuran tahunannya berapa?”
“Ya 5 jutaan.”
“5 juta? Terus kost mu gimana Ram?” tanya Andi.
“Tinggal aja udah. Gak enak juga aku disana sendirian. Aku ikut ngontrak mereka aja.”
“Oke ya? Deal ya? Rencananya hari minggu besok kami mau pindahan masuk tu rumah. Kamu terserah aja kapan, kan dekat juga.”
“Ya hari yang sama aja, aku kamar yang gede itu ya, yang udah ku pilih.”
Barangku lumayan banyak untuk ukuran mahasiswa baru, ada lemari baju, meja belajar, rak-rak buku, 2 kasur, jadi perlu kamar yang lumayan besar.
Saat kami ingin masuk ke kelas, lewatlah mahasiswi dengan tampilan berbeda dengan mahasiswi lainnya. Pakaiannya berwarna serba biru gelap dan memiliki aura yang dapat memikat setiap laki-laki yang melihatnya. Namanya Dewi.
"Memang beda Dewi ini." celetuk Agus sambil memegang pinggangnya.
"Ah, gak, biasa aja. Cuma lebih keliatan ceria sama frendly aja."
"Awas loh, ntar suka." tambah Ian yang duduk di samping ku.
Di kelas, saat aku sedang asik mendengarkan penjelasan materi vektor penyakit dari dosen, tiba-tiba ada pemberitahuan pesan chat masuk di handphone ku. Aku melihat handphone, pesan dari Luna. Tumben? Bukannya jam segini sudah di sekolah ya? Ku buka isi pesannya,
“Kak, aku mau vc dong bentar, kangen.”
Aku minta izin ke dosen untuk ke kamar kecil. Di luar kelas suasana sangat sepi. Aku jalan ke pojokan dan menelpon Luna.
“Hallo? Sayang, kenapa? Kok gak masuk?” tanya ku dengan nada pelan takut suaranya masuk ke kelas-kelas.
Terlihat dari video Luna sedang rebahan di tempat tidurnya.
“Adek sakit, gak masuk sekolah hari ini. Demamnya tinggi banget.”
“Demam? Sudah periksa ke puskesmas dek?”
“Gak kak, kata mamah di kompres aja sama minum obat di rumah. Adek kangen nih makannya sakit gini, pingin peluk.” ucapnya manja sambil sedikit tersenyum.
“Hmm,.. pingin peluk terus nih, lagi sakit tuh, gimana? Haha.”
“Kapan sih pulangnya? Biar kita jalan-jalan lagi.”
“Ya bentar dek, nanti kalau libur pasti kakak pulang kok yah.”
“Ini dimana? Di kampus? Kok gak kuliah?”
“Kuliah sih, tapi pacarku minta telepon, ya gak papa izin keluar bentar.”
Luna tertawa kecil, “Apaan sih, jadi malu kan. Yaudah, kakak kuliah aja dulu, adek mau istirahat. Dah sayang.”
“‘Bye, love you.”
Setelah telepon dari Luna mati, keluar juga Rahmat dari kelas. Aku menghampiri Rahmat yang duduk di kursi depan kelas.
“Ngapain?” tanyaku.
“Lah, kamu ngapain?”
“Teleponan.”
“Sama pacarmu itu ya? Yang di Kalimantan itu? Ya ampun Ram, bucin banget sih sampe izin keluar kelas buat telponan aja. Gak bisa nanti?”
Aku hanya tersenyum.
“Mau gimana lagi?”
“Tapi aku juga pernah sih kayak gitu, makanya sampai sekarang aku gak pernah deketin cewek lain.”
“Kenapa tuh?”
“Ya ada hati yang dijaga disana, Ram. Nih, orangnya.” Rahmat mengambil foto perempuan dari dompetnya. “namanya Humairah, cantik ya?”
“Apanya?”
“Namanya lah, aku tau kok gak secantik Luna pacarmu itu.”
“Gak gitu maksudnya, nih fotonya.”
“Eh, kamu ikut BEM ya?”
“Iya, kenapa?”
“Aku mau ikut sih, tapi kok belum srek ya?”
Aku tertawa pelan. “Gayamu Mat, belum srek kenapa emangnya?”
“Dulu aku pernah ikut Rohis sih di SMA, nah maunya ikut organisasi yang agamis juga gitu di kampus, adanya BEM ya.”
“Tapi ada program ngajinya juga kok, kan ada departemen agamanya di dalam BEM.”
“Daftarnya dimana ya?”
“Nih, ku kasih kontaknya aja, stand nya dah tutup.”
Hampir 15 menit kami mengobrol di luar, aku dan Rahmat kembali masuk ke kelas.
Selesai jam kuliah, aku, Andi, Rahmat, dan Agus pergi ke warung geprek di belakang kampus. Karena masih ada jam kuliah setelah ini, mumpung ada jeda waktu 30 menit jadi kami cari tempat makan yang dekat aja.
Yogya itu banyak warung makan geprek dengan segala macam varian rasa. Satu jalur menuju kampusku aja ada kurang lebih 3 atau 4 warung makan yang jualannya cuma geprek ayam.
Beda lagi kalau malam hari, sepertinya hampir sebagian besar mahasiswa di Yogya makan malam di pecel lele, burjo, ataupun cafe-cafe sambil diskusi tentang politik, ekonomi, sosial, dengan berbagai latar, bisa lingkup negara maupun kampus. Kadang juga bisa lupa waktu, liat jam sudah jam 1 atau jam 2 pagi aja. Ada juga yang sampai pagi diskusinya, bahkan tidur di kursi cafe. Sepertinya walaupun radikal berorganisasi tetap harus tahu diri juga.
“Kalian ada yang daftar BEM gak?” tanya Rahmat sambil mengunyah geprek ayam di mulutnya.
“Aku gak sih kayaknya. Kamu jadi ikut Ram?” tanya Andi.
“Tertarik sih, tapi gimana ya? Belum yakin juga.”
“Itu katanya boy daftar BEM juga.” tambah Agus.
“Ya pastilah, dia kan tingkat percaya dirinya paling tinggi di angkatan kita. Lebih ke gak tau malu sih. Hahaha.” Rahmat memang suka meledek orang, tapi memang itu faktanya.
“Jadi kapan kalian pindahan?” tanya Andi.
“Aku sama Agus sih minggu, gak tau Rama.”
“Samain aja, aku kan dekat. Ndi minta tolong ya bantuin cari pick-up juga.”
“Gampang, bisa pake pick-up yang kami sewa aja sekalian.” ujar Agus.
Selesai makan, kami kembali ke kampus untuk kuliah jam selanjutnya. Benar kata orang, kalau SMP pinginnya cepat masuk SMA, kalau SMA pinginnya cepat kuliah, sekarang sudah kuliah pinginnya balik sekolah, lebih santai. Manusia memang kurang bersyukurnya.
Sebelum maghrib, setelah pulang kuliah ada pesan chat Line masuk di handphone ku dari Cindi.
“Rama, malam ini ke rumah yah, mamah baru datang juga nih. Makan malam disini yah, bisa?”
Aku bingung. Cindi memang teman dari kecil. Tapi kalau untuk kondisi sekarang sepertinya lebih baik aku tidak menerima undangan makan malamnya dulu. Aku memikirkan perasaan Luna disana. Ada hati yang harus dijaga.
“Maaf, Cin. Aku ada kuliah ntar malam. Salam aja buat tante Ami ya, Cin, bilangin maaf aku gak bisa datang.”
“Beneran? Ada mamah loh ni? Yaudah gak papa Ram, next aja.”